Dialog Terbuka Gerakan Nasional Revolusi Mental Perspektif Agama-agama di Jakarta. Sumber: Dok. ICRP

[:id]Agama Sejalan Dengan Revolusi Mental[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Gerakan revolusi mental yang digagas pemerintah dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia ternyata sejalan dengan ajaran-ajaran agama. Tiga nilai dasar revolusi mental yakni, integritas, gotong-royong, dan etos kerja ternyata selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang ada di Indonesia.

Hal tersebut terungkap saat Dialog Terbuka “Revolusi Mental dalam Perspektif Agama-agama; Menemukan Landasan Teologis untuk Penguatan Revolusi Mental” yang dilaksanakan oleh ICRP, Selasa (22/12/15) lalu. Dalam dialog tersebut hadir beberapa tokoh agama sebagai pembicara. Di antaranya adalah Suprih Suhartono (Penghayat Kapribaden),  Pdt. Albertus Patty (Persekutuan Gereja-gereja Di Indonesia), Jo Priastana (Buddhis), dan Ulil Abshar Abdalla (Intelektual Muslim dan Ketua Umum ICRP).

Dalam kepercayaan penghayat kepercayaan, menurut Suprih,  gerakan revolusi mental sejalan dengan ajaran penghayat. Dalam kepercayaan Kapribaden, terdapat konsep mewayu hayuning bawana yang artinya memperindah keindahan dunia. Memperindah keindahan dunia dapat diartikan secara fisik maupun nonfisik (mental). Secara fisik manusia sebaiknya arif secara fisik, tidak merusak lingkungan. Sedangkan secara nonfisik, mental harus tetap dibangun untuk menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter.

Hal yang senada diuraikan oleh Jo Priastana, intelektual Buddhis ini menegaskan, dalam ajaran Buddhis sangat kental dengan ajaran Karma. Karma bisa dimaknai sebagai upaya untuk menumbuhkan integritas seperti yang digagas dalam revolusi mental. Masa depan kehidupan manusia akan ditentukan oleh ucapan, tindakan, dan perbuatan manusia yang dilaksanakan saat ini.

Selain itu, Jo Priastana juga meyakini bahwa Siddharta Gautama adalah seoarang revolusioner. Dalam sejarah buddhisme, Siddharta  merubah struktur kastanisasi yang dimaknai sebagai pemisahan status sosial menjadi kastanisasi yang ditentukan berdasarkan perbuatan manusia. Jika pada zaman dahulu kasta ditentukan oleh harta kekayaan. Siddharta mengubah hal tersebut. Tidak berdasarkan harta tetapi berdasarkan perbuatan seseorang. Jika perbuatannya tercela maka orang tersebut termasuk dalam kasta rendah. Sementara orang yang perbuatannya bagus dia termasuk kasta yang baik.

Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla menyatakan, gerakan revolusi mental sepatutnya tidak dijadikan sebagai gerakan proyek semata. Dia berharap gerakan ini menjadi gerakan kebudayaan yang berlanjut terus menerus.

“Gerakan ini harus terus berlanjut, dan untuk melakukan gerakan revolusi mental salah satu yang wajib dirangkul sebagai mitra adalah kelompok agama. Karena dari dahulu yang menjadi pelaku pembina mental adalah agama” tegas ulil.

 

 

 [:]

Walikota Bogor, Bima Arya, saat menghadiri acara haul ke-6 Gus Dur. Sumber: dok. Monib

[:id]Menghadiri Haul Gus Dur, Bima Arya Dinilai Kembali Ke Jalan Yang Benar[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Memperingati Haul ke-6 KH Abdurrahman Wahid, Gerakan Pemuda (GP) Anshor Bogor menggelar acara bertajuk “Merawat Humanisme Islam”, Selasa (29/12/15). Acara tersebut dihadiri oleh Walikota Bogor, Bima Arya. Kehadiran sang walikota tersebut digadang-gadang sebagai kembalinya ke jalan yang benar.

Dalam kesempatan tersebut Bima sempat menyatakan ingin meniru gaya Gus Dur.

“Saya menyesal saat dilantik pidato saya kepanjangan. Coba seperti Gus Dur yang ringkas. Pidato panjang, lebih-lebih banyak janji susah memenuhi dan pasti ditagih publik. Nanti bila saya terpilih lagi, saya akan meniru Gus Dur saja!” Katanya. Publik pun tertawa mendengar sambutan Wali Kota Bogor itu.

Selain dihadiri oleh Bima Arya, acara haul bapak pluralisme tersebut dihadiri pula oleh berbagai tokoh agama seperti romo, pendeta, ustadz, pengurus GP Anshor, NU, Khonghucu dan para politisi.

Direktur Eksekutif ICRP, Mohammad Monib memberikan apresiasi terhadap kehadiran Bima Arya dalam acara haul gus dur tersebut.

“Awalnya saya tak tahu Bima Arya akan datang. Ternyata dia datang. Bima memberikan sambutan awal. Dia bicara pemikiran Gus Dur, juga Cak Nur.” Tutue Mohammad Monib, Direktur Eksekutif ICRP, saat menghadiri acara tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Monib sempat menyatakan kata hatinya terkait kepemimpinan bima arya selama memimpin kota hujan belakangan ini.

“Mas Bima, jujur malam ini saya bahagia sekali. Saat foto-foto Anda muncul berfoto ria dengan Annas (Aliansi Anti-Syiah) dan seseorang yang diduga DPO teroris, teman Gus Durian dan aliansi kebhinekaan anggap Anda sudah keluar dari ideologi keindonesiaan”, papar Monib.

Monib juga bercerita marahnya teman-teman aktivis. Saya pun sudah menganggap ia terlalu kanan, Islamis, membela gerombolan intoleran dan anarkis.

“Karena itu, kehadiran Anda di Haul ini saya anggap sudah kembali ke jalan yang benar. Saya doakan priode berikutnya Anda tetap sebagai Wali Kota Bogor”, tambahnya.

 [:]

[:id]Selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016[:en]Selamat Natal dan Tahun Baru 2016[:]

[:id]Segenap jajaran pengurus yayasan dan staf Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengucapkan selamat Hari Raya Natal 2015 dan Tahun Baru 2016. Mari kita menjadi pembawa cinta kasih damai dan tenang bagi dunia Selamat Natal semoga kehidupan kita dan keluarga selalu dipenuhi dengan cinta dan damai.

 [:]

Ilustrasi. Sumber: wordpress.com

[:id]Antara Maulid Nabi dan Hari Raya Natal[:]

[:id]

Ahmad Nurcholish

Tak hanya mengucapkan selamat Natal yang menjadi kontroversi setiap tahun jelang 25 Desember. Peringatan Maulid pun kini menjadi kontroversi. Jika dulu nyaris sepi dari perbedaan pendapat, tapi kini suara mereka yang menganggap peringatan maulid itu bid’ah, tidak ada dalilnya, semakin nyaring.

Tahun ini, Maulid nabi Muhammad Saw dan hari raya Natal jatuh beriringan. Kontroversi di antara keduanya semakin ramai dalam perbincangan public, khususnya di media social. Baik yang pro maupun yang kontra saling tanding berbagi landasan dan argument. Masing-masing merasa benar. Meski akhirnya harus sepakat dalam ketidaksepakatan.

Saya tidak akan memperpanjang kontroversi tersebut. Cukup sudah. Bagi saya tak relevan lagi memperbincangkan boleh tidaknya memeringati maulid maupun mengucapkan selamat Natal dengan mengurai dalil ini dan argument itu. Bukankah dua-duanya terkait dengan kelahiran seseorang saja? Masak mau memperingati hari kelahiran dan mengucapkan selamat hari lahir harus cari dalilnya dulu??

Lebih baik kita menggali saja keteladanan yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw dan Isa al-Masih yang oleh umat Nasrani dianggap sebagai Yesus itu. Meski ada perbedaan persepsi tentang sosok Isa As oleh umat Islam dan Kristen, bukan berarti kita tak bisa meneladani karakter dari keduanya.

Dari sosok Nabi Muhammad saw paling tidak kita dapat meneladaninya atas enam karakter utama, sebagaimana diurai dalam laman pusatalquran.com. Pertama, kualitas moral-personal yang diakui oleh banyak orang, baik Muslim maupun non-muslim. Kualitas tersebut tercermin melalui sifat yang terdapat dalam diri Rasulullah, yakni: siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan apa adanya), dan fahtanah (cerdas). Keempat sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang kepribadian Rasulullah Saw.

Kehidupan Muhammad sejak belia  hingga akhir hayatnya memang senantiasa dihiasi oleh sifat-sifat mulia tersebut. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, ia telah memperoleh gelar al-Amin (yang sangat dipercaya) dari masyarakat pagan Makkah. Oleh sebab itu tidak berlebihan jika Astro-fisikawan Michael H. Hart menempatkan Nabi Muhammad pada posisi pertama 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Kedua, Integritas. Karakter ini menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul Saw. yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya dari apapun yang menjadi tujuannya. Dalam menyampaikan ajaran Islam, ia menemui banyak tantangan dan tentangan. Tetapi karena ia menyakini atas kebenaran ajaran tersebut, maka ia senantiasa konsisten dan pantang menyerah dalam dakwahnya.

Ketiga, penerapan pola hubungan egaliter dan akrab. Salah satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasulullah Saw. adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, staff, asisten, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba) untuk menggambarkan pola hubungan antara beliau sebagai pemimpin dengan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.

Keempat, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi. Keberhasilan Nabi Muhammad Saw. sebagai seorang pemimpin tak lepas dari kecakapannya membaca situasi dan kondisi yang dihadapinya. Selain itu, ia juga merancang strategi yang sesuai untuk diterapkan sesuai situasi dan kondisi yang tengah berlangsung. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan. Dalam perang Badar misalnya, keberhasilan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya menggambarkan  penerapan sebuah strategi yang jitu.

Kelima, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan. Ketika ia wafat tak  meninggalkan warisan material. Bahkan ia selalu berdoa untuk mati dan berbangkit di akhirat bersama dengan para fakir- miskin. Jabatan sebagai pemimpin tak ia manfaatkan sebagai mesin untuk memperkaya diri. Sikap inilah yang membuat para sahabat rela memberikan semuanya untuk perjuangan tanpa perduli dengan kekayaannya. Hal ini karena mereka tidak pernah melihat Nabi Muhammad mencoba memperkaya diri.

Keenam, visioner futuristic. Beberapa  hadits menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable). Meski tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak hadits Nabi Muhammad Saw. yang dimulai dengan kata “akan datang suatu masa”, lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini, setelah 15 abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah terungkap dalam realitas nyata.

Sementara itu, dari sosok Nabi Isa As kita dapat memetik keteladanan tentang sejumlah hal. Pertama, sabar dan tawakkal. Kisah tentang keberadaan Isa, baik dalam al-Quran maupun Alkitab hamper serupa. Di dalamnya menceritakan tentang sosok Isa yang lahir dari seorang perempuan bernama Maria(m). Ia tak bersuami. Oleh karena itu ketika ia hamil dan melahirkan seorang anak (laki-laki), orang-orang di sekitarnya pun mencibir dan tak mempercayainya kalau ia tak pernah di-“sentuh” oleh seorang laki-laki.

Menaggapai berbagai cibiran dan ketidakpercayaan banyak orang, Maria(m) hanya dapat bersabar dan berserah diri (tawakal) pada Tuhan. Ini pula yang dilakukan oleh Nabi Isa As ketika beranjak dewasa kerap dicemooh oleh banyak orang karena tak memiliki seorang ayah. Tak berbeda dengan ibundanya, Nabi Isa pun selalu bersabar dan  menyerahkan “takdir” Tuhan ini kepadaNya.

Kedua, iman yang kuat. Nabi Isa As mendapatkan tantangan yang berat dari kaumnya dalam berdakwah. Meskipun demikian dia tetap menyampaikan wahyu yang diterimanya. Ia bahkan, ketika  telah berdakwah bertahun-tahun namun pengikutnya hanya sedikit, tetap bersabar dan selalu mengajak orang-orang ke jalan yang benar. Keadaan yang demikian ini tidak menyurutkan iman Nabi Isa, bahkan dia semakin bertambah imannya ketika cobaan-cobaan itu menimpanya.

Ketiga, gemar menolong. Di antara mukjizat Nabi Isa adalah dapat menurunkan makanan dari langit dan menyembuhkan penyakit kusta. Semua itu terjadi atas ijin Allah agar Nabi Isa dapat menolong orang-orang yang membutuhkannya. Sewaktu Nabi Isa menolong orang-orang yang membutuhkan, yang ada di hatinya hanyalah rasa ikhlas, sekalipun yang ditolong itu adalah orang yang membangkang terhadap ajarannya.

Menolong kepada siapapun tanpa pamrih merupakan teladan mulia dari Nabi Isa As. Ia tak mau p;ilih kasih. Meski kepada mereka yang memusuhinya pun, ia tetap mengulurkan pertolongan ketika mereka membtuhkannya. Karakter inilah yang mulai hilang dari diri kita saat ini.

Meneladani kedua sosok utusan Tuhan ini rasanya jauh lebih penting ketimbang memperdebatkan boleh tidaknya memperingati maulid dan mengucapkan selamat Natal. Jangan sampai waktu dan enerji kita terkuras hanya untuk membahas hal-hal yang sebetulnya tidak perlu. Wallahua’lam.  [ ]

Ahmad Nurcholish, pecinta Nabi dan Rasul, penggemar Maulid dan Natal

[:]

ilustrasi. sumber: kompasiana

[:id]Ragam Pendekatan dalam Pendidikan Multikultural (Bagian II – Selesai)[:]

[:id]Ahmad Nurcholish

Selain menggunakan keempat metode sebagaimana saya uraikan dalam tulisan sebelumnya (Bagian I), pendidikan multicultural juga menggunakan berbagai pendekatan dalam implementasinya. Beberapa pendekatan yang kerap direkomendasikan dalam pendidikan multikultural adalah sebagaimana diulas Mundzier Suparta dalam  Islamic Multicultural Education, 2008).

1. Pendekatan Historis

Pendekatan ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada peserta didik dengan napak tilas ke belakang. Maksudnya agar pendidik  dan peserta didik mempunyai kerangka berpikir yang komprehensif hingga ke masa silam untuk kemudian mereflesikan pada masa sekarang dan untuk masa mendatang. Dengan demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan dinamis.

Misalnya, ketika kita membahas tentang poligami dalam tradisi Islam, maka kita tidak hanya melihatnya dari aspek teologis (al-kitabiyah-qur’aniyah), tapi juga menengok ke belakang, pada masa Arab Jahiliyah di mana tradisi poligami sudah berlangsung sekian lamanya dan tanpa batas. Pengetahuan tentang historisitas ini akan mendapatkan pemahaman yang lebih kontekstual ketimbang tekstual semata.

2. Pendekatan Sosiologis

Pendekatan ini mengandaikan terjadinya proses kontekstualisasi atas apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya atau ketika tata nilai tersebut lahir di  masa lampau.  Dengan pendekatan ini  materi yang diajarkan bisa menjadi aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka berpikir kekinian. Pendekatan ini bisa digabungkan dengan metode kedua, yakni metode pengayaan.

Misalnya, ajaran tentang zakat tak akan banyak memberikan banyak maslahah jika kita hanya memahaminya secara tekstual-literal. Tetapi jika menggunakan pendekatan sosiologis maka kita akan mendapatkan sebuah kerangka pemahaman di mana fungsi utama zakat adalah terletak pada dampak sosialnya. Artinya zakat tidak semata berhenti pada gugurnya sebuah kewajiban bagi sang muzaki, tetapi juga bermaslahah pada sang penerima zakat. Dengan kerangka ini mengoptimalkan dampak zakat tidak akan berhenti pada kebutuhan konsumtif semata, tetapi juga kebutuhan produktif yang berlangsung pada jangka panjang.

3. Pendekatan Kultural

Pendekatan ini menitikberatkan kepada otentisitas dan tradisi yang berkembang. Dengan pendekatan ini peserta didik  bisa melihat mana tradisi yang otentik dan mana yang tidak. Secara otomatis peserta didik  juga bisa mengetahui mana tradisi Arab dan mana tradisi yang datang dari  ajaran Islam.

Pendekatan kultural memungkinkan kita melihat lebih kritis antara tradisi masyarakat tertentu dengan ajaran keagamaan yang memang berasal dari ajaran agama. Dalam Islam misalnya, bergamis dan berjenggot masih menjadi “perdebatan” apakah hal tersebut merupakan ajaran agama atau tradisi masyarakat Arab semata. Sebab konsekuensi dari pemahaman tersebut akan melahirkan keyakinan yang berbeda pula.

4. Pendekatan Psikologis

Pedekatan ini berusaha memperhatikan situasi psikologis personal secara tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing peserta didik harus dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan karakter dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang pendidik harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan peserta didik sehingga ia bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.

Pendekatan ini beupaya menempatkan peserta didik sebagai person-person yang berbeda yang masing-masing memiliki kecenderungan psikologis yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan cara mendidik yang berbeda pula. Dalam implementasinya, pendekatan ini memang agak sulit dipraktikkan. Sebab menuntut kemampuan pendidik untuk “membaca” keunikan personal dari tiap-tiap peserta didik yang ada.

5. Pendekatan Estetik

Pendekatan estetik pada dasarnya mengajarkan peserta didik  untuk berlaku sopan dan santun, ramah, mencintai keindahan dan mengutamakan kedamaian. Sebab segala materi jika  hanya didekati secara doktrinal dan menekankan adanya otoritas-otoritas kebenaran maka peserta didik akan cenderung bersikap kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan estetik untuk mengapresiasikan segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni dan estetis.

Ajaran-ajaran agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam), terutama Islam kerap dikonotasikan sebagai agama “perang” karena di dalamnya banyak mengajarkan tentang jihad yang hanya dimaknai sebagai perang. Jika pasa saat pendidik mengajarkan tentang perang atau tentang jihad tidak dibarengi dengan ajaran Islam yang kaya dengan estetika, maka Islam hanya melulu dipahami sebagai agama perang.

Seni kaligrafi, qira’atil-qur’an, nasyid, dan arsitektur merupakan kekayaan tradisi Islam yang dapat digunakan pendidik untuk membingkai pendidikan multicultural dengan pendekatan estetik. Jadi estetika tidak sekedar sebagai produk yang sudah ada atau jadi, melainkan sebagai konsep yang inhern dalam Islam. Dengan kekayaan kultural tersebut Islam tampil sebagai agama yang lebut, ramah dan kental dengan nuansa keindahan.

6. Pendekatan Berpersepektif Gender

Pendekatan ini mencoba memberikan  penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Sebab  sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan, melainkan kerja nyata yang dilakukannya. Dengan pendekatan ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di lembaga pendidikan yang menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa dihilangkan.

Pendekatan ini hendak mengapresiasi seluruh kemampuan dan keunikan yang ada dari setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan ada pada keduanya ketika bicara soal kinerja, peran, dan kontribusi yang dapat dilakukannya untuk masyarakat tanpa melupakan kodratnya masing-masing.

Keenam pendekatan tersebut sangat memungkinkan bagi terciptanya kesadaran multikultural di dalam pendidikan dan kebudayaan. Dan tentu saja, tidak menutup kemungkinan berbagai pendekatan lainnya, yang dapat diterapkan. Kesadaran multicultural membantu peserta didik mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan agama berbeda. Modelnya bukan dengan menyembunytikan budaya orang lain, atau menyeragamkannya sebagai budaya nasional, sehingga budaya local menjadi luntur dan hilang. (Prof Suyata, Ph. D., “Pendidikan Peace Building di Maluku Utara”, 2013: xi-xii). Pendidikan multikultural tidak demikian. Semua manusia diapresiasi dengan keunikan dan latar belakang etnis, budaya, dan agama masing-masing.

Dalam pendidikan multicultural diakui, tiap budaya memunyai nilai kebenaran tersendiri yang membutuhkan pemahaman akan relativitas nilai budaya. Nilai-nilai inilah yang ada pada setiap peserta didik. Menjadikan peserta didik menjadi objek saja tentu tidak bijak. Menurut Paulo Freire, tujuan akhir dalam proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi) atau menjadikan manusia sesungguhnya. Dalam pendidikan Islam disebut sebagai manusia paripurna, insan kamil.

Hal tersebut sejalan pula dengan ungkapan Freire tentang pentingnya pendidikan sebagai penyadaran. Menurutnya, pentingnya penyadaran ini karena manusia tidak sekadar “hidup” (to live), tetapi “mengada” atau bereksistensi. Dengan bereksistensi, manusia tidak hanya ada “dalam dunia”, tetapi juga “bersama dengan dunia”.

Manusia sebagai eksistensi kata Freire, mampu berkomunikasi dengan dunia objektif sehingga memiliki kemampuan kritis. Dengan uraian ini, tampaknya Freire hendak memberikan suatu afirmasi filosofis bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang memunyai kemerdekaan, sehingga manusia pada hakikatnya mampu melakukan transendensi dengan semua realitas yang mengitarinya. (A. Malik Fajar, “Pendidikan sebagai Praksis Humanisasi Aspek Kemanusiaan sebagai Basis Pembaruan Paradigma Pendidikan Nasional”, 2003: 58-59).  Sebuah realitas yang hidup sekaligus memberikan “hidup” bagi seluruh umat manusia.

Pendekatan lain yang dapat digunakan dalam pendidikan multicultural adalah: a) pendekatan inklusi, yang menekankan pada pengajaran factual tentang sejarah, warisan, dan kontribusi kelompok-kelompok etnik dan kultural yang terpinggirkan dan tak terwakilkan dalam kurikulum pendidikan; a) pendekatan infusi, secara sistematik mengintegrasikan muatan, kontkes, contoh-contoh dan sudut pandang dari berbagai kelompok untuk mengilustrasikan konsep-konsep, prinsip-prinsip, teori-teori, dan metode pencarian dari berbagai persepektif ke dalam seluruh kurikulum sehingga memerluas cakupan muatan, disiplin, program, dan kuliah.

Infusi membutuhkan perubahan subtansial dalam proses pendidikan dan struktur kurikulum untuk memastikan pluralism kultural integral dengan pengalaman belajar semua siswa – mayoritas maupun minoritas; c) pendekatan transformative, yang menekankan pada aksi social dan politik untuk memecahkan masalah secara logis melampuai konteks kelas tradisional. (Lihat, Geneva Gay, “Bridging Multycultural Theory and Practice”Multicultural Education 3,1 (1995: 560-563). [ ]

Ahmad Nurcholish, penggiat di Yayasan Cahaya Guru, Jakarta, pengajar “Religious Studies” Universitas Pembangunan Jaya, Tangsel.[:]

ilustrasi. sumber: kompasiana

[:id]Ragam Pendekatan dalam Pendidikan Multikultural (Bagian I)[:]

[:id]Ahmad Nurcholish

Dalam kerangka James Banks (An Introduction to Multycultural Education 2nd edition, 1999), pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu: Pertama, Content Intergration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya baik teori maupun realisasi dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. Kedua, the knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin).

Ketiga, an equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya, agama ataupun sosial. Keempat,prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka.

Oleh karena itu pendidikan multicultural memerlukan sebuah metode dan juga pendekatan agar terimplementasi dengan baik sesuai tujuan pendidikan itu sendiri. Mengacu pada Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan “ menara gading “ yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya harus mamapu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, buka sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialami.

Berangkat dari alas pijak itulah maka perlu memahami metode-metode apa saja yang dapat digunakan dalam penerapan pendidikan multicultural, sekaligus juga pendekatan yang dapat kita gunakan dalam implementasinya. Dalam makalah singkat inilai kedua hal tersebut akan diuraikan.

Empat Metode

Dalam implementasinya, sebagai sebuah konsep, multikulturalisme tentu harus dituangkan ke dalam sistem kurikulum pendidikan agar aplicable.  Merujuk pada pengalaman di sejumlah Negara,  pendidikan multikultural secara umum digunakan metode dan pendekatan (method and approaches) yang beragam. Allison Cumming, McCann dalam “Multicultural Education Connecting Theory to Practice”(Vol. 6, Issue B Feb., NCSAAl, 2003), menyebut beberapa  metode yang dapat digunakan dalam pendidikan multikultural antara lain adalah sebagai berikut:

1. Metode Kontribusi

Metode ini diterapkan dengan mengajak pembelajar berpartisipasi dalam memahami dan mengapresiasi kultur lain yang berbeda dengan dirinya. Dalam implementasinya yang lebih praktis, metode ini antara lain diterapkan dengan menyertakan peserta didik memilih buku bacaan bersama dan  melakukan aktivitas bersama. Selain itu, siswa juga diajak mengapresiasi event-event keagamaan maupun kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Pengampu pendidikan (kepala sekolah, guru)  bisa melibatkan peserta didik di dalam pelajaran atau pengalaman yang berkaitan dengan event-event tersebut. Dalam hal tertentu peserta didik juga dapat dilibatkan untuk mendalami sebagian kecil dari kepelbagaian dari setiap tradisi kebudayaan maupun keagamaan.

Lembaga pendidikan yang telah menerapkan metode kontributif ini salah satunya adalah Global Sevilla School yang berada di Pulo Mas, Jakarta Timur dan Puri Kembangan, Jakarta Barat. Sekolah yang didirikan oleh tiga cendikiawan keagamaan Indonesia, yakni: Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Dr. Gede Natih dan Sudamek AWS ini sejak awal melibatkan siswa-siswi yang berlatar etnik, budaya, dan agama yang berbeda untuk saling berkontribusi dalam setiap perayaan keagamaan. (Lihat, http://globalsevilla.org/pages/view/1/history)

Dalam awal-awal implementasinya, sekolah yang didirikan pada tahun 2002 ini tidak sedikit memeroleh kritik terkait dengan metode kontributif dalam penerapan persepektif multikulturalisme ini. Namun, seiring berjalannya waktu tidak hanya antar siswa-siswi yang terlibat, tapi juga para orang tua dari siswa juga turut berperan serta setiap ada event keagamaan di sekolah tersebut. Keterlibatan orang tua menjadi hal menarik karena mereka tidak hanya hadir menyaksikan, tetapi juga berkontribusi dalam ragam kegiatan anak-anak mereka. Ini memungkinkan visi penggunaan pendekatan multikulturalisme tidak hanya menyentuh siswa/siswi tetapi juga para orang tua.

2. Metode Pengayaan

Metode ini memperkaya kurikulum dengan literatur dari atau tentang masyarakat yang berbeda kultur, etnis atau agamanya. Penerapan metode ini, misalnya dengan mengajak peserta didik menilai atau menguji dan kemudian mengapresiasikan cara pandang masyarakat tetapi peserta didik tidak mengubah pemahamannya tentang hal itu, seperti tata cara atau ritual  ibadah, pernak-pernik dalam ritual ibadah, pernikahan, dan lain-lain.

Metode pengayaan ini salah satunya diterapkan oleh Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dalam mata kuliah Studi Agama. Program yang secara khusus hasil kerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini dalam menghelat mata kuliah studi agama berbeda dengan di kampus-kampus lain. Di kampus lain pada umumnya, mahasiswa akan mendapatkan mata kuliah agama sesuai keyakinannya dan diajarkan oleh pengajar yang seagama. Dalam program yang dilaksanakan UPJ dan ICRP ini seluruh mahasiswa, apapun agamanya, berhak mengikuti mata kuliah studi agama secara bersama-sama. Pengajarnya pun beragam latar belakang agama. Ada Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, bahkan Penghayat Kepercayaan.

Untuk memperkaya wawasan dan persepektif mahasiswa, pengampu program ini mengadakan ekskursi dengan mengajak mahasiswa mengunjungi 8 (delapan) rumah ibadah yang berbeda. Tahun ini misalnya, kunjungan tersebut dihelat pada 11 dan 18 Oktober lalu. Sebanyak 171 mahasiswa mengunjungi masjid Istiqlal, gereja Katedral, gereja Imanuel, Gurdwara Sikh, Klenteng Boen Tek Bio, Lithang Kong Cu Bio, Vihara Ekayana, dan Pura Parahyangan Jagat Guru.

Acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan keragaman budaya dan agama kepada peserta didik sebagai sarana untuk memperkaya wawasan mereka tentang kebhinekaan.

Metode ini juga tak luput dari kritik. Misalnya ada sejumlah mahasiswa yang khawatir justru mengalami pendangkalan iman. Namun dalam pelaksanaannya yang sudah berjalan selama tiga tahun ini, jika melihat tulisan refleksi para mahasiswa, justru mereka mengaku mendapatkan banyak pengkayaan tanpa harus kehilangan keimanan dan keyakinannya. Di antara mereka juga berkeinginan melanjutkan kegiatan serupa di luar kegiatan kampus.

3. Metode Transformatif

Metode ini secara fundamental berbeda dengan dua metode sebelumnya. Metode ini memungkinkan peserta didik  melihat konsep-konsep dari sejumlah perspektif budaya, etnik dan agama secara kritis. Metode ini memerlukan pemasukan perspektif-perspektif, kerangka-kerangka referensi dan gagasan-gagasan yang akan memperluas pemahaman pembelajar tentang sebuah ide. Jika pada metode pengkayaan lebih banyak menggali titik-temu dari etnisitas, budaya dan agama, maka dalam metode transformative justru sebaliknya: menelanjangi nilai-nilai “negative” dari budaya, etnik dan juga agama.

Metode ini dapat mengubah struktur kurikulum, dan memberanikan peserta didik untuk memahami isu dan persoalan dari sejumlah perspektif etnik dan agama tertentu. Misalnya, membahas konsep “makanan halal”, “poligami”, “jihad”, “trinitas” dari agama atau kebudayaan tertentu yang berpotensi menimbulkan konflik dalam masyarakat. Metode ini menuntut pembelajar mengolah pemikiran kritis dan menjadikan prinsip kebhinekaan sebagai premis dasarnya.

Beberapa lembaga yang menerapkan metode ini dalam studinya adalah Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Program Studi Agama dan Perdamaian ICRP. Kedua lembaga ini secara berkala menggelar studi-studi lintas budaya dan agama dengan, salah satunya,  menggunakan metode transformative. (http://crcs.ugm.ac.id/pluralism).  Selain metode transformative, program yang dihelat ICRP juga menggunakan persepektif pluralism dan perennialisme.

4. Metode Pembuatan Keputusan dan Aksi Sosial

Metode ini mengintegrasikan metode transformasi dengan aktivitas nyata di masyarakat, yang pada gilirannya bisa berdampak terjadinya perubahan sosial. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk memahami dan membahas isu-isu sosial, tapi juga melakukan sesuatu yang penting berkaitan dengan hal itu. Artinya, peserta didik tidak hanya berhenti pada penguasaan teori, tapi juga terjun langsung di masyarakat untuk menerapkan teori-teori yang mereka peroleh dari ruang pendidikan.

Metode ini memerlukan peserta didik tidak hanya mengeksplorasi dan memahami dinamika keterbelakangan, ketertindasan, atau ketidakadilan,  tetapi juga berkomitmen untuk membuat keputusan dan mengubah sistem melalui aksi sosial. Tujuan utama metode ini adalah untuk mengajarkan kepada peserta didik untuk berpikir dan memiliki kemampuan mengambil keputusan guna  memberdayakan dan membantu mereka mendaptkan sense kesadaran terhadap dinamika yang berkembang di masyarakat dan turut berperan serta dengan aksi-aksi nyata.

Dalam praktiknya, tentu tidak semua metode tersebut diterapkan oleh satu lembaga pendidikan sekaligus. Ada beberapa lembaga yang hanya menerapkan dua atau tiga metode saja, bahkan ada pula yang hanya satu metode saja. Hal itu terkait dengan kesiapan sumberdaya manusia dan pra-sarana dan sarananya di masing-masing lembaga pendidikan. Bersambung… [ ]

Ahmad Nurcholish, penggiat di Yayasan Cahaya Guru, Jakarta, pengajar  “Religious Studies” Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Tangsel.[:]

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

[:id]Youth Interfaith Forum Perkuat Kerja Sama Pemuda Damai[:]

[:id]

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

Youth Interfaith Forum. Sumber: Dok: ICRP

Jakarta, ICRP – Mengakhiri tahun 2015, Search for Common Ground (SFCG) menginisiasi pertemuan Youth Interfaith Forum, Kamis (17/12/15) di Jakarta. Pertemuan 70 pemuda lintas agama dari berbagai daerah ini bertujuan untuk membendung arus intoleransi yang semakin merajalela dan memperkuat kerja sama pemuda dalam gerakan perdamaian.

 Youth Interfaith Forum merupakan ajang berkumpul para pemuda lintas iman dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka telah melakukan kegiatan-kegiatan konkret untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih toleran dan damai. Beberapa di antaranya adalah pemuda alumni program peace leader dari Madura, Jember, Jakarta, dan Banten yang telah digagas SFCG beberapa tahun belakangan ini. Selain itu, hadir pula organisasi kepemudaan dan organisasi perdamaian seperti Gusdurian, Wahid Institute, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), P3M, Aktifis Ponpes Asshidiqiyah, STFI Sadra, AMS, Pandu ABI, PGI, GMKI,PMII,IMM, FORPELA, dll.

Youth Interfaith Forum ini diisi dengan kegiatan diskusi seputar kondisi keberagaman masyarakat, strategi menyampaikan nilai-nilai perdamaian, serta tidak kalah pentingnya adalah berbagi pengalaman kegiatan-kegiatan komunitas pemuda yang telah dilakukan di berbagai daerah. Adapun, pembicara diskusi dalam kesempatan tersebut adalah Anggita Paramesti (SFCG), Alamsyah M Djafar (The Wahid Institute), dan Savic Ali (Pegiat Media).

Youth Interfaith Forum. Sumber: Islamiyahnews.com

Youth Interfaith Forum. Sumber: Islamiyahnews.com

Project Officer SFCG, Anggita Paramesti dalam kesempatan tersebut menegaskan sebagai generasi muda penting untuk menjaga dialog antar iman di Indonesia. Pasalnya, dialog merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk menciptakan perdamaian di tengah masyarakat.

Sementara itu, Project Officer The Wahid Institute, Alamsyah M Dja’far mengemukakan saat ini tidak sedikit pemuda yang menunjukkan sikap intoleran. Pesan-pesan intoleran begitu masif melalui berbagai media terutama media sosial. Hal ini, menurut Alamsyah, merupakan tantangan dan ancaman bagi NKRI. Oleh sebab itu, pihaknya berharap pemuda-pemuda yang mempunyai perhatian terhadap perdamaian semestinya lebih semangat menyebarkan pesan perdamaian melalui cara-cara yang lebih kreatif.

Hal senada disampaikan oleh pegiat media, Savic Ali. Menurutnya peran media dalam membentuk karakter dan sikap keberagaman masyarakat sangat dominan. Bahkan, menurutnya, media sering dijadikan sebagai rujukan dalam beribadah dan beragama. Sayangnya, media intoleran yang sering menyebarkan ide-ide radikalisme, perpecahan dan permusuhan saat ini lebih mendominasi dunia maya. Sementara media damai semakin ditinggalkan masyarakat.

Savic berpesan, pemuda yang peduli terhadap kondisi keberagaman dan perdamaian masyarakat seharusnya tidak lupa untuk mempromosikan juga di dunia maya. Sebarkan ide-ide perdamaian melalui berbagai cara yang bisa dimanfaatkan. [MM][:]

Ilustrasi tarian sufi. Sumber: Segalaberita.com

[:id]Jejak Damai Sufi Nusantara (Bagian VI-Selesai)[:]

[:id]

Ahmad Nurcholish

Syaikh Muslih Mranggen

KH. Muslih Ibn Abd Rahman lahir di kampung Suburan, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sebuah sumber menyebut lahir tahun 1912/1326 (Abdul Hadi Muthahar, 2006: 17), tetapi sumber lain menyatakan tahun 1914/1402. Di dalam buku Tim Peneliti Sejarah Seabad Pon-Pes Futuhiyah, ditulis tahun 1908/1322. (Prie. G.S. Abdul Jabar, 2001: 15).  Data ini yang dinilai Badriyah, penulis Wahdat al-Suhud) agak valid, karena pada tahun 1936 Kiai Muslih telah memimpin pesatren Futuhiyah. Ia telah menamatkan pelajarannya di berbagai pesantren yang cukup lama, sehingga tahun kelahirannya yang tepat adalah 1908/1322.

Muslih adalah putra kedua dari 7 orang putra-putri KH Abd Rahman bin Qasidil al-Haq dan Hj. Shafiyah. Tahun 1942 ia menikah dengan Marfu’ah, gadis dari desa Prampelan, Sayung, Demak, putrid KH. Siraj. Pada usia 8 tahun, Muslih belajar di Pon-Pes Patebon Kendal. Ia mengaji pada Kiai Asy’ary bin Kiai Abdullah. Keduanya menantu KH. Ibrahim Brumbung Mranggen. Dua tahun kemudian ia melanjutnya nyantri di Pon-Pes Brumbung yang terletak hanya 2 km dari Mranggen.

Di Pon-Pes Brumbung ia belajar dengan KH Ibrahim Brumbung, putra Kiai Ageng Terboyo. Setelah itu mondok di Sarang selama 4 tahun. Selama di Sarang juga menyempatkan belajar di Pondok Lasem asuhan KH. Maksum Ali. Empat tahun di Sarang Muslih kembali ke Mranggen dan membangun kembali Madrasah yang sebelumnya dibangun oleh kakanya, KH. Usman. Dua bulan kemudian ia melanjutkan studinya ke Pon-Pes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. (Badriyah, 81-82).

Setelah menempuh pengembaraan intelektual di sejumlah pesantren, Muslih kembali ke Manggren untuk mengelola Pondok Pesantren dan Madrasah yang sebelumnya ia tinggalkan. Saat itu bersamaan kedatangan Jepang ke Indonesia yaitu tahun 1942, usianya saat itu sekira 27 tahun. Sejak itu pula pengelolaan Madrasah Futuhiyah diserahkan sepenuhnya kepada Muslih dari tangan KH. Usman da KH. Muradi. Kemudia KH Usman berkosentrasi dengan mengurus pondok putrid, sedangkan KH. Muradi berkonsentrasi pada pondok barunya yang berada di sebelah barat Pondok dan Madrasah Futuhiyah. (Prie G. S., 4 & 13).

Dalam mengelola Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen, selain sebagai tokoh utama, ia juga memiliki pikiran maju dalam bidang pendidikan. Di saat ada rencana pemerintah untuk menegerikan sekolah/madrasah swasta, maka Muslih menjadikan madrasahnya sebagai madrasah yang bisa menghasilkan murid yang memiliki ijazah formal. Karena itu selain lebih kental dengan pendidikan agama (Islam)-nya, Futuhiyah juga menyerap pelajaran umum yang dibuat oleh pemerintah pada saat itu.

Selain mengelola lembaga pendidikan, KH Muslih, tahun 1957, juga  menciptakan jaringan tarekat yang kemudian berkembang besar di Jawa Tengah, bahkan bercabang hingga Kalimanta Barat; Kalimantan Selatan; Sumatra; NTB; NTT; dengan kegiatan mengadakan kongres pertama Jam’iyah ‘Ahl al-Tariqah al-Mu’tabarah di Tegalrejo, Magelang. Mengundang guru-guru tarekat dari bermacam-macam tarekat yang ada di Nusantara, di antaranya: mursyid tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah, mursyid tarekat Shadhiliyah, mursyid tarekat Qadariyah Naqshabandiyah, mursyid tarekat Shatariyah, dan sebagainya. (Badriyah, 90)

Hamper seluruh usia hidupnya KH. Muslih menghabiskannya untuk berkiprah di bidang pendidikan dan keagamaan. Pada Rabu 12 Shawal 1410 H., bertepatan 12 Agustus 1981 KH Muslih meninggal dunia pada usia 72 tahun di Jeddah, Saudi Arabiam, saat usai melaksaakan ibadah Umrah bersama-sama dengan saudaranya, istri, dan putranya. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Ma’la, di samping makam Syaikh Nawawi al-Bantani. Turut memberikan kehormatan terakhir, Duta Besar RIO beserta stafnya, utusan Raja Arab Saudi, Syaikh Yasin al-Padani dan para Ulama Makkah, selain umat Muslim Indonesia yang berada di Saudi Arabia. (Ibid., 91 & Murtadha Hadi, 2013: 201)

Karya-karya Syaikh Muslih

Semasa hidupnya, KH. Muslih telah menghasilkan banyak karya. Di antara kitab-kitab yang ditulisnya adalah sebagai berikut (Ibid., 92-114):

  1. ‘Umdat al-Salik fi Khayr al-Masalik (Pegangan yang terbaik bagi salik). Ditulis dalam bahasa Arab disertai terjemahan bahasa Jawa ala pesantren. Dalam kitab ini di antaranya membahas tentang amalan-amalan tarikat Qadariyah Naqshabandiyah yang konsisten selalu dikerjaka (al-wird al-ratib al-haddad al-tariq al-Qadiriyah al-Naqsabandiyah).
  2. Al-Futuhat al-Rabbaniyah fi al-Tariqah al-Qadiriyah wa al-Naqshabandiyah (Cahaya anugerah Allah yang Pengasih dalam tarekat Qadirisysh Naqshabandiyah). Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa dengan menggunakan tulisan Arab. Kitab ini antara lain membahas tentang dasar-dasar ilmu tarekatmu’tabarah yang berjumlah sepuluh (sepuluh prinsip pokok, mabadi’ ‘asharah)
  3. Risalah Tuntutan Tariqah Qadiriyah Naqshabandiyah. Karya ini terdiori 2 jilid, diterbitkan dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab, dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh hanif Muslih.
  4. Munajat Qadiriyah wa Naqshabandiyah wa Ad’iyatuha. Buku ini berisi tuntunan bagi para murid penganut tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah dalam ritual munajat (berdialog) dengan Tuhan.
  5. Wasail Wusul al-‘Abdi ila Maulah bi Sharh Nayl al-Tadalli min al-Ilah fi Manzumah Hikam Ibn Ata’ Allah al-Sakandari (Perantaraan hamba bisa sampai kepada Allah dengan mendapatkan petunjuk dari Allah dengan menggali syair al-Hikam Ibn Ata Allah al-Sakandari). Kitab yang terdiri dua jilid ini merupakan sharah dari nazam yang mengadopsi dari kitab al-Hikam.
  6. AlNur al-Burhani fi Tarjamat al-Lujayn al-Dany fi Dzikr Nubdzat min Manaqib al-Shaykh ‘Ab al-Qadir al-Jaylani (Cahaya petunjuk terjemahan dari Lujayn al-Dany yang hanya menyebutkan sebagian kecil dari Manaqib al-Shaykh Abd. Qadir al-Jaylani). Ditulis dalam bahasa Arab dengan bahasa Jawa, terdiri dua jilid.
  7. Yawaqit al-Asani fi Manaqib al-Shaykh ‘Abb al-Qadir al-Jaylani Radiya Allah ‘anhu. Kitab ini adalah kitab manakib susunan Shaykh Muslih sendiri, bukan kitab terjemahan.

Wahdat Al-Shuhud

Wahdat al-Suhud pertama kali dirumuskan sebagai ajaran dalam tasawuf oleh Shaykh Ahmad al-Faruqi al-Sirhindi (w. 1034H/1624M.) pembaru tarekat Naqshabandiyah. Menurutnya wahdat al-shuhud adalah bahwa para sufi memperoleh keyakinan kesatuan zat ketika hatinya sangat tertarik pada Allah dan dipenuhi dengan cinta-Nya. Mereka mulai dengan zikir dan perenungan yang bebas dari gagasan Zat Tunggal, dan kemudian mencapai tahap hati, baik dengan upaya sendiri maupun karena karunia Ilahi, da kemudian menjadi sepenuhnya terserap di dalam cinta Allah. Apabila dalam tahap tersebut merasakan keindahan Zat Tunggal, maka alasannya terletak pada begitu dambanya akan cinta Ilahi sehingga segalanya tidak terlihat oleh matanya.

Karena segala zat selain Tuhan terjatuh dari pandangannya dan tersembunyi, maka yang mereka lihat atau serap tiada lain kecuali Allah, mereka seperti tidak lagi mengenali eksistensi dirinya sendiri. Perasaan dalam kebersatuan seperti ini (tawhid) adalah masalah perasaan (hal), dan terbebas dari pengaruh pemikiran atau imajinasi. Apabila kembali ke dunia pada tahap demikian, mereka akan melihat Yang Tercinta ada di dalam setiap partikel dunia dan melihat setiap obyek di dunia sebagai cermin yang memantulkan keindahan Yang Tercinta. (Ibid., 119-120)

Wahdat al-wujud, sebagaimana dinukil Badriyah, adalah bahwa keyakinan tentang Zat Tunggal (tawhid wujud) sebagai buah dari perenungan tentang gagasan kesatuan dan perenungan terhadap kalimat: La Ilaha illa Allah (Tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah) yang kemudian disarikan sebagai tiada wujud selain Allah. Mereka memeroleh keyakinan tawhid tersebut setelah melakukan perenungan dan refleksi, kemudia gagasan tersebut menguasai pikirannya, dan setelah melalui berbagai perenungan mereka kemudian merumuskan. Mereka dikuasai oleh kepercayaan tawhid, dengan demikian bukan melalui pengalaman (ahwal).

Mengacu pada penjelasan Ahmad Sirhindi di atas, sejalan dengan Muslih dan pernyataan Afifi bahwa, “wahdat al-suhud adalah suatu istilah mistik yang dipergunakan untuk mengungkapkan suatu pengalaman atau penyaksan rohani yang lazim disebut sebagai al-kashf, tentang hal-hal yang Ilahi, terutama tentang hakikat wujud yang diperoleh para sufi pada saat mereka berada dalam keadaan fana’. Jadi sangat personal (individual).

Dalam keadaan ini mereka kehilangan kesadaran wujud diri karena tarikan atau serbuan cinta Ilahi (al-jadhb), sehingga keluarlah dari mulut sebagian mereka ucapan: “Aku Allah” (al-Hallaj) dan “Mahasuci Aku,” “alangkah bersamanya perihal-Ku ini” (Abu Yazid) dan sebagainya yang metupakan manifestasi atau hikayat dari pada Tuhan yang dalam istilah tasawuf disebut shatahat (ecstatic utterance). Oleh karena itu ucapan yang demikian itu haruslah ditafsirkan, tidak boleh dipahami menurut lahirnya. Adapun wahdat al-wujud bersifat falsafi yang dapat diuraikan dengan bahasa biasa dan yang dengan mudah dapat dipahami.” (Ibid., 120-121; Lihat juga AA Afifi, 1963: 181-186)

Bagi Muslih, sebagaimana diuraikan Badriyah, paham wahdat al-wujud, sangat jauh berbeda dari pemahaman kebanyakan orang umum. Maksud dari paham itu berarti bahwa ketika salik sempurna pada muraqabahnya, maka salik akan merasakan segala sesuatu selain Allah (mukminat) itu terlihat sebagai persepsi yang diwujudkan Alah dan melihat dirinya ikut larut dalam hempasan ombak dan tenggelam dalam lautan wujud Allah.

Jadi faham wahdat al-wujud adalah keyakinan bahwa Allah adalah mawjud dengan Zat-Nya, dan segala sesuatu selain Allah secara keseluruhan mawjud sebab penciptaan-Nya, serta keyakinan bahwa Allah adalah Maha Esa dalam Zat-Nya secara hakiki baik dalam wujud-Nya dan selainnya. Karena itu wujud zat mukminat, wujudnya sifat mumkinat, atau wujud af’al mumkinat itu adalah kesan dari wujud Zat Allah, kesan dari sifat-sifat Allah, dan kesan dari af’al Allah. Secara hakiki yang ada adalah Allah Itu sendiri, sedang keberadaan mumkinat secara hakiki adalah tidak ada. Selesai.. [ ]

Ahmad Nurcholish, peminat kajian Tasawuf-Falsafi, mahasiswa program doctoral Studi Islam.

[:]

[:id]Sinergi Pembangunan Perdamaian (Peacebuilding) di Papua[:]

[:id]ridwan al-makassaryOleh: Ridwan al-Makassary

Tulisan singkat ini menyarikan kembali beberapa poin penting yang saya sudah sampaikan dalam kelas “Sekolah Agama dan Perdamaian” ICRP, pada Jumat malam, 11 Desember 2015. Saya malam itu berduet dengan mas Ahmad Nurcholish sebagai pemateri, yang dipandu oleh mbak Lucy.

Saya memulai presentasi dengan menyatakan bahwa secara umum Papua hari ini sedang menikmati, meminjam lensa teoritis dari Johan Galtung, perdamaian negative (negative peace). Perdamaian negative mengandung arti tidak ada perang (absence of war). Namun, Papua masih harus berjuang merengkuh perdamaian positif (Positive Peace). Perdamaian positif mengandung arti adanya keadilan, hak asasi manusia dan demokrasi yang berdenyut keras di jantung masyarakat Papua. Ini tantangan Papua yang sesungguhnya. Dalam nada yang lain, seorang deklarator Papua Tanah Damai, Pdt Hermann Saud, mengatakan  bahwa kemerdekaan untuk orang Papua mestinya tidak berujung pada Negara baru. Tetapi kemerdekaan dari kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan. Itulah makna kemerdekaan yang semestinya diperjuangkan.

Saat ini, memang, nyaris tidak ada konfrontasi terbuka antara gerakan bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI. Kecuali setiap tanggal 1 Desember yang kerap menghantui masyarakat, dan juga kerap ada insiden kekerasan, karena tafsir sejarah yang diakui orang pendukung “self determination” hari itu sebagai hari Papua Barat. Bahkan, berdasarkan data Sistem nasional Pemantauan Kekerasan (SNPK) The Habibie Center hanya ada dua kota yang masih bergolak, yaitu Puncak Jaya dan Lanny Jaya. Selebihnya sudah relatif aman. Meskipun demo-demo KNPB dalam skala kecil masih kerap terjadi. Tampaknya pendekatan kekerasan bersenjata sudah dilihat tidak terlalu efektif sehingga OPM, dan pelbagai variannya, lebih mengedepankan aspek diplomatis. Misalnya, bagaimana OPM  bisa masuk sebagai anggota Melanesian Spearhead Group (MSG). Bagi saya, pilihan perjuangan yang dilakukan OPM maupun TNI yang menjaga kedaulatan NKRI memang mesti menghindari cara-cara kekerasan (non violent action) untuk tidak jatuhnya korban jiwa, terutama masyarakat sipil.

Ada empat jenis kekerasan secara umum di negara manapun, khususnya yang sedang berlangsung di Papua. Pertama, Kekerasan grup bersenjata. Biasanya ini gerakan separatis, yang menuntut pemisahan diri dari negara yang berdaulat. Kedua, Kekerasan Negara, sebagai imbas dari kekerasan pertama. Misalnya, penyiksaan dan intimidasi kepada simpatisan atau keluarga korban. Ketiga, Kekerasan struktural, kekerasan yang timbul akibat kebijakan Negara yang menindas rakyat. Sering kita dengar istilah, anak ayam mati di lumbung, untuk menggambarkan deprivasi relatif yang dialami masyarakat Papua yang terpinggirkan. Keempat, Kekerasan komunal atau kekerasan antar warga berbasis etnik dan agama.

Saya sebagai pegiat perdamaian, lebih konsens dengan kekerasan komunal berbasis etnik dan agama. Secara historis, Indonesia pernah dimurkai dengan konflik komunal yang brutal. Ambon, Poso, Sambas dan Sampit pernah merasakan nestapa akibat konflik komunal yang bernuasa agama dan etnik. Meskipun, penyebabnya bukan murni agama, namun lebih pada persoalan ekonomi dan politik, yang bersilang sengkarut dengan kegagalan Negara mengelola keragaman.

Pada saat puncak konflik komunal terjadi, Papua dikhawatirkan akan dilanda konflik yang sama. Maka, untuk mencegah konflik serupa para pimpinan agama di FKPPA mendeklarasikan Papua Tanah Damai pada 5 Februari 2002. Karenanya, setiap tanggal 5 Februari di Papua diperingati sebagai hari Papua Tanah Damai (Hari Pekabaran Injil merujuk masuknya Injil 5 Februari 1855), dan juga diperingati sebagai hari libur fakultatif. Raison D’tre kelahiran Deklarasi tersebut dipicu oleh konflik komunal yang terjadi di luar sana, sehingga bisa dicegah masuk ke Papua. Selain itu, kritikan terhadap pemerintah yang gagal mendeliver kesejahteraan terutama aspek hak-hak ekonomi, sosial dan budaya serta penggunaan kekerasan yang eksesif. Puji Tuhan, konflik komunal mereda dan Papua selamat dari efek domino tersebut. Belakangan FKUB bentukan pemerintah ikut serta menjaga temperatur kerukunan dalam derajat yang aman.

Sekian lama Papua dipandang sebagai salah satu kota model toleransi beragama. Meskipun demikian, terdapat empat tantantan kerukunan dan perdamaian di Tanah Papua. Satu, Fanatisme agama yang berlebihan. Kedua, primordialisme etnik berlebihan. Ketiga, Marjinalisasi orang asli Papua. Keempat, perubahan sosial akibat bonus demografi. Di sini, fanatisme agama yang berlebihan, yang ditandai di kalangan Kristen munculnya Gereja Kharismatik dan di kalangan Islam, gerakan Islam transnasional, untuk beberapa derajat, telah menimbulkan ketegangan keagamaan di Papua.

Bahkan, tahun 2015  kita dikagetkan oleh insiden Tolikara 17 Juli 2015 dan polemik pembangunan masjid rahmatan lil alamin di Kota Manokwari. Papua dan Papua Barat tetap menjadi model kerukunan dengan kearifan lokal yang sudah tertanam jauh melampaui ratusan tahun lalu, dengan Satu Tungku Tiga Batu atau agama keluarga serta penghormatan pada rumah ibadah yang dipercayai akan mendatangkan dampak negatif bagi pelakunya. Dalam menghadapi intoleransi beragama tersebut FKUB dan FKPPA telah memainkan peranan yang signifikan, termasuk mengnisiasi perjanjian damai antara GIDI dan Muslim Tolikara pada 29 Juli 2015. Bahkan, pada level kota, FKUB telah mengKOkan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mesti meminta ijin FKUB untuk melakukan kegiatan yang melibatkan publik. Jikapun meminta ijin ke FKUB, maka tampaknya mustahil bagi gerakan yang merongrong kedaulatan Negara Republik Indonesia dengan isu usungan khilfah untuk negara ini untuk diberikan ijin keramaian beruipa tabligh akbar khilafah.

Keberhasilan FKUB/FKPPA dalam menjaga kerukunan juga di antaranya adalah berjejaring dengan organisasi masyarakat sipil yang lain. FKPPA pernah mendapat kucuran dana dari Cordaid sebelum dilarang beroperasi di Papua, sehingga kegiatannya benar-benar hidup, bahkan melakukan studi banding ke Mindanau, wilayah bergolak di Pilifina. Dalam praktik, FKPPA dewasa ini berjejaring dengan yayasan Interfidei Yogyakarta untuk melaksanakan kegiatan kerukunan dalam bentuk FGD, seminar dan konferensi baik skala lokal maupun nasional. Meskipun demikian, sinergi FKUB/FKPPA masih terbatas dan belum merupakan sinergi yang optimal. Terlepas dariu kekurangannya, FKUB/FKPPA telah menjadi “intervening positive factors” dalam mencegah terjadinya konflik komunal yang brutal. Orang-orang di FKUB juga adalah orang FKPPA dan sebaliknya.

Berikut ini adalah beberapa kegiatan FKUB, yang pada priode ini dianugrahi sebagai peraih ketiga  “Harmony Award” dari Kemetrian Agama RI, disertai uang pembinaan.

Pertama, FKUB Papua secara rutin melakukan kegiatan sosialisasi untuk kerukunan di pelbagai kota di Papua.

Kedua, FKUB Papua secara pro aktif berusaha mencegah kerukunan, baik dengan anjuran perdamaian, dialog, studi banding dan pertukaran penetahuan,

Ketiga, FKUB Papua berjejaring dengan yayasan serupa yang berjuang untuk toleransi  dan kegiatan kerukunan. Namun, belum maksimal dalam menggandeng semua lembaga serupa di tanah Papua, yang masih cenderung terdesentralisasi.

Pada akhirnya, kerukunan di Tanah Papua adalah mimpi bersama, yaitu Papua Tanah Damai. Inilah visi Papua baru, yang menuntun kita untuk berbuat yang terbaik untuk damai Papua, damai Indonesia.  Selamat Sekolah Agama dan Perdamaian ICRP.

Penulis: Staf Khusus FKUB Papua dan pengajar Jurusan Hubungan Internasional USTJ Papua[:]