[:id]Bawaslu: Lembaga Agama Jangan Terima Politik Uang[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Nelson Simanjutak  mengajak lembaga agama untuk menolak money politics atau politik uang saat pilkada. Bawaslu meminta kepada agamawan dan lembaga agama mengajarkan proses pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang supaya  lebih bermoral.

“Oleh karena itu, program kami di Bawaslu mendorong tokoh agama agar pilkada ini lebih bermoral. Diharapkan juga lembaga agama bisa mengajak masyarakat untuk menolak politik uang,” ungkap Nelson Simanjutak saat ditemui di Graha Oikoumene, Jakarta, Minggu (27/9/2015).

Nelson menuturkan, dalam UU Nomor 1 tahun 2015 tentang pemilihan kepala daerah tidak mencantumkan kekuatan hukum yang kuat untuk menindak politik uang.

“Jadi bawaslu sudah tidak ada kewenangan” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Nelson meminta kepada penegak hukum untuk menerapkan Pasal 149 KUHP yang berbunyi:

“(1) Barang siapa pada waktu diadakan pemilihan berdasarkan aturan-aturan umum, dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, menyuap seseorang supaya tidak memakai hak pilihnya atau supaya memakai hak itu menurut cara tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling lama empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Pidana yang sama diterapkan kepada pemilih, yang dengan menerima pemberian atau janji, mau disuap.”

Dalam UU pilkada, pemberian uang atau money politic  tidak diatur . Oleh sebab itu, Bawaslu mendorong kepolisian untuk tanggap, lantaran Bawaslu secara normatif tidak bisa menindaklanjuti.

Nelson berharap dalam Pilkada ini tidak ada praktik-praktik politik uang yang dilakuakan oleh kandidat serta masyarakat, terlebih agamawan atau lembaga keagamaan.[:]

[:id]Kata Intelektual Soal Tragedi Mina…[:]

[:id]JAKARTA, ICRP – Jatuhnya ratusan korban kala lempar jumroh di Mina minggu ini membuat sejumlah pihak mempertanyakan Arab Saudi selaku penyelenggara haji. Pasalnya, Tragedi Mina juga sebelumnya diikuti tragedi yang tak kalah memilukan dengan jatuhnya crane di masjidil Haram. Banyak kritik berisi mempertanyakan keseriusan Arab Saudi dalam mengurus “para tamu tuhan”.

Salah satu kritik muncul dari negeri Para Mullah, Iran. Pernyataan ini langsung dilontarkan dari pemimpin spiritual tertinggi di Iran Ayatollah Ali Khamenei di website pribadinya. Khamenei meminta pemerintah Saudi untuk bertanggungjawab atas tragedi ini. ” Pemerintahan Saudi harus bertanggungjawab terhadap musibah ini. Kesalahan manajemen dan penanganan adalah penyebab musibah ini terjadi,” kata Khamenei.

Sejarawan Turki Mustafa Akyol juga mengutarakan hal serupa. Dalam tulisannya di nytimes, penulis buku “Islam Without Extremes” menuturkan kekecewaannya terhadap otoritas Saudi yang seolah tak serius belajar dari masa lampau. Akyol menunjukan kejadian serupa juga sempat terjadi ketika tahun 1990 yang tak kurang menewaskan 1400an orang di Mina.

Lebih dari itu, Akyol melihat Saudi terkesan ingin menunjukan bahwa kejadian semacam ini diluar otoritas manusia.  Akyol melihat hal semacam ini adalah fatalisme di dunia Islam yang harus segera dituntaskan. Akyol ingin pemerintah Saudi serius mengurusi keselamatan “para tamu tuhan”. “Jika dua juta orang terlalu banya untuk diorganisir dengan aman, semestinya quota lah yang harus dikurangi. Keselamatan harus diutamakan,” tulisnya dalam akun media sosial twitter di @AkyolinEnglish.

Intelektual muslim asal Mesir, Tariq Ramadhan juga mengkritisi kerajaan Saudi. Menurut cucu Hasan Albana ini Saudi  sibuk menggelontorkan uang untuk membangun mall dan hotel-hotel mahal alih-alih mengurusi jemaat haji. “Tragedi ini bukan lah suatu kecelakaan melainkan akibat dari kesalahan pengelolaan karena prioritas kebijakan yang keliru,” tulis Tariq di akun media sosial facebooknya.

Namun di balik kritikan pada Saudi untuk memperbaiki keselamatan jemaat haji, ada saja para pembela kerajaan Saudi. Yang disayangkan bahkan sejumlah kalangan menuding Syiah berada tragedi Mina. Mungkin saja kalangan ini melihat kritikan Khamenei sebagai “sinyal” adanya konspirasi. Merespon tudingan itu, intelektual muda NU Akhmad Sahal pun berkomentar dengan tegas di akun media sosial 140 karakternya. “Yg menuduh tragedi Mina sbg ulah Syiah ada 2 kemungkinan: 1) Orang dongo yg otaknya jadi bongkrek krn kebencian. 2) Tukang fitnah keji.” tulisnya di (@Sahal_AS).

Akankah pintu hati pemerintah kerajaan Arab Saudi terketuk untuk memprioritaskan keselamatan para tamu Tuhan ini?[:]

[:id]Karena Kebenaran, Paus Fransis Seorang Yang Bebas [:]

[:id]Dari hari ini (22/9) hingga Minggu (27/9), pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus mengunjungi Amerika Serikat. Sejumlah agenda, bahkan diantaranya adalah pertemuan dengan kaum gay katolik di Gedung Putih dan memberikan sambutan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menjadi bahan perbincangan menarik.

Dalam perbincangan dengan pastur James Martin, SJ, Editor Eksekutif Global Spirituallity and Religion Paul Brandeis Raushenbush menemukan sejumlah pendapat menarik mengenai sosok Paus yang dikenal banyak melakukan terobosan itu.

Pastur Martin merupakan penulis “Jesus : A Pilgrimage” dan sebuah novel yang akan rilis pada Oktober dengan judul The Abby. Pastur Martin juga sama seperti Paus Fransiskus merupakan seorang Jesuit.

Pada perbincangannya dengan Brandeis, Martin menyampaikan paparan mendalamannya menyoal sumpah untuk melawan ambisi duniawi yang dilakukan para Jesuit dalam memahami  Paus Fransiskus. Ia jua menerangkan bahwa spiritualitas Jesuits mensyaratkan diri mereka terbebas dari hal apapun yang memisahkan hubungan diri mereka dengan Tuhan.

“Paus adalah seorang yang bebas…kebenaran telah membebaskan dirinya,” jelas pastur Martin.

 

(sumber : Huffingtonpost.com)

 

 [:]

[:id]Menyajikan Wacana Islam Pembanding Bagi Wajah Islam Seram[:]

[:id]*Ditulis oleh : Erton Vialy Arsy

Bulan ini,  Uwak Sam tengah hangat dengan isu seputar hubungan komunitas muslim dan negara. Tiada lain kasus bocah 14 tahun bernama Ahmed  yang membuat jam telah memantik perdebatan di negeri “nabi demokrasi” ini. Ahmed, seorang siswa muslim di Texas, diciduk pihak keamanan setempat karena diduga telah membuat bom. Kecurigaan para guru pada Ahmed ternyata keliru. Terbukti bahwa Ahmed membuat sebuah jam, bukan bom. Penangkapan Ahmed menunjukan masih bersarangnya Islamophobia di masyarakat AS.

Ahmed dan jam tangannya ini membuat kontroversi.  Bahkan Barrack Obama pun turut berkomentar. Presiden kulit hitam pertama AS ini mengapresiasi karya Ahmed. Obama mengundang Ahmed datang ke Gedung Putih bersama jam karya siswa muslim itu. Namun, nampaknya tidak semua politisi kulit hitam seperti Obama. Alih-alih mengambil sikap untuk mengurangi adanya dosis Islamophobia, kandidat presiden dari Partai Republik Ben Carson justru mengeluarkan pernyataan yang negatif terhadap komunitas muslim di Uwak Sam. Ben Carson menegaskan dirinya tak akan membiarkan presiden AS berasal dari muslim. Pernyataan yang tak kalah keras juga dilontarkan politisi Republikan lainnya, Sarah Palin. Mantan gubernur Alaska itu masih tidak percaya bahwa karya buatan Ahmed adalah jam.

Para kandidat dari Republikan memang nampaknya memiliki masalah dengan keberagaman. Donald Trump misalnya begitu bersemangat untuk mengusir para imigran asal Amerika Latin dari Uwak Sam. Sarah Palin dan Ben Carson juga tak kalah sinisnya pada komunitas muslim.

Khusus mengenai muslim, memang ada sejumlah prejudice bahwa agama Islam merupakan agama teror dan sejumlah hal-hal negatif lainnya yang kerap menjadi bahan sasaran kalangan ultra kanan dimanapun berada, termasuk para politisi Republikan.  Arab Saudi, ISIS, Taliban, Al-Qaida dan Boko Haram selalu menjadi gambaran di benak para politisi ultra kanan ketika pertama kali terpikir mengenai Islam. Kekerasan dan anti kemanusiaan memang menjadi satu hal yang identik baik  bagi Saudi atau pun kelompok-kelompok Islam ini. Dan tidak keliru pula bahwa Arab Saudi, ISIS, Taliban, dan Al-Qaida mengaku sebagai sebenar-benarnya muslim.

Jadi, jika melihat Islam direpresentasikan oleh mereka tentu saja  benar sekali apa yang diutarakan para politisi ultra kanan atau republikan. Kesalahan ultra kanan atau Ben Carson dan Sarah Palin adalah menilai bahwa Islam satu suara satu warna. Padahal tentu saja tidak demikian. Namun, pada tulisan ini saya juga tidak mengatakan bahwa ISIS dan para pengikut Salafi Wahabi yang gemar melakukan kekerasan itu bukan Islam. Tidak saya tidak mau mengambil sikap yang apologetic menyoal Islam dan kekerasan.

Saya kira persoalan Islamophobia disebabkan salah satunya adalah karena masih dominannya pemahaman salafi-wahabi atau garis ekstrim Islam lainnya sebagai representasi Islam. Wajah Islam yang  toleran masih belum mampu untuk menandingi wajah seramnya ISIS. Entah karena pemberitaan atau lemahnya wacana, Islam toleran senantiasa gugur sebelum berbunga. Sekurang-kurangnya ini yang saya amati pada abad ke-21. Ini jelas merupakan tantangan siapapun yang mendaku penyemai Islam rahmatan lil alamin.

Persoalan representasi ini lah yang harus segera diganti. Tidak boleh dibiarkan wajah Islam yang seram selalu mewarnai citra Islam. Pertanyaannya darimana memulai langkah dan adakah potensi untuk melawan arus keagamaan yang begitu mengerikan sebagaimana tergambar oleh aksi-aksi kelompok radikal di seantero dunia muslim?

Langkah pertama, rasanya kita harus menjauhkan dulu Timur Tengah sebagai satu-satunya warna dalam Islam. Dengan segala kerumitan geopolitiknya, Timur Tengah sudah lagi tidak relevan untuk mewacanakan gagasan Islam yang penuh kasih. Justru di kawasan inilah sumber segala tudingan kaum ultra kanan di Eropa atau Sarah Palin dan Ben Carson berawal.

Hemat saya, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan yang dicetuskan NU dan Muhammadiyah perlu didorong ke permukaan wacana Islam di tataran global. Atau sebagaimana dalam paparan intelektual muda NU, Syafiq Hasyim Islam Nusantara punya kemungkinan untuk dijadikan project identity. Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan perlu didorong sebagai wajah islam tandingan dari kelamnya wajah Islam di Timur Tengah. Meski terkesan masih kosong, namun melihat dari wacana yang berkembang kedua gagasan yang dicetuskan kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini cukup menjanjikan. Terlebih pemerintahan Jokowi nampak cukup punya minat mengembangkan gagasan Islam yang toleran.

Islam Nusantara dan Islam berkemajuan memang harus naik ke permukaan global. Dominasi Islam anti ini anti itu yang berasal dari Timur Tengah harus diturunkan dari tahtanya. Dengan memenangkan wacana di internal Islam, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan akan mampu menepis  tudingan kalangan ultra kanan dan Republikan di Barat mengenai Islam. Atau sekurang-kurangnya kemenangan wajah toleran Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan akan  meyakinkan dunia bahwa umat Islam juga berhak untuk berkarya dalam banyak hal tanpa adanya kecurigaan bahwa muslim sedang membuat senjata pemusnah masal.

 [:]

Ulama Deklarasi Siaga Bumi Sumber Alpha Amirrachman Facebook

[:id]Pemuka Agama Bergerak Menyelamatkan Bumi[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Memperingati hari perdamaian internasional, sejumlah pemuka agama mendeklarasikan Gerakan Indonesia Bergerak Menyelamatkan Bumi (Siaga Bumi), Senin (21/9/2015). Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas untuk berperan aktif dalam gerakan penjagaan lingkungan hidup.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsudin dalam kesempatan tersebut menyampaikan Indonesia seharusnya memprioritaskan perdamaian terhadap lingkungan. Mengingat belakangan ini terjadi kerusakan lingkungan dalam skala luas, yakni kebakaran hutan yang melanda Sumatra dan Kalimantan.

“Kita harus berdamai soal kerusakan lingkungan karena isu ini penting soal kerusakan lingkungan hidup yang luar biasa. Peringkat kita meningkat sebagai negara yang mencipta polusi. Maka pemerintah dan masyarakat perlu bergerak untuk menyelamatkan bumi,” kata Din Syamsudin seperti dilansir merdeka.com.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya memberikan apresiasi terhadap langkah kelompok agamawan yang melakukan Deklarasi Indonesia Bergerak Menyelematkan Bumi (SIAGA BUMI) pada Peringatan Hari Perdamaian Dunia  2015 di Taman Perdamaian Komplek Parlemen, Senayan tersebut.

“Saya mendapat energi dan spirit baru untuk melangkah lebih maju,” kata dia dalam sambutannya.

Para pemuka agama yang hadir, di antaranya dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Walubi Wali Umar Budha Indonesia (Walubi), Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu, Majelis Tinggi Konghuchu Indonesia, Organisasi Masyarakat Islam Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Turut pula menghadiri acara ini Ketua MPR RI Zulkifli Hasan.[:]

deklarasi damai agnes mo

[:id]Ini Isi Deklarasi Damai yang Dibacakan Agnes Mo[:]

[:id]Jakarta, ICRP – memperingati Hari Perdamaian Internasional penyanyi Agnes Mo, Minggu (20/9/2015) mendeklarasikan sebuah gerakan perdamaian, di Balai Kota Jakarta. Deklarasi ini dibacakan bersama dengan istri Almarhum Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid, dan ribuan orang komunitas #BeraniDamai.

Bagi Agnes, gerakan perdamaian ini adalah komitmen untuk mengambil peran perubahan menuju perdamaian. Komitmen ini merupakan langkah kecil untuk memutus rantai kekerasan dan keinginan masyarakat untuk menjadi yang lebih baik.

“Ini adalah prestasi terbesar dalam hidup saya: dapat menggunakan diri saya untuk berbagi nilai-nilai yang paling saya percaya, kasih dan saling memaafkan. Saya sungguh merasa terhormat melihat gerakan I #AMgenerationOfLOVE yang saya mulai dan Janji Kasih yang saya tulis menjadi naskah Deklarasi Gerakan Perdamaian.” Tegas pelantun lagu “matahari” tersebut.

Tanggapan publik sehari kemarin terlihat luar biasa. Kampanye dengan hasta #AMgenerationOfLOVE dan #BeraniDamai menduduki trending topic di berbagai media sosial.

Berikut adalah sumpah kasih atau Oath of Love berjudul I am Generation of Love oleh Agnez Mo:

I am love. I am generation of love.

I dont hate.

I dont gloat over my brother in the day of his misfortune.

I dont take pleasure in seeing peoples trouble.

I am generation of love.

I love. I forgive.

Hatred is my enemy.

Love is my bullet.

 

I will change the world

and the change starts within me.[:]

international peace day at Jakarta. sumber: tim panitia International Peace Day 2015

[:id]Agnes Mo Meriahkan Peringatan Hari Perdamaian Dunia di Balaikota Jakarta[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Setelah sukses pada tahun 2014 lalu, kini the Wahid Institute kembali merayakan peringatan Hari Perdamaian Internasional bersama penyanyi Agnes Mo dan ribuan masyarakat di Balai kota Jakarta, Minggu (20/9/2015). Turut hadir pula beberapa pejabat pemerintahan seperti Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli, Ketua DPD RI, Irman Gusman, dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Menurut Direktur the Wahid Institute Yenny Wahid, pesan perdamaian ini harus terus disuarakan dan harus berani menyuarakannya dengan cara-cara yang kreatif. “Musuh utama kita adalah rasa takut, apatisme, dan cuek. Padahal, ini adalah masalah kita semua,” kata penerima Young Global Leader dari World Economic Forum itu.

Acara ini dimeriahkan rangkaian aksi dan hiburan dari beragam komunitas. Dari peluncuran Spanduk besar #BeraniDamai, pertunjukan barongsai, atraksi tari Komunitas 5 Gunung, pembacaan Mimpi Anak Indonesia, pertunjukan musik Koto, lomba menggambar anak, flash mob dan Pentas Musik Damai Nusantara.

Puncak acara ditutup pembacaan deklarasi Indonesia #BeraniDamai yang dipimpin Yenny Wahid, Agnes Monica –beken dipanggil AGNeZ MO—dan perwakilan komunitas. Selain Agnes ada, sejumlah musisi yang bakal terlibat diantaranya Indra Prasta vokalis The Rain, Tic Band, Gusdurian Band, dan beberapa musisi lain.

Hari Perdamaian Internasional diperingati setiap tanggal 21 September. Peringatan ini didedikasikan untuk memperkuat perdamaian dunia. Ditetapkan sejak 1981 lewat resolusi Dewan PBB 36/67 dan pertama kali dirayakan pada September 1982. Seluruh negara dan masyarakat dunia diharapkan memperingati hari ini sebagai satu hari tanpa peperangan dan tanpa kekerasan. Satu hari bagi Perdamaian, atau Peace One Day.[:]

Ilustrasi agama dan kesepian, sumber: http://www.adrianashton.co.uk/

[:id]Agama yang Mengasingkan[:]

[:id]

Dony Anggoro

Dony Anggoro

Oleh Donny Anggoro *

Setiap zaman, agama di segala tempat menjadi masalah yang pelik sekaligus tetap hangat bagi manusia.  Di satu pihak ia dijunjung sebagai pedoman keselamatan sedangkan di pihak lain, peran agama ternyata malah memicu pertikaian.

Meretas sejarahnya, beberapa abad silam sejak ilmuwan Copernicus dan Galileo menemukan bahwa dunia bukan pusat semesta alam- bahwa matahari tidak mengelilingi bumi, pemuka agama di zaman itu mendadak berang ketika gambaran Alkitab tentang alam semesta ternyata tidak akurat, seolah mereka sudah mencemari keyakinan yang telah dipercaya berabad-abad. Seusai heboh perdebatan penemuan Galileo dan Copernicus, muncul Darwin yang juga dikecam dengan teori evolusinya.

Dalam tataran internal, agama kemudian diorganisir agar mampu menjalankan misinya: kebaikan untuk manusia. Namun ketika menjadi organisasi yang notabene membutuhkan umat dan anggota, usaha untuk menambah jumlah pengikut kemudian menjadi pemicu konflik sehingga agama menjadi sebuah kenyataan yang tidak menguntungkan.

Ketika agama mulai banyak dipakai untuk kepentingan politik, para pemimpin dan pemukanya ramai-ramai dipinang partai politik sebagai “ikon” atawa “penglaris” untuk menambah jumlah pengikut. Ia kemudian menjadi kendaraan dan sarana semata yang dapat menguntungkan pihak tertentu. Tantangan yang timbul dalam organisasi agama bukan lagi untuk menambah kualitas keimanan, melainkan menambah jumlah anggotanya. Selain peran politik dengan label agama, ada pula tokoh-tokoh agama yang lantas rentan terhadap godaan seksual dan materi sampai praktik korupsi dalam bisnis donatur kaya yang dihormati organisasi keagamaan.

Sedangkan dalam industri televisi kita beredarnya tayangan religius dengan memadukan aspek mistis dan religius seperti Taubat dan Rahasia Illahi seolah-olah menunjukkan kesadaran keimanan di masyarakat sedang meningkat dengan tidak ditayangkannya lagi acara tersebut hanya pada bulan Puasa menjelang Idul Fitri. Padahal, tayangan-tayangan tersebut menjadi tren ketika para produser televisi melihat bahwa sinetron bernafaskan Islami toh bisa laku dijual setelah diproduksinya sinetron glamor adaptasi telenovela Meksiko dan cerita-cerita ala Meteor Garden. Belum lama berselang, kaum ulama di negeri ini sepertinya sedang risau bahwa “plularisme”, “sekularisme”, dan “liberalisme” akan mengalahkan Tuhan.  Karena di segala zaman persoalan agama tetap hangat digulirkan, guru besar Karl Marx, Feurbach kemudian menulis: “Agama mengasingkan manusia dari dirinya sendiri”.

Pertanyaan mengusik, jika benar agama sudah mengasingkan umat manusia, apakah yang sesungguhnya telah terjadi? Bukankah agama semula berasal dari Tuhan?

***

Secara logis, memang benar agama adalah ciptaan manusia. Sedangkan Dr. Franz Dahler, filsuf asal Swiss dalam bukunya Masalah Agama (Kanisius, 1970) mengatakan adalah benar agama didefinisikan sebagai hukum yang diturunkan Tuhan melalui perantaraan nabi-nabi. Sekalipun benar, definisi ini kemudian menjadi pengertian yang dangkal sehingga menimbulkan kesan jika sudah menaati semua hukum dalam agama dari Tuhan, segala persoalan sudah selesai. Padahal ketaatan tanpa keyakinan hati, tetap saja kosong. Inilah yang membuat agama dirasa telah mengasingkan manusia.

Memang agama menurut Harold S. Kushner seorang rabi asal Massachusetts, Amerika dalam bukunya Who Needs God? adalah usaha untuk mengerti dan mengontrol sesuatu yang belum diketahui meskipun semakin lama setelah memahami bagaimana dunia ini bekerja, wilayah agama menjadi kecil. Memang benar pada abad 19 dan 20 yang ditandai dengan kejayaan ilmu pengetahuan serta pencarian obyektif tentang kebenaran yang dapat diuji, iman kemudian tergantikan sehingga di dalam agama lama-lama hanya terasa seperti cerita rakyat atau khayalan saja. Sedangkan dalam masyarakat modern yang ramai-ramai memilih kebenaran, melihat agama sebagai musuh kejujuran, kemajuan, dan sains.

Dalam novel masterpiece-nya yang berjudul 100 Years of Solitude sastrawan Kolombia, Gabriel Garcia Marquez mengisahkan sebuah desa yang terjangkit wabah pelupa. Diawali dari penduduk paling tua, wabah tersebut mengakibatkan orang sampai lupa bahkan pada benda sehari-hari paling umum sekalipun. Seorang pemuda yang belum terjangkiti mencoba mengatasi dengan melabeli setiap  benda seperti “ini meja”, “ini jendela”, “ini sapi” dan seterusnya. Sampai pada pintu gerbang kota di jalan utama dia menuliskan tanda berukuran besar. Yang satu bertuliskan “Nama pemukiman kita adalah Macondo” sedangkan pada tanda berukuran lebih besar lagi pemuda itu menuliskan “Tuhan Ada”.

Marquez lewat novelnya seolah mengingatkan kita di abad 21 ini masih terjadi wabah penyakit lupa. Mirip dengan novel Marquez tersebut, setelah mengalami represi selama lebih dari 30 tahun, kita lalu mengalami “amnesia” kronis dengan melupakan kesalahan masa lalu. Seakan menegaskan apa yanng pernah dituliskan Marquez, Milan Kundera dalam The Book of Laughter and Forgetting mengatakan, melupakan adalah bentuk lain dari kematian. Dan yang sesungguhnya terjadi kita toh lupa bahwa setiap agama jika tak mau membeku harus sanggup berevolusi.

Kita memang sedang dikutuk untuk melakukannya dengan terus menerus mengulang kebodohan lantaran telah melupakan siapa pemilik kita yang sedang gusar melihat tindakan para pemuka agama beserta label-label agama yang digunakannya, yaitu Tuhan itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita beranjak untuk mulai melawan lupa? *

*) eseis, tinggal di Jakarta. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Majalah MaJEMUK, ICRP

 [:]

[:id]Dua Dimensi Konflik di Suriah[:en]Dua Dimensi Konflik[:]

[:id]*Ditulis oleh Erton Vialy Arsy

Berdasar data dari UNHCR tidak kurang dari 348.000 orang Suriah mendaftarkan diri sebagai pencari suaka ke  Benua Biru sepanjang 2011-2015. Migrasi besar-besaran ini sudah tentu menjadi masalah bagi para pemimpin negara-negara Eropa. Bukan hanya urusan perut  pertimbangan konflik sosial yang mungkin terjadi kelak tentu membuat para pengambil keputusan di Eropa pusing sekali. Belum lagi para politisi ultra kanan juga garang sekali pada imigran.

Dengan jumlah imigran sebesar itu bisa dipastikan kondisi di Suriah amat mengerikan. Tak mungkin tiap orang semudah itu meninggalkan tanah kelahiran. Pastilah konflik disana sudah tak bisa lagi membuat jutaan orang di Suriah mampu bertahan. Kekerasan komunal yang mengerikan  tengah terjadi di Suriah.

Berbincang tentang konflik di Suriah sebetulnya sudah banyak yang membahasnya. Hari ini saya ingin sekadar memberikan paparan agar konflik ini terlihat kian rumit. Bagi saya sendiri konflik ini memang amat sulit dicari solusi yang win-win solution. Kubu Assad dan para pemberontak di Suriah sama-sama tak mau berkompromi. Bagi kedua belah pihak rasanya lebih baik mati daripada duduk ke meja perundingan dan mempertimbangkan jutaan orang yang berhamburan ke negeri orang.

Namun, hemat saya konflik yang menelan tidak kurang dari 250.000 nyawa ini bukan semata perseteruan antar faksi di domestik seperti halnya konflik di Rwanda pada awal 90an. Yang jauh lebih merepotkan adalah karena konflik di Suriah merupakan percikan dari dua dimensi konflik. Dan agaknya tanpa mengurai dua dimensi konflik berskala global ini agak mustahil menghentikan tangisan orang-orang  Suriah.

Dimensi pertama dari konflik ini saya namai Konflik Lama Bersemi Kembali (KLBK). Dalam hal ini saya bermaksud menyinggung prahara politik Perang Dingin. Kawasan Timur Tengah merupakan poros dari perseteruan antara Blok Barat dan Blok Timur.  Kedua negara super power Amerika Serikat dan Uni Sovyet saling beradu pengaruh di kawasan kaya minyak itu. Masing-masing negara di kawasan ini menempel pada kedua negara adidaya itu seperti negara-negara lain di berbagai kawasan pada umumnya. Sebagian besar negara-negara Teluk di bawah komando Arab Saudi adalah sahabat Uwak Sam.

Suriah sebagaimana diketahui bersama adalah  “pendakwah komunisme” di jazirah Arab kala Perang Dingin . Suriah ,dengan Hafez Al Assad yang otoritarian, merupakan negara yang powerful dalam peta politik di kawasan Timur Tengah.  Bersama dengan Mesir, Suriah adalah handai tolan Uni Sovyet di kawasan.

Perang Dingin usai, Bipolar selesai. Dunia menjadi unipolar. Uwak Sam menguasai peta politik di seluruh kawasan, termasuk Timur Tengah.  Di kawasan ladang minyak ini, tinggal Suriah sebatang kara yang masih setia pada Kremlin. Namun, AS nampaknya belum puas jika dinasti Assad belum turun dari kekuasaan di Damaskus. Karena itu, hingga Presiden George Walker Bush memastikan sejumlah tekanan politik pada Suriah tetap berjalan.

Kesempatan menggeser dinasti Assad muncul saat Arab Springs mekar. Dimulai dari tahun 2011 saat konflik ini mulai berkobar, AS terkesan begitu gencar mendesak dinasti Assad untuk turun dari kekuasaan. Bukan hanya berkampanye di PBB, AS juga terjun langsung untuk mengurusi perang sipil di Suriah. Bersama dengan negara-negara anggota NATO, AS memberikan bantuan pada oposan di Suriah. Pokoknya Bashar Al-Assad harus turun. Inilah kemauan Washington. Titik.

Pada titik ini saya berharap AS tidak melakukan kesalahan serupa sebagaimana yang pernah ia lakukan di Afghanistan. Uwak Sam mengusir komunisme di Afghanistan dengan mengerahkan paramiliter yang menjadi cikal bakal kelompok ekstrim di negeri para Mullah itu. Saya yakin  Obama sadar benar Free Syrian Army (FSA) juga disusupi oleh kelompok ekstrimis Islam.

Namun, setelah empat tahun konflik berlangsung ketegangan tidak berhenti. Bahkan yang terjadi dosisnya kian meninggi. Dalam minggu ini dikabarkan, Kremlin berjanji untuk menguatkan kemampuan pertahanan militer rezim Assad. Hal ini langsung dinyatakan Vladimir Putin ketika mengunjungi Tajikistan. Putin menegaskan Rusia akan membangun kekuatan militernya di Suriah. Alasannya, yakni Rusia ingin membabat habis ISIS di Suriah. Bahkan Putin mengajak negara-negara lain untuk ikut bersama Rusia membasmi ISIS.

Sudah tentu ini membuat Washington geram. Tak lama setelah Putin membeberkan rencana Rusia, Washington langsung merespon. AS keberatan dengan rencana Rusia untuk memperkuat kemampuan militer Suriah. Meskipun Washington mengaku juga tak kalah geram dengan sepak terjang ISIS.

Singkat kata, hemat saya konflik di Suriah akan sulit dicari jalan keluarnya jika AS dan Rusia masih gagal move on dari corak pikir era Perang Dingin. Washington dan Kremlin sudah saatnya duduk santai bersama dan menghentikan paradigma zero sum game.

Yang lebih menarik ada pada dimensi kedua. Dalam konflik di Suriah, salah satu kelompok pemberontak yang begitu getol menyerang Assad adalah paramiliter Salafi-Wahabi. Kelompok-kelompok ini di antaranya Jabhat Al-Nusra dan kelompok teroris paling mematikan di dunia saat ini Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Kedua kelompok ini jelas sama sekali bukan ingin mendirikan negara yang demokratis jika berhasil menjatuhkan dinasti Assad. Baik Al-Nusra maupun ISIS sama-sama ingin mendirikan rezim negara Islam yang ekstrim. Buktinya bisa kita pada sepak terjang ISIS. Niatan kedua kelompok ini tiada lain adalah menghancurkan rezim Assad yang dinilai simbol dari kekuasaan Syiah.

Niatan politik Al-Nusra dan ISIS disambut hangat Arab Saudi dan negara-negara Teluk serta Turki dan Ikhwanul Muslimin (IM) – Rasanya konflik di Suriah memang menjadi pemersatu rezim negara-negara Sunni meski bahkan IM dimusuhi habis-habisan oleh Arab Saudi. Sudah menjadi rahasia umum Arab Saudi membantu kelompok-kelompok ekstrim ini pada mulanya dalam menjungkalkan Assad di Damaskus. Turki diduga kuat memberi akses yang mudah bagi hilir mudik masuknya jihadis ISIS ke Suriah.

Arab Saudi bersama negara-negara Sunni di kawasan begitu bersemangat melucuti kekuasaan Assad. Memang Suriah memiliki kedekatan spesial dengan Iran. Kedua negara dianggap menjadi ancaman serius bagi rezim-rezim “Sunni”. Bagi Saudi menghancurkan Assad menjadi penting. Karena, Assad bersama Iran dianggap sebagai representasi corong politik Syiah.

Gairah politik anti-Syiah Saudi dan negara-negara Sunni lainnya di kawasan Timur Tengah memang boleh dikatakan luar  biasa. Saya kira bahkan aroma konflik sunni-syiah dalam konflik ini meluber keluar dari kawasan. Dengan sengaja Arab Saudi dan negara-negara Teluk, saya duga kuat, mengkampanyekan anti-syiah ke seantero dunia. Hal ini saya rasakan ketika berbincang dengan petinggi di kedutaan salah satu negara Teluk beberapa waktu lalu.

Iran sendiri punya sikap yang tak mau mengalah dalam perkara ini. Membela rezim Assad adalah segalanya. Pasalnya, Assad adalah pelindung dari Hizbullah yang merupakan “saudara” dari Iran.

Yang mengerikan saya kira dari dimensi kedua ini adalah agama. Sebagian umat Islam melihat konflik Suriah adalah konflik agama. Konflik seolah diyakini bermuara dari pertarungan antara good muslim vs evil muslim. Atau singkatnya konflik Suriah dinilai sebagai konflik Sunni-Syiah yang telah ratusan tahun sejak era dinasti Muawiyah berkuasa.

Kecemasan saya konflik ini akan panjang dan bukan tidak mungkin meluas keluar dari kawasan Timur Tengah.  Sebagaimana kita cium aroma kebencian anti-syiah mulai terasa di tanah air. Jika hal ini tidak segera ditangani dengan cepat saya menduga kuat dunia Islam akan kian kelam.

Rasanya tak mungkin pula berharap kesediaan Arab Saudi dan Iran menyelesaikan sengketa. Kedua negara seperti air dan minyak. Tak mau berkompromi, enggan berkolaborasi. Lebih baik perang Barata Yudha ketimbang duduk bersama.

Untuk merespon gejolak politik di Suriah agar tak meluas, hemat saya dunia Islam perlu berpikir secara mendalam mengurai akar konflik. Sekaligus, saya menawarkan, alangkah baiknya pikiran umat Islam haruslah disekulerkan. Dalam arti bahwa, umat Islam harus sadar konflik yang terjadi di Suriah bukan perkara ukhrawi. Semata-mata yang terjadi adalah pertarungan poros Iran dan Arab Saudi. Dengan demikian, umat Islam bisa fokus pada pencarian alternatif dalam rangka menyelesaikan tragedi kemanusiaan di Suriah.

 

 

 

 [:]

Aksi kamisan, menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM

[:id]10 Bulan Menjabat, Jokowi Dinilai Belum Serius Tuntaskan Pelanggaran HAM[:]

[:id]Jakarta, ICRP – Setelah 10 bulan menjabat pemerintahan, Presiden Joko Widodo dinilai belum memberikan perhatian serius terhadap penuntasan pelanggaran berat. Padahal penuntasan HAM berat merupakan bagian dari janji kampanye pasangan Jokowi – Jusuf Kalla.

“Sudah 10 bulan Jokowi menjadi Presiden, tetapi belum memberikan perhatian serius dalam penuntasan kasus pelanggaran HAM, seperti Peristiwa Tanjung Priok 1984,” kata Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, melalui keterangan tertulis, Senin (14/9/2015).

Haris meminta Presiden untuk memerintahkan Kejaksaan Agung Republik Indonesia untuk segera melakukan penyidikan terhadap kasus pelanggaran HAM berat yang telah diselidiki oleh Komnas HAM.

Kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah Peristiwa Tanjung Priok yang terjadi pada tahun 1984. Menurut laporan Komnas HAM, kasus tersebut menelan korban 24 jiwa meninggal dunia dan 55 orang luka berat. Menurut Haris, Pengadilan HAM Ad Hoc yang digelar pada 2003-2004 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat juga telah terjadi pelanggaran HAM berat dalam peristiwa tersebut.

“Belum ada kebijakan nyata untuk mempercepat penuntasan pelanggaran HAM berat,” ujarnya.

Haris meminta Presiden segera membuat kebijakan untuk memberikan pemulihan kepada korban peristiwa tersebut. Menurutnya, selama ini korban Peristiwa Tanjung Priok mendapatkan perlakuan tidak adil dalam proses peradilan.

 [:]