Soal Dialog Antar Umat Beragama, Romo Magnis Beri 3 Catatan

JAKARTA, ICRP : Acara bedah buku “Perjalanan Menjumpai Tuhan” ramai dihadiri aktivis lintas iman. Ruang rapat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) pada Kamis (23/4) sesak dipenuhi peserta diskusi. Beberapa peserta bahkan rela untuk berdiri menyaksikan diskusi siang ini.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Agamawan Katolik Frans Magnis Suseno, Ketua Yayasan Cahaya Guru (YCG)  Henny Supolo, Ketua Ikatan Jemaat Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rakhmat dan lain-lain.

Tak membuang waktu, Ahmad Nurcholish yang siang ini menahkodai diskusi langsung memberikan kesempatan tokoh senior yang hadir sebelum memulai sesi tanya jawab. Frans Magnis Suseno mendapat giliran. Frans Magnis Suseno atau yang lebih dikenal Romo Magnis memberikan tiga catatan dalam upaya meningkatkan hubungan antar umat beragama. Pertama, menurut Romo Magnis hal yang penting ialah membangun komunikasi yang intensif antar umat beragama. Hal ini, menurut Romo Magnis bisa mengurai adanya kecurigaan yang mendalam.  “Kita akan lebih biasa pada peredaan, ini penting sekali biar masing-masing umat tak saling merasa terancam,” kata Romo.

Poin kedua, yang Pria kelahiran Austria 78 tahun lalu ini, ialah pentingnya umat beragama untuk mendasarkan pemahaman keagamaanny pada nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan. “Saya lihat banyak orang-orang yang hanya hidup atas nama agama dia menjadi ideoogis dan berbahaya. orang mesti sadar hal-hal tertentu yang juga atas nama agama dibuat oleh orang-orang yang tak baik,” ucap Romo Magnis “Atas nama agama orang-orang semacam ini bisa membunuh padaha l tentu saja membunuh tidak bisa dibenarkan” sambung Romo Magnis.

Hal terakhir yang Romo ungkapkan ialah mengenai pentingnya umat beragama untuk mulai bersikap kritis pada teks-teks agama. “Kita di ICRP perlu membicarakan bersama-sama ayat-ayat yang membenarkan kekerasan, tidak bisa selamanya bicara yang baik-baik saja karena disitu (teks-teks agama) dituliskan seperti itu,” ungkap Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini. Sore itu ia memberikan beberapa polemic dalam teks-teks agama. “Di perjanjian lama salah satu dosa Israel itu adalah bahwa mereka tidak memusnakah semua bangsa Palestina. Jadi mereka seolah mersa genocida mereka belum benar-benar kaffah. Hal semacam ini yang harus dihadapi,” ucap Romo Magnis.

Contoh kedua, Romo lontarkan perkara yang ada di Katolik. “Dulu di Katolik melihat orang yang tidak dibaptis tidak bisa mendapat jalan keselamatan,” ungkapnya Menurut Romo Magnis polemic semacam ini perlu dihadapi. “Kita perlu jujur mengatakan bahwa ISIS itu bisa membenarkan segenap tindakan mengerikannya dengan teks-teks agama,” kata Romo Magnis.

JAKARTA, ICRP : Acara bedah buku “Perjalanan Menjumpai Tuhan” ramai dihadiri aktivis lintas iman. Ruang rapat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) pada Kamis (23/4) sesak dipenuhi peserta diskusi. Beberapa peserta bahkan rela untuk berdiri menyaksikan diskusi siang ini. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Agamawan Katolik Frans Magnis Suseno, Ketua Yayasan Cahaya Guru (YCG)  Henny Supolo, Ketua Ikatan Jemaat Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rakhmat dan lain-lain.
Tak membuang waktu, Ahmad Nurcholish yang siang ini menahkodai diskusi langsung memberikan kesempatan tokoh senior yang hadir sebelum memulai sesi tanya jawab. Frans Magnis Suseno mendapat giliran. Frans Magnis Suseno atau yang lebih dikenal Romo Magnis memberikan tiga catatan dalam upaya meningkatkan hubungan antar umat beragama.  Pertama, menurut Romo Magnis hal yang penting ialah membangun komunikasi yang intensif antar umat beragama. Hal ini, menurut Romo Magnis bisa mengurai adanya kecurigaan yang mendalam.  “Kita akan lebih biasa pada peredaan, ini penting sekali biar masing-masing umat tak saling merasa terancam,” kata Romo.
Poin kedua, yang Pria kelahiran Austria 78 tahun lalu ini, ialah pentingnya umat beragama untuk mendasarkan pemahaman keagamaanny pada nilai-nilai kebudayaan dan kebangsaan. “Saya lihat banyak orang-orang yang hanya hidup atas nama agama dia menjadi ideoogis dan berbahaya. orang mesti sadar hal-hal tertentu yang juga atas nama agama dibuat oleh orang-orang yang tak baik,” ucap Romo Magnis “Atas nama agama orang-orang semacam ini bisa membunuh padaha l tentu saja membunuh tidak bisa dibenarkan” sambung Romo Magnis. Hal terakhir yang Romo ungkapkan ialah mengenai pentingnya umat beragama untuk mulai bersikap kritis pada teks-teks agama.
“Kita di ICRP perlu membicarakan bersama-sama ayat-ayat yang membenarkan kekerasan, tidak bisa selamanya bicara yang baik-baik saja karena disitu (teks-teks agama) dituliskan seperti itu,” ungkap Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.
Sore itu ia memberikan beberapa polemic dalam teks-teks agama. “Di perjanjian lama salah satu dosa Israel itu adalah bahwa mereka tidak memusnakah semua bangsa Palestina. Jadi mereka seolah mersa genocida mereka belum benar-benar kaffah. Hal semacam ini yang harus dihadapi,” ucap Romo Magnis.
Contoh kedua, Romo lontarkan perkara yang ada di Katolik. “Dulu di Katolik melihat orang yang tidak dibaptis tidak bisa mendapat jalan keselamatan,” ungkapnya Menurut Romo Magnis polemic semacam ini perlu dihadapi. “Kita perlu jujur mengatakan bahwa ISIS itu bisa membenarkan segenap tindakan mengerikannya dengan teks-teks agama,” kata Romo Magnis.

Intoleransi Menguat, Religious Studies Dianggap Mendesak

JAKARTA, ICRP  : Dalam bedah buku “Perjalanan menjumpai Tuhan” ketua umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP),  Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan kekhawatirannya. Pasalnya, Ulil melihat masalah intoleransi  di Indonesia kian serius. “sekarang kecenderungan (intoleransi) semakin meningkat. Daftar orang yang dimusuhi karena persoalan keyakinan juga makin banyak. Ini ancaman sosial serius kalau tidak diatasi sosial fabric kita bisa hancur,” tegas Ulil di hadapan peserta diskusi di secretariat ICRP, Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Kamis (23/4). Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh tokoh Ikatan Jemaat Ahlul bait Indonesia (IJABI), Ulil mengaku cukup frustasi dengan perkembangan dewasa ini.

“Sekarang yang jadi sasaran kebencian adalah komunitas Syiah. Ini pasti akan bergerak terus. Masyarakat kita mudah sekali dikobarkan sentimen kebencian semacam ini,” ujar Ulil. Sekarang ini, Ulil menambahkan orang untuk berpikir yang berbeda dari mainstream kian takut. Kondisi demikian, bagi Ulil, merupakan situasi yang buruk karena merupakan tanda derajat toleransi kian menurun. Inisiator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menduga besarnya arus intoleransi sekarang tidak mampu diurai dalam waktu yang singkat.

Karena itu, Ulil menduga melawannya lewat cara-cara hukum semata tidak akan menghasilkan dampak yang diharapkan. “Pencegahannya tidak bisa sekadar UU. Menurut saya pertarungan yang sesungguhnya ada di arena sosial,” kata menantu Gus Mus ini. Pada kesempatan siang itu, Ulil mendorong aktivis lintas iman untuk menciptakan ruang-ruang baru untuk berdiskusi.

“Kita perlu memperbanyak forum untuk mengatakan why” pungkasnya. Selain Jalaludin Rakhmat, juga turut hadir agamawan katolik Frans Magnis Suseno, tokoh kapribaden Retno Lestari, dan rektor Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)  Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Pada kesempatan ini, Prof. Gunawan mengakui studi agama-agama memang perlu dikembangkan di banyak kampus-kampus untuk mengurangi kecurigaan antar masyarakat yang majemuk ini.

Sebagai informasi buku “Perjalanan Menjumpai Tuhan” ini merupakan kumpulan tulisan dari mahasiswa-mahasiswa UPJ yang mengambil matakuliah religious studies. Matakuliah yang merupakan hasil kerjasama  antara UPJ dan ICRP ini mengusung sistem yang berbeda dari banyak kampus-kampus lainnya. Pasalnya, semua mahasiswa diperkenalkan agama-agama yang ada di Indonesia.

Dalam salah satu sesi kuliah, para peserta didik diajak berkunjung ke rumah-rumah ibadah. Dalam salah satu pertanyaan singkat pada ketua umum ICRP, Ulil tentang bagaimana jika sistem pembelajaran agama di sekolah-sekolah demikian “Kalau studi agama di sekolah-sekolah seperti yang diterapkan di UPJ, saya nyatakan JIL sebagai institusi dibubarkan,” canda Ulil.

JAKARTA, ICRP  : Dalam bedah buku “Perjalanan menjumpai Tuhan” ketua umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP),  Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan kekhawatirannya. Pasalnya, Ulil melihat masalah intoleransi  di Indonesia kian serius. “sekarang kecenderungan (intoleransi) semakin meningkat. Daftar orang yang dimusuhi karena persoalan keyakinan juga makin banyak. Ini ancaman sosial serius kalau tidak diatasi sosial fabric kita bisa hancur,” tegas Ulil di hadapan peserta diskusi di secretariat ICRP, Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Kamis (23/4). Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh tokoh Ikatan Jemaat Ahlul bait Indonesia (IJABI), Ulil mengaku cukup frustasi dengan perkembangan dewasa ini.

“Sekarang yang jadi sasaran kebencian adalah komunitas Syiah. Ini pasti akan bergerak terus. Masyarakat kita mudah sekali dikobarkan sentimen kebencian semacam ini,” ujar Ulil. Sekarang ini, Ulil menambahkan orang untuk berpikir yang berbeda dari mainstream kian takut. Kondisi demikian, bagi Ulil, merupakan situasi yang buruk karena merupakan tanda derajat toleransi kian menurun. Inisiator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menduga besarnya arus intoleransi sekarang tidak mampu diurai dalam waktu yang singkat.

Karena itu, Ulil menduga melawannya lewat cara-cara hukum semata tidak akan menghasilkan dampak yang diharapkan. “Pencegahannya tidak bisa sekadar UU. Menurut saya pertarungan yang sesungguhnya ada di arena sosial,” kata menantu Gus Mus ini. Pada kesempatan siang itu, Ulil mendorong aktivis lintas iman untuk menciptakan ruang-ruang baru untuk berdiskusi.

“Kita perlu memperbanyak forum untuk mengatakan why” pungkasnya. Selain Jalaludin Rakhmat, juga turut hadir agamawan katolik Frans Magnis Suseno, tokoh kapribaden Retno Lestari, dan rektor Universitas Pembangunan Jaya (UPJ)  Prof. Gunawan Tjahjono, M.Arch., Ph.D. Pada kesempatan ini, Prof. Gunawan mengakui studi agama-agama memang perlu dikembangkan di banyak kampus-kampus untuk mengurangi kecurigaan antar masyarakat yang majemuk ini.

Sebagai informasi buku “Perjalanan Menjumpai Tuhan” ini merupakan kumpulan tulisan dari mahasiswa-mahasiswa UPJ yang mengambil matakuliah religious studies. Matakuliah yang merupakan hasil kerjasama  antara UPJ dan ICRP ini mengusung sistem yang berbeda dari banyak kampus-kampus lainnya. Pasalnya, semua mahasiswa diperkenalkan agama-agama yang ada di Indonesia.

Dalam salah satu sesi kuliah, para peserta didik diajak berkunjung ke rumah-rumah ibadah. Dalam salah satu pertanyaan singkat pada ketua umum ICRP, Ulil tentang bagaimana jika sistem pembelajaran agama di sekolah-sekolah demikian “Kalau studi agama di sekolah-sekolah seperti yang diterapkan di UPJ, saya nyatakan JIL sebagai institusi dibubarkan,” canda Ulil.

Di Libya, ISIS Habisi 30 Kristen Etiopia

Libya kembali dihebohkan dengan sepak terjang Islamic state of Iraq and Syria (ISIS). Sebuah video yang diyakini dirilis ISIS menampakan pemenggalan dan penembakan sekitar 30 warga Kristen Etiopia di Libya.

Diwartakan Reuters, video tersebut tidak bisa diverifikasi keasliannya, namun karakteristik video ini menyerupai video eksekusi yang telah beberapa kali dirilis oleh militan ISIS.

Libya yang masih menghadapi peperangan antar kelompok dan klan memang menjadi lahan basah bagi ISIS. Selain menguasai banyak wilayah di Irak dan Suriah, ISIS memang telah menancapkan pengaruhnya di tengah konflik Libya.

Video menunjukkan pemenggalan 15 orang Kristen di pantai dan di tempat berbeda, sekelompok orang lain ditembak di kepala.

Kedua kelompok yang keseluruhannya pria tersebut disebut ISIS sebagai “penyembah salib di gereja Ethiopia.”

Para pejabat Libya belum memberikan komentar terkait peristiwa ini.

Sementara pemerintah Ethiopia mengatakan mereka belum bisa memastikan apakah orang-orang yang ditampilkan dalam video ini adalah warganya.

“Meskipun demikian, pemerintah Ethiopia mengutuk tindakan mengerikan itu,” kata juru bicara pemerintah, Ridwan Hussein.

Ia mengatakan Ethiopia, yang tidak memiliki kedutaan besar di Libya, akan membantu memulangkan warga Ethiopia jika mereka ingin meninggalkan Libya.

Kelompok militan yang berbaiat pada ISIS telah mengklaim beberapa serangan terhadap orang asing di Libya tahun ini, termasuk serangan di Hotel Corinthia di Tripoli dan pemenggalan 21 warga Kristen Mesir pada Februari lalu.

(sumber : CNN Indonesia)

Haruskah Teks-Teks Agama Dihafalkan?

Belakangan ini di tanah air kursus-kursus menghapalkan Al-Quran kian menjamur. Segala macam teknik ditawarkan dan dijajakan oleh tiap-tiap lembaga agar menarik minat masyarakat muslim menjadi Hafidz. Biar makin masif, pengiklanan pun jadi keharusan. Selembaran hingga poster-poster dipajang di ruang-ruang publik terlihat di beberapa sudut Ibukota.

Gairah keagamaan masyarakat di tanah air sebagaimana terlukis dengan banyaknya poster-poster ini di Ibukota memang membuat pasar tersendiri bagi beberapa kalangan. Maraknya lembaga-lembaga yang menawarkan masyarakat muslim menjadi Hafidz tidak bisa dipungkiri dari besarnya gairah muslim untuk mengenal kembali identitas keislaman.

Namun, adakah korelasi antara menghapal teks suci dengan peningkatan pemahaman agama seseorang? sebuah kritik pagi hari dari mahasiswa doktoral neurosains mungkin cukup menggigit. Mohamed Ghilan pada akun media sosial twitternya (@mohamedghilan) melontarkan kritiknya pada cara gairah keagamaan muslim.

Menurut pria kelahiran Arab Saudi ini menghapal teks-teks suci seperti Al-Quran maupun Hadits tidak langsung berkorelasi dengan kemantapan seseorang dalam beragama. “Memorizing books without understanding the content is no more special than a donkey carrying books on its back, (menghapalkan buku-buku tanpa memahami isinya tidak lebih baik daripada seekor keledai yang membawa buku-buku di punggungnya)” cuit Ghilan empat jam lalu.

Ghilan menyanyangkan semangat beragama umat Islam yang kurang tepat. “Too many Muslims believe that by memorizing a couple of texts that they can speak with authority about any topic, (Terlalu banyak muslim percaya bahwa dengan menghapal sejumlah teks mereka akan mampu secara otoritatif membahas topik apapun)” sindir pria keturunan Sudan-Yaman ini.

Bila pembaca kerap sesekali memperhatikan wacana di pengajian-pengajian mesjid. Anda akan bertanya-tanya secara serius mengenai pembahasan. Acapkali, sang ustadz di mesjid tertentu mengomentari isu-isu mengenai sains yang dicocokan dengan Al-Quran. Meskipun sosok yang bersangkutan tak memiliki kompetensi untuk membahas hal tersebut.

Lebih lanjut peminat diskursus teologi dan hukum Islam ini menilai pandangan sebagian besar umat Islam keliru mengenai relasi menghapal teks agama dengan kemampuan memahami agama. “You can get a parrot to repeat phrases. Memorizing traditional texts is not an indication you have a clue about what you’ve memorized, Anda bisa mengajarkan burung kakak tua untuk mengulangi frasa-frasa. Mengingat teks-teks tradisional tidak menjadi sebuah tanda anda memahami apa yang anda hapalkan,” twitnya.

Akankah semangat keberagamaan kita berhenti pada taraf mengingat teks-teks agama semata? atau lebih lanjut pada tataran memahami pentingnya kemanusiaan dalam beragama?

 

Pentingnya Mempelajari Hak Seksualitas

Jakarta, ICRP – Sebagian besar masyarakat menganggap seksualitas merupakan hal yang memalukan dan tabu untuk diperbincangkan. Sehingga, pendidikan seksual terhadap masyarakat terutama anak-anak menjadi terabaikan. Tidak jarang anak-anak dan remaja mencari tahu soal seks melalui akses yang paling mudah mereka gunakan, seperti internet dan perbincangan sesama teman.

“Tidak heran jika saat ini timbul pelbagai tindakan seksual yang salah dikalangan masyarakat terlebih remaja” Demikian ungkap Baby Jim Aditya, psikolog, saat diskusi dan bedah buku “Mengupas Seksualitas” karya Musdah Mulia, Rabu (15/4/2015).

“Karena orang tua bilang membincang seksualitas itu tabu. Jadi pendidikan seksual itu kabur” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Irwan Hidayana, Dosen Antropologi Universitas Indonesia menyatakan. Pada dasarnya memberikan pendidikan seksual terhadap anak itu penting dan perlu diajarkan sedini mungkin. Menurut Irwan, masyarakat yang menganggap tabu seksualitas disebabkan oleh beberapa faktor, seperti budaya dan pemahaman keagamaan.

“Penafsiran agama itu kan berdasarkan kondisi masyarakat, seharusnya saat ini penafsiran keagamaan sesuai dengan kondisi masyarakat” ungkap Irwan.

Dalam kesempatan tersebut, Irwan mengapresiasi Musdah Mulia yang telah berani membicarakan dan menulis buku “Mengupas Seksualitas” ini. Menurutnya, tidak mudah mengulas persoalan seksualitas seperti ini.

Sementara itu, Frenia Nababan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menyatakan, perspektif masyarakat tentang seksualitas perlu diubah. Pandangan masyarakat terkait bineritas seksual menganggap bahwa laki-laki harus berpasangan dengan perempuan, laki-laki mempunyai posisi lebih tinggi dari perempuan, laki-laki selalu lebih dominan, dll. Sehingga, perbincangan hak-hak seksual perempuan pun dianggap tabu. “Padahal, perempuan juga mempunyai hak-hak yang sama terkait seksualitas” ungkap Fre.

Fre menyatakan, buku Mengupas Seksualitas membahas hak-hak seksual bagi perempuan. Bahwa perempuan juga berhak berhasrat, berhak mendapatkan pilihan, termasuk mereka penyandang disabilitas pun punya hak.

Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Pendeta Steve Suleeman, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurutnya, memang masyarakat kurang mengerti urgensi isu seksualitas. Jarang sekali yang memperbincangkannya, mungkin hanya ditempat tidur, itupun sambil berbisik-bisik. Namun, ia menegaskan bahwa isu seksualitas berkaitan erat dengan isu keadilan dan martabat manusia. Semua berhak untuk mendapatkan hak-hak seksualitasnya. Tegasnya.

“Perdamaian Adalah yang Diinginkan Tuhan”

JAKARTA, ICRP – Dalam kunjungan Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus (PPTY) ke sekretariat Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Kamis (16/4) ada beberapa cuplikan-cuplikan penting untuk dicatat. Selain mengutarakan persoalan yang dihadapi komunitasnya, Immanuel Fretes pimpinan delegasi dari PPTY menyampaikan pentingnya untuk mengurai kecurigaan antar umat beragama.

“Pada prinsipnya kami mengenal pencipta mengasih sesama. Dengan cinta yang kuat kita bisa bersama-sama di dunia ini terlepas dari agama apapun kita,” tegas Immanuel.

Immanuel pun lebih lanjut bercerita tentang kemajemukan keluarganya. Di dalam keluarga besarnya, Immanuel mengakui tidak semua beragama kristen ada pula yang muslim. Sebelumnya, Immanuel melanjutkan, terdapat ketidakharmonisan di antara keluarga. Jujur, Ia mengakui, ada rasa saling curiga satu sama lain antar anggota keluarga. Namun, setelah seringkali melakukan dialog, Immanuel mengatakan semua menjadi lebih baik.

Berangkat dari pengalaman di keluarga, Immanuel meyakini, permasalahan intoleransi di tanah air hanya bisa diselesaikan dengan dialog. “Memang ini kerjanya seolah mission imposible. Walaupun kecil (harapan)tapi saya pikir seiring perjalanan orang bisa akan mengerti,” katanya penuh keyakinan.

Sosok yang mengaku telah mengetahui gagasan-gagasan ketua umum ICRP Ulil Abshar Abdalla sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini meyakini terlepas dari masih carut-marutnya keberagaman di tanah air, suatu hari nanti perdamaian bisa tercapai. Pasalnya, Ia percaya bahwa pesan Tuhan adalah damai.

“Untuk mencapai perdamaian ini lah yang  diinginkan Tuhan, apapun agamanya!” jelasnya.

Perbincangan siang ini berlangsung tidak lebih dari sekitar satu jam. Immanuel mewakili PPTY mengatakan kesediaan untuk membantu sekecil apapun upaya-upaya menebar cinta kasih dan toleransi antar umat beragama.

Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus Kunjungi ICRP

Jakarta, ICRP – Sejumlah pengurus Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus, Kamis sore (16/4/2015) mendatangi kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Kunjungan ini bertujuan untuk membahas persoalan intoleransi yang tidak kunjung usai, serta membahas kegiatan-kegiatan sosial masyarakat.

Immanuel de Fretes Ketua Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus berharap bisa belajar dari ICRP yang telah berkecimpung lama dalam aktivitas lintas antar agama dan advokasi hak kebebasan beragama di Indonesia. Immanuel hadir didampingi oleh beberapa staff Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus.

Dalam kesempatan tersebut, Immanuel menceritakan pihaknya sempat mengalami tindakan intoleransi dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama ketika dia dan rekan-rekannya hendak mendirikan kantor baru di daerah Jakarta Timur. Awalnya, Immanuel menuturkan, masyarakat dan aparat setempat menyetujui kantor tersebut. Namun, tidak berselang lama banyak warga yang protes karena nama kantornya menggunakan nama Takhta Yesus.

Rombongan ini kemudian diterima oleh Direktur Eksekutif ICRP, Mohammad Monib beserta jajaran staff ICRP, yakni Nur Habibie Rifai, Atik Muayati, Muhammad Mukhlisin, Lucia Wenehen dan Erton Vialy Arsy.

Monib menuturkan, memang gelombang intoleransi masif terjadi dengan berbagai penyebab. Namun, kebanyakan disebabkan oleh tindakan kelompok, monib menyebutnya, “preman berjubah”. Dengan dalih tertentu mereka melakukan ancaman, intimidasi bahkan kekerasan terhadap kelompok lain. Sayangnya, Monib mengatakan, pemerintah melakukan pembiayan terhadap tindakan tersebut.

Dari pertemuan tersebut, ICRP merekomendasikan, jika memang terjadi pelanggaran HAM yang dialami oleh Perkumpulan Pelayanan Takhta Yesus bisa melaporkan ke pihak-pihak terkait yang berwenang, seperti komnas HAM, kepolisian, atau LSM yang mendorong advokasi kebebasan beragama.

Ke depan, ICRP dan Perkumpulan Pelayanan takhta Yesus berharap bisa menjajaki kerjasama untuk melakukan kerja-kerja sosial di masyarakat, seperti bazar murah, penyaluran bantuan bencana alam, dll.

Wapres: Waspada, Radikalisme itu Selewengkan Agama

Jakarta, ICRP – Wakil Presiden Jusuf Kalla menghimbau masyarakat untuk waspada dan menjaga situasi nasioanal dari berbagai faham radikalisme. Hal tersebut disampaikan Wapres seusai melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh Islam di rumah dinas Wakil Presiden di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (14/4).

“Paham-paham itu menyeleweng dari agama, tentu harus diatasi dan dilawan tentu dengan pemikiran juga, dengan ideologi yang baik,” katanya seperti dilansir bisnis.com.

Selain itu, pemerintah mendukung upaya damai melalui dialog, karena Islam dianggap seperti rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh alam semesta.

Pertemuan yang berlangsung sekitar tiga jam itu membahas masalah-masalah yang dihadapi dunia Islam dan efeknya kepada bangsa ini. Mulai persoalan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) hingga perang Yaman.

Dalam pertemuan itu hadir beberapa pejabat dan tokoh agama seperti Menteri Agama Lukman Hakim, Menteri Sosial Khififah Indar Parawansa, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, Ketua MUI Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Ketua GP Anshor Nusron Wahid.