Soal Pemblokiran Situs Radikal, Ini Kata Ulil!

ICRP – Pembokiran sejumlah situs yang diduga mendukung aksi-aksi terorisme mengundang kontroversi. Sebagian pihak khawatir ajuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut membuat kelompok radikal semakin mendapat simpati publik. Namun, aktivis pro toleransi kebebasan beragama cenderung mengapresiasi langkah BNPT.

Dukungan pemblokiran pun terlontar dari ketua harian Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla.  Hal tersebut ia sampaikan di akun twitternya (@ulil), Selasa (31/3).

Ulil secara terang mendukung kebijakan pemerintah dalam merespon situs-situs yang mengkampanyekan intoleransi. ” Situs2 yg menyebarkan radikalisme dan terorisme sudah selayaknya ditutup. Dukung kebijakan pemerintah dlm soal ini,” cuitnya.

Bagi Ulil, kekerasan tidak bisa dilawan dengan prinsip adu argumentasi. “Anda ndak bisa memakai prinsip “ide lawan dg ide” terhadap ide yg mengajak untuk menyerang mereka yg berbeda pandang dg kekerasan,” lagi kata Ulil di sosmed 140 karakter.

Lebih lanjut Ulil menilai terorisme dan radikalisme bukan menjadi urusan kebebasan individu. Menurutnya, perkara terorisme merupakan permasalahan isu keamanan yang merupakan domain negara.

Satu-satunya cara menyelesaikan situs-situs pro terorisme, Ulil yakini yakni dengan mekanisme hukum. “Anda tidak bisa memakai prinsip “ide lawan dg ide” terhadap mereka yg menyebarkan ide berisi “hate speech”. Harus ditangani scr hukum,” ujar menantu Gus Mus ini.

Ulil menduga kuat, kelompok radikal dan teroris cenderung anti terhadap dialog. “Kaum radikal ini jg tak tertarik dg prinsip “ide lawan dg ide”. Mereka menutup diskusi. Lihat tindakan mereka larang diskusi beberapa kali,” tutupnya.

Lima cuitan Ulil berkenaan pemblokiran ini tak kurang mendapat lebih dari 150 kali retweet dari rakyat twitland.

Foto: Tribun Jambi

Muncul Buku Pelecehan Sahabat Nabi, Menag Minta Polisi Mengusut

Jakarta, ICRP – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, mendesak polisi segera mengusut kasus peredaran buku yang melecehkan sahabat Nabi, Umar bin Khattab. Peredaran buku itu dinilai memicu reaksi keras dari masyarakat.

Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam semester genap siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri 3 di Kota Jambi, memuat silsilah keluarga salah satu Khulafaur Rasyidin, Umar bin Khattab, dengan gambar babi. Gambar itu termuat di halaman 12 buku Lembar Kerja Siswa yang diterbitkan Rahma Media Pustaka.

“Polisi harus mengusut dan membawanya ke proses hukum,” ujar Lukman lewat keterangan persnya, Minggu 29 Maret 2015.

Lukman sudah melakukan komunikasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terkait hal ini. Mereka sepakat untuk menarik buku ini dari peredaran. Selain itu, Kemenag sudah melayangkan instruksi kepada seluruh kantor wilayah supaya madrasah-madrasah tidak menggunakan LKS tersebut.

Musdah Mulia dalam konsultasi bidang budaya, Kongres V Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) di Merlunn Park Hotel, Jakarta, Jumat (27/3). (Foto: Martahan Lumban Gaol/satuharapan.com)

Musdah Mulia: Radikalisme di Indonesia Dibiayai APBN

Mantan Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia mengatakan penyebaran paham radikal di Indonesia disosialisasikan dan dibiayai negara lewat Angaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurut dia, hal tersebut terlihat jelas ketika paham-paham radikal masuk dalam materi pelajaran anak sekolah.

“Belum lama ini muncul buku pelajaran yang menyebar radikalisme, artinya paham radikal di negara kita disosialisasikan dan dibiayai oleh APBN, ini terjadi secara masif,” kata Musdah dalam konsultasi bidang budaya, Kongres V Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) di Merlynn Park Hotel, Jakarta, Jumat (27/3).

Selain mengajarkan paham radikal, dia bahkan menemukan buku pelajaran yang mengajar murid-murid mendirikan Republik Indonesia sebagai negara berbasis Khilafah Islamiyyah. “Maka disinilah fungsi pendidikan sesuangguhnya yang harus berubah, pendidikan kita harus bisa memberi wawasan agar fanatisme agama tidak terus terjadi dan menyebar ke seluruh elemen bangsa,” ujar Musdah.

Dengan tegas, dia pun menyindir para pemimpin bangsa yang tidak bisa bersikap tegas mengantisipasi masalah-masalah Indonesia seperti ini. Menurut dia, pemimpin di Indonesia hanya bersembunyi di balik zona nyaman, tanpa memiliki sikap yang jelas.

“Pemimpin kita sikapnya abu-abu,” ujar dia.

Selanjutnya, ia menyampaikan ajaran agama seharusnya bisa berdampingan dengan demokrasi, bukan malah mematikan proses demokrasi. Musdah berpandangan, lewat agama bisa diajarkan nilai-nilai humanis dan pluralis.

“Pembangunan agama harus betul-betul membangun spiritualitas semua umat beragama yang kondusif sesuai dengan Pancasila,” kata dia.

Sumber: satuharapan.com

situasi diskusi sekolah agama "teks erotisme dalam agama". Mohammad Monib (kiri), Abdul Moqsith Ghazall (tengah), dan Sarawati Dewi Putri saat Sekolah Agama ICRP bertajuk Teks Erotis dalam Agama, di Sekretariat Megawati Institut, Rabu (25/3).

ICRP Gelar Seminar Teks Erotis dalam Agama

Tanpa disadari, agama telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk persoalan manusia di balik kamar tidur. Hal ini tampak dari keberadaan teks-teks lampau, seperti literatur Sanskerta berjudul Kama Sutra karya Vatsyayana dan teks Al-Rawdh al-’Athir fi Nuzhat al-Khathir karya Syekh al-Nafzawi, ulama Tunisia abad ke-16. Kedua kitab ini menghadirkan unsur-unsur erotisme di dalamnya.

Sayangnya, hal tersebut masih dianggap tabu dan tidak layak untuk diperbincangkan kepada khalayak. Untuk itulah, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengadakan seminar Sekolah Agama bertajuk Teks Erotis dalam Agama-agama, di Sekretariat Megawati Institute Jakarta pada Rabu (25/3), guna membuka pikiran dan perspektif baru terhadap hal-hal sensitif tetapi sebenarnya dekat dengan kehidupan manusia.

Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. L.G. Saraswati Dewi Putri, M.Hum, Dosen Filsafat Universitas Indonesia, dan Dr. Abdul Moqsith Ghazali, M.A, Dosen Filsafat dan Agama UIN Jakarta. Kedua akademisi ini berbicara dengan perspektif yang berbeda. Saraswati melihat unsur erotika dalam teks Hindu, sementara Moqsith memandang erostisme melalui pandangan Islam. Seminar ini dimoderatori langsung oleh Mohammad Monib, Direktur Eksekutif ICRP.

Diakui Mohammad Monib, selama 15 tahun ICRP berdiri, lembaga ini hanya membicarakan tentang agama, seperti Introduction to Yudaism dan sebagainya. Namun, ia melihat ada hal lain yang harus dibagikan meski itu tabu bagi masyarakat.

“Kenapa kita tidak mencoba masuk kepada hal yang lebih sensitif dan tidak biasa tetapi itu sesuatu yang riil dan ada. Kita seakan-akan menutupinya dan menganggap tabu, namun kita sangat doyan untuk tau itu,” ujar Monib kepada satuharapan.com usai akhir acara.

ICRP berharap tema ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan dalam seluruh aspek keberagamaan kepada masyarakat, sehingga tercipta kesepahaman, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa yang terdiri atas bermacam agama di Indonesia.

Sumber: satuharapan.com

“Aqidah Bermuara Pada Akhlak”

JAKARTA, ICRP – Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Pendeta Albertus Patty menyampaikan pesan utama Alkitab adalah pembelaan pada kemanusiaan. Demikian ujarnya dalam acara seminar “Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Agama dan Kepercayaan di Indonesia”, di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).

“Jelas kekristenan menjunjung tinggi HAM,” tegas Pdt. Albertus Patty

Agamawan protestan ini mengungkapkan bangsa Indonesia memiliki dua PR besar. Menurutnya salah satu persoalan yang besar itu adalah masih adanya kekerasan dan konflik baik legal, verbal maupun sikap dalam kehidupan umat beragama.

“Ini adalah PR besar. Kita harus rumuskan UU yang tidak mendiskriminasi para penganut agama,” jelasnya.

Meski hujan deras mengerubungi Ibukota hari itu, selain perwakilan dari PGI nampak  wajah-wajah yang tak asing dalam dialog antar agama di antaranya Romo Magnis Suseno budayawan sekaligus agamawan katolik, Pdt. Albertus Patty dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Zafrullah Pontoh dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Engkus Ruswana dari Majelis Luhur Kepercayaan, Romo Daniel Byantoro dari Gereja Ortodoks Indonesia turut meramaikan seminar yang diselenggarakan OASE (Organization of Ahlul Bayt for Social support and Education)

Menyambung ujaran Pdt. Albertus Patty, Romo Daniel Byantoro memberikan pandangannya terkait keberagaman. “Kita boleh mengamini agama kita paling benar. Namun, penghakiman hanya ada di Tuhan,” ujarnya.

Romo Daniel yang siang itu mengenakan pakaian ala agamawan gereja ortodoks itu  menambahkan bahwa pada hakikatnya manusia memiliki nilai-nilai ilahiah. Tuhan, lanjut Romo, menciptakan manusia karena kasih. Dengan demikian, menurutnya manusia mencari jalan menuju Sang Kekasih.

“Kasih dan cinta adalah landasan fundamental, jerita terdalam manusia adalah cinta,” ungkapnya.

Dengan demikian menurut Romo Daniel, visi agama harus dikembalikan pada nilai yang sejati dari landasan fundamental itu sendiri, yakni cinta.

Menurut Romo dengan adanya cinta sebagai landasan fundamental itu, maka semua orang pasti akan meyakini bahwa semua Aqidah bermuara pada perilaku atau akhlak.

Selain itu, Romo Daniel juga menyampaikan kritiknya pada sikap pemerintah yang terlalu legalistik melihat posisi agama dan negara. “Kepercayaan bukan pemberian agama, tapi nilai kemanusiaan itu sendiri,” kata Romo.

“Jika kita bekerjsama atas nama Tuhan, saya kira kita tidak akan pernah membatasi umat agama lain,” ucapnya.

Selenggarakan Seminar HAM, OASE Undang Tokoh-tokoh Lintas Iman

JAKARTA, ICRP – OASE (Organization of Ahlulbayt for Social support and Education) menyelenggarakan seminar bertajuk “Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Agama dan Kepercayaan di Indonesia”, Rabu (25/3). Berlokasi di Wisma Antara, Jakarta Pusat, acara berskala nasional ini dihadiri tokoh-tokoh lintas agama. Meski hujan deras mengerubungi Ibukota hari itu, nampak duduk di meja-meja bundar bagian depan wajah-wajah yang tak asing dalam dialog antar agama di antaranya Romo Magnis Suseno budayawan sekaligus agamawan katolik, Pdt. Albertus Patty dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Zafrullah Pontoh dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Engkus Ruswana dari Majelis Luhur Kepercayaan, Romo Daniel Byantoro dari Gereja Ortodoks Indonesia, dll.

Selain dihadiri tokoh agama juga turut di ruangan aula lantai 2 Wisma Antara siang itu adalah Direktur Jendral Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkunham) Mualimin Abdi.

Sejatinya, seminar ini akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Namun, menjelang acara dimulai pihak panitia mengungkapkan lelaki yang akrab disapa Ahok itu tidak bisa menghadiri seminar. Walhasil, Dirjen HAM lah yang membuka seminar.

Sebelum membuka seminar, Mualimin Abdi menyampaikan sepatah dua patah kata berkaitan acara seminar.  Mualimin di depan tokoh-tokoh lintas agama menyatakan keebasan beragama merupakan hak-hak dasar yang harus diwujudkan.

“Negara wajib hukumnya memberikan fasilitas dan pelayanan pada keyakinan yang dianut warga negara,” tegas Mualimin.

Mualimin mengakui perdebatan mengenai kebebasan beragama di tanah air merupakan sebuah proses panjang. Beberapa persoalan, siang itu Mualimin paparkan. Salah satu yang menjadi sorotan, dalam ujaran dia adalah UU PNPS 1965.

Namun, tanpa ragu Mualimin menilai melindungi kebebasan beragama merupakan amanat konstitusi. “Pemenuhan HAM adalah kewajiban pemerintah. Pada prinsipnya keyakinan apapun wajib difasilitasi,” ungkap Mualimin.

Sementara itu, dalam sambutan ketua OASE Emilia Renita berharap diskusi dalam seminar siang itu mampu memberikan masukan pemerintah pada RUU PUB (Perlindungan Umat Beragama).

Emilia yang telah malang melintang dalam dunia dialog antar umat beragama mengungkapkan pentingnya para tokoh dan penganut agama untuk senantiasa menyebarkan kasih tanpa melihat etnis dan agama seseorang.

“Kita berdiskusi disini atas dasar cinta. Ini alasan kita berkumpul disini,” kata Emilia.

 

Open Recruitment Sekolah Agama ICRP 2015

Silabus Sekolah Agama ICRP 2015 Semester 1

[gview file=”http://icrp-online.org/wp-content/uploads/2015/03/Silabus-semester-1.pdf”]

Sekolah agama ICRP merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh ICRP. Sekolah agama ini akan mempelajari tentang keanekaragaman Indonesia. Bagaimana tantangan dan peluangnya, dll.

Jika anda berminat mengikuti kegiatan sekolah agama ini, silakan kirimkan CV anda ke icrp@cbn.net.id dan CC ke klisin1@gmail.com dengan judul email [PENDAFTARAN PESERTA SEKOLAH AGAMA] dan mengisi formulir berikut ini http://goo.gl/forms/yojvYn6Wgy

Peserta akan diseleksi, dan akan diinformasikan lebih lanjut jika terpilih.

Demikian, terimakasih

Buku Agama Islam SMA Ajarkan Radikalisme, Buya : Islam Indonesia Bukan Wahabi

JAKARTA, ICRP –  Setelah menteri pendidikan Anies Baswedan menarik kembali buku Agama Islam kelas XI SMA di Jombang, Kini giliran intelektual Islam Syafii Maarif ikut mengomentari literature agama yang mengajarkan radikalisme itu.

Sebagaimana diwartakan tempo.co , Senin (23/3) Syafii Maarif secara tegas menolak keras isi ajaran radikalisme sebagaimana tertuang di buku itu. “Itu hanya menurut fuqaha, tapi tidak ada dasarnya dalam Al-Quran,” kata Syafii. Kerabat Nurcholish Madjid ini menyatakan di Quran tidak ada ajaran untuk membunuh orang yang keluar dari agama Islam.

Buya, demikian Syafii Maarif akrab disapa, menduga adanya ajaran radikal ini karena masuknya pengaruh wahabisme ke dalam dunia pendidikan di tanah air. Sebagai informasi, Wahabisme menjadi salah satu corong ideologi yang memunculkan kelompok radikal hingga teroris di seeantero penjuru dunia.

Lebih lanjut, Buya menerangkan Islam di Indonesia bukanlah penganut faham Wahabi seperti yang berkembang di sejumlah negara Arab. Ajaran yang ingin dikembangkan adalah Islam yang menampilkan wajah kedamaian dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. “Ini bukan Wahabi, ini Indonesia, karenanya harus ditolak,” tegasnya.

Buya juga meminta pemerintah dan masyarakat untuk memantau kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah. Sebab, menurut dia, para alumni sekolah acapkali mencuci otak adik kelas mereka dengan ajaran Islam radikal. “Gejala itu kami temui di Cianjur, Bandung, Solo, Yogyakarta, dan Sulawesi,” katanya.

 

Sumber : tempo.co

Perenialisme Agama-AgamaPerenialisme Religions

Ahmad NurcholishOleh Ahmad Nurcholish

 “..secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar

di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab,

melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama

menemukan transcendent unity of religions, tetapi

juga mendiskusikannya secara lebih mendalam

Diskursus filsafat perennial kembali mengemuka sejak 20 tahun terakhir di Indonesia. Sebelumya, mereka yang pernah mempelajari tema filsafat di sebuah jurusan filsafat, tak mengenal materi ini. Kalau toh mengenal, hanya sepintas lalu saja, dan tidak secara mendalam dibahasnya. Bahkan, filsafat ini nyaris tidak pernah diperkenalkan dalam universitas. Mengapa demikian? Apakah filsafat perennial ini merupakan sebuah filsafat semu (pseudo philosophy), sebagaimana pernah disinggung oleh Budhy Munawar-Rahman – BMR (2001: 80-98), sehingga para ahli filsafat di era modern ini tidak membicarakannya sama sekali, dan menjadikannya sebagai sebuah perspektif? Padahal, sebagai istilah, filsafat perennial (the perennial philosophy) sangat popular di kalangan New Age.

Filsafat perennial (philosophia perennis) dalam definisi teknisnya, adalah pengetahuan yang selalu ada dan akan selalu ada. Dalam ungkapan Frithjof Schuon, ia mengatakan, “the timeless metaphysical truth underlying the diverse religion, whose written sources are the revealed Scriptures as well as writtings og the graet spiritual masters.” Definisi yang lebih terang dikemukakan oleh Aldous Huxley, yang menyebut bahwa filsafat perennial adalah: Pertama, Metafisika yang memperlihatkan suatu hakikat kenyataan Ilahi dalam segala sesuatu: kehidupan dan pikiran; Kedua, Suatu psikologi yang memperlihatkan adanya sesuatu dalam jiwa manusia (soul) identic dengan kenyataan Ilahi itu; dan Ketiga, Etika yang meletakkan tujuan akhir manusia dalam pengetahuan, yang bersifat imanen maupun transenden, mengenai seluruh keberadaan. (The Perennial Philosophy, 1945; BMR, Islam Pluralis, 2001: 86).

Pengetahuan filsafat perennial ini, demikian Rahman, memang memperlihatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini, dengan realitas Yang Absolut. Realisasi pengetahuan ini dalam diri manusia, hanya bisa dicapai melalui apa yang – sejak era Plotinus melalui bukunya The Six Eneals, – disebut “intelek” (Soul/Spirit), yang “jalannya” pun hanya dapat dicapai melalui tradisi-tradisi, ritus-ritus, symbol-simbol dan sarana-sarana yang memang diyakini sepenuhnya oleh kalangan perennial ini sebagai bersumber dari Tuhan. Dasar-dasar teoritis pengetahuan tersebut, ada dalam setiap tradisi keagamaan yang otentik, yang dikenal dengan berbagai konsep.

Contoh yang dapat kita paparkan, dalam agama Hindu disebut Sanathana Dharma, yaitu kebajikan abadi yang harus menjadi dasar kontekstualisasi agama dalam situasi apa pun, sehingga agama senantiasa memanifestasikan diri dalam bentuk etis, dalam keluhuran hidup manusia. Pun dalam Taoisme, diperkenalkan konsep Tao, sebagai asas kehidupan manusia yang harus diikuti  kalau ia mau alami sebagai manusia. Di Tiongkok, misalnya Taoisme berusaha mengajak manusia untuk berpaling dari dunia kepada Tao (“jalan”) yang dapat membawa manusia kepada penyucian jiwa dan kesalehan dalam bahasa Islam. Dengan Tao, manusia dibawa kepada jati diri yang asli, yang hanya dapat dicapai dengan sikap wu-wei (tidak mencampuri) jalan semesta yang sudah ditetapkan. Dengan demikian, Tao mengajak manusia untuk hidup secara alami (suci), yang dalam Islam dikenal dengan istilah fitrah. Begitu pun dalam agama Buddha, diperkenalkan konsep Dharma yang merupakan ajaran untuk sampai kepada The Buddha-nature, atau dalam agama Islam disebut al-Din, yang berarti “ikatan” yang harus menjadi dasar beragama bagi seorang Muslim. Inilah yang dalam filsafat abad pertengahan diistilahkan dengansophia perennis, dan sebagainya.

Oleh karena itu, jika disebut perennial religion, itu artinya ada hakikat yang sama dalam setiap agama, yang dalam istilah Sufi kerap diistilahkan dengan religion of the heart, meskipun terbungkus dalam wadah/jalan yang berbeda. Ini sejalan denga apa yang dikatakan Sri Ramakrisna, seorang suci dan filsuf India abad ke-19 bahwa, “Tuhan telah menciptakan berbagai agama untuk kepentingan berbagai pemeluk, berbagai waktu dan berbagai negeri. Semua ajaran merupakan jalan. Sesungguhnya seseorang akan mencapai Tuhan, jika ia mengikuti jalan mana pun, asal dengan pengabdian yang sepenuh-penuhnya.”

Dengan demikian, hakikat dari agama perennial adalah, “mengikatkan manusia dengan Tuhannya.” Kata ini sebetulnya biasa dan kerap didengar. Tetapi, sebagaimana diuraikan Rahman, karena tidak adanya kesadaran perennial, maka menjadi verbal semata. Padahal, dari sudut pandang perennial, ini menjadi dasar kehidupan beragama sebagai jalan alamiah, demi kebajikannya sendiri. Religion, yang berasal dari kata religio, yang berarti to bind with God. Istilah ini, hakikatnya mengatasi aspek institusional dari agama – termasuk komunitas, system symbol, ritus, pengalaman religious, dan sebagainya – yang kini telah menjadi arti sempit dari agama itu sendiri. (BMR, 2001: 88).

Berangkat dari pemahaman di atas, memungkinkan kita untuk mencapai “kesatuan transenden agama-agama” atau istilah asli yang digunakan Frithjof Schuon adalah The Transcendent Unity of Religion. Tetapi, yang mesti kita pahami pula, bahwa kesatuan agama-agama ini hanya berada pada level “esoteric” dalam bahasa Huston Smith,  “essensial” dalam istilah Baghavas Das, atau “transenden” istilah yang gunakan oleh Schuon dan Seyyed Hossein Nasr, selain oleh pengikut setia filsafat perennial sendiri. Oleh karena itu, kesatuan agama-agama tidak terjalin pada ranah eksoterisme (lahiriah). Inilah yang kerap disalahpahami oleh kalangan atau kelompok yang selalu menkritik konsep pluralisme agama yang dipahaminya sebagai kesamaan atau penyamaan agama-agama, termasuk dalam hal ajaran, syariat, atau ritualnya. Jadi, yang menandaskan adanya kesatuan agama-agama itu “hanya” pada level esensi atau subtansi ajaran, bukan pada level tata-cara ibadah, syariat, ataumanhaj dalam berteologi.

Mari kita simak metaphor yang tepat untuk menggambarkan kesatuan agama-agama yang kerap digunakan oleh kaum perennialis. Jika esoterisme adalah cahaya, maka setiap agama menangkap cahaya itu dalam berbagai warna (sebagai agama-agama) dan berbagai “daya terang” – ada yang sangat terang, ada yang terang biasa, dan ada juga yang redup-samar. Tentu ini perumusan doktrin metafisiknya. Tetapi dari sudut pandang filsafat perennial, adanya aneka warna cahaya berikut “daya terang”-nya tidaklah penting. Ada dua alasan, sebagaimana dikemukakan Budhy Munawar-Rachman:

Pertama, meskipun ada berbagai macam cahaya (merah, kuning, hijau, hitam, dan sebagainya), tetapi semua itu tetap dinamakan cahaya. Jadi, kalau agama itu otentik, tetap ada core yang sama. Kesamaan ini ada pada tataran esoteric, bukan pada ranah eksoterik.

Kedua, walaupun cahaya memiliki daya terang yang beragam, tetapi semua cahaya (juga agama) akan mengantarkan manusia pada Sumber Cahaya itu (yakni, Tuhan), yang sekalipun ada yang tipis dan remang-remang. Sebab, jika ia terus menelusuri cahaya itu, ia akan tetap sampai kepada Sumbernya. “Sampai pada Sumber” inilah yang paling penting dalam agama. Karena itu, hakikat agama adalah adanya sense of the absolute pada diri manusia, sehingga ia merasakan terus-menerus adanya “Yang Absolut” pada dirinya. Kehadiran “Yang Absolut” inilah yang senantiasa mengawal manusia berada dalam jalan “kebenaran”-Nya, jalan suci yang diajarkan oleh semua agama.

Pada aras ini pula, manusia merasakan makna simbolik kehadiran Sang Pemilik Kehidupan. Wujud hakikat agama itu, sejatinya merupakan pengetahuan, sekaligus pula kebijaksanaan. Istilahnya Sophia, kata orang bijak dari Yunani Kuno; atausapientia menurut istilah orang suci Kristiani abad Pertengahan; jnana dalam ungkapan tradisi Hindu; dan al-ma’rifah ataual-hikmah menurut konsep Sufi. Itu sebabnya, hakikat agama kerap disebut sebagai scientia sacra yang berarti pengetahuan suci atau devine knowledge. Pengetahuan ini dialami – bukan sekadar diyakini – berasal dari “Alam Surgawi,” yang kemudian diturunkan sebagai wahyu dengan berbagai cara/metode. Oleh karena itu, sekali lagi, harmoni (kesatuan agama-agama) berada dalam “langit Ilahi” (esoteric, transenden), bukan dalam “atmosfir bumi” (eksoteris), yang kerap memantik perdebatan.

Dengan demikian, filsafat perennial menguraikan keanekaragaman “jalan keagamaan” yang ada dalam kenyataan historis setiap agama, mestinya bisa diterima dengan lapang data dan penuh toleransi. Sebab, pada hakikatnya, ajaran (perennial) Tuhan – seperti Tuhan itu sendiri – hanya Satu, tapi diungkapkan dengan banyak nama dan ajaran yang diturunkan melalui para Nabi dan Rasul. “Yang Satu” ini dalam perspektif perennial adalah “Yang Tidak Berubah,” merupakan fithrah. Mengembalikan keanekaragaman yang ada dalam kehidupan sehari-hari ini kepada “Yang Tidak Berubah,” merupakan pesan dasar filsafat perennial, yang pada dasarnya adalah pesan keagamaan, sebagaimana disebut dalam terminology Islam al-din-u ‘l-nashihah (“agama itu pesan/nasihat”). Pesan ini tersurat dalam Q., s. al-Rum [30]: 30.

Dari pemaparan ini harapan kita, secara metodologis, pandangan perennial membawakan harapan segar di masa depan terhadap tradisi dialog antar-umat beragama. Sebab, melalui metode ini diharapkan tidak saja sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religions, melainkan bahkan mendiskusikannya secara lebih mendalam. Sehingga terbukalah kebenaran yang betul-betul benar. Dan tersingkirlah kesesatan yang benar-benar sesat – meskipun tetap dalam lingkup langit kearifan. Dan keduanya – kebenaran dan kesesatan – mungkin saja terjadi pada sikap kita atau suatu kelompok tertentu yang seakan berada pada posisi paling atas sehingga yang lain diklaim berada di bawah.

Pendekatan perennial inilah, walaupun secara teoritis memberikan harapan dan kesejukan, namun karena belum secara luas dipahami dan diterima kecuali oleh kalangan terbatas, ke depan pelan tapi pasti mampu mewarnai belantika cakrawala berfikir kita dalam memandang agama kita di tengah keberadaan agama-agama atau keyakinan milik orang lain. [ ]

Ahmad Nurcholish, Ketua Dept. Pendidikan Kebhinekaan dan Perdamaian ICRP, Direktur Eksekutif Nusantara Damai, Jakarta.

Diduga Jadi Bisnis Perang, ISIS Bisa Picu Perang GlobalAllegedly So Business War, ISIS Can Trigger Global War

Jakarta, ICRP – Kekejaman yang dipertontonkan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) melalui berbagai media telah menimbulkan keresahan di seluruh belahan dunia. Bahkan ada dugaan, ISIS menjadi bisnis perang yang akan memicu perang global. Pendapat tersebut diungkapkan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Iqbal Parewangi.

“Ini ada beberapa pendekatan, adanya ISIS bisa juga bisnis perang secara global setelah perang dunia. Karena tidak ada lawan yang jelas, jadi (ISIS) imajiner tapi juga nyata ada di lapangan,” kata Iqbal dalam diskusi di Senayan City, Jakarta, seperti dilansir tribunnews.com, Minggu (22/3/2015).

Menurut Iqbal, pemerintah dan masyarakat harus melihat ISIS secara holistik. Pemerintah harus menyelidiki apakah memang ada bisnis perang dibalik ISIS.

“Perang itu kan bisnis yang besar, konteks bisnis perang ini kan bisnis senjata,” katanya.

Namun, masyarakat dihimbau untuk tidak takut berlebihan terhadap ISIS.