Pandangan Islam Mengenai Keluarga Berencana

 

Dan hendaklah takut kepada Allah, terutama para orang tua yang akan meninggalkan anak-anak (keturunan) yang lemah, yang dikhawatirkan kesejahteraannya. Hendaklah mereka senantiasa bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. An-Nisa:9)

 

 

Pengertian Keluarga Berencana

Islam memberikan tuntunan yang tegas bahwa semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin dan jenis gendernya, diciptakan untuk mengembang misi yang amat penting sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi), paling tidak pemimpin untuk dirinya sendiri. Adapun tujuan utama penciptaan manusia adalah amar ma’ruf nahy mungkar, yakni melakukan upaya-upaya transformasi dan humanisasi demi kesejahteraan dan kemashlahatan manusia yang tentunya dimulai dari diri sendiri dan keluarga inti.

Agar dapat mengemban dan melaksanakan tugas dan tujuan mulia tersebut, manusia memerlukan pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang panjang. Karena itu, semua manusia: perempuan dan laki-laki  diharapkan bekerjasama secara tulus dan dengan penuh kasih sayang, bahu-membahu, bergotong-royong mewujudkan masyarakat yang damai, bahagia dan sejahtera (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur), seperti diilustrasikan Al-Qur’an dalam surah Saba’ yang bercerita tentang kesuksesan dan kepemimpinan Ratu Bulqis di kerajaan Saba’.

Sebagai manusia yang jelas tugas dan tujuannya, laki-laki dan perempuan harus memikirkan dengan baik setiap fase hidupnya. Jika mereka memilih untuk hidup berkeluarga maka mereka harus memikirkan bagaimana mewujudkan keluarga yang damai dan sejahtera. Karena itu kehidupan keluarga harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Dari sinilah muncul gagasan pemerintah tentang program Keluarga Berencana. Program Keluarga Berencana disingkat KB dimaksudkan sepenuhnya untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi setiap anggota keluarga: ibu, bapak, dan anak-anak, bahkan juga anggota keluarga lainnya.

Perencanaan keluarga dimulai dengan merencanakan hal-hal penting berikut:

Pertama, kapan waktu yang tepat untuk menikah? Meski UU Perkawinan menyebutkan usia minimal untuk melangsungkan pernikahan adalah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan, namun tidak berarti harus menikah di usia tersebut. Faktanya, dalam kehidupan sosial ternyata usia 16 atau 19 tahun masih terlalu dini. Umumnya anak laki dan anak perempuan dalam usia tersebut belum mampu hidup mandiri, apalagi berperan menjadi orang tua. Sebab, pernikahan itu memerlukan kesiapan fisik, mental, dan finansial disamping juga kesiapan moral dan spiritual. Harus dipkirkan secara matang, kehidupan setelah menikah nanti, mau tinggal dimana, pekerjaan apa yang akan dilakukan untuk menopang biaya hidup dan seperti apa bentuk keluarga yang akan dipilih?

Kedua, kapan waktu yang tepat untuk mulai hamil dan melahirkan? Pertanyaan ini terkait erat dengan kemampuan fisik, mental serta kesehatan reproduksi perempuan. Sebab, menjalani kehamilan secara bertanggungjawab bukanlah perkara mudah. Bukan hanya dibutuhkan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental dan spiritual calon ibu. Terlebih lagi setelah melahirkan nanti, apakah calon ibu sudah siap untuk menyusukan anaknya secara penuh sebagaimana dianjurkan ahli kesehatan dan juga dianjurkan dalam agama Islam, yaitu menyusui anak selama dua tahun penuh. Apakah laki-laki, calon ayah sudah siap berbagi waktu untuk mengasuh anak? Selain menyiapkan waktu yang cukup, juga keperluan material berupa sandang-pangan juga sangat dibutuhkan dalam periode ini.

Ketiga, kapan jarak terbaik antara satu kelahiran dan kelahiran anak berikutnya? Laki-laki dan perempuan sebagai calon orang tua sebaiknya memikirkan dengan matang jarak kelahiran anak-anak mereka. Jarak kelahiran yang terlalu dekat akan mengurangi perhatian dan kasih sayang yang seharusnya dirasakan seseorang anak. Lagi pula, kehamilan yang sangat rapat juga mempengaruhi kualitas kesehatan reproduksi perempuan. Anak adalah amanah Tuhan yang harus dijaga sedemikian rupa, tidak boleh disia-siakan kehadirannya. Sementara kebutuhan anak sangat kompleks, mulai dari kebutuhan jasmani berupa makanan sehat dan bergizi, pakaian yang memadai, serta rumah tempat tinggal yang memungkinkan dia tumbuh dengan sehat, aman dan nyaman. Belum lagi, kebutuhan non-fisik berupa perhatian, kasih sayang yang tulus dan pengasuhan, dan kemudian pendidikan yang memadai bagi pertumbuhannya menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab.

Dengan demikian konsep Keluarga Berencana mencakup spektrum yang sangat luas dan holistik. Mulai dari mempersiapkan diri sendiri menjadi orang tua (ayah dan ibu) yang sehat, bijak dan berkualitas. Merencanakan kapan punya anak, berapa jarak kelahiran dan kapan harus berhenti punya anak, untuk selanjutnya mempersiapkan anak-anak kita menjadi calon ayah dan calon ibu yang bertanggungjawab, membimbing mereka menjadi orang dewasa yang berkualitas fisik, mental, rohani dan spiritualnya serta memberikan bekal yang cukup dalam memilih pasangan dan menentukan kapan akan membentuk keluarga sendiri secara mandiri. Semua itu dengan satu tujuan yang jelas, yakni mewujudkan kesejahteraan dan kemashlahatan dalam hidup berkeluarga sehingga memperoleh kedamaian dan kebahagiaan lahir-batin di dunia sampai akhirat kelak.

Dari uraian tadi jelas bahwa KB bukanlah sekedar pemakaian alat kontrasepsi belaka. KB adalah satu cara mewujudkan keluarga sejahtera yang dapat dilakukan dengan atau tanpa memakai alat kontrasepsi. Berbicara tentang alat kontrasepsi, bermacam model  ditawarkan, tentu dengan berbagai keuntungan dan kerugian serta efek sampingnya. Pemilihan salah satu alat kontrsepsi hendaknya didahului dengan konsultasi pada bidan atau dokter. Tidak semua orang cocok dengan alat kontrasepsi tertentu mengingat kondisi fisik setiap individu berbeda satu sama lain.

Berdasarkan berbagai fakta medis dan sosial, tampaknya penggunaan alat kontrasepsi sebaiknya dilakukan oleh laki-laki atau suami. Mengapa sebaiknya laki-laki yang menggunakan alat kontrasepsi? Sebab, bagi laki-laki lebih mudah dan lebih praktis. Hal itu karena posisi organ reproduksi laki-laki berada di luar dan bentuknya pun tidak serumit organ reproduksi perempuan. Mari kita ubah paradigma yang terlanjur berkembang di masyarakat bahwa pemakaian alat kontrasepsi adalah kewajiban perempuan.

Konsep Keluarga Berencana yang utama adalah merencanakan suatu kehidupan keluarga yang damai dan bahagia, dan salah satu indikasinya adalah jumlah anak yang sedikit dan berkualitas. Pandangan ini terkait dengan masalah global tentang ledakan penduduk, kemiskinan, pengangguran dan keterbatasan sumber daya alam. Sebagai manusia yang dianugerahi akal budi, manusia selayaknya memikirkan dan merencanakan hidupnya dengan sebaik-baiknya agar tidak menambah kerumitan dalam kehidupan di bumi ini.

Islam membolehkan penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk tujuan memelihara kesehatan, mengatur jarak kelahiran anak, dan juga untuk menghindari penularan penyakit tertentu. Hal penting yang dipikirkan oleh suami dan isteri adalah bagaimana merencanakan keluarga bahagia, sejahtera dan harmoni yang dalam istilah Islam disebut sakinah wa mawaddah wa rahmah. Islam sejak dini sudah memberikan peringatan agar kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah seperti tertera dalam ayat pembukaan di atas.

 

Fungsi Keluarga

Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut. 1) Fungsi religius, yaitu keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada anggota-anggotanya; 2) Fungsi afektif, yakni keluarga memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan; 3) Fungsi sosial; keluarga memberikan prestise dan status kepada semua anggotanya; 4) Fungsi edukatif; keluarga memberikan pendidikan kepada anak-anaknya; 5) Fungsi protektif; keluarga melindungi anggota-anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial; dan 6) Fungsi rekreatif. yaitu bahwa keluarga merupakan wadah rekreasi bagi anggotanya.

Suatu keluarga akan menjadi kokoh, bilamana keenam fungsi yang disebutkan tadi berjalan harmonis. Sebaliknya, bila pelaksanaan fungsi-fungsi  di atas mengalami hambatan akan terjadi krisis keluarga. Keluarga juga akan mengalami konflik, bila fungsi-fungsi itu tidak berjalan secara memadai.  Misalnya, jika fungsi edukatif tidak berjalan efektif mungkin hubungan anak dan orangtua akan mengalami ketidakteraturan (disorder).

Ditinjau dari perspektif gender, keluarga merupakan lingkungan yang secara langsung dan tidak langsung memperkenalkan sifat-sifat khas perempuan dan laki-laki (gender traits), cara-cara mengisi peran gender (sebagai ayah-ibu atau sebagai suami-isteri) dan berbagai bentuk interaksi gender, seperti ayah dominan, ibu submisif, atau sebaliknya. Dalam keluarga Indonesia pada umumnya, laki-laki sebagai ayah mempunyai kedudukan yang sentral  dan peran laki-laki sebagai ayah dan yang biasanya aktif di ruang publik sangat menentukan status keluarga dalam masyarakat.

Sebagai penerus utama nilai-nilai, dalam lingkungan keluarga juga berlangsung mekanisme pemilihan tokoh identifikasi. Anak meniru pola perilaku orang di dalam keluarga. Yang ditiru dapat berupa perilaku, gaya bicara atau sifat-sifat khasnya. Ditinjau dari perspektif gender, keluarga merupakan laboratorium dimana sejak anak dilahirkan ia belajar dan mengenal perilaku yang terkait pada gender seseorang (gender related behavior).

 

Anak sebagai amanah

Ajaran Islam menegaskan bahwa anak adalah amanah Allah swt. Sebagai suatu amanah tentu saja anak harus dipersiapkan kehadirannya sedemikian rupa. Ayah dan ibu sebagai calon kedua orang tua bagi si anak terlebih dahulu harus mempersiapkan diri, baik dalam aspek fisik maupun non-fisik, seperti moral, mental, emosional, finansial dan aspek sosial. Selanjutnya setelah lahir, anak dijaga dan dipelihara kelangsungan hidupnya dengan sebaik-baiknya agar tumbuh menjadi manusia yang sehat, cerdas, bermoral dan berakhlak-karimah. Oleh karena itu, setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban berkenaan dengan anak yang dianugerahkan kepadanya.

Ayat an-Nisa 9 (pembukaan) secara tegas memperingatkan kepada setiap orang tua (lelaki dan perempuan) agar jangan meninggalkan keturunan atau anak-anak yang lemah. Pengertian lemah dalam ayat tersebut mempunyai makna yang sangat luas, yaitu lemah dalam agama atau akidah, lemah ekonomi, lemah pendidikan, lemah fisik, lemah mental dan seterusnya. Dengan begitu, setiap calon ayah dan ibu hendaknya mempersiapkan sedemikian rupa dan seoptimal mungkin segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kelahiran dan pertumbuhan anak-anak mereka. Sehingga kelak bisa menjadi generasi yang kuat dan berkualitas, dan bukan generasi lemah yang akan menjadi beban sosial di masyarakat.

Di samping sebagai amanah, anak juga merupakan cobaan atau fitnah dari Allah. Ini maksudnya untuk menguji iman manusia sejauhmana manusia dapat memelihara amanah Allah. Dalam hal ini posisi anak tak ubahnya dengan harta kekayaan. Allah menganugerahkan harta kekayaan kepada manusia agar dipergunakan atau dibelanjakan ke jalan yang benar serta untuk menolong orang-orang yang membutuhkan.

Demikian pula halnya dengan anak, dianugerahkan pada manusia agar dapat dididik ke jalan yang benar dan menjadi manusia yang berguna; baik bagi sesamanya, maupun bagi agama dan bangsa. Manusia yang paling baik di sisi Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi sesamanya, demikian bunyi satu hadis. Karena itu, setiap orang akan ditanyai dan dimintai pertanggung-jawabannya berkenaan dengan harta dan anak yang dianugerahkan Tuhan padanya. Jadi, sebelum punya anak, pikirkan dulu secara mendalam apakah mampu memenuhi hak dan kebutuhan anak yang sangat kompleks tersebut.

Itulah perlunya memahami ajaran Islam dengan benar agar kita tidak salah kaprah. Sebab, di masyarakat banyak sekali beredar pemahaman yang keliru, misalnya Islam melarang Keluarga Berencana, Islam menghendaki kita punya anak banyak, banyak anak banyak rezeki dan seterusnya. Hanya dengan satu ayat Al-Qur’an (an-Nisa 9) semua pandangan keliru tersebut terbantahkan dengan sendirinya. Yang benar, Islam mengajarkan agar kita agar meninggalkan keturunan yang kuat dan berkualitas serta dapat dibanggakan. Di sinilah letak pentingnya program Keluarga Berencana.

 

Tujuan mulia perkawinan

Islam mengajarkan bahwa perkawinan bukanlah semata ucapan ijab-qabul, melainkan suatu akad (komitmen) yang sangat kuat antara dua orang manusia yang bertujuan membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan  kasih-sayang). Itulah sebabnya, dalam perkawinan Islam tidak dibenarkan adanya perilaku dominasi, diskriminasi, eksploitasi, dan segala bentuk poligami, selingkuh dan kekerasan, khususnya kekerasan seksual.

Perlu diketahui bahwa hukum dasar perkawinan adalah mubah artinya boleh, boleh menikah, dan boleh tidak. Jangan disalahpahami bahwa jika seseorang memilih tidak menikah berarti dia memilih hidup bebas dan melakukan hal-hal tercela.

Ditemukan cukup banyak perempuan dan laki-laki yang tidak menikah dan tetap komitmen hidup dalam kesucian dan mengamalkan nilai-nilai spiritual yang tinggi, tidak terlibat free seks dan semacamnya, bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk membantu sesama demi kemanusiaan. Karena itu, jangan berburuk sangka atau memberi stigma pada seseorang (perempuan atau laki-laki) yang secara sadar memilih untuk tidak menikah.

Masalahnya, tidak semua perempuan memiliki kemerdekaan penuh dan punya pilihan bebas. Sebagian perempuan sungguh-sungguh tidak mengerti akan eksistensi dirinya sebagai manusia utuh yang punya harkat dan martabat; sebagian perempuan tidak bebas menentukan pilihan hidupnya, melainkan sangat ditentukan oleh orang tua atau walinya. Menikah pun atas keinginan orang tua agar tetap disebut anak yang berbakti. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hidup dengan pasangan yang bukan pilihan hati, untunglah kalau dia berbudi luhur dan baik hati, tapi kalau dia berakhlak buruk, maka terjadilah kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dan pastilah perempuan dan anak-anak yang akan menderita. Ditemukan pula sebagian perempuan terpaksa memilih menikah hanya untuk mendapatkan status sebagai isteri karena masyarakat masih sulit menerima kehadiran perempuan tanpa pasangan (suami).

Demikianlah problematika budaya yang masih melilit perempuan. Kondisi merugikan ini harus segera diakhiri agar perempuan di masa depan dapat memilih dengan cerdas sesuai pesan-pesan moral agamanya, memilih kemaslahatan untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakatnya. Untuk itu, perempuan harus berkualitas, berpengalaman, berwawasan luas, berilmu-pengetahuan cukup, berketerampilan memadai, dan juga berakhlak karimah.

Harus selalu diingat bahwa perkawinan bukan semata urusan biologis atau sekedar memenuhi kebutuhan syahwat, melainkan jauh lebih bermakna dari itu. Perkawinan  memerlukan adanya kesadaran tentang kehadiran Allah dalam hidup manusia, kehadiran Sang Maha Pencipta yang akan membimbing manusia (perempuan dan laki-laki) ke jalan yang lurus, jalan kebahagiaan sejati dan abadi. Perkawinan menuntut agar suami-isteri jujur kepada diri sendiri, kepada pasangan masing-masing, dan kepada Allah sang Pencipta.

Sejumlah ayat Al-Qur`an menjelaskan, agar suami memperlakukan isteri secara hormat, lembut, sopan, dan tidak menyia-nyiakan mereka. Suami dan isteri tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun dan untuk alasan apa pun, tidak boleh ada perilaku diskriminatif dan eksploitatif sedikit pun. Bahkan, secara khusus Allah juga menekankan penting­nya berbuat adil dalam lingkup keluarga, sebuah lem­baga di mana praktik ketidakadilan terselubung sering­kali terjadi, dengan korban utama selalu istri dan anak-anak perempuan, seperti terlihat dalam kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Posisi perempuan sebagai isteri setara dengan suami. Keduanya berhak mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan, baik biologis maupun batiniyah. Keduanya pun sama-sama bertanggung jawab, baik dalam tugas-tugas domestik di rumah tangga maupun dalam tugas-tugas publik di masyarakat. Suami tetap harus peduli dengan fungsi reproduksi isteri yang sangat mulia, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui.

Ketika melaksanakan fungsi-fungsi mulia tersebut, para isteri wajib mendapatkan perlindungan, bukan hanya dari suami, melainkan juga dari seluruh masyarakat dan bahkan juga dari negara. Perlindungan negara, antara lain dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai, harga obat yang terjangkau, transportasi yang ramah perempuan dan kebijakan hukum yang memihak perlindungan hak-hak asasi perempuan, khususnya, hak dan kesehatan reproduksi perempuan.

Posisi perempuan sebagai ibu adalah sangat mulia dan terhormat. Surga terletak di bawah kaki ibu, artinya keridhaan ibu amat menentukan keselamatan dan kebahagiaan seorang anak. Karena itu, ibu berhak mendapatkan penghormatan tiga kali lebih besar dari penghormatan anak kepada ayahnya. Hadis berikut menjelaskan secara indah.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ. (رواه البخارى ومسلم)

 

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya: Ya Rasulullah, siapakah manusia yang wajib saya hormati? Jawab Rasulullah: Ibumu, kemudian siapa? Ibumu, kemudian siapa? Ibumu, kemudian siapa? Ayahmu

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sangat jelas hadis nabi tersebut memerintahkan seorang anak agar menghormati ibu dahulu baru ayah. Bahkan, penghormatan terhadap ibu sebanyak tiga kali dari penghormatan yang diberikan kepada ayah. Mengapa demikian? Tugas berat sebagai ibu sangat diapresiasi Islam, tugas itu terkait dengan organ reproduksinya yang sangat spesifik, yaitu haid, hamil, melahirkan dan menyusui anak. Tidak semua perempuan dapat haid dengan nyaman, sebagian perempuan merasa sangat sakit dan menderita ketika dalam periode menstruasi akibat pendarahan yang luar biasa, karena itu cuti haid yang diberlakukan pada beberapa negara maju amat penting dan sangat melindungi perempuan.

Tugas melahirkan pun tidak kalah berat dan sakitnya, sebagian perempuan terpaksa meregang nyawa ketika melahirkan.Angka kematian ibu melahirkan (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan dalam masa sepeuluh tahun ini tidak ada penurunan, malah terjadi kenaikan yang signifikan. Hal itu karena perhatian dan kepedulian masyarakat dan juga negara sangat rendah terhadap pemenuhan hak dan kesehatan reproduksi perempuan.

Lalu, tugas menyusui dan merawat anak pun bukan tugas yang ringan. Untuk dapat menyusui anak dengan baik ibu memerlukan makanan bergizi dan kesehatan yang prima, serta suasana batin yang mendukung (kondusif). Ringkasnya, tugas-tugas reproduksi yang demikian berat dan seringkali seorang ibu harus mengorbankan nyawanya dicatat oleh agama Islam dan dijadikan alasan mengapa seorang anak wajib menghormati ibunya tiga kali lebih banyak dari penghormatan terhadap ayah.

Islam menghargai hak-hak reproduksi perempuan sebagai manusia merdeka. Karena itu, perempuan memiliki hak asasi atas diri dan juga rahimnya. Perempuan dapat memilih secara merdeka apakah ia akan menikah atau tidak; perempuan dapat memilih dan menentukan kapan akan hamil atau tidak. Berapa kali akan hamil dan melahirkan. Tubuh perempuan bukanlah mesin reproduksi. Seorang perempuan tidak boleh mengalami kesengsaraan dan penderitaan, apalagi kematian karena melakukan fungsi-fungsi reproduksi yang sangat mulia itu. Perempuan harus mendapatkan informasi yang benar dan memadai terkait hak dan kesehatan reproduksinya, di sinilah tugas negara dan masyarakat.

Karena itu, mari merencanakan keluarga yang damai dan bahagia melalui program Keluarga Berencana. Wallahu a’lam.

 

 

***

 

Putri Gus Dur Ingatkan Jokowi Soal Ancaman ISIS

JAKARTA, ICRP – Direktur Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid mengingatkan pemerintahan Joko Widodo dengan semakin kuatnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di tanah air. Hal ini Yenny singgung dalam laporan Tahunan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) dan Intoleransi di Indonesia 2014.

“Kami ingatkan pemerintah bahwa ada bahaya besar yakni gerakan ISIS. Kami melihat simpatisan ISIS di tanah air juga banyak,” ucap putri almarhum presiden Abdurrahman Wahid ini di Wahid Institute, Jakarta Timur, Senin (29/12).

ISIS, Yenny memprediksi, akan memberi ancaman serius pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke depan. Sebagaimana diketahui bersama, ISIS telah menjadi momok yang mengerikan dalam konflik di kawasan Timur Tengah.  Karena itu, Yenny berharap pemerintah tidak boleh abai dan menganggap remeh gerakan teroris ini.

“Pemerintah tidak bisa lagi menunggu. Tidak bisa lagi Wait and see,” tegas Yenny mengingatkan pemerintah.

Yenny mendesak pemerintah untuk segera memikirkan strategi penanggulangan masuknya ISIS ke tanah air. “Kita harap pemerintah segera memiliki strategi untuk menghalau ISIS,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat heboh dengan hadirnya sebuah video yang diunggah oleh militan ISIS asal Indonesia. Dalam video  tersebut, lelaki itu mengancam akan membinasakan TNI, Banser, dan NKRI. Sosok yang diduga warga Malang ini mengaku tengah mempersiapkan diri kembali ke tanah air untuk melakukan aksi-aksi pembantaian pada non-muslim.

Dengan semakin nyatanya ancaman ISIS, akankah presiden Joko Widodo mendengar dan segera merespon?

Wahid Institute: Kasus Kebebasan Beragama 2014 Menurun

Jakarta, ICRP – The Wahid Institute mengeluarkan Laporan Pemantauan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan(KBB) selama tahun 2014, Senin (29/12/2014). Laporan tersebut menyebutkan peristiwa pelanggaran KBB tahun ini mengalami penurunan sebanyak 42%. Begitu pula dengan jumlah tindakan pelanggaran KBB menurun sebanyak 12%.

Direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid mengemukakan, penurunan kasus KBB tersebut bukan berarti kinerja pemerintah dalam bidang keagamaan membaik. Masih banyak hal yang perlu dievaluasi seperti mencabut atau merevisi kebijakan yang diskriminatif dan bertentangan dengan dengan konstitusi.

Yenny menuturkan beberapa alasan kenapa terjadi penurunan kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan pada tahun 2014 ini.

Pertama, pada tahun 2014 terjadi proses pemilihan umum, yang mana pada pemilu tersebut, para kontestan berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai pihak yang pro pada isu toleransi dan anti kekerasan.

Kedua, dalam konteks pemilu legislatif dan presiden 2014, isu toleransi tidak menjadi satu-satunya fokus utama berita-berita medua masa (cetak, online, radio, dan televisi). Ini menyebabkan isu-isu kebebasan beragam dan berkeyakina juga berkurang.

Ketiga, kampanye kebebasan beragama dan berkeyakinan pada tahun 2014 ini cukup masif, efektif dan terorganisir. Sehingga ide-ide toleransi bisa tersebar luar ke tengah masyarakat.

Keempat, sebagian masyarakat sudah sadar jika kekerasan bukan jalan yang efektif untuk mengekspresikan penolakan sikap dan pandangan atau untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Yenny mengutarakan bahwa pemerintahan Jokowi memberi angin segar dalam penegakan kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan. Karena dalam Nawacita, Jokowi berjanji “memberikan jaminan perlindungan dan hak kebebasan beragana dan berkeyakinan serta melakukan langkah-langkah hukum terhadap pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama”.

“Janji tersebut masih harus betul-betul dibuktikan dan akan menjadi ‘utang’ warisan bagi Jokowi-Kalla” tegas Yenny.

Jawa Barat Pertahankan Posisi Wahid Intoleransi Se-Indonesia

JAKARTA, ICRP –  Jawa Barat kembali menjadi top skor dalam kasus kekerasan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan. Demikian hasil temuan Wahid Institute dalam laporan tahunan kebebasan beragama dan berkeyakinan (KB) dan Intoleransi di Indonesia 2014.

Tahun 2014, Provinsi yang dinahkodai kader PKS, Ahmad Heryawan telah terjadi 55 kali aksi pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan. Angka ini jauh melampaui posisi kedua DI Yogyakarta dengan jumlah kekerasan 21 dan Ketiga Sumatera Utara yakni pada angka 18.

Mirisnya, dari 55 aksi kekerasan atas nama agama di provinsi yang beribukota Bandung ini justru dilakukan oleh aktor negara. Tercatat Wahid Institute di Jawa Barat 36 dari 55 aksi intoleransi di Jawa Barat dilakukan pemerintah daerah atau pun penegak hukum.

Beberapa kasus yang menyedot perhatian misalnya mengenai sengketa tanah GKI Yasmin di Bogor dan HKBP Philadephia di Bekasi. Masing-masing pemimpin daerah cenderung mengikuti kehendak kelompok-kelompok radikal dalam permasalahan semacam ini.

Peneliti Senior Wahid Institute, Subhi Azhari melihat ada dua faktor utama Jawa Barat tetap menjadi no wahid dalam kekerasan atas nama agama. “Pertama, karena kelompok keagamaan yang intoleran banyak di Jawa Barat. Kedua, kemungkinan ada kecenderungan segregasi sosial di daerah-daerah satelit kota besar di antara Jakarta dan Bandung,” ucap Subhi, dalam konferensi pers di Wahid Institute, Senin (29/12).

Ahmad Heryawan bahkan beberapa tahun ke belakang menggandeng Front Pembela Islam (FPI) untuk menjaga “moralitas” dan agama di Jawa Barat. Padahal sebagaimana diketahui bersama FPI menjadi salah satu aktor dalam kekerasan terhadap minoritas.

 

Dalam Haul Gus Dur Kelima, Penyair Mengenang Bapak Pluralisme Indonesia

JAKARTA , ICRP – Turut serta dalam perayaan haul Gus Dur kelima, Kyai Zawawi Imron didaulat panitia memberikan testimoninya tentang “Bapak Pluralisme Indonesia”.  Dalam kacamata kyai asal Sumenep ini, Gus Dur merupakan sosok berhati jernih.

“Dalam hati yang jernih ada pandangan melihat tanah air sesuatu yang indah. Kita perlu hati yang jernih untuk mencintai Indonesia,” ucap Kyai yang kerap nyambi sebagai  penyair ini di Ciganjur, Sabtu (27/12).

Kejernihan hati Gus Dur, Zawawi Imron melanjutkan, terlihat ketika presiden keempat RI ini dilengserkan. “Meski dipaksa mundur, namun Gus Dur sama sekali tidak mendendam,” ujar penyair yang terkenal dengan puisi berjudul “Ibu” itu.

Menurut Zawawi Imron Gus Dur memandang tanah air Indonesia sebagai sajadah. “Maka barangsiapa yang mencintai Gus Dur pasti tidak mau menumpahi sajadah ini dengan darah,” kata Zawawi Imron.

Gus Dur, sambung Zawawi Imron, meyakini memakmurkan Indonesia merupakan kewajiban semua rakyat Indonesia. Wajah kemakmuran Indonesia dalam benak Gus Dur, menurut Zawawi terletak pada senyum para petani dan nelayan. Tak mengherankan, kata Zawawi Imron, Gus Dur memberikan perhatian serius pada para petani dan nelayan ketika menjabat sebagai orang nomor 1 di republik ini.

“Bagi Gus Dur petani dan nelayan adalah para pahlawan,” imbuh Zawawi.

Sepanjang  sepatah dua patah kata tak lebih dari 15 menit itu, Zawawi berulang-ulang kali membubuhi  testimoninya dengan puisi-puisi. Salah satu puisinya berceritakan tentang sanjungan pada  istri Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid.

Beberapa politisi teras malam itu juga turut meramaikan acara haul Gus Dur kelima. Menteri Sosial yang juga tokoh perempuan NU Khofifah juga turut hadir. Khofifah diberikan panggung untuk menyampaikan pandangannya mengenai Gus Dur. Terlihat pula politisi senior Golkar Akbar Tanjung duduk di panggung bersama tamu undangan lainnya.

Testimoni terakhir disampaikan oleh pelawak asal Jawa Timur yang kerap menemani Gus Dur, Kirun. Dengan logat nyentriknya, Kirun bertanya pada hadirin, “Bisakah kita dicintai sebegitu besar ketika pergi sebagaimana Gus Dur?”

Acara haul Gus Dur pun ditutup dengan manis oleh Darvish Dance.

Video ISIS Ancam TNI, Polri, dan Banser Beredar di YouTube

Video orang Indonesia yang mengaku sebagai anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali muncul di YouTube.

Kali ini, beredar video berisi ancaman anggota ISIS terhadap Panglima TNI, Polri, serta Barisan Serbaguna (Banser) Anshor Nahdlatul Ulama.

Video berjudul “Ancaman wahabi terhadap Polisi, TNI dan Densus 88, Banser” itu diunggah pada 24 Desember 2014 oleh akun al-faqir ibnu faqir. Video berdurasi 4:01 menit itu menampilkan seorang pria berkumis dan berjenggot yang mengenakan baju army look. Pria yang memakai kupluk dan bersarung tangan itu berbicara dalam bahasa Indonesia, dengan sedikit logat Arab, sembari sesekali mengutip ayat Al-Quran.

Pada awal tayangan, dia langsung menyebut Panglima TNI Jenderal Moeldoko, Kepolisian, dan Banser dengan sebutan Laknatullah. Pria itu mengatakan menunggu kedatangan TNI, Polri, dan Banser yang dikabarkan akan ikut memerangi ISIS. “Apabila kalian tidak datang kepada kami, kami akan datang kepada kalian,” ujarnya.

Pria itu juga memberi sinyal bahwa dirinya tengah berada di luar negeri, dengan mengatakan akan kembali ke Indonesia. Dia lantas kembali menebar ancaman akan membantai TNI, Polri, dan Banser. “Kita buktikan siapa yang Allah menangkan, kalian pasukan iblis atau kami pasukan Allah,” katanya.

Pria ini juga dengan mantab mengancam akan membunuh satu persatu pasukan TNI, Polri, Densus, dan banser.

“Kami mengetahui bahwa penegakan syariat Allah, dimulai dengan memerangi kalian. Dengan membantai satu persatu dari kalian, tentara, TNI, Polri, Densus, dan Banser”

Belum diketahui di mana video ini diambil. Namun hingga Jumat (26/12/14), video ini sudah ditonton oleh 4.499 viewer. Beberapa akun lain juga telah re-upload video tersebut dengan judul yang berbeda-beda. Hingga saat ini belum ada tindakan dari aparat terkait kemunculan video tersebut.

Berikut ini link Video :

http://www.youtube.com/watch?v=uVy0w0maqXc

Melihat Gus Dur Dengan Kacamata Perempuan

Gus Dur mempunyai andil besar terhadap gerakan perempuan di Indonesia. Pemikiran-pemikiran Gus Dur menjadi roh semangat gerakan perempuan di Indonesia. Tidak hanya itu, keberpihakan Gus Dur terhadap kaum perempuan beliau wujudkan dalam kebijakan-kebijkan saat beliau menjabat Presiden RI maupun di Nahdlatul Ulama (NU). Demikian pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU, Hj Ida Fauziyah dalam peluncuran buku berjudul ‘Gus Dur di Mata Perempuan’, Selasa (23/12/2014).

Acara yang juga merupakan bagian dari peringatan Haul Gus Dur ke-5 ini, turut mengundang istri almarhum Sinta Nuriyah Wahid, Ala’I Najib selaku editor buku, Anis Hidayah dari Migrant Care, dan Ribka Tjiptaning sebagai mantan ketua komisi IX DPR dari PDIP.

Ida Fauziyah menekankan, hadirnya buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ menjadi angin segar untuk mengobati kerinduan terhadap sosok pluralisme tersebut. Menurutnya, dalam buku tersebut berisi pemikiran Gus Dur yang memiliki keberpihakan terhadap kaum perempuan.

“Pentingnya peluncuran buku ‘Gus Dur Di Mata Perempuan’ dalam peringatan haul ke-5 nya ini, adalah demi mengingatkan kita pada sosok almarhum yang memiliki pemikiran fundamental, bagi terwujudnya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki,” kata Ida di Jakarta, Selasa (23/12/2014).

Ida menyebut bahwa perkembangan terkait hak-hak perempuan dalam berbagai sektor di beragam sendi kehidupan saat ini, tentunya tidak terlepas dari sosok Gus Dur yang menjadi salah satu pencetus dan pejuang yang sangat gigih dalam membela hak-hak perempuan.

Lebih jauh mantan Ketua Komisi VIII DPR periode 2009-2014 ini juga mengapresiasi penuh pemerintahan Jokowi-JK saat ini, yang cukup bijaksana dengan menempatkan sejumlah posisi kementerian untuk dipimpin secara langsung oleh kaum perempuan.

“Berkat perjuangan Gus Dur dan kerja keras para pejuang kesetaraan dan keadilan gender lainnya di Indonesia. Saat ini kita bisa menikmati perkembangan dalam hal keadilan dan kesetaraan gender. Walaupun kesetaraan di berbagai bidang itu belum sempurna secara keseluruhan, namun kita patut berbangga dimana ada 8 orang perempuan hebat yang mengisi 8 posisi menteri dalam kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK hari ini. Hal tersebut tentunya layak diapresiasi,” beber Ida.

Sementara itu, Salah satu penulis, Maria Ulfah Anshor mengatakan, buku ‘Gus Dur di Mata Perempuan’ ini berawal dari cita-cita Fatayat untuk mendokumentasikan pandangan dan pengalaman perempuan terhadap sosok dan perjuangan Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur adalah pribadi yang tak terpisahkan dalam perjalanan dan perjuangan Fatayat.

“Kami ingat, November 2008 adalah saat bersama dengan Fatayat dalam acara publik, seminar tentang gender dan kebudayaan. Gus Dur bahkan sempat meledek dengan gayanya yang khas katanya Fatayat ketinggalam zaman, baru bicara soal itu sekarang,” cerita Maria. “Rupanya itu pertemuan terakhir dengan Fatayat dalam forum resmi,” tambahnya dalam kesempatan yang sama. (Riz)

Sumber: liputan6.com

Saat Natal, Kiai Muhaimin Sibuk Ceramah di Gereja-Gereja

Kiai biasanya identik mengisi ceramah di masjid atau musalla. Namun itu tidak bagi KH Abdul Muhaimin.  Muhaimin yang juga Pengasuh Pesantren Ummahat Nurul Islam di Kotagede Yogyakarta ini lebih aktif di gereja saat Natal.

Selama Natal, pria yang akrab disapa Kiai Muhaimin ini mengaku lebih sibuk dibandingkan pastur ataupun pendeta di Yogyakarta. Pasalnya dirinya mendapat banyak tawaran mengisi ceramah di gereja-gereja di Yogyakarta. Ceramah yang dilakukannya sudah dilakukan mulai kemarin hingga beberapa hari ke depan. Bahkan ia menyebut jika jadwal ceramah yang dilakukannya sudah padat.

“Ndek bengi ()tadi malam) di GKI Gejayan, esuk mau (tadi pagi) ceramah di GKJ Samirono, nanti sore di Gereja Babarsari. Jadi saya ini sekarang ini lebih sibuk daripada pendeta dan pastur. Sampai tanggal 6 Januari padat sibuk pokoknya,” ujar Muhaimin di Yogyakarta, Kamis (25/12/2014).

Muhaimin yang juga Koordinator Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) mengatakan dalam ceramah yang dibawanya di GKJ Samirono bertemakan “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga”. Dalam ceramahnya ini Muhaimin menyebutkan bahwa tuhan harus hadir di dalam keluarga. Jika tuhan hadir dalam keluarga maka kehidupan akan baik.

“Temanya berjumpa Allah dalam keluarga. Kata itu yang jarang ada. Jadi misal anak yang main game dan sibuk dengan dunianya lupa dengan Tuhan jadi bagaimana anak ini hadir bagi Tuhan di keluarganya,” ujar dia.

Muhaimin menyentil perbedaan pandangan terkait umat Islam memberikan ucapan selamat Natal. Menurut dia, hal itu perlu disikapi dengan bijak. Selain itu, dengan mengucapkan selamat Natal bagi orang Islam tidak akan mengurangi keimanan.

“Itu biasa, nggak usah dirembuk. Saya ucapkan selamat Natal juga tidak mengurangi iman saya. Saya juga sudah ucapkan di facebook saya,” ujar Muhaimin. (Ali)

Sumber: liputan6.com

Ada Apa dengan Buku-Buku Keislaman?

 

Siti Musdah Mulia[1]

Islam adalah agama yang paling vokal bicara soal pentingnya membaca. Buktinya, Al-Qur’an memulai tuntunannya dengan serangkaian ayat berisi perintah membaca (QS. al-Alaq, 1-6). Sepintas, terkesan aneh. Mengapa tidak dimulai dengan perintah salat, puasa atau ritual lainnya? Mengapa membaca menjadi konsen utama? Jawabannya simpel saja, membaca merupakan media utama untuk mencerdaskan manusia; membaca merupakan jendela ilmu pengetahuan dan jembatan kemajuan; membaca adalah instrumen inti pendidikan.

 Umat Islam meyakini bahwa pendidikan sangat penting, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sejumlah argumen teologis, baik ayat maupun hadis menjelaskan tingginya posisi mereka yang mencintai ilmu dan menekuni pendidikan, di antaranya firman: “Allah mengangkat derajat mereka yang beriman dan berilmu pengetahuan” (QS. al-Alaq, 1-6); hadis Nabi: ”menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi laki-laki dan perempuan”  atau “tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Sayangnya nilai-nilai ideal yang begitu luhur pada tataran normatif tidak berlanjut ke tataran empiris sebagaimana terlihat dalam realitas sosiologis kehidupan umat Islam, khususnya di Indonesia.

Ironis sekali, meskipun ajaran Islam sangat kuat mendorong umatnya menekuni dan mengembangkan pendidikan melalui aktivitas membaca, namun faktanya di berbagai belahan dunia tetap dijumpai jutaan umat Islam tidak tersentuh pendidikan. Angka partisipasi mereka dalam semua level pendidikan, terutama pendidikan tinggi sangat rendah, terlebih lagi kaum perempuan. Sebagian besar umat Islam  tidak memiliki akses dan tidak mampu berpatisipasi dalam pendidikan, dan akibat lanjutannya tidak mampu mengambil manfaat dari pembangunan bidang pendidikan. Tidak heran kalau umat Islam masih menempati posisi lemah dan terkebelakang, khususnya dalam bidang sains, teknologi dan informatika.

Sementara itu, muncul fenomena di masyarakat yang mengesankan maraknya buku-buku keislaman dan kegandrungan umat Islam membaca buku-buku keagamaan, terutama di saat menjelang bulan puasa atau selama bulan Ramadhan. Di berbagai pelosok tanah air memang terlihat ramainya bursa penjualan buku-buku keagamaan. Lalu, apakah itu berarti umat Islam sudah bangkit dari ketertinggalannya dan menyadari pentingnya membaca sebagai media utama pendidikan?

Ternyata tidak demikian. Sebab, penelitian saya tahun 1992 tentang buku-buku keislaman yang paling banyak diminati masyarakat mengungkapkan bahwa buku-buku keagamaan yang paling banyak tersebar dan diminati masyarakat adalah buku-buku keislaman normatif, yang banyak bicara soal fikih dan seluk beluk ibadah dalam arti sempit. Lebih mengejutkan lagi, buku-buku terlaris justru buku-buku tuntunan do’a (termasuk Yasinan, dan Mujarobat), tuntunan salat, manasik haji dan sejenisnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam dalam pengamalan kegamaan mereka masih berkutat pada masalah ritual yang bersifat legal-formal dan hal-hal yang sangat simbolistik, bahkan bernuansa mistik.

Buku-buku keagamaan yang banyak diminati masyarakat bukanlah jenis buku-buku agama yang menjelaskan substansi Islam dengan pemikiran rasional dan analisisi kritis yang mampu menggugah umat Islam melakukan kritik diri dan introspeksi diri, untuk selanjutnya memberikan respon dan  mencari solusi terhadap pelbagai persoalan sosial kontemporer yang secara riil dihadapi umat Islam, seperti  busung lapar, kemiskinan, pengangguran, korupsi, eksploitasi anak, anak-anak jalanan, anak-anak korban perang dan konflik, problem penyandang cacat (disable people) dan para lansia, perdagangan perempuan, buruh migran, HIV/Aids, pencemaran udara dan  pengrusakan lingkungan hidup, serta berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi lainnya.

Buku-buku keislaman yang banyak dijumpai di masyarakat pada umumnya hanya dapat mengantarkan pembacanya membangun kesalehan individu, tetapi sangat sulit menuju kesalehan sosial yang ditandai dengan rasa empati terhadap penderitaan kelompok rentan dan tertindas. Justru yang terakhir itulah yang amat diperlukan dalam kehidupan umat. Umat Islam masih harus diajarkan cara membaca yang bersifat analitis dan kritis sehingga pikiran dan wawasan mereka terbuka seluas-luasnya sehingga pada gilirannya membentuk mereka menjadi cerdas, kritis, rasional, dan arif bijaksana yang kesemuanya itu merupakan ciri khas orang beriman.

Umat Islam masih perlu disuguhi bahan bacaan yang dapat mengubah dan mengembangkan ketiga aspek utama dalam diri manusia: aspek kognitif, afektif dan psykomotorik secara silmutan. Bahan bacaan yang mampu mengubah pengetahuan, sikap dan perilaku umat Islam ke arah lebih baik, lebih positif, lebih arif dan lebih manusiawi. Buku-buku keislaman seharusnya mampu mengubah pengetahuan dan wawasan pembacanya menjadi lebih luas dan terbuka; mengubah sikap mereka ke arah lebih inklusif, toleran, pluralis, dan humanis sehingga menjadi lebih empati terhadap sesama, serta lebih peduli pada kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya; dan mengubah perilaku mereka ke arah perilaku lebih santun dan bermoral. Ringkasnya, umat Islam perlu lebih banyak lagi bahan bacaan yang mampu mengantarkan pembacanya menjadi manusia berakhlak mulia karena itulah tujuan akhir dari keberagamaan dalam Islam.

Melalui bahan bacaan seperti inilah umat Islam Indonesia dapat mewujudkan sumber daya manusia handal dan berkualitas yang pada gilirannya akan mempromosikan ajaran Islam yang ramah dan sejuk serta akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaa sehingga pada akhirnya Islam sungguh-sungguh menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin).  In urîdu illa al-ishlâh mastatha’tu. Wa mâ tawfîqiy illâ billâh. Wa Allah a’lam bi as-shawab.

 

 

 

 

[1] Professor Riset Bidang Lektur Agama dan Dosen Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Lindungi Masyarakat Adat, Pemerintah Harus Rombak Perundangan-Undangan

JAKARTA, ICRP – Kepala Badan Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) Heru Prasetyo menyinggung masih adanya diskriminasi terhadap masyarakat adat. Demikian Heru  sampaikan dalam sambutannya di acara Catatan Akhir Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Peluncuran Peta Wilayah Adat, di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin (22/12).

“Diskriminasi terhadap masyarakat merupakan masalah yang juga masih dihadapi oleh banyak negara di dunia,” tutur Heru mengingat pertemuannya dengan rekan-rekannya dalam acara pelestarian lingkungan dan hutan di Lima, Peru beberapa waktu lalu.

Permasalahan diskriminasi terhadap masyarakat adat memang kerap kali berkelindan dengan kepentingan kapitalisme. Salah satu contoh perkara terjadi Bengkulu. Pengadilan Negeri Bintuhan di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu menjatuhkan hukuman penjara 3 tahun dan denda Rp. 1,5 Milyar kepada empat orang masyarakat adat Semende Banding Agung.

Sosok yang sempat menjadi direktur Hubungan Internasional Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias 2005-2009 ini mengakui permasalahan ini ditenggarai karena masih belum goalnya Rancangan Undang-Undangan (RUU) Pengakuan dan Perlindungan Msyarakat Hukum Adat (PPMHA). Selain adanya permaslaahan di perundangan-undangan, ego antar departemen, kementerian dan birokrasi terkait, Heru yakini, menjadi salah satu penyebab masih adanya marjinalisasi masyarakat adat.

“Kita perlu merombak hukum dan hal-hal terkait yang mendiskriminasi masyarakat adat,” tegasnya.

Pada era Jokowi, Heru meyakini ada keinginan pemerintah untuk menuntaskan masalah ini. “Dalam Nawa Cita Poin 9, terlihat Pak Presiden memiliki political-will untuk melindungi hak-hak masyarakat adat,” ucap Heru.

Menurut Heru jika  hendak menuntaskan perkara yang mangkrak selama bertahun-tahun ini maka pemerintahan Jokowi perlu melakukan harmonisasi perundangan-undangan terkait.

“Setelah melakukan harmonisasi, Pemerintah Jokowi mesti bisa memastikan tujuannya dilaksanakan dalam bentuk-bentuk peraturan sub-nasional di bawahnya seperti pergub,” kata kepala badan yang langsung bertanggung jawab pada presiden ini.