Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Kasih Membawamu Kembali IndahKasih Membawamu Kembali Indah (en)

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Eryani Kusuma Ningrum, pemuda penghayat Kapribaden. Dok: ICRP

Oleh: Eryani Kusuma Ningrum*

Indonesia adalah hal yang satu namun mempunyai beragam bentuk hal. Beragam suku, ras, adat istiadat, kebiasaan dan agama. Dari kelima pulau besar di Indonesia, saya pernah merasakan hidup di antara 3 pulau dari 5 pulau besar yaitu Sulawesi dimana Kota Manado menjadi tanah kelahiran saya, Sumatera tepatnya di Medan dan Riau menjadi kota pembelajaran dasar saya dan Pulau jawa menjadi daerah yang saya diami dalam lubuk hati dimanapun saya berada. Di Pulau Jawa saya mempelajari banyak hal dari tingkat menengah hingga sekarang. Ayah Ibu dengan adat Jawanya yang kental selalu mengingatkan saya untuk selalu menjunjung adat istiadat dimanapun saya berada. Adat istiadat tersebut meliputi kebiasaan untuk selalu sopan santun, menghormati, menyayangi dan menghargai kepada setiap orang. Karena dari situlah, orang lain pun akan menghargai kita.

Sejak lahir hingga dapat berjalan, saya tinggal di lingkungan dimana kami sekeluarga menjadi minoritas dalam beragama. Di Kota Manado kami menjalin hidup bertetangga dengan kalangan Nasrani yang sangat menjunjung kekeluargaan. Ibu pernah bercerita bahwa di kota tersebut, tidak memandang darimana kita berasal serta agama yang dianut, “Torang semua basodara” yang maksudnya kita semua bersaudara. Ada hal yang membuat saya takjub saat terakhir ke tanah kelahiran saya pada bulan April tahun ini. Saat paskah yaitu hari kematian Yesus Kristus dimana setiap warga kota Manado merayakan dengan membuat diorama di dalam lingkungan mereka. Saat tersebut setiap warga bahu membahu membuat cerita tentang kelahiran sampai kematian Sang Juru Selamat dalam bentuk miniatur tiga dimensi untuk menggambarkannya. Tidak peduli dari suku mana dan agama manapun. Saya melihat pak ustad beserta umat muslim lainnya (tetangga rumah Nenek saya) membantu membuatkan minum dan membawakan makanan. Sungguh terlihat indah kerjasama tersebut. Lalu pada saat adzan berkumandang, kegiatan tersebut pun berhenti sejenak untuk menghormati kaum muslim melaksanakan ibadahnya, terlebih lagi saat maghrib menjelang, sedapat mungkin masyarakat harus berada di dalam rumahnya. Lalu tak lupa saya mengunjungi sebuah bukit yang terletak di Desa Kanonang sekitar 55 kilometer dari kota Manado. Dibangun pada tahun 2002 sebagai pusat spiritual dimana semua pemeluk agama di Indonesia bisa berkumpul, bermeditasi dan di sisi tempat ibadah ini terdapat bukit tropis yang rimbun dan berkabut. Bukit ini disebut Bukit Kasih karena setiap orang yang berlainan agama dapat berkumpul dan berdampingan dalam beribadah sebagai simbol keharmonisan beragama. Di bukit Kasih ini terdapat lima rumah ibadah, yaitu sebuah gereja Katolik, sebuah gereja Kristen, Kuil Budha, Pura Hindu dan Masjid untuk Muslim yang berada di puncak kedua bukit tersebut. Pada puncak pertana adalah sebuah salib putih dengan tinggi 53 meter yang dapat dilihat bahkan dari Pantai Boulevard Kota Manado. Selain itu, tempat ini diyakini menjadi tempat asli nenek moyang suku Minahasa, Toar dan Lumimuut tinggal, karena terdapat ukiran wajah mereka di lereng bukit di bawah puncak kedua. Bercerita tentang Bukit Kasih, mengingatkan kepada saya tentang Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral dimana masing-masing umat pun saling menghormati dan menghargai. Misalnya saat Natal tiba, pihak Masjid mempersilahkan halaman Masjid sebagai tempat parkir umat Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Tidak jauh dengan rumah saya, terlihat salah satu kerukunan di Jakarta yaitu Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien yang dipisahkan oleh satu tembok sejak 50 tahun lamanya. Saat awal melihatnya, hati saya begitu terharu atas keakraban yang terjadi antar umat Nasrani dan Umat Islam. Saat Natal, Kaum Muslimin ikut membersihkan halaman masjid dan gereja, begitu juga sebaliknya saat Idul Fitri tiba, Umat Nasrani bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar untuk kenyamanan bersama,”Dalam kasih kita memberi” Subhahanallah.

Bahagia rasanya jika kita memaknai arti keberagaman dalam bentuk apapun. Keberagaman suku, ras dan agama. Tidak perlu mempersoalkan bahkan hal tersebut dapat menjadikan kita semua indah. Lihat saja alam laut kita yang luasnya lebih dari daratan. Bukankah terdapat beragam ikan yang berlainan jenis dan menjadikannya indah bukan? Sama halnya dengan kita hidup di daratan ini. Tuhan Yang Maha Esa Allah swt sang Gusti Ingkang Moho Suci menciptakan makhlukNya dengan berbagai macam bentuk, berbagai macam suku dan berbagai macam keyakinan dalam menyakiniNya. Untuk apa?  Untuk lebih dekat mengenalNya. Lebih dekat dengan cara yang berbeda-beda dalam kehidupan.

Hidup yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik dan paling benar bagi tiap orang, secara individual (pribadi). Karena hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya

-Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad royo seisine). Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Yang Maha Esa Gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt. Hidup yang tahu, apa, dan bagaimana Raganya (manusianya) setiap saat harus berbuat, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati. Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami, yang berubah-ubah. Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini mengikuti jalannya hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi Rasa Bahagia yang sejati.

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri “The Life Cycle”. Artinya, kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “Perjalanan” yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan. Lalu berada di dunia dengan ragaNya, kemudian lepas dari ragaNya, dan langsung bisa kembali ke asalNya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus menunggu jutaan tahun. Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, di zaman yang dikatakan maju, modern, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati. Paling-paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha senang lagi, dan seterusnya.

Tidak sedikit, keluarga-keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaanya dalam berkeluarga. Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga. Semua itu, karena manusia melupakan bahwa dalam dirinya ada Hidup (Roh/Soul). Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi. Sekalipun manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhannya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas dari hubungan itu. Semua tindakannya, didasarkan hanya atsa dasar akal pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar. Tidak mau tahu, apa yang sebenanrnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan.

Dengan menjalani Laku Kasampurnaan Manunggal yang artinya mengetahui arti Hidup secara Keseluruhan, kita akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dalam diri, setiap saat. Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena hiduplah yang bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat. Kita harus melaksanakan keyakinan kita masing-masing untuk mendekatkan Hidup tersebut kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjalani laku Hidup. Laku hidup tersebut yaitu, Sabar, Narimo, Ngalah, Tresno welas lan asih opo lan sopo wae dan Iklhas. Laku sabar maksudnya bukan asal tidak marah namun sebagai contoh sabar yang baik adalah seorang Ibu yang mengandung dengan penuh rasa cinta kasih merawat janin calon bayi sampai dilahirkan. Laku Narimo yaitu berusaha semaksimal mungkin apa yang harus kita lakukan namun selalu menyadari dan siap bahwa Tuhanlah yang menentukan. Laku Ngalah bukan asal mengalah namun kita mengalah untuk mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian. Laku Tresno welas lan asih marang opo lan sopo wae (Cinta, Kasih dan Sayang kepada apa dan siapa saja) adalah kita selalu berusaha mencintai dan mengasihi apapun yang ada, dan siapapun yang kita hadapi misalnya mencintai benda, pekerjaan, binatang dan tumbuhan. Mencintai siapa saja adalah mencintai sesama manusia tanpa pilih-pilih. Menghadapi siapapun, bagaimanapun itu hendaknya kita landasi rasa cinta pada diri kita. Serta Laku Ikhlas yaitu menyadari sepenuhnya bahwa segala yang ada pada diri kita, seperti kepandaian, pengalaman, kemampuan karena kekuasaan atau kekayaan yang dimiliki, tenaga, pikiran waktu bahkan orang yang kita cintai, semuanya milik Tuhan Yang Maha Esa, gusti Ingkang Moho Suci, Allah swt.

Sedikit demi sedikit, kita akan mengetahui arti hidup yang kita miliki. Hidup dalam perbedaan, bermasyarakat dan bernegara. Hidup dalam keberagaman yang justru akan membuat kita bersatu dalam kasihNya. Dengan pengalaman kita dalam mengunjungi rumah-rumah ibadah membuat kita semakin mengetahui kebiasaan yang umat lain lakukan demi Sang Penciptanya, Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini supaya kita tetap yakin dan senantiasa berdoa serta bersyukur atas Rahmat dari seluruh alam dari dan untuk Sang Pencipta. Bersyukur kita diciptakan sedemikian rupa dengan berbagai keyakinan yang kita yakini dengan kasihNya. Karena Tuhan ada di dalam hati kita, “Tidak ada kekuatan kecuali dari Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah”. Semoga semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Salam Rahayu, Rahayu, dan Rahayu.

Dewaruci, 22:47181014

Tulisan ini dinobatkan sebagai Juara I Lomba Menulis dalam kegiatan Peace in Diversity yang dilaksanakan ICRP-PGI-The Wahid Institute. Penulis dapat dihubungi melalui eryani_ningrum@yahoo.com

Pemerintah Dinilai Keliru Melihat Diskriminasi Atas Nama Agama

JAKARTA, ICRP – Penanganan kasus-kasus diskriminasi pada kelompok-kelompok minoritas pasca reformasi seperti kasus pengungsi Ahmadiyah di Transito, Syiah Sampang, dinilai memiliki permasalahan. Hal ini diungkapkan oleh muslimah progresif Prof. Dr. Musdah Mulia dalam acara rapat persiapan musyawarah besar Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Jakarta Pusat, Rabu (26/11).

Sejauh ini, menurut tinjauan Musdah Mulia, perspektif pemerintah dalam melihat kekerasan yang menimpa kelompok-kelompok minoritas sebagai persoalan komunitas. Mindset semacam itu, Musdah mulia melanjutkan, perlu diubah.

“Saya ingin pemerintah melihat permasalahan yang misal menimpa Ahmadiyah, GKI Yasmin, bukan sebagai permasalahan komunitas tapi sebagai masalah kebangsaan,” ujar ketua ICRP ini.

Perspektif yang ada di para pengambil kebijakan itu, ungkap Musdah, tidak lepas dari cara para korban kekerasan atas nama agama dan aktivis pro keberagaman berhubungan dengan pemerintah. Selama ini menurut Musdah para korban keberagaman lebih menggunakan pendekatan komunal daripada melihat perkara ini sebagai permasalahan holistik kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak mengherankan, menurut Musdah, sikapnya tidak terstruktur, massif, dan sistematis.

“Kita jangan maju sendiri-sendiri. Karena perkara ini pasti dianggap sebagai persoalan masing-masing komunitas oleh pemerintah,” ucap Musdah.

Musdah menegaskan permasalahan toleransi antar umat beragama perlu ditinjau sebagai permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. “Penyelesaian dengan cara segregasi semacam itu tidak akan menyelesaikan masalah. karena permasalahan utamanya adalah hak-hak sipil yang diabaikan oleh negara,” imbuhnya.

Selain itu, Musdah Mulia pun berharap para aktivis pro keberagaman memanfaatkan periode Jokowi-JK untuk menggencarkan semangat kebhinekaan.

“Saya kira pemerintahan baru ini harus benar-benar kita manfaatkan. Kita harus soroti janji-janji pemerintahan sebagaimana tertuang di Nawa Cita yakni semangat menjaga keberagaman. Kalau sudah lewat? Wah sudahlah,” tutur Musdah.

Kata Mereka Tentang Live In PID Di Nurul Mukhlisin

Acara Live In di pesantren Nurul Mukhlisin Bekasi pada 21-22 November memberi kesan tersendiri bagi para peserta. Redaksi ICRP-online.org menampilkan beberapa komentar dari peserta dalam acara yang diselenggarakan oleh Wahid Institute, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), dan Indonesian Conference on Religion and Peace itu.

(Fatma Jauharoh, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah)

Fatma Jauharoh, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah

 

“Dua hari mengikuti program PID live ini di pesantren Nurul Mukhlisin terasa sangat singkat. Tidak seperti apa yang saya bayangkan. Letak pesantren yang berada cukup jauh dari jalan raya ini punya konsep pendidikan yang gak kalah berkualitas dari sekolah yang ada di tengah kota. Yang menarik, kami peserta perempuan beristirahat di ruang santri putri. Begitu tahu salah satu di antara kami ada penganut konghucu dan penghayat kepercayaan mereka sangat antusias dan bertanya bahkan berdialog dengan kami,”

 

Aru Lego Triono, Mahasiswa UNISMA 45 Bekasi

 

(Aru Lego Triono, Mahasiswa UNISMA 45)

“Berbagi cerita, cinta, kasih, dan kebersamaan dalam ketidaksamaan waktu itu sangat berkesan. Ktia semua sama sekali tidak mempersoalkan agama. Karena sesiapa yang baik terhadap sesama dant idak pernah berbuat kerusakan, dia lah sahabat saya. Saya percaya bahwa Tuhan itu satu, walaupun untuk menuju-Nya, bisa melalui jalan yang berbeda. Di tempat itu, saya semakin emrasa yakin bahwan Tuhan hebat. Tuhan maha Asik,”

 

 

(Siti Rahayu, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarata)

Siti Rahayu, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta

“Gak kalah seru dari tahun lalu, kompak. Hari pertama memang perasaanku rada flat gitu karena pas malamna gak ada diskusi informal seperti tahun lalu jadi ngerasanya belum ada ilmu baru yang aku ketahui, tapi walaupun begitu ada kegiatan informal yang bikin lebih akrab lagi, yaitu main UNO”

“Tapi hari kedua nya asyik sekali. mulai banyak berdiskusi. banyak ilmu yang dapat diserap juga dari pembicaraan beberapa teman-teman. Panitianya super keren seali yang bikin gak ada kecanggungan antara peseta dan panitia. Masukan saya untuk acara ini kedepannya adalah materinya diperbanyak agar dapat juga memecahkan masalah-masalah yang lagi booming dan juga teman-teman beda agamanya diperbanyak. Dipersiapkan lebih matang lagi untuk mengundang teman-teman yang berbeda agama supaya wawasan bertambah luas. Tapi saya yang pasti sih dengan acara kemarin bertambah semangat saya untuk jadi agen perdamaian di manapun saya berada”

 

Peace In Diversity Hari Pertama….

BEKASI, ICRP – 23 Peserta Peace In Diversity (PID) Sabtu (21/11)  pukul 09:00 terlihat duduk-duduk dan beramah tamah di gedung Grha Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Bus ukuran ¾ telah menanti sejak matahari masih hangat menyentuh kulit di halaman Graha PGI. Sebagian besar peserta duduk-duduk di parkiran. Pendeta Franky  Tampubolon yang telah datang terlebih dahulu nampak tengah sibuk berkoordinasi via handphone. Sesekali Ketua Pemuda dan Remaja PGI itu menyapa para peserta. Kondisi serupa juga dapat dilihat pada Staf Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Mukhlisin. Mas Lisin, demikian Mukhlisin dikenali, menelepon para peserta yang belum kunjung hadir. Dikonfirmasi akhirnya, para peserta dari Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra menyusul sore hari.  Kedua orang ini adalah aktor kunci di dalam kepanitian acara PID tahun 2014. Usai mengecek kesiapan peserta, panitia meminta mereka masuk ke Bus. Franky Tampubolon yang pagi ini ditemani sang istri meminta para peserta untuk berdoa sebelum keberangkatan. Ia pun meminta maaf karena tak sempat untuk bisa bersama-sama naik bus. Pendeta yang akrab disapa Bang Franky ini mengakui dirinya mesti bertemu dulu dengan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mas Lisin memegang kendali di Bus sekaligus jadi navigator bagi driver bus ukuran ¾ itu. 09: 30 Bus meluncur dari PGI menuju lokasi live in di pesantren Nurul Mukhlisin. Masuk lewat tol Cawang, Bus keluar di tol Tambun. Sepanjang perjalanan nampak sebagian peserta tertidur pulas. Butuh waktu sektar 1 jam 30 menit untuk mencapai pesantren yang terletak di kawasan Setu Kabupaten Bekasi itu. Sesampainya di pesantren para peserta dipersilahkan untuk beristirahat sejenak di tempat makan para santri. Peneliti Wahid Institute, Alamsyah Djafar, ternyata telah hadir terlebih dahulu di pesantren. Kali ini Ia pun menjadi salah satu panitia. Tempatnya lesehan. Ada kolam yang dipenuhi di bawah bangunan terbuka beratapkan seng itu. Para peserta menikmati suasana pesantren sembari mengobrol-ngobrol santai satu sama lain. Cuaca seperti yang bisa ditebak. Panas. Pukul 14:00 para peserta dikumpulkan di aula pesantren untuk acara pembukaan. Aula ini ber AC. “Wah di Bekasi ada yang sejuk juga ya,” ucap salah seorang peserta bercanda. Aula yang cukup luas untuk menampung seratus orang ini persis terletak di samping masjid pesantren. Mesjid pesantren ini nampak masih dalam proses pembangunan. Berhubung pak Kyai tengah tak berada di pesantren, para peserta disambut salah satu pengurus yakni ustad Hamim. Ustadz Hamim bercerita banyak hal mengenai pesantren yang dikenal dengan eco pesantren ini. Ada hal yang menarik dalam paparan Ustadz Hamim siang itu. Ia menegaskan ajaran toleransi di pesantren sangat kuat. Menurutnya, sikap-sikap kasar yang kini dipertontonkan sebagian kalangan muslim bukan berasal dari tradisi pesantren ala Indonesia. “kalau ada pesantren yang suka mengkafir-kafirkan orang tanyakan saja darimana kyainya. Kalau itu dari Saudi, nah itu,” tutur Ustadz lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini. Waktu pun berlalu cepat, kumandang adzan Ashar terdengar. Para peserta muslim diperkenankan beribadah. Acara kemudian dilanjutkan kembali pukul 16:00. Kali ini, para peserta menikmati sebuah permainan temuan Wahid Institute. Permainan yang menyerupai ular tangga ini disebut dengan “Negeri Kompak”. Mas Alam sapaan Alamsyah Djafar pun menerangkan cara bermain Negeri Kompak. Ia bertutur bahwa permainan negeri kompak ini bertujuan menebarkan semangat toleransi di kalangan anak-anak dan remaja. Permainannya tidak terlalu rumit. Bahkan para peserta terlihat asyik dan lupa kamera tengah merekam acara. Pukul 17:00 para peserta menuntaskan permainan Negeri Kompak. Sesi Materi mengisi kegiatan berikutnya. Dengan waktu yang tak lebih dari 45 menit, Mas Alam membawakan materi mengenai agama dan keyakinan serta beberapa polemiknya. Bedug Maghrib pun tiba, acara diskusi usai sudah. Mas Alam mengaku waktu yang tersedia kurang cukup. “Saya takut ada kesalahpahaman para peserta dalam memahami konsep-konsep yang saya terangkan,” ucap Mas Alam pada redaksi ICRP seusai mengisi materi. Para peserta diperkenankan istirahat dan makan malam. Pukul 20:00, acara kembali dilanjutkan. Pada acara terakhir hari pertama PID, pak Kyai Nurul pemilik pesantren ini mengisi dialog. Pak Kyai Nurul yang juga telah malang melintang dalam dialog antar umat beragama ini berkisah banyak hal pada para peserta tentang pesantren ini. Dua poin menarik dari beliau adalah keluasan ilmunya dan semangat toleransi yang begitu membara. “Orang yang menolak pluralism adalah orang yang tak paham sejarah,” ujar sang Kyai. Pasalnya, setiap agama di dalam sejarah senantiasa melakukan interaksi satu sama lain. Ceramah dari sang Kyai pun terasa begitu cepat. Akhirnya pukul 22:00 tak terasa telah tiba. Acara pun usai. Namun, malam itu sebagian peserta memanfaatkannya untuk saling memperdalam persahabatan. Bernyanyi bersama, nampak pula ada beberapa peserta yang menikmati permainan kartu UNO. Mereka melupakan sekat-sekat identitas keagamaan, kesukuan, di sebuah sistem wahan pendidikan terklasik di Indonesia.

“Banyak Jurnalis Tak Miliki Kemampuan Cukup Baik Menulis Isu Pluralisme”“Many Journalists Have no “Good Enough” Skill to Write Down on The Issue of Pluralism”

JAKARTA, ICRP – Persoalan media dalam upaya mendorong toleransi antar umat beragama menjadi salah satu sorotan di diskusi panel bertemakan “Understanding and Promoting Religious Tolerance and Pluralism in society”. Ingin melihat kondisi pluralisme di media, panitia acara mendaulat ketua Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) Ahmad Junaidi sebagai salah satu pembicara.

Ahmad Junaidi menilai secara umum jurnalis di Indonesia masih belum peka terhadap persoalan pluralisme. “Hingga kini masih kami temukan di media-media bahkan di televisi kata-kata semisal sesat atau menyimpang untuk menandai kelompok-kelompok minoritas,” ucapnya.

Ahmad Junaidi yang juga merupakan editor di The Jakarta Post ini menduga kondisi wartawan ini tak lepas dari belum sadarnya para petinggi-petinggi media terhadap isu keberagaman. “Banyak wartawan yang tak mendapat pendidikan untuk mewartakan isu-isu keberagaman,” ujar Junaidi.

Dugaan Junaidi benar adanya. Dugaan Junaidi ini dilandaskan pada temuan survey Yayasan Pantau pada tahun 2012. Dari sampel sejumlah 600 Jurnalis ternyata 45,3% masih mengamini penerapan syariat Islam.

Junaidi juga menduga persoalan masih buruknya semangat keberagaman di media baik online, cetak maupun televisi kerap berkaitan erat dengan situasi politik. Junaidi memberikan beberapa contoh media yang merupakan alat politik dalam pilpres 2014 lalu semisal Obor Rakyat. Majalah yang hanya terbit pada saat pilpres itu berisikan kampanye hitam terhadap Joko Widodo dengan menggunakan isu-isu Suku Agama dan Ras (SARA).

Selain itu, kebebasan informasi di dunia maya juga menjadi salah satu perhatian serius Junaidi siang itu. Menurutnya, dewasa ini di dunia maya telah menjamur begitu banyak media yang memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama. “Media-media intoleran ini muncul seiring dengan semakin terbukanya akses terhadap informasi,” ucapnya.

Menurut Junaidi hal eksistensi situs-situs provokatif itu merupakan tantangan serius bagi kebebasan beragama dan pluralisme di tanah air. “Mereka senantiasa memproduksi kampanye kebencian di dunia maya,” imbuhnya.

Menurut Junaidi, perlu dilakukan upaya serius meangani permasalahan keberagaman di media. Sejuk, sambung Junaidi, berusaha untuk memberikan kesadaran pada para jurnalis. “Kami menyampaikan pada awak media  suara dari yang tak terdengar,” ucapnya merujuk kelompok-kelompok minoritas yang mengalami penindasan.

Beberapa program Sejuk, kata Junaidi, merupakan Workshop yang dikhususkan untuk para jurnalis. “Workshop ini kami lakukan mulai dari wartawan mainstream hingga wartawan pers mahasiswa,” tutur Junaidi.

“Kami tegas berkampanye anti hate speech,” pungkas Junaidi.

Selain mengundang ketua Sejuk, dalam diskusi panel sesi kedua hari kedua dari rangkaian acara konferensi regional bertajuk “Strengthening Accountability for Violations of Religious Freedom in Southeast Asia”, Panitia juga turut menghadirkan Muhammad Iqbal dari CRCS UGM, Alamsyah Jafar dari Wahid Institute, dan Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI).

Aktivis Asal Singapura Berbagi Kisah Soal Keberagaman di Negara KotaSingapore Activist Sharing The Pluralism of The City-State

JAKARTA, ICRP – Dalam konferensi regional bertajuk “Strengthening Accountability for Violations of Religious Freedom in Southeast Asia,” di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa (18/11), panitia mengundang aktivis pro Hak Asasi Manusia (HAM) asal Singapura Siti Hazirah Mohamad.

Perempuan muslim melayu ini didaulat oleh panitia untuk menjadi pembicara dalam diskusi panel yang bertema, “Comparative Lessons on Freedom of Religions and Beliefs in ASEAN”. Dalam waktu tak lebih dari 25 menit Hazirah mendeskripsikan kondisi keberagaman di Negara Kota di Asia Tenggara itu.

Hazirah menilai sebagai Singapura memiliki komitmen yang kuat terhadap konsep sekularisme. Meski komposisi umat beragama di Singapura beragam, namun agama tidak diperkenankan masuk ke dalam ranah politik. Menurutnya, sekularisme di Singapura menjadi penting untuk menjaga sikap netral negara pada kelompok-kelompok agama yang ada. “Sekularisme posisinya lebih tinggi daripada apa yang dianggap sebagai sesuatu yang suci dalam kehidupan politik masyarakat Singapura,” ucap perempuan berkacamata itu.

Meski demikian, Hazirah menyatakan moralitas publik dan public order tetap eksis di negara yang hanya seluas DKI Jakarta. Karena itu, ungkap Hazirah, persoalan pernikahan sesama jenis di Singapura menjadi hal yang masih belum bisa diamini. “The citizens are not ready yet,” ucapnya mengikuti pandangan para politisi di parlemen Singapura.

Namun  dari masih mandeknya persoalan LGBT,  menurut Hazirah adanya public order di Singapura membuat kehidupan umat beragama harmoni. Sejauh pengamatannya di Singapura tidak ada kelompok yang melakukan penyerangan pada keyakinan tertentu karena dinilai sesat. “Anda bisa dihukum berat jika melakukan tindakan yang mengancam keselamatan umat beragama lain,” ucapnya.

Salah seorang peserta bertanya pada Hazirah, lalu bagaimana dengan pembangunan rumah ibadah di Singapura?

Menurut Hazirah pemerintah Singapura tidak merepotkan dalam memberikan izin terhadap pembangunan rumah ibadah para penganut agama. Pemerintah Singapura, lanjut Hazirah, bertugas untuk meregistrasikan dan selama ini memiki sikap yang ramah pada setiap pembangunan rumah ibadah. “Anda tak perlu meminta izin pada warga disekitar Anda untuk  membangun rumah ibadah,” ucapnya.

Ia mencontohkan di belakang rumahnya terdapat sebuah gereja. Hazirah mengakui ada bagian dari keluarganya memiliki pandangan yang negatif terhadap gereja. Namun, selama ini tidak pernah ada aksi demonstrasi atau penyegelan pada rumah ibadah siapapun dan dari agama manapun.

Sebagaimana diketahui perizinan di Indonesia jauh lebih rumit. Di Indonesia pembangunan rumah ibadah, khususnya yang merupakan minoritas kerap kali mengalami kesulitan karena adanya keharusan untuk meminta perizinan pada masyarakat sekitar.

Seminar Blasphemy Law di Indonesia--Metrotvnews.com/Meilikhah

Amnesty Internasional Kritik UU Penodaan Agama di IndonesiaAmnesty International Critics Blasphemy Law in Indonesia

Jakarta, ICRP – Organisasi Internasional yang mempromosikan hak asasi manusia (HAM), Amnesty International, mengkritik Undang Undang Penodaan Agama di Indonesia. Dalam laporan eksekutifnya yang berjudul “Prosecuting Beliefs: Indonesia’s Blasphemy Laws,” mereka menyebutkan UU Penodaan Agama sering dipakai untuk memenjarakan orang yang melaksanakan ibadah dan berkeyakinan. Padahal beribadah dan berkeyakinan dilindungi oleh hukum HAM internasional. Direktur Riset Amnesty Internasional untuk Asia Tenggara, Ruppert Abbot, menyatakan sejak 2005 Amnesty International mencatat setidaknya 106 individu yang diadili dan dijatuhi hukuman menggunakan Undang-Undang penodaan agama. Mereka kebanyak berasal dari minoritas keagamaan atau mengekspresikan keyakinan agama yang dianggap menyimpang dari ajaran agama yang diakui secara resmi. Laporan yang diluncurkan pada Senin (17/11/14) tersebut, menyebutkan beberapa contoh korban dari UU penodaan agama ini. Pertama, kasus yang menimpa Tajul Muluk. Pria 41 tahun, pemimpin keagamaan muslim Syiah dari Jawa Timur. Kini dia menjalani masa hukuman empat tahun penjara karena dituduh melakukan penodaan agama berdasarkan pasal 156(a) KUHP. Kedua, Alexander An, seorang pegawai negeri sipil berusia 30 tahun dari Sumatera Barat. Dia dipenjara karena dituduh menjalankan ateisme karena menulis   dan menaruh gambar di situs sosial Facebook. Akibatnya, majelis hakim menjatuhi hukuman dua setengah tahun penjara dan denda 100 juta rupiah karena melanggar UU ITE. Amnesty International menyatakan bahwa UU ITE merupakan salah satu UU yang terinspirasi dari UU penodaan agama. Dan akan bermunculan UU sejenis yang memperluas ketentuan UU penodaan agama. Seperti rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerukunan Umat Beragama.

Daripada Dengarkan Jeritan Korban, Negara Malah Amini Fatwa MUI

JAKARTA, ICRP – Koordinator Center for Marginalized Communities Studies (CMars) Akhol Firdaus menyatakan instusi negara telah lama melanggar hukum dalam merespon kekerasan atas nama agama. Demikian disampaikan Akhol dalam acara diskusi panel bertajuk, “Advocating for Remedies for Victims of Religious-based Violence” di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat, Selasa (18/11).

“Negara tak tegas terhadap kelompok Vigilante maka Ia telah menentang konstitusi,” ujar Akhol berapi-api.

Menurut Akhol salah satu bentuk pelanggaran serius pemerintah dalam menyikapi tindakan kekerasan atas nama agama adalah lebih sering didengarkannya suara Majelis Ulama Indonesia (MUI) daripada jeritan korban. “Sejak 2010 terjadi banyak penyesetan karena birokrasi di daerah utamanya Jawa Timur lebih mendengarkan suara MUI,” ucap Akhol.

Padahal diketahui umum MUI kerap menjadi aktor vokal yang memberikan suara negatif terhadap keberagaman di tanah air.  Salah satu sikap anti keberagaman MUI misal ditunjukan dengan penyesatan pada Syiah dan Ahmadiyah.

Lebih lanjut, Akhol pun menyinggung anomali birokrasi di Indonesia dalam menyikapi keberagaman dan kekerasan atas nama agama. Menurutnya,  tak jarang ada pembangkangan dalam hirarki birokrasi di tanah air. “Di Indonesia keputusan yang diambil oleh lembaga yang lebih tinggi tak bisa dieksekusi di daerah. Hal ini misal terjadi pada kasus Sampang. Sementara SBY menginstruksikan para pengungsi untuk kembali ke rumah halaman, bupati malah tetap keras menolaknya,” ujar Akhol.

Diskusi Panel yang merupakan rangkaian dari konferensi regional bertemakan, “Stengthening Accountability for Violations of Religious Freedom in Southeast Asia,”, Akhol berharap publik untuk lebih bersuara menghadapi arus intoleransi. “Saya secara terang menabuh genderang perang terhadap kelompok-kelompok yang menggunakan agama saya dengan wajah penuh amarah,” tegas kader muda NU ini.

Akhol menilai ketegasan sikap publik merupakan suatu keharusan. Pasalnya, kondisi politik dewasa ini memungkinkan negara untuk abai bahkan memfasilitasi gerakan pro kekerasan atas nama agama. “Kita menghadapi kenyataan yang tidak mengeenakan dalam mengembangkan semangat keberagaman. Infrasturktur negara kacau di berbagai level,” sambungnya.

Konsekuensi dari tidak berjalannya komando dari pusat ke daerah memunculkan banyaknya anarki. “Siapa yang berkuasa dalam kondisi negara seperti ini? ya Tirani Mayoritas,” imbuh Akhol.  Dalam kondisi kekuasaan dipegang oleh mayoritas maka, menurut Akhol, siapapun bisa menjadi aktor dan korban. Ia memberikan contoh di Jawa Timur, NU cabang Jatim justeru menjadi aktor dalam kekerasan terhadap Syiah dan Ahmadiyah.

Hal yang lebih buruk dalam menghadapi persoalan ini adalah adanya politisasi isu. Kerap kali, tutur Akhol, kepala daerah memanfaatkan isu anti Syiah dan Ahmadiyah untuk mendapatkan dukungan politik.

 

Mahasiswa Suarakan Keberagaman Via Poster

Jakarta, ICRP- Sejumlah mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro merasa perlu untuk menyuarakan keberagaman Indonesia sebagai nilai luhur bangsa. Oleh sebab itu, mereka berinisiatif membuat poster dengan tema-tema keberagaman.

Berikut ini beberapa poster yang telah dibuat oleh mahasiswa:

Salah satu poster yang dibuat oleh mahasiswa UPJ.20141118_102611

20141118_102547 20141118_103259 

Poster ini merupakan poster yang dibuat secara singkat. Pembuatan poster ini hanya dilakukan selama kurang lebih 45 menit. Poster ini dibuat saat menjalani perkuliahan agama yang diajar oleh Ahmad Nurcholish dan Anick HT. Keduanya adalah aktivis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang ditunjuk sebagai dosen dalam perkuliahan tersebut.

Ahmad Nurcholish menyebutkan tujuan pembuatan poster ini adalah untuk melatih jiwa kepedulian terhadap keberagaman di Indonesia. Jiwa kepedulian tersebut dapat disuarakan melalui media-media kreatif seperti karikatur, gambar, poster, dll.

“Selain menyalurkan bakat mahasiswa, kegiatan ini menumbuhkan semangat untuk mempromosikan keberagaman melalui media kreatif” ujar Ahmad Nurcholish.

Menurutnya, media kreatif dinilai penting untuk menyuarakan isu-isu diskriminasi di Tanah Air sebab lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat awam sekalipun.  Sebagai mahasiswa yang kelak memegang estafet kepemimpinan bangsa, mengenalkan dan mengajak mereka untuk kritis terhadap tindak diskriminatif memiliki nilai stratagis baik bagi diri mereka sendiri maupun lingkungannya.

“Kalau kita tidak mengajak mereka untuk  belajar mengkritisi hal-hal yang diskriminatif maka mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak peka terhadap masalah sosial-kemasyarakatan, khususnya kasus-kasus intoleransi dan diskrminasi yang masih terus terjadi,” imbuh Nurcholish.

Secara umum mahasiswa yang mengikuti kerja kelompok ini merasa senang dan menilai penting, sebab dapat mengekspresikan kritik mereka dalam bentuk poster.

“Kegiatannya asik, membuat kita respect dan menolak diskriminasi” papar Regina yang membuat poster bertema Bhineka Tunggal Ika

Arus Konservativisme Keagamaan Dinilai Mengancam Netralitas Penegak Hukum

JAKARTA, ICRP – Koordinator Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Jayadi Manik tak habis pikir dengan sikap penegak hukum yang membiarkan demonstrasi hingga perusakan dan penyegelan beberapa rumah ibadah di tanah air.

“Padahal bahkan untuk berdemo saja di depan rumah ibadah itu dilarang undang-undang” ucap Jayadi Manik dalam diskusi panel dengan tema “Protection of Religious Minorities through law enforcement and human rights monitoring”  di Aula Perputakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta Pusat (17/11).

Memang dalam Pasal 9 ayat (2) hurf a UU No. 9 Tahun 1999 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum,bahwa “Tempat Ibadah” adalah tempat yang gdikecualikan untuk dapat menyampaikan pendapat di muka umum.

Selain perkara penegak hukum, Jayadi pun menyinggung pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dinilai abai mendorong keberagaman. Kerap kali, sambung Jayadi, pemerintah justeru cuci tangan menyikapi persoalan intoleransi. “Pemerintah cenderung membiarkan kekerasan terhadap minoritas dan malah menyerahkannya pada pemda,” ucap Jayadi berapi-api.

Padahal, menurut Jayadi, permasalahan keberagaman merupakan hal yang sudah sepatutnya turun tangan. “Pemerintah memiliki kekuatan untuk membatalkan perda-perda yang diskriminatif,” tegas Jayadi mengingatkan eksekutif.

Jayadi pun menyesalkan masih adanya sikap pemerintah yang terkesan menolak upaya-upaya komnas HAM menyelesaikan persoalan KBB ini. Ia mengakui bahwa pemerintah dan senayan sangat sulit untuk mencairkan dana pada komnas HAM untuk menyelesaikan konflik KBB. “Malah untuk rakor ke Bali cepat sekali itu turunnya,” sindir Jayadi.

Diskusi Panel dalam rangkaian acara konferensi regional bertajuk, “Strengthening Accountability for Violations of Religious Freedom in Southeast Asia” ini juga mengundang Febi Yonesta  dari Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) dan Indri Septianingrum dari Lembaga Studi Advokasi dan Masyarakat (ELSAM).

Sementara Jayadi Manik mengupas perkara legal formal, menurut Indri Septianigrum perkara konflik KBB lebih dalam daripada itu. Ia menyoroti persoalan KBB tidak bisa dilepaskan dari adanya kecenderungan semakin tingginya hasrat masyarakat Indonesia mencari religiusitas. “Sayangnya, kecenderungan ini malah menuju ke arah yang konservatif,” imbuh Indri menyayangkan.

Kali ini, Indri menyoroti kondisi peradilan dan para hakim di tanah air berkaitan dengan isu keberagaman. “Banyak para hakim tidak familiar dengan kebebasan beragama dan berekeyakinan,” ungkapnya.

Parahnya, arus konservativisme ini juga, sambung Indri, secara tidak langsung berpengaruh pada cara pandang para penegak hukum dan pemangku kebijakan melirik keberagaman dan konflik KBB.

Karenanya, Perempuan yang pernah ikut menangani kasus Mesuji itu meyakini semua infrastruktur hukum tidak akan berjalan manakala konservativisme ini bercokol di benak publik.

“Tidak ada perubahan dalam peradilan lewat pendekatan legal formal semata ketika mindset penegak hukum masih bermasalah,” ujarnya.