Beware, 35% Food takjil in Jakarta Allegedly Containing Hazardous MaterialsAwas, 35% Makanan Takjil di Jakarta Diduga Mengandung Bahan Berbahaya

Jakarta – Ramadan selalu dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan takjil. Namun miris, usai BPOM DKI Jakarta melakukan sidak ke 18 pasar tradisional, modern dan pusat penjualan takjil, diduga 35 persen mengandung bahan-bahan berbahaya.

Adapun bahan berbahaya yang tercampur dalam makanan tersebut bila dikonsumsi dapat mengakibatkan kerusakan organ tubuh seperti penyakit hati, ginjal, otak, saraf, paru-paru, dan kanker.

Kepala BPOM DKI Jakarta, Dewi Prawitasari mengatakan 35 persen bahan-bahan berbahaya di takjil ditemukan saat sidak di pasar Tebet, pasar Koja, Kelapa Gading, Klender, Rawamangun, dan pusat jajanan takjil di jalan Soka, Rawabadak Utara.

“Kita temukan Asinan, tahu, otak-otak, lupis, pacar cina, kerupuk, mie basah dan bakso. Secara umum, dari sidak yang kita lakukan ke-18 pasar dan penjualan takjil di Jakarta, 35 persennya mengandung bahan-bahan berbahaya,” ujar Dewi kepada wartawan, Rabu (16/7/2014).

Lanjutnya, bahan berbahaya yang dimaksud ialah pewarna tekstil rodamin b, methanyl yellow, boraks dan formalin. Serta untuk antisipasi penyebaran makanan yang tercampur bahan berbahaya, BPM terus melakukan edukasi kepada masyarakat dan pemeriksaan ke sejumlah pasar.

“Kalau dilihat secara kasat mata sulit dibedakan, yang perlu diperhatikan, panganan berwarna menarik mata perlu di waspadai. Intinya mindset masyarakat harus diubah, bahwa makanan bukan yang penting murah, melainkan harus sehat,” terangnya.

Selain itu, diketahui tidak semua pedagang mengetahui tentang adanya bahan berbahaya yang terkandung dalam dagangannya. Namun untuk pencegahannya, BPOM DKI Jakarta menyerahkan kepada petugas RT, RW, dan Kelurahan setempat.

Sumber: Detik

ICRP Chairman Urges the Government Provide Healthy Food GuideKetua Umum ICRP Mendesak Pemerintah Memberikan Panduan Makanan Sehat

Semenjak memasuki bulan suci Ramadhan, pedagang makanan takjil menjamur di di berbagai daerah. Namun ramainya pedagang takjil ini tidak diimbangi dengan kualitas makanan yang sehat dan bergizi. BPOM DKI Jakarta melakukan sidak ke 18 pasar tradisional, modern dan pusat penjualan takjil, diduga 35 persen mengandung bahan-bahan berbahaya.

Kondisi demikian membuat masyarakat semakin khawatir dengan jaminan kesehatan makanan takjil yang sering dijajakan para pedagang. Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Musdah Mulia, menilai pemerintah harus bertindak cepat untuk memberikan panduan kepada masyarakat terkait makanan yang sehat dan aman.

“Kementrian Kesehatan harus memberikan panduan praktis tentang makanan sehat sehingga masyarakat terhindar dari konsumsi makanan sampah dan berbahaya” ungkap Musdah Mulia.

Selain itu, Musdah juga berharap pemerintah memberikan jaminan harga terjangkau untuk semua masyarakat. Sehingga setiap lapisan masyarakat bisa peduli terhadap gizi dan makanan sehat tanpa terkecuali.

“Membangun bangsa yang sehat dan cerdas harus dimulai dari menyiapkan makanan yang sehat, dengan harga terjangkau. Mari peduli dengan makanan sehat bagi semua masyarakat Indonesia tanpa kecuali.” Tegas Musdah Mulia

musdah mulia

Ramadan Fasting For Media Transformation and LiberationPuasa Ramadhan Sebagai Media Transformasi dan Pembebasan

[gview file=”http://icrp-online.org/wp-content/uploads/2014/07/Puasa-dan-Transformasi-Diri.pdf”]

Anak-anak Solo serukan perdamaian (VOA: Yudha Satriawan)

Anak-anak Lintas Agama di Solo: Anak Sebagai Korban, Stop PerangAnak-anak Lintas Agama di Solo: Anak Sebagai Korban, Stop Perang

Pensil dan tangan-tangan mungil sekitar 50 anak-anak tampak menari di atas lembaran kertas dengan meja kayu di Gladak Solo, Minggu pagi (20/7). Sebuah gambar mulai tampak dari kertas yang mereka gunakan. Ada simbol bendera Palestina dan Israel berdampingan dengan tulisan damai. Ada juga gambar anak-anak bergandengan tangan dengan simbol bendera berbagai negara di dunia, antara lain Indonesia, Palestina, Israel, Jepang, Amerika Serikat, dan Rusia. Salah seorang muslim siswa SMP 14 Solo, Nufus putri, mengaku sedih melihat kondisi anak-anak di daerah perang, antara lain di Gaza. Nufus berharap peperangan di berbagai dunia segera berakhir damai.

Ungkapan serupa juga dilontarkan anak non muslim, Malita. Siswa SMP 21 Solo tersebut berharap segala peperangan di dunia segera berakhir dan perdamaian bisa terwujud.

Dalam aksinya tersebut selain menggambar dan mewarnai, anak-anak tersebut juga membawa balon bertuliskan PEACE IN GAZA atau perdamaian di Gaza. Mereka kemudian menempelkan hasil gambar dan mewarnai karya mereka ke spanduk aksi.
Aksi anak-anak tersebut tidak sendirian. Mereka didampingi para relawan dari Solo mengajar dan UNICEF. Juru bicara para pendamping anak tersebut, Indro Kusumo, mengatakan sikap empati dan solidaritas pada anak-anak korban perang harus ditanamkan sejak usia dini.
Sebagaimana diketahui, konflik di Jalur Gaza semakin memanas. Jumlah korban tewas mencapai 300an dan sebagian besar adalah anak-anak.

Mohammad Monib

Fasting and Physical HealthPuasa dan Kesehatan Jasmani

Oleh: Mohammad Monib (Direktur Eksekutif ICRP)

Sebentar lagi kita akan memasuki peringatan malam hadirnya (malam nuzul al-Qur’an)  al-Qur’an ke langit dunia melalui junjungan kita Rasulullah Muhammad. Al-Qur’an, merupakan kitab petunjuk dan nasehat. Kitab Suci ini juga mengajari kita sinyal dan indikasi-indikasi. Kitab ini juga memuat kisah-kisah klasik dari umat yang telah lalu. Dihadirkan oleh Allah agar menjadi ibrah (pelajaran) bagi umat manusia. Agar kita bisa mengambil tauladan dan peringatan bagi kehidupan kita. Al-Qur’an juga mengajari kita hal-hal yang akan kita alami dan rasakan. Dunia ini penuh tanda dan indikasi. Dalam kehidupan ini ada sebab-akibat. Semua yang terjadi dan akan terjadi ada faktor atau sebab kehadirannya. Likulli sya’in sababa”, demikian bahasa al-Qur’an.

 

Bila dua (2) tulisan yang lalu saya fokus pada hal-hal yang sifatnya keimanan dan spiritualitas, kali ini saya coba membincangkan puasa dari perspektif dunia medis dan kesehatan. Dunia yang sebetulnya bukan bidang yang saya geluti. Tetapi, dengan bantuan Kiai Google saya berupaya menulis persepktif itu sebisanya. Tulisan ini tentang hikmah puasa bagi kesehatan jasmani. Manfaat ibadah pengendalian diri untuk kesehatan dan kebugaran ragawi kita.

Sadar atau tidak sadar, kita harus meyakini bahwa sakit atau penyakit yang kita alami juga disebakan oleh diri kita sendiri. Kita lah yang menjadi sebab penyakit itu ada dalam tubuh kita. Nabi Muhammad SAW bersabda “Sumber dari segala penyakit adalah perut. Perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim). Sekaligus ada Hadis Rasulullah berkaitan dengan terapi atas penyakit yang kita derita. Beliau bersabda:likulli da’in dawaun”, setiap penyakit ada obatnya. Setiap virus akan ada anti-virusnya.

Semua derita, sakit dan nestapa yang kita alami ada sebab dan akibat yang kita sengaja atau tidak sengaja kita lakukan. Sakit atau penyakit yang masuk dan kita derita sesungguhnya kita sendiri yang mengundangnya. Ada yang kita sadari dan ada yang kita tidak sadar saat mengundang virus itu masuk ke dalam tubuh kita.Penyakit  jantung, liver, kanker, paru-paru, sakit perut, sakit mata, kitalah yang mengundangnya. Begitupun penyakit-penyakit kejiwaan seperti stress, depresi, gila, sedih, resah, sepi dalam keramaian, kita sendiri yang mengajak kehadirannya dalam ”rumah” jiwa kita.

 

Makanan dan minuman merupakan sebab pokok kehadiran penyakit. Sakit perut karena kita makan yang pedas atau kecut. Sakit mata karena udara atau air yang kita pakai tercemar. Kita penuh kolesterol karena makanan kita penuh lemak. Karena itu ada saatnya organ-organ tubuh kita istirahatkan. Karena itu perlu mesin tubuh kita rehat dan istirahatkan. Ada jeda, tidak terlalu over work, yang menyebabkan lelah atau aus. Rasulullah bersabda :”Berpuasalah maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim). Puasa, karena ada ruang rehat dan jeda. Tubuh akan repair, memperbaiki dari dirinya senndiri.  Dalam hadis lain Rasulullah bersabda : “Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa”.(HR. Ibnu Majah)

 

MAKANAN, PERUT DAN PENYAKIT

Sebuah tulisan menarik saya dapatkan dari Google. Tulisan ini bercerita tentang tubuh kita. Menurut medis, panjang saluran pencernaan manusia 6 kali tinggi badan (± 10 meter) kita. Dalam jangka waktu panjang saluran ini akan dikotori sisa makanan yang tidak terbuang yang rata –rata beratnya 3–11 kg, yang membusuk dan mengeluarkan zat – zat beracun didalam usus kita. Zat racun /toxin ini terserap oleh usus dan menjadi sumber segala penyakit yang berbahaya.

 

Bahwa 90% segala macam penyakit yang timbul saat ini bermula dari Kolon (usus besar)  yang selalu menyimpan sisa makanan yang tidak terbuang pada saat kebelakang. Sisa makanan tersebut berubah menjadi toxin, menempel didinding usus ,menjalar serta melumpuhkan ketiga fungsi toksifikasi: (1) Sistem Pencernaan ( perut , Isi perut , usus besar. (2)Sistem Endokrin ( kelenjar pituary, kelenjar adrenal, kelenjar tiroid /gondok, kelenjar pankreas dan kelenjar seks ). (3).Sistem Penyaringan ( hati , kulit dan rahim )

 

Penyerangan tersebut akan melemahkan badan yang menyebabkan anda mudah sakit, lesu, lemah dan terjadi penuaan dini, mempengaruhi fungsi sistem pencernaan, membahayakan kesehatan dan dapat menyebabkan sakit yang serius dalam jangka panjang. Para dokter percaya bahwa toksin-toksin yang terkumpul di dalam tubuh adalah penyebab utama datangnya penyakit bukannya kuman-kuman. Bakteri atau kuman-kuman hanya berdampak ketika terlalu banyak sisa-sisa pembuangan (toksin) didalam tubuh kita sehingga menyebabkan tubuh kita lemah dan daya tahan tubuh menurun. Sirkulasi yang berulang ini merupakan sumber timbulnya berbagai penyakit, antara lain : kanker, tumor, sembelit, wasir, jerawat, stroke, lumpuh, terlalu gemuk dan terlalu kurus, rematik, ngilu-ngilu, lupus, penyakit jantung, bintik-bintik penuaan, flek- flek pada wajah, haid tidak normal, menopause, dan penuaan dini, glukoma, penyakit liver (hati), masalah pada usus dan pencernaan, penyakit maag (lambung), kencing manis (diabetes), penyakit kulit dan alergi, insomnia, sulit tidur.

 

Mari kita baca hasil  penelitian ilmiah yang dilakukan oleh pusat penelitian medis modern tentang manfaat puasa. Kemajuan ilmu kedokteran acapkali gagal mengatasi virus atau penyakit tertentu. Ada penyakit yang medis atau kedokteran belum menemukan serum atau obat untuk menyembuhkannya. Itulah yang dilakukan oleh Fatsen Institute yang berlokasi di Jerman. Institute ini menggunakan puasa sebagai metode untuk menyembuhkan virus atau penyakit yang tidak dapat diatasi. Apa yang mereka lakukan? Para pasien yang datang diminta untuk melakukan proses pengendalian diri. Jadi semacam diet agar tubuh dan organ-organnya istirahat dan jeda dari  kerja dan lemak atau zat yang menjadi pantangan bagi tubuh.

 

Sementara, seorang dokter bernama Dr. Abdul Aziz Ismail menulis hasil penelitiannya tentang manfaat puasa dalam bukunya berjudul: Al-Islam wa al-Tib. Islam dan Ilmu Kedokteran. Dalam buku ini beliau menjelaskan dan memberikan bukti-bukti medis bahwa puasa merupakan obat dan panasea penyakit-penyakit yang saat ini banyak dialami manusia modern. Kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal dan kolesterol tinggi. Lain halnya dengan Dr. Alexis Carel, dokter pemenang 2 kali Hadiah Nobel. Ia  menulis bahwa puasa dapat menjadi wahana untuk kebersihan pernafasan.  Sementara Mac Fadon  seorang dokter bangsa Amerika memberikan  terapi puasa kepada pasien-pasien yang datang ke kliniknya. Tindakan itu dikuatkan oleh . Dr.Ahmad Ramali yang  menyatakan: “Apabila kita berpuasa, semua alat pencernaan makanan akan beristirahat dan tidak membutuhkan darah yang berlebihan-lebihan,maka darah yang tidak dibutuhkan oleh alat-alat pencernaan dapat mengalir dan kembali ke dalam alat-alat tubuh yang lain,misalnya  ke dalam otak. Dan bilamana otak sudah terisi penuh darah, maka mudahlah ia menjalankan kewajibanya untuk berpikir dan belajar”.

 

Beberapa penemuan medis lain  yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan puasa yang kita jalani wajib kita baca.  Adalah Sir Arbuthnot Lane,M.D, seorang dokter di Inggris. Ia berkata: “Saya telah mengalami bahwa banyak kasus pembedahan dapat dihindari dengan cara mencuci usus, karena 90% dari penyakit manusia dimasa kini disebabkan oleh usus yang kotor dan tidak berfungsi dengan normal”. Pakar lain, Dr.Norman Walker,Dsc, Phd, seorang dokter di Amerika berkata: “Cuci usus akan menghilangkan sembelit, rasa lesu, penyakit lemah pencernaan, sakit sendi, sakit pinggang, perut kembung, kencing manis dan lain-lain”. Henry B Beyler seorang dokter di Amerika membuat 4 (empat) kesimpulan dari pengalaman beliau dibidang kesehatan selama 55 (lima puluh lima) tahun.  Henry berpendapat bahwa penyebab segala penyakit bukan dari bakteri, melainkan racun/toksin yang berawal dari keracunan makanan. Toksin/racun ini menyebabkan rusaknya sel tissu sehingga terjangkit bakteri.

 

Masihkah kita meragukan Islam dengan semua ibadah yang dianugerahkan Allah kepada kita?Masihkan kita meragukan kebenaran puasa yang pada dasarnya diajarkan oleh semua agama?Masihkah kita ragu dan tidak yakin akan ajaran agama?Masihkah kita menolak kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad?Kita sendirilah yang bisa menjawab semua itu.

ulil abshar abdalla

Ulil : “Jangan Fosilkan Gagasan Cak Nur”

ICRP, Jakarta – 

Pada acara bertemakan  “Tadarus Gerakan Islam Kultural” di Omah Btari Sri Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan,  Kamis (17/7) tokoh muda Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla menyampaikan alternatif-alternatif dalam menghidupkan kembali gagasan keislaman Nurcholish Madjid. Acara diskusi yang diinisiasi oleh Nurcholish Madjid Society (NCMS) ini turut mendapuk pemikir Islam sekaligus sahabat almarhum Nurcholish Madjid, Dawam Rahadjo selaku pembicara malam itu.

Pada sekitar 50 peserta diskusi, Ulil mengingatkan agar tidak menggunakan cara-cara organisasi masyarakat (ormas) radikal dalam menyemai gagasan-gagasan Cak Nur, sapaan akrab Nurcholish Madjid. “Jangan Indoktrinasikan Cak Nur sebagaimana ormas radikal atau seperti PKS,” tegas menantu Gus Mus ini.

‘Memasyarakatkan’  Cak Nur dengan cara demikian, Ulil melanjutkan, akan mengfosilkan gagasan-gagasan besar sang lokomotif pembaharuan Islam. “Kita harus sebarkan gagasan Cak Nur sebagai sesuatu yang hidup,” tambahnya.

Sementara itu, dalam awal diskusi  Zuhairi Misrawi yang didaulat sebagai moderator merasa cemas kondisi muslim kelas menengah perkotaan kini. Pasalnya, dalam pandangan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)  ini wacana Islam radikal menguat di kelas menengah. “Kita harus akui bahwa ada fenomena dimana kelas muslim kelas menengah belakangan kecenderungannya eksklusif dan intoleran,” ucap Zuhairi Misrawi yang kerap dipanggil Gus Mis ini.

Meskidemikian Ulil Abshar Abdalla melihat jumlah bukan hal yang penting dalam perkembangan gagasan. “Saya inginnya umat yang berpikir meski sedikit,” tegasnya. Meski gagasan Cak Nur kini seolah redup, Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini meyakini Cak Nur tidak pernah mati. . “Percayalah, ketika kita tengah berdiskusi di sini,  malam ini ada mahasiswa atau pun santri yang tengah membaca buku-buku Cak Nur, dan tersengat pikirannya,” tambah Ulil.

“Dia (gagasan Cak Nur) bisa mati sementara, tetapi pada saat situasinya tepat pasti akan muncul lagi,” ucap Ulil penuh optimis.

Menjawab pertanyaan salah satu peserta diskusi, Ulil menilai hal yang paling penting untuk segera dieksekusi adalah menyediakan akses seluas mungkin terhadap tulisan-tulisan Cak Nur. “Selain file Cak Nur yang digagasan Mas Elza, tugas kita yaitu menyediakan bahan bacaan tentang Cak Nur di dunia Maya,” kata Ulil. Hal ini disadari Ulil karena begitu banyak di dunia maya informasi-informasi yang keliru mengenai gagasan-gagasan Cak Nur.

Malam itu, Ulil bercerita tentang pengalaman pertamanya mengenal Cak Nur. “Saya masih ingat pertamakali buku cak nur yaitu Khazanah Intelektual Islam pada tahun 1986. Saya membeli buku itu dengan gaji pertama saya saat ngajar di aliyah di Pati,” ucapnya. Ulil yang mengenakan kopiah hitam malam itu mengakui pembacaannya terhadap gagasan Cak Nur di buku tersebut merupakan salah satu momen terpenting dalam hidupnya.

Pada acara diskusi malam itu, turut hadir istri Cak Nur, Omi Komaria. Selain itu nampak juga beberapa wajah yang tak asing dalam pergumulan ide-ide keislaman seperti Guntur Romli, Nong Darol Mahmada, Kausar Azhari Noer, Elza Peldi Taher dan lain-lain.

Nurcholish Madjid Society Segarkan Kembali Pemikiran Islam Kultural Paramadina

ICRP, Jakarta – Mengundang Cak Nurian sapaan akrab para pengagum Cak Nur Kamis (17/7), Nur Cholish Madjid Society (NCMS) kembali mengkaji pemikiran Paramadina. Pada malam itu, NCMS mendaulat dua pemikir Islam yang berbeda zaman, yakni Dawam Rahardjo dan Ulil Abshar Abdala.

Dalam acara yang diselenggarakan di Omah Btari Sri, Jakarta Selatan, Cak Nurian mempertanyakan gagasan Islam kultural yang diusung Paramadina nampak kendur kini. “Setelah wafatnya Cak Nur kita lihat dengan jujur paramadina sebagai sebuah gerakan tinggal nama,” ucap Zuhairi Misrawi yang didapuk sebagai moderator mengawali diskusi.

Zuhairi mengakui wacana keislaman Paramadina di kelas menengah kini meredup. Sebaliknya,  Gus Mis panggilan Zuhairi, melihat dewasa ini wacana islam fundamentalis telah mengakar di kelas menengah. Berdasar temuan tersebut, menurut tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang telah masuk ke barisan  ‘moncong putih’ ini tema strategi dan wacana islam kultural menjadi penting.

Diskusi yang bertemakan “Tadarus Gerakan Islam Kultural” sore itu juga dihadiri oleh istri Cak Nur, Omi Komaria.  Mbak Omi, sapaan istri mendiang gerbong pembaharu islam di tanah air itu, sempat memberi sambutan. Dengan meneteskan air mata, dalam sambutan singkatnya Mbak Omi merasa sedih dengan kondisi Paramadina hari ini. “Akhir-akhir ini paramadina sudah melenceng. Saya sudah keluar dari paramadina karena nilai-nilai yang ditanamkan Cak Nur sudah tidak ada,” ungkap Mbak Omi.

Kegelisahan Mbak Omi dijawab oleh pernyataan Dawam Rahardjo dalam mengawali diskusi. “Sekarang ini paramadina sedang mempertanyakan jati dirinya,” kata Mas Dawam, sapaan Dawam Rahardjo.

Malam itu, Mas Dawam menegaskan Cak Nur tidak pernah meninggalkan Islam. “Cak nur disalahpahami karena ada pandangannya tentang sekularisasi,” kata mantan ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu. Mas Dawam menilai tudingan-tudingan Cak Nur seorang sekuler adalah tidak tepat. “Cak nur tidak sependapat dengan The End of History nya Fukuyama. Cak nur bahkan menentang itu,” tambah mas Dawam.

“Cak nur itu tidak meninggalkan islam, yang meninggalkan islam itu murid-muridnya,” ujar Mas Dawam sembari melirik Ulil Abshar Abdalla. Pernyataan Mas Dawam kali ini disambut tawa hadirin diskusi malam itu. Lebih lanjut Mas Dawam menuturkan kekeliruan dalam memahami Cak Nur ini lah yang menjadikan murid-muridnya meninggalkan Islam.

“Saya sih berharapnya menantu Gus Mus ini mampu menggantikan Cak Nur kelak,” ujar Mas Dawam kembali menyentil Ulil.

Menurut Mas Dawam ada tiga agenda besar yang belum dirampungkan oleh Cak Nurian yakni, Pluralisme, Kesetaraan Gender, dan Demokrasi. Menyemangati Cak Nurian di forum NCMS, Mas Dawam memandang tokoh sekaliber Cak Nur tidak pantas disebut meninggal. “Saya tidak suka mengatakan Cak Nur sudah wafat, karena bagi saya ia masih hidup,” pungkasnya.

Lalu tiba lah giliran Ulil Abshar Abdalla menyampaikan paparannya. Biar tidak disebut meninggalkan Islam, menantu Gus Mus ini mengawali sesinya dengan gaya khas santri. Menambah legitimasi keislaman, Ulil tampil mengenakan kopiah hitam malam itu.

Ulil menilai orang dengan tipikal Cak Nur tidak pernah beristirahat. Karena, lanjut Ulil, Cak Nur senantiasa memikirkan umat sepanjang hayatnya. Menurutnya, semua permasalahan umat bisa tergambar dari gagasan-gagasan Cak Nur.

Sementara Mas Dawam terkesan pesimistis dengan perkembangan gagasan Cak Nur, tidak demikian dengan Ulil. “Saya yakin-seyakinnya gagasan Cak Nur bisa hibernasi untuk sementara waktu, tapi akan hidup lagi,” kata pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini.

Malam itu, Ulil menceritakan tentang awal kali ia berjumpa dengan gagasan Cak Nur. “Saya masih ingat pertamakali buku pertama Cak Nur yaitu Khazanah Intelektual Islam pada tahun 1986. Saya membeli buku itu dengan gaji pertama saya saat ngajar di aliyah,”  tutur menantu Gus Mus ini.

Pengalaman pertemuan dia dengan gagasan Cak Nur ini membuat Ulil optimis pada masa depan gagasan Islam kultural. “Percayalah, ketika kita tengah berdiskusi di sini,  malam ini ada mahasiswa atau pun santri yang tengah membaca buku-buku Cak Nur, dan tersengat pikirannya,” tandas Ulil penuh keyakinan.

 

 

 

 

 

Related Presidential Election, KWI-PGI Calls for Calm ChristiansTerkait Pilpres, KWI-PGI Serukan Umat Kristiani Tenang

Dua organisasi Kristiani Indonesia yakni Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyerukan umat kristiani tetap tenang menghadapi simpang siurnya informasi pemenang Pilpres.

Dua organisas tersebut menyatakan bahwa hasil hitung cepat (Quick Count) pemilu presiden 9 Juli lalu menyebabkan masyarakat resah. Hal tersebut juga dikhawatirkan akan memicu gelombang konflik di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, KWI dan PGI menyatakan ajakan sebagai beriut:

1. Umat Kristiani agar tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh euforia dan selebrasi kemenangan yang telah dilakukan kedua pasangan calon, sebab sampai saat ini belum ada pemenang. Pemenangnya baru akan ditentukan dan diumumkan secara resmi oleh KPU pada 22 Juli 2014 yang akan datang. Karena itu, tetaplah bersabar menunggu proses yang sedang berlangsung sampai saat yang sudah ditentukan. Janganlah terpengaruh untuk ikut melakukan kekerasan. Secara khusus kepada Umat Kristiani yang menjadi bagian dari Tim Pemenangan ataupun pendukung pasangan calon, kami harapkan agar Anda menahan diri dan dengan rendah hati bersedia menunggu proses rekapitulasi yang sedang berlangsung. Kami berharap Anda tidak berinisiatif dan melibatkan diri dalam upaya-upaya negatif yang bisa merugikan rakyat banyak.

2. Umat Kristiani agar tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidup Kristiani yang berlandaskan kasih dan memegang teguh nilai-nilai demokrasi, sebagai penghargaan terhadap prinsip-prinsip dasar hidup berbangsa dan bernegara. Secara khusus kami berpesan kepada Umat Kristiani yang menjadi bagian dari Tim Pemenangan ataupun pendukung pasangan calon, hendaknya tidak mengorbankan prinsip-prinsip Kristiani yang abadi tersebut hanya demi kepentingan politik yang sifatnya temporer, apalagi hanya sebatas kepentingan untuk lima tahun ke depan.

Selain itu, PGI dan KWI mengajak masyarakat untuk mengawal dan mengawasi proses rekapitulasi yang sedang berlangsung guna menghilangkan kecurangan dan manipulasi sehingga hasilnya nanti sungguh-sungguh murni sebagai pilihan rakyat.

Ajakan ini ditandatangani oleh oleh Mgr Ignatius Suharyo dan Mgr Johannews Pujasumarta, masing-masing sebagai ketua presidium dan sekretaris jenderal KWI, serta Pdt. Andreas A. Yewangoe dan Pdt. Gomar Gultom, masing-masing sebagai ketua umum dan sekretaris umum PGI.

Demokrasi, Agama, dan MoralDemokrasi, Agama, dan Moral

Oleh: Solita Sarwono (Psikolog, Sosiolog, bermukim di Belanda)

Pilpres kali ini berjalan seru, melebihi pilpres yang dulu-dulu. Masyarakat membuat perbandingan kedua pasangan calon yang bertanding, menilai visi-misi, penampilan, rekam jejak, sampai kehidupan pribadi calon. Melihat proses kampanye dan tanggapan masyarakat, terlihat ada tiga aspek yang sering dibahas, yaitu demokrasi, agama dan moral. Penulis ingin membandingkan kondisi di Indonesia dengan di Negeri Belanda, tempat tinggal penulis. Bangsa Belanda sudah menjalankan demokrasi seabad lamanya, memiliki pemerintahan bersih dan rakyatnya berjiwa sosial, sekalipun bukan bangsa yang mengutamakan agama.

Istilah demokrasi mengandung makna keadilan, kesetaraan, persamaan hak serta kebebasan untuk mengutarakan pendapat dan memperoleh hak individu. Agar semua orang dapat memperoleh hak mereka, maka setiap orang harus bersedia mengalah, memberikan kesempatan kepada orang lain, tidak serakah dan tidak mementingkan diri sendiri, sehingga semua orang puas (situasi win-win). Contohnya, situasi lalulintas di simpang empat saat lampu lalulintasnya mati. Kalau semua orang merasa berhak untuk maju, cepat melewati simpang empat itu, maka majulah semua kendaraan dari keempat penjuru. Tidak ada yang mau mengalah. Akibatnya macet total, semua rugi (lose-lose). Padahal jika setiap pengendara menahan diri, memberi kesempatan kepada yang lain untuk bergiliran maju, dan tidak ada menyerobot, maka arus lalu lintas akan dapat terus berjalan.

Guna mencapai keadilan dan kesetaraan bagi semua penduduk, di Negeri Belanda diadakan sistem subsidi-silang atau bantuan-silang. Yang kaya membantu yang miskin (makin kaya, makin tinggi persentase pajaknya); yang muda membantu yang tua (kawula muda bekerja secara optimal, supaya ekonomi negara dapat menopang kebutuhan para pensiunan) dan yang sehat membantu yang sakit (iuran/premi asuransi kesehatan warga yang sehat dipakai untuk pengobatan/perawatan yang sakit). Bantuan silang itu terjadi antar golongan (status ekonomi, kesehatan dan usia), bukan hanya antar pribadi/keluarga. Demokrasi yang baik haruslah disertai dengan disiplin dan kesediaan menahan diri/mengalah. Aneh, memang, dua hal yang bertolak-belakang: kebebasan dan kepatuhan/menahan diri. Demokrasi tanpa kendali/disiplin justru akan menimbulkan anarki.

Kita simak perilaku bangsa Belanda. Kebebasan bicara dan hak untuk memperoleh privacy sangat diinginkan tetapi orang Belanda (termasuk politisi) berdebat dengan memberi kesempatan/giliran kepada yang lain dan menahan emosi masing-masing. Orang berdisiplin dan sabar menunggu dalam antrian serta disiplin menepati waktu. Pendidikan disiplin diajarkan sejak usia dini, dengan mengajar anak tentang apa akibatnya jika orang tidak mentaati aturan. Membuang sampah di tempatnya, membereskan kamar dan permainan sehabis dipakai, serta mendidik anak untuk makan secukupnya. Kalau kurang boleh tambah, tetapi dilarang menyisakan/membuang makanan. Pendidikan semacam ini merupakan pembinaan rasa tanggung jawab. Pendidikan itu dimulai di rumah, dilanjutkan dengan pendidikan di sekolah dan masyarakat.

Tentu tidak semua orang Belanda demokratis dan berdisiplin, tetapi upaya pembinaan karakter terus diterapkan. Pelanggar disiplin lalulintas sampai kepada koruptor (ada juga orang yang korupsi) dihukum.

Penduduk Negeri Belanda 16,5 juta, menempati kawasan kira-kira seluas Jawa Barat. Sebagian besar warga Belanda (pribuminya) tidak melaksanakan ritual agama, sekalipun mereka menganggap diri beragama Katolik atau Kristen. Jarang sekali orang pergi ke gereja pada hari Minggu, kecuali lansia 70+. Yang lain hanya ke gereja pada malam Natal. Acara pernikahan dilaksanakan di kantor Pemda (pencatatan sipil), acara pemakaman diselenggarakan di ruang duka tempat pemakaman atau perabuan/kremasi. Gerejagereja yang sudah beberapa abad umurnya itu kosong, tetapi tetap dipelihara dengan baik sampai sekarang. Guna memperoleh dana perawatan gedung, pengurus gereja menyewakannya untuk berbagai kegiatan, seperti seminar, ujian mahasiswa, bazar, pameran, pertunjukan kesenian dan konser.

Cukup banyak orang Belanda yang menyatakan tidak punya agama. Mereka lebih percaya kepada hubungan antar manusia dan kepada realitas saat ini, bukan kehidupan di alam baka. Di sekolah (selain sekolah Katolik) tidak diberikan pelajaran agama. Warga Belanda menghormati hak orang lain dan tidak ingin mengganggu/merusak hubungan dengan orang lain bukan karena takut dosa tetapi untuk menjaga keharmonisan sosial.

Meski tidak agamis, mayoritas penduduk (pribumi) Belanda memiliki toleransi yang sangat besar terhadap etnis dan agama lain. Bahkan ada hukum yang melarang diskriminasi berdasarkan etnis, agama dan usia, selaras dengan asas demokrasi. Kaum Muslim yang berkerudung/hijab diterima bekerja di kantor-kantor pemerintah, perusahaan, toko-toko, rumah sakit dan panti perawatan. Hanya yang mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuh dan wajah (burka) tidak diterima karena alasan keamanan/security.

Sejak peristiwa peledakan Twin Tower 11 September 2001, berkembanglah di Belanda sikap negatif terhadap orang asing/migran dan kelompok Muslim, terutama yang ‘berwajah/bergaya’ Muslim.

Bahkan ada anggota parlemen yang terangterangan menghujat Islam dan mendirikan partai yang anti imigrasi dan anti Islam. Juga ada yang membuat film yang memburukkan nama Islam. Namun pemerintah Belanda tidak menghukum mereka selama mereka tidak melakukan kekerasan.

Sebagai reaksi dari sikap negatif ini ada angota kelompok Muslim radikal yang membunuh sutradara film anti Islam tersebut serta ada yang menteror para politisi yang menghina Islam. Pembunuhnya ditangkap dan dihukum penjara.

Moral

Sekalipun tidak agamis, pada umumnya warga Belanda memiliki sifat jujur, terbuka/transparan, tidak suka korupsi, bertanggung jawab, solidaritas tinggi, sosial, rela membantu orang yang lemah (yang tua, sakit, cacat, renta, miskin atau tertindas). Banyak perhatian ditujukan untuk membantu anak-anak dan kaum perempuan. Orang Belanda terkenal pelit, sehingga timbul ungkapan ‘going Dutch’, yaitu mengajak makan bersama tetapi membayar sendiri-sendiri. Tetapi mereka merupakan pembayar pajak yang patuh dan bersedia mengeluarkan sumbangan bagi orangorang yang lemah/menderita atau terkena musibah di mana saja. Contoh: setelah tsunami 2004 masyarakat Belanda secara spontan mengumpulkan uang 80 juta euro untuk disumbangkan ke korban tsunami di Indonesia. Cukup banyak dokter dan perawat Belanda bergabung dalam organisasi Dokter Lintas-Batas (Artsen Zonder Grensen) ke negara-negara yang dilanda perang atau wabah penyakit dan kelaparan (famine), padahal gajinya tidak besar.

Sifat sosial dan rasa peduli terhadap yang lemah mendorong banyak warga Belanda untuk bekerja sebagai relawan di bidang kesehatan dan perawatan, terutama membantu lansia dan keluarga dengan anak atau pasangan yang cacat. Saat ini ada 3 juta penduduk (17% dari total penduduk Belanda) berusia 65 tahun ke atas, hampir 2000 di antaranya berusia di atas 100 tahun. Dengan bantuan relawan, para lansia dan penyandang cacat dapat hidup nyaman, ke luar rumah dan tidak terisolasi dari masyarakat.

Sebanyak 6 juta orang Belanda (termasuk para pensiunan) menjadi relawan untuk kesejahteraan masyarakat. Relawan sosial terdiri dari 60% perempuan dan 40% laki-laki. Bantuan mereka bukan diberikan sekali-sekali saja melainkan selama beberapa bulan sampai bertahun-tahun. Para relawan menyumbangkan tenaganya 2-18 jam per minggu. Jika dinilai dengan uang, sumbangan para relawan itu bernilai 7,7 miliar euro di tahun 2003.

Contoh situasi di Belanda menunjukkan bahwa penghayatan agama bukanlah faktor yang paling utama bagi terciptanya keadilan masyarakat, kesejahteraan, rasa aman dan kenyamanan hidup sampai tua. Yang paling penting adalah niat baik dan rasa peduli para penyelenggara negara untuk bersungguh-sungguh (committed) berupaya membela dan mensejahterakan rakyat, terutama golongan yang lemah. Sikap moral yang baik harus diajarkan di rumah, sekolah dan di lingkungan masyarakat. Ajaran dogmatis atau ancaman hukuman tanpa kesamaan kata dan perbuatan, akan menghasilkan apatisme bahkan penolakan/pemberontakan dari generasi muda, sedangkan perilaku yang buruk justru akan ditiru. Melalui keteladanan karakter dan perilaku yang baik dari orangtua dan tokoh masayarakatlah anak muda dapat membentuk bangsa yang bermoral baik dan bertanggung jawab.

Sumber: Suara Pembaruan (Selasa, 8 Juli 2014)