Bazar Murah ICRP Ramai Pengunjung

Untuk membantu masyarakat dalam menghadapi melonjaknya harga bahan pokok makanan, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengadakan bazar murah Ramadhan. Bazar ini digelar di pelataran ICRP Jl. Cempaka Putih Barat X1 No. 34 Jakarta Pusat.

Panitia pelaksana kegiatan bazar murah adalah divisi filantropi ICRP, sebuah divisi baru yang dibuat oleh ICRP. Dibantu oleh para volunteer yang sebagian besar adalah pemuda lintas agama telah menyiapkan bazar yang menyediakan berbagai bentuk barang murah.

Beberapa barang yang disediakan dalam bazar murah ini antara lain adalah sembako seperti beras dan minyak goreng. Selain itu ada juga indomie, pakaian bekas, dan barang-barang layak guna lainnya.

Sejak pukul 09.30, masyarakat sekitar Cempaka Putih Barat telah mendatangi kantor ICRP. Masyarakat dapat membeli barang-barang ini dengan harga yang sangat murah. Pakaian layak pakai bisa didapatkan dengan harga mulai dari Rp. 1.000. Terlihat masyarakat sangat antusias mendatangi dan mengikuti bazar murah ini. Bahkan beberapa diantaranya terlihat berdesakan dan berebut barang bazar.

Rencananya bazar ini akan dilaksanakan selama dua hari yakni Rabu (31/7) dan Kamis (1/8). Acara bazar dimulai pukul 10.00 dan berakhir sampai jam 12.00.

HUT ICRP 2013

“Puasa; Mekanisme Membangun Solidaritas Sosial”

LATAR BELAKANG

 

Persoalan bangsa Indonesia kian lama kian kompleks. Tak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak prestasi yang telah ditorehkan selama bangsa ini berdiri. Pencapaian ekonomi yang walaupun dalam sebulan terakhir cenderung menurun, tapi secara umum Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tergolong tinggi di dunia. Begitu pun dalam bidang kebebasan pers, masyarakat Indonesia boleh berbangga karena pers Indonesia termasuk sangat independen, meski juga pembunuhan dan teror terhadap jurnalis juga selalu membayangi.

Namun demikian, dengan segala pencapaian ekonomi yang selalu dibanggakan dan juga kebebasan pers yang dianggap sangat baik, Indonesia menyimpan bahaya laten yang dapat meluluhlantakkan tatanan kehidupan berbangsa ini kapan saja; solidaritas sosial yang semakin rapuh. Rapuhnya solidaritas sosial ini terlihat dari banyaknya konflik sosial yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, dengan penyebab yang berbeda-beda. Penyebab dari konflik sosial ini bisa masalah keluarga, pilihan politik dalam pilkada, maupun karena hasutan atas nama agama dan keyakinan. Konflik sosial yang terjadi selalu menimbulkan kerugian material, bahkan beberapa menelan korban jiwa. Namun kerugian yang pasti selalu ada dalam sebuah konflik sosial adalah runtuhnya solidaritas sosial.

Persoalan serius terkait pengakuan, toleransi, serta penghormatan terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan. Kondisi ini tentu sangat terkait dengan kebijakan politik pluralisme Negara. Meski tak secara tersurat dinyatakan dalam konstitusi, namun kondisi itu berlangsung dalam kebijakan, wacana, dan praktik hubungan antar-agama di Indonesia. Negara seolah selalu absent dalam penanganan berbagai persoalan terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Padahal, para founding-fathers bangsa telah merumuskan adanya jaminan kebebasan beragama dan berekspresi sebagaimana tertuang Pembukaan UUD 1945; yang salah satu tujuannya adalah “melindungi seluruh bangsa Indonesia”. Menurut Jimly Asshiddiqie (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia), kata “seluruh” (segenap) di sini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku, ras, agama, dan perbedaan lainnya yang harus dilindungi. Jadi, sangat jelas bahwa semua agama yang ada di Indonesia itu harus dilindungi sebagai bagian dari melaksanakan tujuan ini nasional.

Namun realitasnya, negara yang seharusnya berada di atas semua golongan, kelompok, dan agama sering (cenderung) berperilaku memihak dan digunakan sebagai alat pemukul. Negara yang seharusnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengelola keragaman dan perbedaan malah membuat berbagai hukum dan kebijakan yang tak bisa mengakomodir dan menghargai keragaman tersebut.

Berbagai persoalan untuk menyebut diantaranya, penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah, Jemaat Syiah, kasus Irsyad Manji, kasus GKI Jasmin, Filadefia, serta berbagai kasus pelarangan pendirian rumah ibadah lainnya. Selain juga persoalan yang tak kalah serius adalah fanatisme sempit, serta radikalisme di kalangan kaum muda.

Fakta-fakta di atas menunjukan bahwa solidaritas sosial dan kesadaran akan keberagaman di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh komponen bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, spirit para aktifis serta pejuang pluralisme dan perdamaian tak boleh sedikitpun kendor dalam perjuangannya. Sebab eksistensi bangsa yang jadi taruhannya. Persoalan inilah yang akan menjadi topik utama dalam acara ini. Sehingga diharapkan bisa menjadi modal/spirit baru dalam memperjuangkan pluralisme dan perdamaian di bumi Nusantara tercinta.

 

BENTUK KEGIATAN

Adapun bentuk kegiatan kegiatan ini adalah sebagai berikut;

  1. Diskusi/talk-show dengan tema “Puasa; Mekanisme Membangun Solidaritas Sosial” yang akan dipandu oleh seorang moderator
  2. Buka puasa bersama seluruh pendiri, pengurus, staff, stakeholders, serta volunter ICRP
  3. Pembagian Sembako ke warga sekitar ICRP

TUJUAN

  1. Sebagai forum silaturahmi dan komunikasi internal pendiri, pengurus, staff, stakeholders, serta volunter ICRP
  2. Sebagai upaya memperkuat spirit perjuangan untuk pluralisme dan perdamaian
  3. Sebagai salah satu wujud perayaan akan kebhinekaan
  4. Memperkuat tali silaturahmi antar ICRP dengan warga sekitar kantor ICRP
  5. Sebagai wujud kepedulian bersama akan nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang plural
  6. Sebagai salah satu wujud implementasi visi serta misi ICRP dalam membangun serta mendorong budaya toleransi dan perdamaian

WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan ini akan dilaksanakan di kantor ICRP; Jl. Cempaka Putih Barat XXI No. 34, Jakarta 10520. Telp (021) 4280 2349, 4280 2350, fax. (021) 422 7243, pada tanggal 31 Juli 2013, Jam 15.30 WIB-Selesai.

PEMBICARA

Mengingat bentuk acara adalah talkshow, maka dalam kegiatan ini semua undangan diharapkan berpartisipasi aktif dalam mendiskusikan tema terkait dengan panduang moderator.

Beberapa pembicara kunci adalah para tokoh dari masing-masing agama yang akan membagi pengalaman dan kesan mengenai ritual puasa dalam masing-masing agama.

PERSERTA

Adapun peserta atau audience yang akan terlibat dalam kegiatan ini adalah Pendiri, pengurus, staff, stakeholders, jaringan, dan volunter ICRP

PENUTUP

Demikian ToR ini kami siapkan agar dapat dijadikan acuan sebagai pelaksanaan kegiatan. Atas perhatian dan kerjasamanya kami sampaikan terimakasih.

Jakarta 15 Juli 2013

Siti Musdah Mulia

Ketua Umum

 

 

Ratusan Anak-anak Syiah dan Ahmadiyah Rayakan Hari Anak

Ratusan anak dari keluarga kelompok minoritas, mengikuti perayaan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli, Sabtu (27/7/2013). Acara yang berlangsung meriah itu berlangsung di LBH Jakarta, Menteng.

Ilma Sofriyanti selaku kordinator acara mengatakan, perayaan ini merupakan kegelisahan yang berangkat dari keprihatinan terhadap hak anak-anak dari keluarga kelompok minoritas yang tercerabut.

“Ini merupakan acara yang berangkat dari kerinduan hati orang dewasa untuk menyadarkan bahwa ada anak-anak yang masih tercerabut hak-haknya. Karena UU menganjurkan ini. Anak-anak selalu terdiskriminasi setiap kelurganya mengalami diskriminasi,” ujar Ilma di sela-sela acara.

Menurut Ilma, banyak di antara mereka yang tidak mendapat fasilitas pendidikan, kesehatan dan hak anak lainya. Menurutnya, acara ini sengaja melepaskan isu konflik kebebasan, tapi bicara hak kebebasan anak Indonesia yang harus diberikan kepada anak keluarga korban minoritas, bukan hanya kepada orangtua mereka.

“Saat seperti ini sangat dirindukan bagi mereka dengan persamaan di atas perbedaan yang ada. Kita berharap tahun berikutnya terus berjalan dan menjadi ajang nasional dengan tema berbeda,” harapnya.

Saat ini, lanjut Ilma, terdapat sekitar 100 anak kelompok minoritas yang tidak mendapatkan haknya seperti anak-anak Indonesia lainya. Namun yang lebih parah anak-anak dari keluarga Syiah dan Ahmadiah.

“Jumlah anak-anak dari Syiah ada 36 anak, Ahmadiah 20 anak. Kalau anak-anak dari keluarga minoritas lainya tidak terlalu terpangkas haknya. Tapi soal hak tidak dapat dibedakan, karena hak adalah sama,” tandasnya.

Acara yang dihadiri sekitar 100 anak-anak ini terdiri dari keluarga kelompok minoritas Ahmadyah, Syiah, GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, dan lainya.

Selain dimeriahkan dengan pameran foto anak-anak, acara juga diisi dengan dongeng, permainan, nyanyian dan pentas seni lainya. Bahkan juga diisi pembacaan puisi untuk SBY.

Sumber: http://news.liputan6.com/read/650929/ratusan-anak-anak-syiah-dan-ahmadiyah-rayakan-hari-anak

Benarkah Agama Akan Musnah?

Seorang biopsikologis, Nigel Barber telah menyelesaikan buku baru yang kontroversial. Buku tersebut menyatakan bahwa eksistensi agama tidak akan bertahan lama lagi.

Seperti diberitakan merdeka.com (27/7/2013), peneliti psikologi yang menggunakan pendekatan biologi ini menyatakan agama mungkin akan punah paling tidak pada tahun 2041.

Nigel Barber mengungkapkan kedepan akan lebih banyak orang yang menjadi atheis. Barber memperkirakan, di negara-negara maju dan berkembang, kebanyakan orang akan menjadi atheis. Orang-orang ini lebih tertarik dan peduli terhadap kondisi finansial mereka dari pada keyakinan agama.

“Orang-orang berpendidikan tinggi yang tinggal di kota dan sangat terkonsentrasi di negara-negara demokrasi sosial akan cenderung menjadi Ateis. Ateisme cenderung berkembang di tengah masyarakat yang merasa aman secara ekonomi,” jelas Nigel seperti dilansir merdeka.com (27/7/2013).

Meskipun demikian, penelitian tersebut hanyalah sebuah prediksi ilmiah. Terbukti atau tidak, tinggal menunggu waktu.

Pemuda NTT Gelar Buka Puasa Lintas Agama

Indonesia merupakan negara yang dihuni oleh masyarakat yang majemuk. Berbagai suku, budaya, adat, dan agama hidup berdampingan dan saling menjaga toleransi. Nilai luhur toleransi dan berkasih sayang terhadap yang beda sudah diajarkan oleh founding fathers bangsa sejak dahulu kala.

Nilai luhur tersebut sekarang diwarisi oleh para pemuda lintas agama di Nusa Tenggara Timur (NTT). Komunitas Orang Muda Lintas Agama (Kompak) yang terdiri dari Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Orang Muda Katolik (OMK) menggelar buka bersama masyarakat muslim di Masjid Al Musafir, Kelurahan Batuplat, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis malam, 25 Juli 2013.

Kesadaran para pemuda untuk menciptakan suasana kehidupan yang harmonis dan damai begitu kuat. Bahkan sebelumnya mereka membuat sebuah pernyataan bersama pemuda NTT tentang perdamaian. Para pemuda ini berkomitmen untuk membangun NTT secara damai.

Acara buka bersama ini merupakan perwujudan kebersamaan dan solidaritas antar-umat beragama di daerah ini. Acara buka puasa ini merupakan kelanjutan dari pernyataan sikap bersama di atas. Acara buka puasa digelar di Masjid Al Musasif, yang awal pembangunannya sempat mendapat penolakan dari warga sekitar.

Pernyataan sikap ini juga merupakan komitmen dari tokoh lintas agama, seperti Ketua Sinode GMIT, Sekretaris Keuskupan Agung Kupang, Ketua Persada Hindu Dharma, dan tokoh-tokoh pemuda dan mahasiswa muslim di NTT.

“Sudah ada pernyataan bersama untuk menjaga solidaritas antar-umat beragama,” kata Ketua Pemuda GMIT Winston Rondo di sela acara buka puasa bersama itu seperti diberitakan Tempo.co (25/Juli/2013).

Kunjungi Pengungsi Syiah, Ini Harapan Wantimpres

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Albert Hasibuan mengunjungi pengungsi Syiah dari Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, yang tinggal di Rumah Susun Puspa Agro, Sidoarjo, Senin (22/7/2013). Albert berharap, pengungsi Syiah dapat dipulangkan ke kampung halaman sebelum Lebaran.

“Kami berharap rekonsiliasi cepat terjadi supaya warga Syiah bisa merasakan Lebaran di kampung. Itu yang penting,” kata Albert.

Kunjungan Albert ke Rusun Puspa Agro ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar pengungsi selama bulan Ramadhan. Ia menambahkan, pemulangan warga Syiah ke kampung halaman dipastikan akan mendapat pengamanan dari kepolisian.

Proses perdamaian antara warga Syiah dan non-Syiah juga terus didorong agar kelak mereka dapat hidup bersama tanpa muncul masalah baru. Saat ini, forum rekonsiliasi yang diadakan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya masih dalam proses.

Rektor IAIN Sunan Ampel Abd A’la, yang menjadi ketua forum tersebut, akan memberikan laporan kepada menteri dan Presiden. Dalam kesempatan itu, Albert juga meminta tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan di Sampang untuk memperhatikan apa yang telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai pentingnya rekonsiliasi dan perdamaian di Sampang.

“Sikap pemerintah daerah telah berubah. Sudah ada intervensi dari pemerintah pusat. Nanti kita bantu supaya warga Sampang ini bisa hidup normal,” ucap Albert.

Sebelumnya, sepuluh warga Syiah datang ke Jakarta dengan mengayuh sepeda untuk bertemu Presiden SBY. Saat menemui warga Syiah di Cikeas, Bogor, Presiden berjanji untuk mendorong proses rekonsiliasi dan segera memulangkan pengungsi.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2013/07/22/1442298/Kunjungi.Pengungsi.Syiah.Ini.Harapan.Wantimpres

FPI Chief Calls SBY a ‘Loser’ Over Criticism of Deadly Kendal Raid

Following President Susilo Bambang Yudhoyono’s criticism of the Islamic Defenders Front’s fatal raid on a Central Java brothel last week, the chief of the hard-line organization has called the president a ‘loser’ while denying that his group committed any wrongdoing.

Habib Rizieq Syihab, the head of the group known as the FPI, on Monday said that none of its members were armed when it conducted a “peaceful monitoring” of an alleged brothel in the Central Java town of Kendal. The raid led to a violent confrontation with hundreds of local residents and a woman being killed on her motorcycle.

“The FPI was not playing judge. We came to the [Kendal Police] and asked that the prostitution parlor be shut, especially since it’s Ramadan now,” Rizieq said in a statement.

“In Kendal, the FPI was the victim and not the perpetrator. It was the FPI who was victimized by hundreds of armed thugs at the brothel.

“It’s a pity. SBY appears to be … a mere loser who likes spreading lies and being silent about sinful activities. Not to mention, he’s been protecting the Ahmadiyah and [individuals involved in] various corruption scandals. This Muslim president is a disgrace to Islamic teachings,” Rizieq’s statement said.

Rizieq further accused Yudhoyono of buying into biased media reports that Rizieq claimed failed to accurately depict what happened during the Kendal clash.

In response to the events in Kendal, President Susilo Bambang Yudhoyono on Sunday said he would not tolerate the acts of violence that occurred on Thursday.

“My position is very clear — we will not give any form of tolerance,” the president said in Kemayoran, Central Jakarta, on Sunday. “This has to be prevented so that no other entities, including the FPI [do this].”

Police said seven people — three FPI members and four local residents — have been named suspects in the case surrounding the incident.

One of the FPI-affiliated suspects, Soni Haryono, was reportedly the driver of the Toyota Avanza minivan that struck a motorcycle carrying Tri Munarti and her husband, Yulianto. Tri was killed, while Yulianto survived.

The two others — identified as Satria Yuwono and Bayu Agung Wicaksono, were found carrying sharp weapons when they were arrested shortly after the incident.

The FPI has denied that Soni is a member of the group and claimed that he was only a hired driver.

“The perpetrators who hit the dead victim are still being detained, but we are also investigating locals who committed acts of violence [against FPI members],” National Police spokesman Insp. Gen. Ronny F. Sompie said in Jakarta on Monday.

At least two FPI members were reportedly beaten by the angry mob, while several cars being used by the group were torched at the scene.

Source: http://www.thejakartaglobe.com/news/fpi-chief-calls-sby-a-loser-over-criticism-of-deadly-kendal-raid/

Central Java Muslim clerics condemn FPI clashes with locals

A group of Muslim clerics from various regions in Central Java have condemned a series of sweeps conducted by the Islam Defenders Front (FPI) in several regions, such as those in Sukorharjo and Kendal regencies last week that led to clashes with locals.

“Don’t take over the police’s duty to tackle crime,” head of Mashitoh Islamic Boarding School Nasir Azhari said on Monday.

Another cleric, Tamam Qoulani of the Al Hikmah Al Islamiyah added that he had rejected the idea of
establishing FPI in Salatiga for exactly those reasons.

Head of FPI advocacy team Zaenal Abidin Petir said he was sorry for the incidents but argued that the sweeps were their way of implementing true Islamic values.

FPI’s sweeps in Kendal and Sukoharjo sparked people’s resentment, which led to clashes that resulted in residents setting fire to FPI vehicles. To date, the police have named seven suspects in the clashes, three of whom are FPI members.(fan/dic)

Source: http://www.thejakartapost.com/news/2013/07/22/central-java-muslim-clerics-condemn-fpi-clashes-with-locals.html

Sweeping FPI di Kendal Dikecam

Tindakan organisasi Front Pembela Islam (FPI) yang men-sweeping lokalisasi Sukorejo, Kendal, dikecam berbagai kalangan.  Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (Elsa) Semarang Tedi Kholiluddin mengecam tindakan para anggota FPI yang melakukan sweeping pada bulan puasa.

“Kejadian di Kendal semakin meneguhkan anggapan masyarakat bahwa FPI itu organ yang mengedepankan kekerasan ketimbang kelembutan,” kata Tedi kepada Tempo di Semarang, Kamis, 18 Juli 2013.

Elsa mencatat pada bulan puasa tahun lalu FPI Jawa Tengah melakukan sweeping dan berakhir bentrok dengan warga di Bandungan, Semarang. “FPI tidak pernah belajar dari pengalaman,” kata Tedi. Tahun lalu FPI melakukan sweeping di Bandungan. Saat itu, para anggota FPI dihalau warga Bandungan.

Tedi yang juga kader muda Nahdlatul Ulama ini menilai, aksi anggota FPI melakukan sweeping sama artinya mendelegitimasi peran-peran aparat pemerintah. Tedi mempertanyakan apakah sweeping terhadap warung makan itu adalah bagian dari nahi munkar. “Itu malah nahiy munkar dengan kemunkaran,” Tedi menyindir.

Bentrok antara warga dan anggota Front Pembela Islam Jawa Tengah terjadi di Sukorejo Kabupaten Kendal, sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis 18 Juli 2013. Akibatnya, sebuah mobil minibus Toyota Avanza yang ditumpangi FPI dibakar warga. Selain itu, sebuah mobil pick up di rusak di dekat pompa bensin, tepatnya depan Gereja Santo Isodorus, Sukorejo, Kabupaten Kendal .

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/07/18/058497668/Sweeping-FPI-di-Kendal-Dikecam

Kafe Nazi Itu Sekarang Tutup

Kafe ini tidak seperti kafe biasanya. Di kota pelesir dan kota mode seperti Bandung ini ada ratusan kafe yang menjamur di berbagai sudut kota. Namun, nampaknya tidak ada yang semenarik Soldatenkaffe sehingga media nasional dan internasional terpincut untuk meliputnya.
Ya, Soldatenkaffe adalah kafe yang menarik. Desain kafe ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan nuansa Nazi. Di pintu masuk, pengunjung akan di sambut dengan simbol elang Jerman atau yang dikenal juga dengan elang besi / iron eagle. Jika iron eagle menoleh ke kiri maka melambangkan partai Nazi. Sedangkan jika Iron Eagle menoleh kekanan melambangkan negara. Iron eagle ini berdiri diatas lambang swastika atau hakenkreus atau salib yang berkait. Sebuah logo yang dipakai partai Nazi jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler.
Memasuki ruangan kafe, kebanyakan dinding di cat menggunakan warna merah ditempeli dengan berbagai ukuran foto Nazi. Di antara puluhan foto itu adalah foto pemimpin partai Nazi Adolf Hitler. Tidak hanya itu, para pramusaji yang bertugas juga menggunakan pakaian layaknya tentara Nazi. Seragam hitam Schutzstaffel dan Seragam coklat Sturmabteilung menjadi pakaian resmi para pramusaji tersebut.
Kafe ini telah berdiri di Jalan Pasirkaliki, Bandung semenjak dua tahun yang lalu. Namun nama kafe ini begitu mencuat semenjak awal juli lalu. Henry Mulyana, pemilik Soldatenkaffe tidak menyangka bahwa sebuah wawancara media online berbahasa Inggris akan berimbas terhadap pemasukan Soldatenkaffe. Tulisan media online itu menyebar ke mana-mana. Bahkan menjadi trending topic di media mainstream seperti CNN, Daily Mail, dan The Sun.
Henry, mengakui pemasangan asesoris Nazi dan memorabilia Perang Dunia II di kafe bukan maksud pro idiologi Nazi. Pemilik kafe melakukan itu karena didorong kesukaannya terhadap barang-barang antik peninggalan Perang Dunia II khususnya Jerman yang masa itu dipimpin Adolf Hitler.
Sayang beribu sayang. Pemberitaan itu berujung pada respon negatif dari pembaca media. Oleh sebab itu, Henry memutuskan untuk menutup Soldatenkaffe miliknya. Sejatinya memang tidak ada undang-undang yang melarang pemasangan simbol Nazi di Indonesia. Namun, ideologi tersebut memang mendapat penolakan keras di Eropa karena mendukung rasialisme dan ultranasionalis. Oleh sebab itu Kafe ini mendapatkan sorotan luas dari berbagai media dan masyarakat.