1000 Hari Gus Dur

 1000 Hari Gus Dur

ZIARAH BUDAYA & DOA LINTAS-IMAN

 Assalamu’alaikum Wr.Wb. 

Semoga surat undangan ini menjumpai Bapak/Ibu/Sdr dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Tak terasa sudah menjelang 1000 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang berpulang pada tanggal 30 Desember 2009. Dalam rangka memanjaatkan doa dan refleksi memperingatinya, kami berencana menyelenggarakan ZIARAH BUDAYA DAN DOA LINTAS IMAN yang akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal    : Jumat, 28 September 2012

Pukul                     : 18.30 WIB – selesai

Tempat                 : Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat

Sehubungan dengan rencana acara tersebut di atas, kami memohon Bapak/Ibu/Sdr untuk dapat hadir bersama kami, mengenang dan mendoakan Al-Maghfurlah. Lebih lengkap mengenai rangkaian acara dapat dilihat dalam lampiran yang kami sertakan.

Demikian surat ini kami sampaikan. Besar harapan kami untuk kehadiran Bapak/Ibu/Sdr meliput acara tersebut. Atas perhatian dan partisipasinya, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 21 september 2012

Hormat Kami,


Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid

Contact Person:

Ira Sulistya – 0811 140 478

 

 

Mata Acara Ziarah Budaya

Peringatan 1000 Hari Gus Dur

28 September 2012

 

1. Doa Bersama

2. Performance Art

Marawis, Puisi (KH. Zawawi Imron, Hana Fransisca, KH. Husein Muhammad), Gamelan, Barongsay, Monolog Agus Nur Amal, Kidung Sufi Chandra Malik dan Performance Glenn Fredly

 3. Talk Show

Jaya Suprana, Kang Sobary, Arswendo Atmowiloto dan KH. Zawawi Imron

 4. Stand Up Comedy

Jaya Suprana, Arswendo Atmowiloto, Inayah Wahid dan Imam Malik

 MC: Dibyo Primus

Mengarungi Sufisme Gus Dur

Dalam rangka memperingati 1000 hari Gus Dur yang jatuh pada 27 September nanti, KH Husein Muhammad, sahabat sekaligus murid Gus Dur meluncurkan sebuah buku berjudul Sang Zahid; Mengarungi Sufisme Gus Dur. Buku tersebut diluncurkan dan dibedah di Wahid Institute Selasa (25/09/2012) kemarin, sebagai pembukaan peringatan acara 1000 hari mantan Presiden RI ke-4 tersebut.

Kedekatan KH Husein Muhammad selama 15 tahun bersama Gus Dur tersebut membuat ketertarikan Kyai asal Cirebon ini untuk “mengarungi” lebih jauh sisi sufistiknya Gus Dur. Menurut Kyai Husein banyak dari kalangan ulama-ulama besar di dunia ini pada titik puncaknya menemukan wahdatul wujud. Dan menurut Kyai Husein, Gus Dur telah mencapai titik tersebut.

Di sisi lain, dunia dengan berbagai macam godaannya seperti harta, dan kekuasaan menjadi umpan menggiurkan bagi kebanyakan orang. Umpan-umpan seperti itu sangat manjur menjerumuskan manusia kedalam kehinaan dan menjauhkan manusia dari Tuhan.

“Tetapi Gus Dur adalah salah satu pengecualian dari orang kebanyakan. Gus Dur adalah jenis manusia yang tidak cinta dunia,” kata KH M. Luqman Hakim, pimpinan majalah Cahaya Sufi saat menjadi narasumber dalam bedah buku tersebut.

KH M. Luqman Hakim menambahkan Gus Dur merupakan sosok yang mampu mengendalikan unsur duniawi. Dalam prinsipnya Gus Dur selalu menerima dengan ikhlas apa yang diberikan Tuhan. Keikhlasan seperti ini membuat Gus Dur terbebas dari belenggu-belenggu dunia sehingga ada harta atau tidak, ada jabatan atau tidak, tidak menjadi persoalan bagi Gus Dur.

Sementara itu, Jaya Suprana mengangumi Gus Dur atas keberanian dalam menghargai perbedaan. Menurutnya Gus Dur mempunyai kemampuan dan kemauan yang besar dalam menghargai setiap perbedaan dimanapun.

ICRP Dan UPJ Gelar Kunjungan Ke Rumah-Rumah Ibadah

Sekitar 50-an mahasiswa dari Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro menggelar kunjungan ke rumah-rumah ibadah di Jakarta Sabtu (22/09/2012) lalu. Kunjungan tersebut diadakan bekerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sebagai program pengenalan terhadap agama-agama di Jakarta. Program tersebut adalah rangkaian perkuliahan yang sudah dijadwalkan dalam akademik UPJ. Hal tersebut bertujuan untuk memupuk semangat persaudaraan dan toleransi beragama dalam diri mahasiswa.

Kunjungan kerumah ibadah di Jakarta ini adalah kunjungan yang pertama. Dalam kunjungan pertama ini para mahasiswa telah mengunjungi Kapel Santa Ursula, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Jakarta, dan Sikh Temple.

Antusias para mahasiswa ini terlihat begitu tinggi ketika melihat bangunan-bangunan yang dijadikan peribadatan umat beragama di Jakarta ini. Kekaguman para mahasiswa ini mereka abadikan dalam jepretan-jepretan kamera yang telah mereka persiapkan. Tak hanya itu, keingintahuan yang tinggi para mahasiswa ini juga mereka salurkan dalam tanya jawab ke para masing-masing tokoh agama yang menyambut mereka.

Rencananya program ini akan dilaksanakan sebanyak 2 kali kunjungan. Adapun kunjungan kedua akan dilaksanakan pada Sabtu (29/09/2012) mendatang. Dan tempat ibadah yang akan dikunjungi selanjutnya adalah Vihara Dhammacakka, Klenteng Boen Tek Bio, dan Pura Aditya Jaya.

Sekitar 50-an mahasiswa dari Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) Bintaro menggelar kunjungan ke rumah-rumah ibadah di Jakarta Sabtu (22/09/2012) lalu. Kunjungan tersebut diadakan bekerjasama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sebagai program pengenalan terhadap agama-agama di Jakarta. Program tersebut adalah rangkaian perkuliahan yang sudah dijadwalkan dalam akademik UPJ. Hal tersebut bertujuan untuk memupuk semangat persaudaraan dan toleransi beragama dalam diri mahasiswa.

Kunjungan kerumah ibadah di Jakarta ini adalah kunjungan yang pertama. Dalam kunjungan pertama ini para mahasiswa telah mengunjungi Kapel Santa Ursula, Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel Jakarta, dan Sikh Temple.

Antusias para mahasiswa ini terlihat begitu tinggi ketika melihat bangunan-bangunan yang dijadikan peribadatan umat beragama di Jakarta ini. Kekaguman para mahasiswa ini mereka abadikan dalam jepretan-jepretan kamera yang telah mereka persiapkan. Tak hanya itu, keingintahuan yang tinggi para mahasiswa ini juga mereka salurkan dalam tanya jawab ke para masing-masing tokoh agama yang menyambut mereka.

Rencananya program ini akan dilaksanakan sebanyak 2 kali kunjungan. Adapun kunjungan kedua akan dilaksanakan pada Sabtu (29/09/2012) mendatang. Dan tempat ibadah yang akan dikunjungi selanjutnya adalah Vihara Dhammacakka, Klenteng Boen Tek Bio, dan Pura Aditya Jaya.

Tokoh Agama Harapkan Umat Tidak Anarki

JAKARTA – Sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengimbau kritik dan protes terhadap film Innocence of Muslims tidak dilakukan dengan anarkis.
Reaksi yang berlebihan justru akan membantu mempromosikan film dan tujuan si pembuat tercapai. Pendapat itu mengemuka dalam diskusi “Kekerasan atas Nama Agama: Menyimak Kasus Film Innocence of Muslims” yang digelar ICRP di kantor Pusat PBNU, Jakarta, Rabu (19/9).
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai demo besar-besaran atas film Innocence of Muslims terlalu berlebihan. Padahal, film tersebut kategori film sampah. “Kita ini dipancing oleh orang gila, dan kita terpancing,” katanya.
Menurutnya, Amerika merupakan negara yang tak ada urusannya dengan film tersebut, tetapi justru didemo. Bahkan Kedutaan AS di Libia dibom sehingga memakan korban. “Kekerasan di manapun itu tak akan menguntungkan. Hanya merugikan, termasuk bagi kaum mayoritas,” ujarnya.
Budayawan Azyumardi Azra manambahkan, masyarakat perlu menyiapkan mental guna menghadapi upaya provokasi yang mengatasnamakan agama dan kebencian.
Penghinaan terhadap Nabi Muhammad terus dilakukan, bahkan sejak Nabi masih hidup. Mantan Rektor Universitas Islam Negeri ini mengatakan, kemarahan umat muslim tidak boleh dilakukan dengan cara yang berlawanan dalam ajaran Islam.
“Penghinaan terhadap Nabi Muhammad akan selalu terjadi, karena itu masyarakat Islam harus belajar lebih bersabar. Kita harus lebih banyak belajar kepada umat Kristiani yang kendati selama ini banyak menghadapi penghinaan, namun mereka lebih siap dan sabar menghadapi hal tersebut,” ujarnya.
Sekjen PBNU Masdar F Masudi berpendapat sama. Menurutnya, pembuat film Innocence of Muslims senang karena filmnya direspons dunia. Padahal,  jika masyarakat Islam tidak reaktif dan tidak mengacuhkan film itu maka tidak akan menarik perhatian film tersebut.
“Perlu kedewasaan dari seluruh umat beragama, sebab sebuah konflik ketika melibatkan agama biasanya lebih seram dan intoleran. Karena itu, kita tidak boleh terpancing oleh situasi seperti ini,” katanya.
Sementara itu, Pendeta Albertus Patty mengaku bisa memahami kemarahan umat Islam atas film itu. “Saya juga marah. Tapi sebaiknya kemarahan umat Islam disalurkan dengan cerdas dan kreatif. Masyarakat janganlah terlalu mudah menanggapi provokasi yang sengaja dibuat oleh kelompok dan pembuat film tersebut,” tuturnya.
Demokrasi
Ketua Umum ICRP Musdah Mulia menyatakan, demokrasi yang dianut Indonesia sekarang ini harus berujung pada kemaslahatan.
Demokrasi harus bisa membuat kelompok merasa nyaman. Menurutnya, pembuatan film Innocence of Muslims itu menunjukkan ketidakpekaan terhadap keberagaman agama. Namun, kemarahan terhadap penghinaan agama tidak harus dilakukan dengan kekerasan.
“Kita harus mampu menyelesaikan persoalan dengan damai dan senyum, bukan dengan otot atau urat leher yang keluar,” kata Musdah.
Musdah menambahkan, ICRP berupaya membangun kehidupan beragama yang damai. ICRP berhubungan dengan 20 agama besar di dunia dan lebih dari 400 kepercayaan dan keyakinan.
Oleh karena itu, menurut Musdah, bangsa Indonesia harus dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia dapat merespons kasus terkait film itu dengan cara-cara yang santun.
Sumber : Sinar Harapan

 

Respons Berlebihan Umat Islam Justru Berdampak Negatif

JAKARTA – Umat Islam Indonesia dan dunia terlalu berlebihan dalam mensikapi filmInnocence of Muslims, sehingga tanpa disadari justru mempromosikan film itu sendiri. Sikap reaktif dan destruktif seharusnya ditahan dalam menghadapi kondisi seperti itu.

Pernyataan itu mengemuka dalam diskusi Kekerasan Atas Nama Agama: Menyimak Kasus Film Innocence of Muslims yang digelar Indonesian Conference on Religion and Peace di kantor Pusat PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, hari ini. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berpendapat demo besar-besaran atas filmInnocence of Muslims terlalu berlebihan. Padahal film tersebut kategori film sampah. “Kita ini dipancing oleh orang gila, dan kita terpancing,” tegasnya.

Menurutnya, Amerika adalah negara yang tak ada urusannya dengan film tersebut,tetapi justru didemo. Bahkan kedutaan AS di Lybia dibom,sehingga memakan korban. “Kekerasan di manapun itu tak akan menguntungkan. Hanya merugikan, termasuk bagi kaum mayoritas,” terangnya.

Mantan Rektor UIN Azyumardi Azra menyampaikan kemarahan umat Islam atas film Innocence of Muslims tidak boleh dilakukan dengan cara yang berlawanan dalam ajaran Islam. Menurutnya, umat Kristen Protestan/Katolik lebih dewasa dalam menysikapi soal penistaan agama. ” Umat Islam mengidap mentality of loser [mentalitas umat yang kalah], karena itu reaktif,” paparnya.

Sekjen PBNU Masdar F Masudi berpendapat pembuat film Innocence of Muslims pasti sekarang senang sekali melihat umat Islam marah karena filmnya direspon dunia. Padahal,sambungnya, apabila film itu dibiarkan pasti tak akan menarik perhatian. “Jadi, umat Islam ikut ‘membeli’ film itu,” tukasnya. Dia mengimbau ke depan apabila ada yang memprovokasi agama, sebaliknya umat Islam mendoakan saja pelakunya agar segera sadar dari pada marah-marah dan membuat kerusakan.

 

Massa Hizbut Tahrir Indonesia melakukan unjuk rasa mengecam film Innocence of Muslims di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, akhir pekan lalu. (JIBI/SOLOPOS/Antara)

Tokoh Kristen Pendeta Albertus Patty menyampaikan bahwa setelah menonton film tersebut,dirinya berkesimpulan film itu dibuat oleh orang Kristen yang tak kristiani. Dia mengaku bisa memahami kemarahan umat Islam atas film itu. “Saya juga ikut marah,” tegasnya. Namun, dia mengingatkan agar kemarahan umat Islam disalurkan dengan cerdas dan kreatif. “Siapapun yang memahamai agamanya dengan baik, dia mestinya lebih bersikap manusiawi.”

 

Hal senada disampaikan Tokoh Budha Bante Jaya Medho. Menurutnya, hal negatif agar tidak dibalas dengan keburukan. Dia menyadari itu sulit dilakukan, tetapi hal itu harus dimasukkan ke dalam pola pikir setiap umat manusia. “Kata Buddha, jika ada vihara dibakar, kesempatan bagi kamu untuk berdana lebih besar lagi. Saya sendiri salut pada umat NU yang tak ikut terprovokasi oleh film itu,” terangnya.

Tokoh Katolik Romo Haryanto mengutarakan bagwa film Innocence of Muslims adalah sampah. “Lebih jelek dari film buatan anak-anak Kanisius,” ujarnya disambut tawa peserta diskusi. Menurutnya, manusia lebih penting daripada agama, sehingga umat manusia harus mampu menahan diri. Pasalnya dalam banyak kasus, agama adalah sumber masalah, bukan menyelesaikannya.

Tokoh Muhammadiyah Imam Addaruquthni menambahkan umat Islam harus mampu menahan diri dari segala penistaan agama agar tidak menambah deret panjang catatan negatif agama. “Kita ini mewarisi agama yang curriculum vitae-nya penuh dengan konflik,” ujarnya.

Dalam beberapa pekan terakhir film Innocence of Muslims memicu reaksi protes umat muslim dunia, termasuk Indonesia. Bahkan sempat memakan korban,sekitar 13 orang meninggal dunia dalam aksi protes itu dan ratusan orang terluka. Termasuk di Indonesia yang menyebabkan orang luka-kuka karena bentrok dengan aparat, pekan lalu.

Film itu dibuat oleh Basseley Nakoula, warga California, AS. Film yang menggambarkan Nabi Muhammad secara sangat negatif dengan kualitas cerita dan sinematografi asal-asalan itu beredar di Youtube sejak awal Juli dan telah memicu serangkaian aksi demo di berbagai negara muslim.

 

sumber: solopos.com

Sikapi Film Innocence of Muslims dengan Cara Beradab

JAKARTA–MICOM: Sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengimbau agar kritik dan protes terhadap film Innocence of Muslims tidak dilakukan dengan anarkistis. Upaya memecahbelah dan mengadudomba seperti yang dilakukan pembuat film tersebut dinilai akan selalu ada.

“Perlu kedewasaan dari seluruh umat beragama. Konflik ketika sudah melibatkan agama lebih seram dan intoleran. Kita tidak boleh terpancing oleh orang atau kelompok-kelompok seperti ini. Kalau ada orang yang memprovokasi kebencian terhadap agama lain, lebih baik kita doakan,” kata tokoh Nadhlatul Ulama KH Masdar Mas’udi dalam konferensi pers di PBNU, Jakarta, Rabu (19/9).

Di tempat yang sama, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga angkat bicara mengenai film tersebut. Menurutnya, amarah umat Islam di Indonesia harus diredam agar tidak timbul permasalahan baru. “Yang saya khawatir kalau si pembuat film ini, Nakoula Bacile sudah diperiksa ternyata dia orang sakit jiwa,” kata Mahfud.

Sedangkan Rektor Universitas Islam Negeri Azyumardi Azra mengatakan perlu kesiapan mental dalam menghadapi upaya provokasi yang mengatasnamakan agama dan kebencian. “Bahkan dari zaman Nabi sekalipun penghinaan tidak pernah berhenti. Oleh karena itu kita harus menyiapkan mental saja,” kata Azyumardi.

Perwakilan Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) Pdt Albertus Patti mengaku bisa memahami kemarahan umat Islam saat melihat film itu. “Karena saya marah juga,” tegasnya.

Pdt Albertus mengatakan, jangan menanggapi provokasi yang sengaja dibuat oleh kelompok dan pembuat film tersebut. “Jadi kelompok Kristen yang tidak Kristiani ini akan semakin senang kalau kita termakan provokasi,” tukasnya.

Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim menambahkan, penistaan maupun penodaan seharusnya masuk dalam kategorisasi kriminal. Namun, di dunia barat, aturan tersebut ternyata sudah melonggar dan menjadi bias dengan kebebasan berekspresi. “Antara penistaan dan kebebasan berpikir memiliki batasan,” tukasnya.

Peneliti Deradikalisme Bambang Pranowo mengusulkan agar ada paradigma beragama yang lebih sehat untuk dikembangkan. “Yang perlu dikembangkan di Indonesia itu adalah persamaan dan titik temu. Kalau yang dikedepankan perbedaan, satu agama saja akan berkonflik,” tukasnya.

Perwakilan KWI Romo Hariyanto mengatakan reaksi yang muncul atas kehadiran tersebut tidak sehat. Ia mengatakan, reaksi yang berlebihan justru akan menjatuhkan martabat Indonesia sebagai bangsa yang beradab. “Bangsa kita diidentifikasi sebagai bangsa yang maunya ngeroyok dan sebagainya. Kalau bangsa lain melakukan hal itu, apakah kita harus ikut? Sebaiknya kita juga yang kasih contoh yang lebih baik,” tukasnya.

Ketua Umum ICRP Musdah Mulia mengatakan demokrasi yang dianut Indonesia sekarang ini harus berujung pada kemaslahatan. “Jadi semua kelompok harus merasa nyaman,” tukasnya.

Semua tokoh agama sepakat bahwa film karya Nakoula Bacile tersebut sebagai film yang tidak layak dan hanya menimbulkan provokasi. Mereka mengecam kurangnya penghargaan serta rasa hormat semua pihak terhadap kekayaan tradisi agama yang berbeda.

Baik tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Budha serta aktivis dan akademisi yang hadir mengimbau agar protes dan reaksi atas film tersebut tetap mengedepankan nalar sehat, pikiran kritis dan rasional, serta tidak mudah terprovokasi demi persatuan dan kesatuan Indonesia. (OX/OL-2)

sumber: mediaindonesia.com

Anggap Saja Pembuat Karikatur Nabi di Majalah Prancis itu Orang Gila

Jakarta Belum selesai kehebohan yang ditimbulkan oleh film “Innocence of Muslims”, muncul karikatur Nabi Muhammad tanpa busana di sebuah majalah terbitan Prancis. Tidak perlu bereaksi keras, umat Islam diminta tidak terprovokasi oleh karikatur tersebut.

“Kita menganggap saja itu dikerjakan orang-orang tidak waras,” tutur Ketua Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia usai konferensi pers soal film “Innocence of Muslims” di PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (19/9/2012) petang.

Sebagai orang yang beragama, menurut Musdah, umat Islam harus mengedepankan sikap-sikap yang santun. Tunjukkan akhlak yang baik (akhlaqul karimah) terhadap sesama orang lain.

“Indonesia ini negara yang pluralis tanpa ada konflik satu dan yang lain,” terangnya.

Kartun ini telah menimbulkan kecemasan pemerintah Prancis. Berkaca dari gejolak internasional yang timbul karena film “Innocence of Muslims”, Prancis menutup kedubesnya di 20 negara pada hari Jumat.

“Saya baru saja mengeluarkan instruksi-instruksi supaya langkah-langkah keamanan khusus diambil di semua negara yang diperkirakan hal ini bisa menimbulkan masalah,” ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Laurent Fabius seperti dilansir AFP.

(gah/nrl)

 

Sumber: detik.com