Pemuda lintas agama: Kerukunan, sebuah harga mati

sumber: http://indonesia.ucanews.com

Forum Dialog Pemuda Lintas Agama Sulawesi Utara (Sulut) yang diadakan di Tasik Ria Resort, Mokupa mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait kerukunan umat beragama.Beberapa poin rekomendasi tersebut diantaranya, Kerukunan Umat Beragama merupakan keniscayaan dan harga mati di Sulawesi Utara; menolak segala bentu kekerasan dan intimidasi yang mengatasnamakan agama di Indonesia dan perlunya pembentukan sebuah forum kemunikasi pemuda lintas agama di Sulut dan semua kabupaten kota.
“Rekomendasi ini akan disampaikan sebagai pernyataan sikap ke Kementerian Agama,” kata Evangeline C Sepang SPAK, ketua Panpel yang juga Kasubag Hukmas dan FKUB Kanwil Kementerian Agama Sulut seperti dilansir tribunnews.com.
Diskusi yang berlangsung tiga hari ini (23-25 Agustus) diikuti tak kurang dari 100 orang pemuda perwakilan enam agama di Sulut.
Beberapa pembicara termasuk Pastor Yong Ohoitimur, Taufik Pasiak, Pdt Nico Gara, dan Evangeline Sepang. Pastor Yong menjabarkan materi: Kesaksian Orang Kristen dalam Masyarakat Multireligius, menjelaskan, kebebasan beragama merupakan hak setiap individu. Setiap orang berhak menyatakan iman, beribadah dan berpindah agama.
Sebagai warga Kristen, perlu mengedepankan ‘suara kenabian,’ membawa damai di tengah perseteruan dan sengketa. “Bangunlah hubungan dengan semua orang dalam semangat saling menghormati, bersama-sama mempromosikan keadilan, damai dan kesejahteraan umum,” kata Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Pineleng ini. Ia menawarkan rekomendasi guna merawat kerukunan, perlu memelihara relasi antar pemuda lintas agama dengan cara saling mengenal dan memperdalam pengetahuan tentang agama lain.
Taufik Pasiak menguraikan, pemuda wajib menguasai dan memahami ajaran agamanya sebaik mungkin sambil menyadari lewat berpikiran terbuka tentang entitas agama lain. “Tak bisa berpikir sempit. Itu menjadi benih radikalisme,” katanya.
Ia menjelaskan, pemuda wajib menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar tak ketinggalan.
Sebagai agen pembawa damai, pemuda perlu bersikap kritis. “Jangan muda menerima informasi yang kita terima. Kaji dulu agar bisa menetapkan keputusan tepat,” jelasnya. Sementara itu Ketua FKUB Sulut, Pdt Nico Gara yang memaparkan, dialog berperan penting memulihkan hubungan dua atau lebih pihak yang rusak. “Karena di sana ada penyampaian pesan dan saling tolong mengambil keputusan,” ujarnya.
Dalam konteks hubungan antarumat beragama, kerukunan yaitu kondisi hubungan antarumat beragama berlandaskan toleransi (baku hargai deng baku hormat), menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agama dan kerjasama dlm kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. “Peran pemuda dalam hal ini adalah menjadi pelaku dan pelopor dalam setiap gerakan pembaruan di pelbagai bidang kehidupan, termasuk agama,” katanya.

sumber: http://indonesia.ucanews.com/2012/08/27/pemuda-lintas-agama-kerukunan-sebuah-harga-mati

Ketua MK: Flores jadi miniatur Indonesia dalam kerukunan beragama

Sumber: http://indonesia.ucanews.com

Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Mohammad Mahfud MD mengatakan, Flores pada umumnya dan Kabupaten Manggarai Barat pada khususnya merupakan miniatur Indonesia dalam kerukunan umat beragama. Pluralisme yang sangat bagus dialami di Pulau Flores.
Umat beragama di Kabupaten Manggarai Barat, entah itu agama Katolik, Islam dan agama-agama lainnya, saling menghargai dalam kehidupan berbangsa, berneagara dan beragama dan selama ini tidak ada konflik antarpemeluk agama di Kabupaten Manggarai Barat dan di wilayah Pulau Flores.
Demikian pernyataan Mahfud, Rabu (22/8/2012), di rumah jabatan bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla, seusai jamuan makan malam bersama dengan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Alumni Seminari Beato Yohanes Paulus II, seperti dilansir kompas.com.
Mahfud menjelaskan, Indonesia harus belajar dari masyarakat Flores dan Kabupaten Manggarai Barat soal pluralisme yang sangat dibina dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan sosial dan keagamaan di Kabupaten Manggarai Barat, saat kunjungan ini, nampak jelas.
Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat berterimakasih atas kunjungan Mahfud sambil berwisata di Pulau Rinca, untuk melihat binatang langka yang hanya ada di Kabupaten Manggarai Barat.
Nampak hadir para alumni Seminari Beato Yohanes Paulus II dari Jakarta, Bali dan tempat lainnya di Indonesia dan luar negeri makan bersama, atas undangan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2012/08/27/ketua-mk-flores-jadi-miniatur-indonesia-dalam-kerukunan-beragama

Kasus Sampang: Gagalnya Penegakan HAM dan Pembodohan Umat

 

Lebaran baru saja usai dan kita telah memasuki bulan Syawal. Tapi apa hendak di kata, bulan Syawal, yang menjadi bulan baik menjadi berbeda maknanya, seperti yang dialami oleh kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura. Mereka dirundung  pilu dan awan kelabu yang terus menggelayuti sejak kemarin (Minggu/ 26/08/2012). Bahkan sejumlah media, sejak kemarin terus berupaya  menghubungi korban di tempat kejadian agar mengetahui kondisi terkini dari Sampang. Kemarin siang, sejumlah media mendapat kabar: bahwasanya pada pukul 11.00 pagi, telah terjadi penyerangan brutal kepada kelompok Syiah yang dilakukan oleh sekitar 500-an orang yang berkumpul dengan membawa pedang, pentungan, clurit sampai bom molotov. Imbasnya, kekerasan yang dilakukan oleh massa yang intoleran kepada kelompok Syiah tersebut, telah mengakibatkan banyak rumah yang luluh lantah karena dibakar, banyak warga yang mengalami luka berat saat mencoba melindungi diri, bahkan sampai ada seorang warga Syiah yang meninggal dunia.

 

Sisa bara api kembali menyala

Peristiwa ini merupakan imbas dari kasus sebelumnya yang tidak terselesaikan (atau memang tidak niat untuk diselesaikan) dari kejadian yang terjadi tanggal 29 Desember 2011, yaitu penyerangan kepada ustad Syiah yang bernama: Tajul Muluk. Pada penyerangan bulan Desember tersebut, ustad Tajul Muluk yang diserang, malah ustad tersebut yang didakwa dan ditahan kurungan selama 2 tahun dengan dakwaan penistaan agama. Kali ini, sisa bara api itu kembali menyala,  selepas bulan lebaran lagi.

Adanya kaitan peristiwa kemarin dengan kejadian tahun 2011 tersebut, seperti yang disampaikan oleh Iklil, abang ustad Tajul Muluk: ratusan massa yang kemarin datang adalah massa yang sama saat kejadian bulan Desember 2011. Namun kali ini penyerangan massa tidak lagi hanya ditujukan kepada properti ustad Tajul Muluk semata, melainkan kepada seluruh warga Syiah.  Hingga berita diturunkan, tanggal 27 Agustus 2012, kepolisian telah menangkap tujuh orang tersangka yang diduga terlibat dalam kasus penyerangan Syiah di Sampang.

Namun kasus kali ini, menjadi pelik karena tidak hanya menimbulkan korban fisik dan materi namun telah mengakibatkan telah meninggalnya seorang anak manusia. Kita semua kembali dihantui kasus Cikeusik di Banten. Menurut Iklil, Tiga hari sebelum terjadinya penyerangan sudah ada sweeping terhadap warga Syiah yang dibarengi dengan ancaman-ancaman kalau warga Syiah sampai bulan Ramadhan ini masih belum pergi dari wilayah yang ditempatinya maka para peneror menghabisinya. “Kita akan dibuat habis,” ucap Iklil.

 

Dehumanisasi banal!

Acaman dan intimidasi yang semula terjadi menjadi mata rantai yang mengarah kepada aksi pembunuhan. Dehumanisasi banal! Hal inilah yang juga dinyatakan oleh Musdah Mulia, selaku ketua ICRP. Menurut Musdah Mulia, “Pembunuhan terhadap orang Syiah di Sampang membuktikan gagalnya penegakan HAM di negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi ketiga di dunia. Sungguh ironis! Terlebih karena masyarakatnya dikenal sangat religius. Tragedi Sampang ini menambah jumlah noda hitam dalam sejarah pemerintahan SBY. Dan ICRP mengutuk para pelaku sebagai manusia biadab, mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus ini, dan mengajak masyarakat tetap bersatu menegakkan keadilan dan kedamaian untuk semua manusia.” Dalam penekanan kasus yang terjadi di Sampang ini, Musdah Mulia menggunakan kata “pembunuhan” yang menyiratkan sebuah kejahatan kemanusiaan. Beliau tidak lagi melihat ini hanya persoalan antara dua aliran agama yang berbeda. Penekanannya adalah telah terjadinya kejahatan kemanusiaan yang teramat banal!

Sedangkan Mohamad Monib, sebagai seorang aktivis HAM, yang asli orang Madura, lebih meneropong kalau kasus ini merupakan cermin kegagalan ulama dalam berpikir agar lebih dewasa. Menurut Monib, ”Kasus jamaah Syiah Sampang, bagi saya merupakan refleksi dari ketidakmampuan para ulama dalam mendewasakan cara pandang dan sikap beragama umat Islam. Kegagalan ulama dalam mendidik, mencerdaskan dan mengeluarkan umat dari keprimitifan dan kedangkalan mereka memahami Islam. Lebih lanjut aktivis ICRP ini mengatakan, “Bahkan, saya berpendapat ada ‘kesengajaan’ pembodohan umat. Agama, oleh ulama cenderung dibiarkan menyerupai fosil, beku dan mati. Islam tak lebih sekedar mantera-mantera dan bacaan tidak bermakna bagi kedamaian dan kemanusiaan. Sementara umara (pemerintah dan lembaga formil politik serta birokrasi) menikmati kebodohan umat menjadi lahan partisipasi dan suara politik. Sungguh mengecewakan dan menyedihkan. Apalagi kasusnya setelah Ramadhan dan Idul Fitri. Apa makna ibadah puasa yang mereka lakukan kemarin? Benar-benar sekedar berlapar dan berhaus ria semata.” ICRP juga bergabung dengan Aliansi Solidaritas Kasus Sampang bersama dengan civil society yang lainnya untuk terus mengawal kasus ini. *) Chris Poerba

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H

Segenap pengurus dan staff Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Minal ‘Aidin wal Faizin mohon maaf lahir dan batin.

Syiah Sampang Kembali Diserang

Warga Syiah di Sampang Madura kembali diserang oleh Massa Minggu (26 Agustus 2012) siang tadi. Massa yang berjumlah sekitar 500 orang tersebut menyerang dan merusak perumahan warga Syiah setempat. Dalam penyerangan tersebut 2 orang warga syiah meninggal dunia dan belasan rumah warga rusak.

Warga Syiah tersebut diserang oleh orang-orang yang tidak senang terhadap keberadaan mereka. Namun warga Syiah setempat memilih tetap bertahan. Korban tewas tersebut bernama hamama dan Tohir yang terkena bacokan senjata tajam. Selain itu empat orang juga mengalami luka serius dan enam mengalami luka ringan. Salah seorang yang dikenal sebagai ibunda pemimpin Syiah, Tajul Muluk, terkena lemparan batu dan pingsan.

Peristiwa tersebut dipicu setelah sekelompok orang mengahadang rombongan siswa dan orang tua yang akan mengantarkan anaknya ke Pesantren di pulau Jawa.  Mereka mengancam akan membakar mobil yang mereka tumpangi.

Sementara seperti diberitakan inilah.com beberapa wartawan yang melakukan peliputan di larang masuk kelokasi oleh sabagian warga lantaran isu adanya dipasangi bom atau ranjau yang teruat dari petasan bom untuk mengamankan rumah pengikut syiah.

Hingga berita ini di turunkan aksi pembakaran masih berlangsung dan beberapa aparat dari brimob nampak hanya menjaga di sekitar lokasi.

Kolom Musdah Mulia: Idul Fitri dan Spiritualitas Baru

 

Hari Minggu ini umat Islam merayakan hari kemenangan atau`Idul Fitri, 1 Syawal 1433 H setelah berpuasa selama sebulan penuh. Biasanya, ada dua ungkapan populer terdengar saat `Idul Fitri, yaitu min al-`aidin wa al-faizin (biasa ditulis: minal ‘aidin wal faizin) dan mohon maaf lahir batin. Banyak mengira, kalimat kedua adalah terjemah dari kalimat sebelumnya, padahal bukan. Ungkapan “mohon maaf lahir batin” merupakan tradisi khas umat Islam Indonesia, tidak dikenal di negara-negara Arab.

Min al-`aidin wa al-faizin sejatinya adalah do`a yang selengkapnya berbunyi: ja`alana Allah wa iyyakum min al-`aidin wa al-faizin. Artinya: semoga Allah menjadikan kita semua tergolong orang-orang yang kembali  dan memperoleh kemenangan. Do`a tersebut mengandung dua konsep, yakni al-`aidin (orang-orang yang kembali) dan al-faizin (orang-orang yang memperoleh kemenangan). Muncul pertanyaan, siapa yang dimaksud dengan mereka yang kembali dan memperoleh kemenangan?

 

Untuk membaca tulisan lebih lengkap, silahkan mengunduh:

http://www.ziddu.com/download/20170158/IdulFitridanSpiritualitasBaru.pdf.html

Kolom Musdah Mulia: Puasa Dan Pentingnya Keluarga

 

Islam sebagai agama memandang penting institusi keluarga. Tidak kurang dari 70 ayat Al-Qur’an berbicara tentang pentingnya keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang menentukan baik-buruknya suatu masyarakat.

Keluarga adalah sebuah institusi yang minimal memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: fungsi religius, fungsi afektif, fungsi sosial, fungsi edukatif, fungsi protektif, dan fungsi rekreatif. Suatu keluarga akan menjadi damai dan bahagia bilamana seluruh fungsi tersebut, dimulai dari fungsi religius berjalan optimal. Sebaliknya, bila pelaksanaan fungsi-fungsi itu mengalami masalah, akan terjadi krisis dalam keluarga. Di antara masalah yang sering mengganggu fungsi-fungsi keluarga sehingga tidak berjalan efektif adalah masalah syahwat.

Untuk menjamin agar seluruh fungsi keluarga berjalan optimal dan efektif, Islam menggariskan sejumlah prinsip sebagai etika moral dalam kehidupan keluarga, di antaranya sebagai berikut.

 

Untuk membaca lebih lengkap, silahkan mengunduh
http://www.ziddu.com/download/20170097/PuasadanKeluargaOutput.pdf.html

Pemerintah Manado akan bangun kawasan Religi semua agama

Pemerintah Kota Manado berencana membangun rumah ibadah semua agama yang diakui Negara dalam satu kawasan.

Walikota Manado Vicky Lumentut mengatakan, usai hari lebaran pihaknya akan membicarakan masalah rencana pembangunan tersebut dengan para pemangku kepentingan. Kata dia, kawasan rumah ibadah tersebut akan menjadi wisata religi Kota Manado.

“Di eks kampung Texas. Kita akan membangun menjadi kawasan religi kota Manado. Tempat kita menyatakan kebersamaan, kerukunan karena torang samua basudara (kita semua bersaudara) di Kota ini. Jadi itu kita akan bangun. Ada Masjid, ada bangunan Vihara, Pura dan bangunan gedung Gereja yang ada disana,” ungkap Lumentut seperti dilansir kbr68h.com.

Walikota Manado Vicky Lumentut menambahkan, bangunan masjid yang sebelumnya sudah berdiri di kawasan itu tidak akan dibongkar.

Nantinya, Masjid itu akan ditata kembali agar dapat menyesuaikan dengan bangunan rumah ibadah agama lainnya yang akan didirikan di kawasan wisata religi itu.

 

Sumber: http://indonesia.ucanews.com

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2012/08/13/pemerintah-manado-akan-bangun-kawasan-religi-semua-agama

 

 

Indahnya keberagaman dalam beragama

Tidak seperti biasanya, malam itu paduan suara Cantate Domino Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengiringi lagu bernuansa Islami yang dilantunkan Candra Malik dengan iringan musik Nusantara Kyai Menur.

Busana yang dikenakan para penyanyi juga berbeda. Candra Malik selaku penyanyi utama mengenakan busana islami berupa jubah lengkap dengan kopiah, sementara penyanyi pengiring paduan suara mengenakan jubah putih yang biasa digunakan dalam Perayaan Ekaristi di gereja.

Tak hanya dalam hal busana terkesan kontras, dalam musik yang disajikan juga terdengar lebih indah. Sedikit sentuhan koreografi yang disajikan para penyanyi juga menambah keindahan penampilan mereka.

Indahnya nuansa keberagaman itu sengaja ditampakkan dalam pergelaran musik bertajuk ”Persembahan bagi Bangsa, Merayakan Keberagamaan dalam Keberagaman” yang digelar di Ciputra World Plaza Surabaya, belum lama ini seperti dilansir kompas.com.

Pergelaran musik itu membawakan sejumlah tembang Kidung Sufi karya Candra Malik dengan iringan grup musik Kyai Menur.Menurut Candra Malik, lagu-lagu yang dibawakan malam itu dari album Kidung Sufi bertajuk Samudera Cinta, yang di antaranya berjudul “Seluruh Nafas”, “Hasbunallah”, “Fatwa Rindu”, dan “Syahadat Cinta” yang bercerita tentang cinta kasih, persaudaraan, dan kebebasan baragama.

“Ini untuk mengingatkan kembali bahwa bangsa kita punya bakat untuk hidup penuh cinta, rukun, dan damai; serta mengajak masyarakat untuk menjauhi segala bentuk kekerasan karena perbedaan suku, agama, dan ras,” katanya. Eksotisme musik rasa Nusantara yang dilengkapi sejumlah alat musik tradisional seperti kendang dan gending Jawa serasa lebih sempurna untuk dinikmati dengan dukungan sejumlah artis dan musisi pendukung, seperti Anji, Trie Utami, Leo Kristi, dan petikan gitar mantan gitaris Boomerang, John Paul Ivan.

Selain di Surabaya, kata Candra, konser musik yang membawa misi mendukung keberagaman beragama itu sebelumnya juga digelar di Jakarta dan Yogyakarta. Daerah lain yang akan disinggahi antara lain Bali, Bandung, dan Solo.

 

 

Sumber Foto: kompas.com

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2012/08/13/indahnya-keberagaman-dalam-beragama

 

 

Penutupan Gereja Paroki Parung Dinilai Ganjal

Senin (6 Agustus 2012) lalu Satuan Polisi Pramong Praja Kabupaten Bogor telah menyegel bangunan Gereja Paroki Santo Johanes Baptista di Kampung Tulang Kuning, Desa Waru, Kecamatan Parung. Penyegelan ini terjadi karena gereja yang telah ada sejak 6 tahun tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Menurut jemaat gereja penyegelan ini merupakan sesuatu yang ganjal. Pasalnya dari pihak gereja sudah melengkapi semua persyaratan IMB, namun sampai saat ini IMB tersebut belum turun juga.

“Keganjelan lain yang terjadi adalah ketika penyegelan terjadi surat penyegelan sama sekali tidak ada tanda tangan dari pejabat yang berwenang” tegas Hendrik salah satu Jemaat Gereja. Selain itu menurut jemaat, penyegelan gereja oleh Satpol PP menggunakan police line merupakan tindakan yang berlebihan.

Gereja Paroki Santo Johanes Baptista telah berdiri di Kampung Tulang Kuning selama 6 tahun. Saat ini hubungan gereja dengan lingkungan sekitar baik-baik saja. Seperti diungkapkan oleh ketua RT Yayank. “Semua warga saya telah menyetujui pendirian gereja ini” tegas Yayank.

Warga sekitar menurutnya juga telah melakukan persetujuan tertulis terhadap pendirian gereja tersebut. Namun dia juga heran kenapa sampai sekarang perizinan pembangunan gereja tersebut masih juga dipermasalahkan oleh pemerintah daerah. Ketika ditanya mengenai para pendemo yang melakukan aksi penutupan gereja, Yayank menjelaskan bahwa para pendemo itu bukan dari warganya atau masyarakat sekitar.

Sampai saat ini jemaat masih melakukan peribadatan ditempat yang sama. Sambil mencari titik temu permasalahan. Karena warga sekitar sama sekali tidak merasa keberatan dengan pendirian gereja tersebut. Seperti dokumen yang telah ditunjukkan kepada tim ICRP. [Mukhlisin]