Chris Poerba: Pendidikan Multikultur dan Pluralitas Budaya

 

Suatu ketika ada seorang yang dengan bangga mengatakan “Saya orang Indonesia!” maka pendapat ini tak sepenuhnya benar namun juga tak sepenuhnya salah. Tergantung bagaimana kita melihatnya.

Saya orang Dayak

Mengingat Indonesia sendiri terdiri beragam suku bangsa atau kesukubangsaan, maka penggunaan “Saya orang Dayak” akan lebih memungkinkan bila dibanding dengan sebutan: Saya orang Indonesia”.  Sebutan “Saya orang Indonesia”, sebenarnya sah-sah juga, namun kalau ditelisik maka hal tersebut masuk dalam pemaknaan kata Ika (dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika). Sehingga Ika merupakan negara Indonesia yang merupakan payung besar dari beribu-ribu suku bangsa yang ada di negara ini. Ika adalah Indonesia yang memayungi kita bersama. Penekanan terhadap ke-Ika-an, atau ke-Indonesia-an ini, sudahlah sangat jelas dan gamblang. Hal ini bukan hanya semakin banyak orang yang mengatakan “Saya orang Indonesia” namun karena telah di dukung oleh kurikulum pendidikan yang sifatnya lebih sentralistis (baca: terpusat).

 

lebih lengkap silahkan mengunduh:

http://www.ziddu.com/download/19794686/100_7642.JPG.html

Konser #BedaIsMe

Mencatat Kekerasan dan Menuntut Keadilan Tragedi 65

Kejahatan Kemanusiaan di tahun 1965/1966 merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Dari berbagai serpihan cerita yang terserak dari para korban, saksi dan pelaku terlukis catatan sejarah yang belum terkuak selama ini. Konflik politik dan kekuasaan melahirkan jatuhnya korban dikalangan masyarakat sipil yang dibunuh diluar proses hukum, ditangkap dan ditahan sewenang-wenang tanpa proses peradilan, disiksa, diperkosa hingga kehilangan harta benda.

Demikian sepetik penggalan Peluncuran Laporan “Menyusun Puzzle Pelanggaran HAM 1965” dan Pameran Sketsa 1965 yang diselenggarakan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) Kamis (28/06/2012). Acara ini juga  dibarengi dengan diskusi panel dengan pembicara Nur Kholis (Komisioner KOMNAS HAM), Bonnie Triyana (Sejarawan), dan Remy Silado (Sastrawan).

Dalam pemaparan tim KONTRAS, tragedi 1965 yang terjadi mempunyai dampak yang merugikan, terutama bagi keluarga korban hinggga saat ini. Pada tahun 2002 tercatat 1500 warga tahanan politik tahun 1965 masih diharuskan wajib lapor kepolisi.

Sementara itu, menurut Nur Kholis laporan-laporan serupa, seperti yang keluarkan KONTRAS mengenai tragdei 65 sudah banyak. Namun laporan-laporan tersebut tidak dapat dijadikan barang bukti. Karena menurutnya masih terhalang faktor legal formal. “Seperti data penggalian kuburan missalnya, kalau tidak mendapatkan izin dari Kejaksaan Agung, tidak dapat dijadikan barang bukti.” Ujarnya. Menurutnya hal-hal seperti itu terkadang masih menjadi kendala dalam menyelesaikan permasalahan ini.

Sastrawan Remi Silado justru menilai bahwa tragedi 1965 yang banyak menelan korban jiwa terhadap kader PKI, disebabkan balas dendam budaya. Berawal dari pidato manifesto politik Bung Karno, banyak kader PKI yang kemudian melakukan pemboikotan terhadap budaya-budaya yang berasal dari barat. Film-film dan musik-musik dari barat dilarang untuk diputar. Bahkan, dia mencontohkan, salah satu gedung bioskop di Bandung kala itu, dibakar oleh kadar PKI karena memutar film “Cow Boy” dari Amerika. Kegiatan seperti ini menurutnya memperburuk citra komunis. Dan tragedi 65 tersebut menurutnya adalah puncak balas dendam budaya tersebut.

Namun Sejarawan muda Bonni Triana menilai tidak tepat jika peristiwa 1965 tersebut diartikulasikan sebagai peristiwa balas dendam budaya. “Kecuali mungkin kasuistik dibeberapa lokasi, mungkin iya” kata Bonni. Namun dari penelitian dia selama ini, seperti yang telah dia lakukan di Purwodadi Jawa Tengah, menurutnya tidak ada unsur balas dendam budaya disana. Menurut Bonni, yang penting adalah mengubah stigma yang selama ini menimpa para korban. “banyak caranya, salah satunya adalah penulisan ulang sejarang dengan komprehensif, tapi  yang penting adalah political will dari pemerintah. [Mukhlisin]

Vida Semito: Perempuan Punya Sejarah

Vida Semito

Dalam kitab suci, dikisahkan penciptaan perempuan adalah dari tulang rusuk laki-laki, jika kita coba maknai secara filosofis, secara sederhana bisa kita katakana bahwa penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki adalah agar diperlakukan sejajar; equal, setara dengan kaum laki-laki, dan bukan diciptakan dari tulang kepala agar menjadi angkuh, sombong, merasa lebih tinggi dari laki-laki, pun tidak diciptakan dari tulang kaki agar mudah di rendahkan atau dihinakan oleh kaum laki-laki.

Jika perempuan selalu di identikkan sebagai kanca wingking (teman di dapur) yang sering ditafsirkan oleh masyarakat Jawa secara umum sebagai kepasifan perempuan dan tugasnya hanya seputar dapur-sumur-kasur, maka catatan dunia menyebutkan bahwa kontribusi perempuan tidak hanya sebatas sebagai penggembira (cheerleader) dalam sebuah koloni manusia atau hanya sebagai pemanis pada sebuah acara-acara seremonial. Banyak pemimpin-pemimpin perempuan yang tercatat dalam sejarah, dalam Al-Qur’an tercatat ada Ratu Balqis dari Sheba, dalam Alkitab pun mencatat seorang pemimpin perempuan yaitu Ratu Esther yang mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan bangsanya dari pemusnahan massal kala itu.

Bahkan jauh sebelum negara ini lahir, Nusantara (Indonesia) juga punya banyak pemimpin perempuan, sebut saja Ratu Shima memimpin kerajaan Kalingga yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah pada sekitar abad ke-6 Masehi. Ratu Shima di kenal sebagai pemimpin perempuan yang adil dan tegas dalam menegakkan peraturan di kerajaannya. Setelah Ratu Shima, pada abad 9 Masehi, tanah Jawa pun pernah memiliki pemimpin perempuan bergelar Tri Buana Tungga Dewi sang penguasa kerajaan Majapahit dan berhasil membawa kemasyuharan pada kerajaan ini turun temurun.

Jika dunia dan generasi sekarang mengenal dengan baik kisah Raden Ajeng Kartini dari Rembang yang menjadi ikon pahlawan kesetaraan gender, dalam masa penjajahan pun Indonesia punya perempuan-perempuan perkasa yang tidak banyak di ketahui andilnya dalam kisah-kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi, salah satunya adalah Laksamana Malahayati.

Tidak banyak orang yang tahu  bahwa Malahayati adalah Laksamana perempuan pertama di dunia, sebuah posisi yang setaraf jenderal di TNI dalam kesatuan angkatan laut (AL). Malahayati juga seorang pejuang dan panglima dari laskar Inong Balee, sebuah laskar yang pada awal pendiriannya mayoritas adalah para perempuan-perempuan janda yang suaminya terbunuh dalam pertempuran Aceh melawan Portugis.

Dengan jabatannya sebagai seorang laksamana, sebagaimana pemimpin tertinggi pada masa itu, Malahayati turut serta bertempur di garis depan bersama anak buahnya laki-laki dan perempuan melawan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur selat Malaka.

Dibawah kepemimpinan Laksamana Malahayati Angkatan Laut Aceh berkembang pesat dengan ribuan armada kapal perang dan sepak terjang Laksamana Malahayati dalam mengusir penjajah yang hendak masuk ke tanah rencong ini membuat dirinya di segani baik kawan maupun lawan, salah satunya adalah kerajaan Inggris yang akhirnya memilih menggunakan jalur damai untuk masuk ke tanah Jawa melalui Sultan Aceh.

Nama Malahayati tidaklah sepopuler nama R.A Kartini ataupun Cut Nyak Dien yang sama-sama berasal dari tanah rencong, meski kini nama itu kini hanya bisa dikenali lewat nama jalan, nama kapal perang milik Indonesia bahkan lukisan wajahnya hanya terdiam membisu di satu sudut ruangan di sebuah museum kapal selam di Surabaya, Laksamana Malahayati sudah menorehkan tinta emas dalam sejarah bahwa perempuan dengan kelembutan hatinya, dengan ketajaman jiwa dan intuisinya, dengan ketulusan cinta dan pengabdiannya pada umat manusia, perempuan  bisa memimpin sama baiknya dengan kaum laki-laki dan perempuanpun bisa punya sejarah *)

Sekolah Agama ICRP: Pemutaran Film ‘Around the World in 80 Faiths’ Karya Peter Owen-Jones (29 Juni 2012)

 

Pendahuluan 

Sepanjang sejarah, agama telah berperan penting bagi peradaban dunia. Agama di satu sisi telah memberikan sumbangan yang besar dan positif bagi perkembangan kehidupan sosial dan juga ilmu pengetahuan serta teknologi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa agama di sisi lain juga terlibat dalam berbagai kerusakan moral hidup orang banyak. Tak jarang karena persoalan teologis, ekonomi, pendidikan, kesenjangan sosial dan kecemburuan sosial, manusia berani mengatasnamakan agama yang dianutnya, untuk menghakimi dan mendiskriminasikan sesamanya yang menganut agama yang berbeda, dengan menggunakan kekerasan baik yang secara pribadi maupun struktural.

Maka dari itu harus diakui bahwa konflik antar agama merupakan suatu hal yang telah mewarnai sejarah peradaban dunia. Salah satu upaya untuk menghilangkan terjadinya konflik antar agama adalah dengan mengadakan dialog antar agama. Hal ini disebabkan karena, melalui dialog antar agama kita dapat belajar untuk memandang segala perbedaan secara positif.

Sepanjang sejarah agama-agama di dunia, upaya dialog dengan agama yang berbeda telah dilakukan oleh agama-agama misi atau dakwah seperti Kristen dan Islam. Hal ini disebabkan karena dialog antar agama merupakan bagian integral dalam upaya menjalankan misi atau dakwah. Dialog antar agama pun, juga memiliki banyak contoh yang antara lain, dialog Iman atau Spiritual, dialog Teologis dan dialog Kemanusiaan.

Salah satu contoh dialog antar agama yang bersifat dialog Iman atau Spiritual dan dialog Teologis adalah seperti yang dilakukan oleh Pendeta Anglikan dari Inggris yang bernama Peter Owen-Jones, melalui film dokumenternya yang berjudul “Around the World in 80 Faiths”. Di dalam film itu, Pendeta Peter Owen-Jones memperlihatkan bagaimana dirinya sebagai rohaniawan Kristen, berani melakukan perjalanan spiritual ke berbagai penjuru dunia, dengan berusaha mempelajari agama-agama lain yang ada di setiap tempat yang ia kunjungi tersebut.

Perjalanan spiritual dari Pendeta Peter Owen-Jones ini sangat menarik, karena agama-agama lain yang ia pelajari, tak hanya agama-agama yang telah terlembagakan tetapi juga agama-agama lokal atau suku yang belum terlembagakan dan cenderung dipandang sebelah mata oleh kalangan masyarakat modern.

Maka dari itu demi terciptanya dialog antar agama-agama, baik yang bersifat dialog Teologis maupun dialog Iman atau Spiritual, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) merasa perlu untuk menyebarkan pengetahuan tentang agama-agama lain serta dialog antar agama-agama, melalui kegiatan Sekolah Agama dalam bentuk pemutaran film dokumenter yang berjudul “Around the World in 80 Faiths” dari BBC dengan narasumber Bapak Pendeta Nelman A. Weny, MTh.


Tujuan

Adapun tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Membahas bagaimana sudut pandang Iman dan Teologi Kristen dalam melihat perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Pendeta Peter Owen-Jones.
  2. Membahas peran agama misi atau dakwah dalam hal ini adalah Kristen, dalam dialog antar agama.
  3. Membahas peran agama Kristen dalam menjalankan misi serta melestarikan agama-agama lain yang ada.

 

Waktu dan Tempat

Adapun pelaksanaan acara akan diselenggarakan pada

Hari/ Tanggal  : Jum’at, 29 Juni 2012.

Waktu             :  Pukul 19.00 – 21.00 WIB

Tempat            :  Sekretariat ICRP, Jl. Cempaka Putih Barat XXI No. 34 Jakarta Pusat.

 

Pertanyaan-Pertanyaan Penting

Adapun materi-materi yang secara garis besar akan didiskusikan, terangkum dalam beberapa pertanyaan penting berikut ini:

1.) Bagaimana pandangan Iman dan Teologi Kristen dalam melihat perjalanan spiritual yang dilakukan oleh Pendeta Peter Owen-Jones?

2.) Apakah dialog Iman atau spiritual dan dialog Teologis yang dilakukan oleh Pendeta Peter Owen-Jones dapat diterapkan di Indonesia oleh para pemuka-pemuka agama yang ada di Indonesia?

3.) Seberapa pentingkah pengetahuan akan Iman dan Teologi agama-agama lain bagi umat Kristiani dan umat agama lainnya?

4.) Berdasarkan sudut pandang Iman dan Teologi Kristiani, manakah bentuk dialog yang harus dijalankan dan didahulukan, antara dialog Iman atau Spiritual, dialog Teologis dan dialog Kemanusiaan?

 

Penutup

Demikian kiranya Terms of Reference (TOR) Sekolah Agama ini kami buat. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua dalam memajukan perkembangan kemajemukan dan kebhinekaan Indonesia demi persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Mereka Menyerukan Toleransi di Dunia Maya

KOMPAS.com – Toleransi adalah sikap dan perbuatan yang melarang diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima mayoritas dalam suatu masyarakat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata toleransi adalah dua kelompok yang berbeda tetapi dapat saling berhubungan.

“Inilah yang sedang saya perjuangkan. Apakah Indonesia negara toleran? Tidak. Banyaknya pemaksaan kehendak dari mayoritas terhadap minoritas adalah bukti masyarakat Indonesia belum mampu bertoleransi.”

Catatan lugas itu tampil pada laman blog http://dianparamita.com milik Dian Paramita, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Dia menjelaskan tujuan blognya, yaitu untuk berbagi cerita, menyampaikan kritik kepada pemerintah, dan mencoba mendorong Indonesia menjadi negeri yang lebih baik. Teks itu ditampilkan 2 Juni 2012.

Di blog lain, Sifa Ningrum, mahasiswi Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat, juga punya ulasan soal toleransi. Pada laman blog http://sifaberkatakata.blogspot.com/, 30 April 2012, dia mengisahkan pengalamannya berbaur dengan banyak siswa dari berbagai agama saat sekolah.

”Sejak SD hingga SMA saya mengenal perbedaan, namun tak pernah mempermasalahkannya. Sekolah saya memang menjunjung tinggi pluralisme, mungkin karena itu terdapat tujuh agama, saudara-saudara! Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, Konghucu, dan Saksi Jehova. Dan semua agama tersebut difasilitasi dengan baik oleh pihak sekolah.”

”Sekolah juga pernah mengadakan acara Religion’s Day sebagai pengenalan agama-agama bagi siswa. Tidak mendasar, hanya seperti apa yang dirayakan, sejarah dan cara beribadah oleh umat beragama lainnya.”

Blog Dian Paramita dan Sifa Ningrum mungkin bisa mewakili banyak blog lain yang dikelola kaum muda di Indonesia saat ini. Meski dirancang sebagai blog pribadi yang memuat beragam tema, sebagian mirip curahan hati (curhat), mereka menyisipkan catatan tentang toleransi. Ini menerbitkan harapan baru.

Revolusi teknologi kian mendorong internet menjadi media yang canggih. Lewat beragam fasilitas dan jaringannya, masyarakat bisa membangun komunikasi yang interaktif, mudah, massal, dan jauh lebih cepat. Lebih dari sekadar berkomunikasi, media ini juga menjadi ruang berekspresi yang asyik.

Sebagai gambaran, tahun 2011, ada sekitar lima juta blog dari Indonesia dengan beragam tema. Dengan populasi sekitar 238 juta, ada sekitar 34 juta pengguna internet di Indonesia. Jumlah itu tidak termasuk pengguna internet lewat perangkat mobile atau smartphone. Sekitar 70 persen pengguna media baru ini adalah generasi muda usia 14-30 tahun.

Rebut media

Toleransi sebenarnya belum menjadi isu utama di antara kaum muda pengguna media ini. Sebaliknya, beberapa kelompok radikal telah memanfaatkannya untuk menyebarkan ideologi, mengorganisasi diri, bahkan menggalang dana. Sebagian dana itu kemudian disalurkan untuk kegiatan mereka.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (21/6), Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengajak masyarakat merebut media internet untuk mengampanyekan toleransi, demokrasi, dan pluralisme. Kita harus berkompetisi dengan kelompok-kelompok radikal yang lebih militan memanfaatkan media baru itu. ”Jika kita tak bergerak ke arah itu, media baru itu akan dibajak untuk membunuh demokrasi dan toleransi,” katanya.

Langkah ini juga strategis karena kaum muda sangat dekat dengan media baru ini. Media konvensional seperti buku, ceramah, atau tatap muka langsung dirasa tidak lagi cukup untuk menjangkau generasi baru.

Kampanye semacam ini menjadi lebih relevan di tengah merosotnya sikap toleransi di Indonesia belakangan ini. Data beberapa lembaga pemerhati pluralisme menunjukkan tindakan kekerasan atas nama agama, etnik, atau golongan kian marak.

Pemerintah lambat

Situasi kian runyam karena pemerintah cenderung lambat menangani berbagai kekerasan itu. Pada beberapa kasus, aparat keamanan malah terkesan membiarkannya. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan masih lemah. Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan jaminan negara akan kebebasan beribadah dan berkeyakinan, belum sepenuhnya terwujud.

Tentu saja, kampanye toleransi lewat media internet menghajatkan strategi dan pendekatan yang lebih luwes. Cara indoktrinasi satu arah tak bisa lagi diandalkan untuk menyapa kaum muda yang lebih dinamis dan terbuka. Perlu pendekatan komunikasi yang lebih fleksibel, mengajak berpikir, serta lebih segar.

Bagi Direktur Program Yayasan Paramadina Ihsan Ali Fauzi, kampanye lewat media internet harus bisa membuat publik merasa membutuhkan toleransi. Kita perlu sekali terus saling mengingatkan. Hanya dengan bersikap toleran, menerima perbedaan, dan menghargai pilihan orang lain, kita bisa hidup damai di tengah bangsa yang majemuk karena agama, etnis, budaya, dan golongan. Diskusi tentang kenyataan hidup sehari-hari lebih gampang menyentuh semua kalangan.

Dalam hal ini, kita bisa menyimak tulisan Rahmawati, perempuan muda, dalam blognya, http://namasayarahmawati.blogspot.com/ yang gelisah dengan berbagai kekerasan, bahkan terorisme, yang kerap mengatasnamakan agama.

”Mungkin saya perlu belajar lebih jauh. Mungkin juga Anda perlu belajar lebih jauh. Di Bangsa yang terdiri dari berbagai etnis ini, penting adanya saling memiliki dan menyayangi. Supaya kita Raya lagi.”(Ilham Khoiri)

Sumber: kompas.com

Berharap Cagub/Cawagub Sensitif Gender

Menjelang pemilihan kepala daerah(pilkada)  11 Juli mendatang calon-calon gubernur dan wakilnya diberi kesempatan untuk mempromosikan visi misinya kepada perempuan aktivis yang tergabung dalam Jaringan Kerja Perempuan Perdamaian Indonesia (21/06/2012) dalam acara “Dialog bersama para cagub/cawagub DKI Jakarta 2012” di pelataran kantor komnas perempuan Jl. Latuharhary, Menteng Jakarta.

Mengevaluasi kinerja pemerintah DKI sebelumnya rupanya banyak Pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan oleh calon kepala daerah DKI mendatang perspektif  perempuan. Harian kompas(21/06/12)  menampilkan artikel tentang Indonesia Negara gagal. Kegagalan Indonesia adalah kegagalan pengambil kebijakan dalam menyoal isu perempuan. Jumlah perempuan lebih dari 50% jumlah seluruh warga Indonesia, setiap persoalan perempuan adalah juga merupakan persoalan Negara. Dari masalah pendidikan, air bersih, lahan hijau, kesehatan, sampah, jumlah penduduk, dll. Deretan fakta tersebut adalah alasan kuat komnas perempuan mendukung terselenggaranya dialog ini.

Data catatan tahunan Komnas Perempuan  tentang KDRT(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) di DKI tahun 2011 ada 860 korban KDRT/tahun. Ada kesenjangan antara kebutuhan masyarakat  dengan kemampuan Negara dalam menyoal kasus KDRT. Hanya ada 2 lembaga Negara yang melayani isu KDRT,  39 lembaga lainnya swadaya masyarakat.

Laporan penggusuran  tahun 2008 tercatat 12.500 kasus.  PHK(Pemutusan Hubungan Kerja) buruh tahun 2007, 22.000 kasus/thn. Kasus PRT(Pembantu Rumah Tangga) juga meningkat padahal PRT adalah roda penopang ekonomi sosial politik warga ibukota. Kehadiran PRT merupakan pendukung aktivitas kita yang bekerja di luar rumah.  PRT berhak mendapat perlakuan layak dan manusiawi. Apalagi Negara sudah berkomitmen terhadap realisasi konvensi ILO 189. Segelintir  minoritas  opresif yang menggunakan politisasi agama untuk menyebarkan teror  dan kerusuhan cukup mengganggu kenyamanan hidup lintas iman, lalu sejumlah hal yang mentargetkan perempuan dalam  isu rok mini.

Terkait Human Right, ada peristiwa 1965 dan peristiwa Mei 1998 yang masih segar dalam ingatan dan tidak kunjung selesai. Peristiwa itu patut untuk selalu diingat sebagai memorilisasi kasus pelanggaran HAM yang pernah ada. Dalam konteks ini DKI harus jadi inisiator, Intinya supaya Negara punya komitmen agar tidak ada lagi pelanggaran terhadap HAM.

Pendidikan kita sudah masuk  ke dalam jurang terdalam. Sistem pendidikan sekarang mendidik anak-anak untuk berbohong dengan memberikan bocoran soal-soal Ujian Nasional. PLBJ(Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta)  yang disodorkan di sekolah tidak menjawab kebutuhan untuk mengangkat kearifan lokal. Materi yang ada menonjolkan teori  daripada praktek lapangan untuk berkunjung secara langsung cagar budaya Jakarta. Masih banyak guru-guru tidak memberikan contoh untuk tidak merokok. Sementara di daerah lain sekolah lingkungan sudah ratusan jumlahnya, DKI Jakarta hanya punya 2 sekolah. Belum lagi berkurangnya lahan hijau dan area dimana anak-anak bisa mengekspresikan diri. Mungkinkah pembangunan ibukota ditinjau ulang untuk mengusahakan hal ini? Kepala daerah mendatang ditantang untuk lebih aktif dalam program peduli lingkungan dan pendidikan.

Isu tingginya kematian ibu masih menjadi sorotan  dunia Internasional. Tidak adanya pendidikan seksualitas di sekolah secara komprehensif merupakan masalah utama mengapa semakin tahun jumlah aborsi meningkat, begitu pula dengan HIV, tidak diurusnya family planning,dsb. Padahal tujuan utama pendidikan seksualitas(sexual reproductive health and right) adalah supaya anak-anak muda lebih memahami fungsi organ dalam tubuhnya, bagaimana memahami tubuhnya, melindungi dari penyakit,dsb. Negara sebaiknya segera memperbaiki system kerjanya untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan, mengusahakan pendidikan anak-anak yang sehat fisik dan mental. Mengingat konvensi Internasional tentang hak reproduksi juga sudah diratifikasi oleh Indonesia.

Jakarta merupakan barometer dan cermin bagi daerah lainnya untuk setiap kebijakan yang diambil. Adanya Otonomi daerah memberi peluang strategis kepala daerah untuk mengusahakan program yang lebih manusiawi.   Secara khusus pengamat perempuan berharap pada Gubernur terpilih nantinya agar mampu mengusahakan program yang sensitive gender. Sebab terpenuhinya kebutuhan perempuan juga barometer keberhasilan suatu Negara. Apakah Gubernur mendatang sanggup memenuhi tuntutan tersebut? Semoga saja.   (Lucia Wenehen)

Maarif Institute Meluncurkan Buku “Membuka Mata Tertutup”

Peluncuran Buku "Membuka Mata Tertutup”

 

Hari Kamis, 21 Juni 2012, Maarif Institute menyelenggarakan siaran pers peluncuran dan diskusi buku “Membuka Mata Tertutup”. Buku ini memuat kompilasi komentar dan resensi mengenai film “Mata Tertutup”, yang pada 2011 lalu dirilis oleh lembaga yang sama. Bertempat di Kafe Tjikini,, sekumpulan aktifis, blogger, kritikus film, dan kelompok masyarakat lainnya berkumpul mendiskusikan film dan buku ini.

Khelmy K. Pribadi, manajer program dari Maarif Institut yang membuka acara ini mengungkapkan keprihatinan atas peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Ini mencerminkan betapa isu intoleransi beragama sudah menjadi hal yang urgent. Penangkapan pelajar di Klaten tahun lalu terkait rencana aksi pemboman masjid dan kantor polisi, dan terakhir penggerebekan asset tersangka teroris di Medan tanggal 21 Juni 2012. Selanjutnya  kabar dari The New York Times edisi 21 Mei dan Survey Litbang Kompas yang dimuat 8 Juni 2012, semakin memperlihatkan betapa intoleransi menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh semua pihak.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq mengamini hal ini seraya menambahkan bahwa Maarif Institute berkeinginan agar “massa mengambang” (istilah Fajar untuk kelompok dengan pilihan ideology yang belum solid) dapat didekati untuk diajak berdialog. Pilihan Maarif Institute kemudian jatuh pada media popular semisal film, sosial media, dan media popular lainnya yang memang lebih akrab digunakan oleh massa mengambang ini.

Dalam diskusi lebih lanjut, Hikmat Darmawan, seorang kritikus film terkemuka Indonesia memberikan apresiasi tinggi pada langkah yang telah diambil oleh Maarif Institute ini. Menyinggung film “Mata Tertutup”, Hikmat memuji teknik pengambilan gambar yang minim efek artistik karena membawa penonton untuk lebih dekat pada realitas yang dibangun dalam film ini. Pilihan untuk membuat buku kompilasi ini juga dipandang sebagai langkah maju karena dapat membuka ruang dialog yang sehat dan kampanye Maarif Institut dalam memperkenalkan radikalisme menjadi lebih terarah.

Pilihan komunikasi (media dan bahasa) ini kemudian menjadi bahan diskusi menarik dalam acara ini. Pandangan bahwa media audiovisual dan sosial media yang selama ini dianggap sebagai media komunikasi banal, yang tidak bisa cukup dalam membahas bahkan lebih sering mengambangkan sebuah masalah, pada diskusi ini dibahas dengan cukup lengkap oleh Hikmat Darmawan. Menurutnya, sudah saatnya para aktifis pluralis melakukan apa yang disebutnya dengan revolusi media. Selama ini, para aktivis pluralis lebih banyak memaksakan pembahasan panjang melalui jurnal, majalah, dan media “aksara” lainnya. Para intelektual kita ternyata gagap jika memasuki dunia dengan media baru semacam facebook, twitter, film, dan media popular lainnya. Hal ini menjadikan para intelektual kita terpinggirkan dan tidak dapat menjadi intelektual publik. Menurut Hikmat, sudah saatnya para aktifis dan intelektual pejuang pluralis untuk mulai belajar cara menggunakan media popular sehingga pesan mereka bisa lebih tersampaikan. Hasil survey Kompas seharusnya cukup menjadi peringatan bahwa: bahkan kelas menengah yang diharapkan menjadi penggerak demokrasi pun sudah mulai lepas dan menjadi intoleran, karena kelompok-kelompok intoleran ternyata lebih fasih dalam penggunaan media-media popular. Contoh lainnya adalah kalah masifnya gerakan #IndonesiaTanpaFPI dibandingkan dengan #IndonesiaTanpaJIL di twitter. Peluncuran dan Diskusi Buku “Membuka Mata Tertutup” kemudian harus diakhiri karena sempitnya waktu.  (NhR.)

Pluralisme Juga Ada di Indonesia

SAINT PETERSBURG, KOMPAS.com– Dengan segala kekurangannya yang mungkin masih bisa diperbaiki, Indonesia juga memiliki nuansa kerukunan hidup beragama dan juga kerukunan antar-suku. Setidaknya hal ini sudah diamanatkan para tokoh masa lalu bangsa dan juga dirasakan oleh warga.

Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin, di Saint Petersburg, Rusia, Kamis (21/6/2012), sebagaimana dilaporkan wartawanKompas Simon Saragih.

Dia mengatakan itu di tengah kunjungan untuk studi perbandingan pluralisme di Rusia. Acara ini juga diikuti Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Noer Fajrieansyah, Wakil Sekjen bidang Hubungan Internasional PB HMI Muhammad Chairul Basyar, Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Addin Jauharudin, Sekjen Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma) Dhika Yudistira, Ketua Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) Putut Prabantoro.

Addin mengatakan demikian setelah mendengarkan penjelasan berbagai tokoh di Rusia yang dikunjungi yang selalu menekankan keberadaan hubungan yang harmonis di antara berbagai suku dan umat antar-agama. “Kita juga memiliki hal itu,” kata Addin.

Addin menambahkan, keharmonisan antar-warga di Indonesia harus tetap dipelihara. “Kita harus semakin memperkuat lewat implementasi tentang pluralisme yang sudah sejak lama ditekankan para tokoh masa lalu bangsa,” lanjut Addin.

Hal ini amat penting, karena Indonesia ada di tengah pusaran globalisasi dimana demokrasi menjadi tuntutan dan dengan demikian juga pluralisme juga harus diperkuat. Sebaiknya, lanjut Addin, kita berhasil mengimplementasikan secara menyeluruh pluralisme sehingga dengan demikian Indonesia bisa memikirkan dengan lebih tenang berbagai program pembangunan ekonomi dan sosial bangsa.

Dia mengingatkan betapa masih banyak persoalan yang membutuhkan penanganan serius seperti pemberantasan kemiskinan, ketimpangan sosial dan juga berbagai masalah sosial ekonomi dan politik.

Sumber: kompas.com

Al-Qur’an pun Dikorupsi

Lagi-lagi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membeberkan dugaan korupsi yang terjadi dilingkungan pemerintahan. Namun, dugaan korupsi ini cukup mengejutkan masyarakat karena yang dikorupsi adalah proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an dilingkungan kementrian agama.

Hal tersebut telah diungkapkan ketua KPK Abraham Samad, pihaknya tengah menyelidiki proyek pengadaan kitab suci Al-Qur’an yang diduga korupsi tersebut. “sudah kita selidiki” kata Abraham di gedung DPR RI, Rabu (20/06/2012) kemarin seperti dikutip jppn.com

Abraham menambahkan dugaan korupsi pengadaan Al-Quran di Kementerian Agama terjadi di Direktorat Jenderal Pendidikan Agama Islam. “Korupsi tersebut terjadi ketika yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam adalah Nasarudin Umar,” kata Abraham dalam vivanews.com Rabu (20/06/2012). Namun, Abraham tidak membeberkan secara detail siapa pejabat di Kementrian Agama yang terlibat dugaan kasus tersebut.

Belum diketahui berapa kerugian Negara yang dikorupsi dalam kasus tersebut. Namun KPK telah melakukan gelar perkara dugaan korupsi di kemenag itu. Dari penyelidikan yang telah dilakukan , KPK telah memiliki bukti kuat tentang adanya kerugian negara dalam proyek itu.

Menurut Wakil Ketua KPK Bambang Widjoyanto, penyidik KPK masih menyelidiki modus korupsi yang dilakukan. Apakah termasuk perbuatan melawan hukum berkaitan penyuapan atau penyalahgunaan kewenangan. “Maka harus dilihat berapa kerugian negara, kami masih pendalaman.” Ungkapnya dalam tempo.co, Rabu (20/06/2012).

Atas merebaknya dugaan korupsi ditubuh Kementrian Agama, banyak pihak merasa prihatin dengan keadaan belakangan ini. Pasalnya Kementrian Agama merupakan lambing moral dan akhlak bangsa. “Saya ini malah terkejut berdasarkan survei, Kementerian Agama malah terpuruk,” kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Andi Nirwanto, dalam acara Sarasehan Kejaksaan Agung di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Minggu 4 Desember 2011 dalam kutipan vivanews.com. Lanjutnya “Ini sangat prihatin karena Kementerian Agama itu lambang moral. Tugasnya membina moral dan akhlak bangsa.”