Polisi Syariah di Tasikmalaya?

KBR68H – Pemerintah Kota Tasikmalaya yang berencana membetuk Polisi Syariah untuk menerapkan ajaran agama Islam sesuai Perda tahun 2009.  Perlukah  Polisi Syariah di Kota Santri itu? Apa dampaknya jika perda ini diberlakukan? Simak pemapaparan Peneliti SETARA Institute, Ismail Hasani berikut ini.

Di Tasikmalaya Jawa Barat ada polisi syariah, tanggapan anda seperti apa?

Ada dua hal yang memicu kecenderungan semacam ini di beberapa tempat.  Pertama soal peluang yang diberikan oleh KUHAP kita, tentang PPNS (Penyidik Pegawai  Negeri Sipil), artinya di sebuah institusi dimungkinkan membentuk satu PPNS untuk menegakkan hukum-hukum atau produk perundangan yang relevan dengan institusinya. Seperti kita tahu di Perhubungan, Kehutanan, Perkebunan ada PPNS, peluang ini yang kemudian disalahgunakan dalam hemat saya untuk mencetak aparatur-aparatur yang bertugas tidak sesuai dengan peruntukkannya. Di Aceh misalnya kita lihat juga hal yang sama didasarkan pada peluang ini, alasannya selalu peluang membentuk PPNS dimungkinkan untuk menegakkan peraturan perundangan, termasuk peraturan daerah dalam hal ini Perda, peraturan bupati, dan seterusnya.

Kedua, khusus terkait pembentukan PPNS yang berkaitan dengan tugas mengatur moralitas publik, ini juga sebenarnya kekeliruan dalam memandang persoalan apakah dia adalah domain hukum, apakah dia domain moralitas. Perlu diketahui bahwa norma-norma yang hidup di tengah masyarakat itu tidak semuanya bisa didekati dan diselesaikan dengan pendekatan hukum, karena dia bukan norma-norma hukum tapi norma non hukum. Norma non hukum ini macam-macam, ada norma agama, norma adat, norma-norma yang hidup di tingkat lokal ini tidak bisa semuanya didekati dengan pendekatan hukum.

Apa yang terjadi di Tasikmalaya dan tentu saja sudah lama terjadi di Aceh ini adalah satu upaya menarik aspek-aspek moralitas didekati dengan pendekatan hukum yang hampir bisa dipastikan hasilnya ini tidak akan efektif. Karena wilayah kerja hukum adalah wilayah kerja yang konkret, terukur, positifistik tentu saja, sementara wilayah-wilayah kerja moralitas tentu saja norma-normas semacam ini sangat relatif, multitafsir, debatable, sulit akan ditegakkan yang pada akhirnya kemudian hanya melipatgandakan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat.

Artinya ada potensi pelanggaran hak asasi manusia dalam pembentukan polisi syariah ini?

Tentu, kalau dia bukan objek yang harus didekati dengan hukum lalu dipaksa dan didekati dengan hukum untuk ditegakkan, maka dia menjadi korban kesewenang-wenangan aparat.

Apakah anda melihat ada dorongan dari kelompok-kelompok tertentu untuk mewujudkan ini?

Seperti kita ketahui, misalnya kami pernah meriset di 17 kabupaten/kota di 7 provinsi, kabupaten/kota yang menegakkan syariat Islam dan kemudian juga tidak eksplisit membentuk aparatur penegaknya. Tapi selalu saja selain memang ini adalah ada aspirasi ideologis kelompok-kelompok tertentu untuk menegakkan syariat Islam di satu wilayah, dan juga kemudian dia menjadi komoditas politik yang dianggap menarik bagi elit-elit politik di tingkat lokal sehingga yang terjadi adalah politik akomodasionis.

Elit lokal mengakomodasi kepentingan-kepentingan kelompok tertentu dengan imbalan-imbalan insentif politik tertentu pula. Artinya dia tidak bisa melulu dilihat sebagai sebuah ekspresi aspirasi ideologis kelompok saja, tapi juga harus dibaca sebagai satu isu politik dimana beberapa kelompok memainkan sebagai komoditas.

Selama ini Tasikmalaya dikenal sebagai kota santri, kemudian mereka membentuk polisi syariah. Apakah ini tidak akan menjadi preseden buruk bagi mungkin kota-kota lainnya?

Potensi tentu saja selalu ada, kalau ada aksi pasti ada reaksi. Tapi saya kira disinilah pentingnya kita mendiskusikan dan menekankan agar ini tidak melahirkan preseden atau tidak menjadi rujukan bagi wilayah-wilayah lain. Saya kira Kementerian Dalam Negeri harus menegur, kalau memang dia sudah menjadi peraturan daerah dan belum berumur 30 hari harus segera dievaluasi, kalau memang sudah ditetapkan peraturan ini dan lebih dari 30 hari maka dia harus diajukan judicial review.

Karena jelas ini sama saja membentuk aparat-aparat baru yang menjadi alat baru, represi bagi masyarakat. Karena wilayah-wilayah moralitas semacam ini, saya yakin betul dari hasil penelitian yang kita lakukan tidak memberikan keadilan tidak bisa ditegakkan. Karena kalau kita lihat substansi kehidupan masyarakat sesungguhnya berbeda jauh dengan kampanye formal yang dilakukan oleh aparat-aparat pemerintah.

Sumber: kbr68h.com

Ketua PBNU: Toleransi Beragama Harga Mati

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus intoleransi di Indonesia tengah mendapat sorotan dunia internasional, terutama terkait dengan kebebasan beragama. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj menegaskan toleransi harus diwujudkan oleh semua agama.

“Toleransi beragama itu perlu,” ujar Said Aqil kepada wartawan seusai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (29/5).

Tidak hanya kasus yang banyak disorot karena terjadi beberapa pelarangan pembangunan gereja. Namun juga Said mencontohkan, sulitnya ketika umat Islam yang minoritas di Papua atau Kupang, Nusa Tenggara Timur, hendak membangun masjid. Begitu juga ketika akan ada pembangunan gereja di wilayah di mana umat kristiani menjadi minoritas.

“Jadi sebaiknya semua kumpul, buka-bukaan. Mari kita bangun betul semangat nation building ini,” tutur Said.

Presiden, lanjutnya, meminta NU untuk mengambil peran dalam membangun nation dan character building. Said lantas menyebutkan contoh peran NU dalam kasus Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Ciketing, Bekasi.

Dia menegaskan penolakannya aksi-aksi yang menggunakan kekerasan. “NU sudah jelas antikekerasan, baik muslim terhadap non muslim, maupun sebaliknya. Bom Bali saya kutuk, penyerangan WTC saya kutuk,” tegas Said.

Dalam kesempatan ini, Said yang didampingi Sekjen PBNU Marsudi Syuhud dan Ketua Munas NU Dedi Wahidi menyampaikan undangan kepada presiden untuk menghadiri Munas NU yang akan dihelat di Cirebon, 13-17 September, mendatang.(MI/BEY)

Sumber: metrotvnews.com

Elite Agama dan Negara Permainkan Pluralisme

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sri Sultan Hamengku Buwono X mengkritisi masa depan “pluralisme” di Indonesia, masih ditentukan negosiasi politik antara elite agama dan negara. Bukan oleh nilai-nilai yang diakui bersama

“Akibatnya, toleransi keagamaan di Indonesia berdiri di atas pijakan pluralisme yang rapuh,” tegas Sultan di Komplek Kepatihan Yogyakarta, Ahad (20/5).

Ia mengatakan, hampir semua tokoh dan pemikir Islam sepakat, keberagamaan atau pluralitas agama adalah sunatullah. Namun, ketika mewacanakan pluralisme, sebagai sebuah paham tentang keberagamaan, banyak yang berbeda pendapat. Sebagian ada yang menolak, bahkan mengharamkan. Tapi sebagian setuju, bahkan memperjuangkan pluralisme di Indonesia.

Menurut Sultan, prinsip utama dalam mengelola pluralisme seharusnya adalah inklusivisme yang tak dipahami dalam konteks keberadaan mayoritas dan minoritas dalam masyarakat saja, tapi pemerintah menjamin kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk berkembang.

Pemerintah perlu menyadari keberagaman dengan mengelolanya secara bijak agar tidak menimbulkan potensi konflik. Dalam mengelola pluralisme perlu diupayakan transparansi dan partisipasi. Sebab itu, setiap sub-komponen bangsa harus merupakan sistem terbuka (open system).

Artinya, sistem itu tidak boleh diam. Ia harus selalu mengantisipasi tantangan dan pengaruh dari luar dirinya, baik tantangan regional maupun global. Tantangan tersebut menjadikannya tidak pernah berada dalam keseimbangan, tetapi di dalamnya selalu terjadi
dinamika perubahan.

“Dialog antarbudaya perlu diintensifkan,” ungkapnya. Di dalam dialog tersebut diperlukan kemampuan untuk merasa, kemampuan berempati, kemampuan pemahaman, sebagai inti dari prinsip dialogis dari semua pihak.

Sultan mengakui, untuk melahirkan sikap kesalingmengertian (mutual understanding), kesalingpercayaan (mutual trust), dan saling menghormati (mutual respect) itu bukanlah pekerjaan mudah, tapi bisa dimulai dengan kesadaran dan kepekaan akan keberagaman kita sebagai bangsa.(MI/ICH)

Sumber: metrotvnews.com

Sedulur Sikep Minta Kolom Agama Tetap Dikosongi

KUDUS, suaramerdeka.com – Komunitas Sedulur Sikep atau yang lebih dikenal dengan masyarakat Samin meminta agar kolom agama dalam program pemerintah terkait kartu tanda penduduk elektronik (E-KTP) tetap dikosongi. Sebab, Sikep yang menganut agama Adam belum termasuk agama yang diakui pemerintah.

Budi Santoso, tokoh Sedulur Sikep dari Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan mengutarakan  hal itu kepada Suara Merdeka, Selasa (29/5). ”KTP Sedulur Sikep di kolom agama  sudah dikosongi. Jadi dalam E-KTP nanti kami juga mengharapkan tetap dikosongi.” katanya.

Dia menjelaskan, pengosongan kolom agama bagi Sedulur Sikep di Kudus, khususnya di Desa Larikrejo, mulai berlaku sejak sekitar empat tahun terakhir. ”Seingat saya pengosongan kolom agama ini di masa kepemimpinan bupati yang sekarang,” ujarnya.

Pihak pemerintah sendiri saat ini sudah melakukan sosialisasi E-KTP ke berbagai desa, tak terkecuali di komunitas Sedulur Sikep. ”Waktu penyuluhan, E-KTP tak jauh berbeda dengan KTP sebelumnya. Cuma bentuknya lain,” ungkapnya.

Peneliti sosial budaya Moh Rosyid MPd mengemukakan, pemerintah harus mengakomodasi keinginan warga Sedulur Sikep, karena itu bagian dari hak asasi yang harus dihormati. ”Ini bagian dari kebhinnekaan yang harus dihormati dan local wisdom yang harus di-uri-uri.” jelasnya.

Rosyid yang banyak melakukan riset (penelitian) tentang Komunitas Samin atau Sedulur Sikep ini pun menambahkan, bahwa dalam konteks keberagamaan pun, perbedaan ini menjadi perhatian tersendiri. ”Islam sendiri menegaskan, tidak ada paksaan dalam beragama,” tegasnya.

UU No 23 Tahun 2003 tentang Administrasi Kependudukan Pasal 61 (2) dijelaskan, bagi penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama sesuai dengan ketentuan perundangan atau bagi penghayat kepercayaan, (kolom agama dalam KTP) tak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database kependudukan. ”Realisasinya, mayoritas kolom agama dalam KTP warga Samin dikosongi,” terang Rosyid.

UU No 39 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) menandaskan hal senada. Pada pasal 4 UU tersebut menyebut tentang hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, dan lainnya terkait hak asasi manusia.

( Rosidi / CN34 / JBSM )

Sumber: Suaramerdeka.com

2 Inspirator Pluralisme Raih Maarif Award

Tidak banyak orang yang mengenal kedua sosok sederhana, rendah hati, dan santun ini. Keduanya adalah Charles Patrick Edward Burrows dan Ahmad Bahruddin. Mereka mempunyai semangat dan dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan masyarakat. Bermodal pada pluralisme dan kemajemukan masyarakat, Charles Patrick Edward Burrows atau lebih dikenal sebagai Romo Carolus adalah pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, kelahiran Irlandia yang memberdayakan masyarakat Kampung Laut Cilacap sehingga keluar dari jurang kemiskinan.

Romo Carolus dinilai telah berhasil membangun pondasi-pondasi masyarakat dengan merawat keindonesiaan dan memperjuangkan kemanusiaan melalui kerja-kerja inisiatif kepemimpinan di daerah Cilacap berbasis nilai-nilai keagamaan yang universal.

Sementara Bahruddin atau yang akrab dipanggil Kang Din dalah pendiri komunitas petani di Salatiga yang menjadi tempat bertukar ilmu di antara para petani itu. Atas kegigihannya tersebut Kang Din telah berhasil mendirikan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT)yang merupakan gabungan dari 14 organisasi tani di Salatiga, Magelang, dan Semarang. Kini anggotanya mencapai 16.348 petani yang terdiri atas 660 kelompok tani dan 120 paguyuban.

“Kedua sosok ini telah berhasil merintis dan membangun karya kemanusiaan yang bersenyawa dengan realitas sosiologis masyarakatnya,” kata Pendiri Maarif Award, Ahmad Syafii Maarif ketika membacakan pemenang Maarif Award seperti dikutip Antara. Beliau juga menegaskan bahwa pemilihan terhadap kedua orang tersebut sangat tepat dan luar biasa.

“Dalam karya sosial mereka, pluralisme menjelma menjadi insipirasi dan kekuatan bersama untuk perubahan sosial masyarakatnya. Derita rakyat miskin dan petani merupakan kesadaran praksis iman mereka,” ujar salah satu dewan juri Maarif Award 2012 yang juga CEO Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf dalam pembacaan putusan dewan juri pada Malam Penganugerahan Maarif Award 2012 di Grand Studio Metro TV Jakarta dalam kutipan Media Indonesia, Sabtu (26/5).

Maarif Award ini yang keempat ini digelar bertujuan untuk mencari model alternatif kepemimpinan lokal yang konsisten menanamkan dan melembagakan nilai toleransi, pluralisme, dan keadilan sosial pada masyarakat serta memperkuat optimisme masa depan keindonesiaan. Dengan beberapa dewan juri, antara lain adalah Bambang Ismawan (Dewan Pembina Yayasan Bina Swadaya), Clara Joewono (Wakil Ketua Dewan Pembina CSIS), Haedar Nashir (Ketua PP Muhammadiyah), dan Maria Hartiningsih (Aktivis perempuan dan jurnalis senior). [Mukhlisin]

The Provision of Adolescent Sexual and Reproductive Health Services: The View of Indonesian Moslem Scholar

By: Musdah Mulia

The Current Condition of Adolescent and Youth

Nowadays we have more than 7 billion people in the world; with young people between the ages 10 and 24 accounting for nearly half that number. Eighty-five percent of young people live in developing societies and face grave health concerns, including sexual and
reproductive health that have grave implications on access to information, services, and resources.

Today, among 240 million population in Indonesia, almost 60 million are adolescent and youth. Data from a survey of young adults in four provinces in Indonesia argues that 12 percent of ever-married men and 5 per cent of ever-married women say that they had sex before marriage, yet only 3 per cent of unmarried men and less than 1 per cent of unmarried women report having had sex. There is about 3 million unsafe abortions were performed globally every year on adolescents in the 15-19 age group. On the other hand, that age group gave birth to 16 million babies annually.

 

To read the whole article, please download:

http://www.ziddu.com/download/19439722/onofAdolescentSexualandKolomMusdahMulia15Mei2012.pdf.html

Dr Tawfik Hamid: From The Heart Of A Muslim

 

I was born a Muslim and lived all my life as a follower of Islam. After the barbaric terrorist attacks done by the hands of my fellow Muslims
everywhere on this globe, and after the too many violent acts by Islamists in many parts of the world, I feel responsible as a Muslim and as a human being to speak out and tell the truth to protect the world and Muslims as well from a coming catastrophe and war of civilizations. I have to admit that our current Islamic teaching creates violence and hatred
toward non-Muslims.

 

To read the whole article, please  download

http://www.ziddu.com/download/19439687/TawfikHamid15Mei2012.pdf.html

HKBP Filadelfia church congregation harassed, again

An angry mob once again assaulted the members of the Congregation of Batak Protestant Churches (HKBP) Filadelfia on Sunday morning as the parishioners were trying to attend their house of worship – the second attack within a week.

The congregation was reportedly entering their church, located on Jejalen Raya village in Bekasi, West Java, at around 9 a.m. when a group of people suddenly began throwing objects at them.

“They threw mineral water in plastic cups, mud, rotten eggs and water from drainage ditches at us. Some of them were still harassing parishioners after the congregation had already dispersed,” HKBP Filadelfia Rev. Palti Panjaitan told The Jakarta Post.

He added that the plastic cups that were thrown by the crowd also hit Bekasi Police chief Sr. Comr. Wahyu Hadiningrat and Bekasi Public Order Agency (Satpol PP) chief Agus Rismanto, whose members were unsuccessfully trying to provide safety.

“Our lawyer [Judianto Simanjuntak] and some reporters were chased by members of the intolerant group after the group had been scattered,” he said.

A similar incident took place last Thursday during the day of the Ascension of Jesus Christ.

On Thursday a group of intolerant people threw “urine, sewage and frogs” at worshippers, all of which also hit the policemen who tried to shield the parishioners from the angry mob as they tried to reach their place of worship to conduct services. The parishioners only managed to pray for five minutes before being forced to leave.

The Bekasi regency sealed off the church site in 2010 after local residents objected to the construction of the church. The Bandung State Administrative Court ruled in favor of HKBP Filadelfia, but the administration has yet to reopen the site. (asa/swd)

 

source: thejakartapost.com

Memaknai Waisak

Oleh Ngasiran

Indonesia yang terdiri dari berbagai ras, suku, juga agama di mana setiap agama yang ada memiliki hari raya keagamaan. Setiap agama akan memiliki kesempatan untuk merayakan hari besar keagamaan, meskipun kesempatan secara nasional kapasitasnya berbeda. Agama Buddha akan merayakan hari besar yang mendapatkan hari libur nasional pada bulan antara Mei dan Juni. Bulan antara Mei dan Juni dalam Agama Buddha disebut sebagai Hari Raya Waisak. Agama Buddha sebenarnya memiliki 4 hari raya, yaitu waisak untuk memperingati 3 peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, Asadha yaitu memperingati pembabaran Dhamma yang pertama kali kepada 5 pertapa, Magga Puja yaitu memperingati berkumpulnya 1250 arahat (siswa Buddha Gotama) yang berkumpul tanpa diundang, dan hari Kathina yaitu persembahan kebutuhan kepada Sangha oleh umat setelah melaksanakan masa pendalaman Dhmma secara khusus.

Perayaan waisak tahun 2012 adalah perayaan yang ke 2556 BE dan menurut penghitungan detik-detik waisak adalah pukul 10:34:39. Waisak sebenarnya adalah nama bulan dalam kehidupan Buddha Gotama, karena dalam bulan tersebut terjadi 3 peristiwa penting sehingga setelah Buddha Gotama meninggal atau parinibbana, bulan tersebut dijadikan hari raya. Tiga peristiwa penting tersebut adalah kelahiran pangeran Sidharta (Buddha Gotama), tercapainya pengetahuan yang sempurna (keBuddhaan), dan parinibbana Buddha Gotama. Tiga peristiwa penting tersebut semuanya terjadi pada bulan waisak. Kelahiran, pencapaian cita-cita (pengetahuan sempurna, dan kematian terjadi dalam bulan yang sama merupakan kejadian yang langka, sehingga melihat ke tiga peristiwa tersebut sudah memberikan rasa yang berbeda tentunya.

Tiga peristiwa penting yang berhubungan dengan Buddha Gotama secara jelas di gambarkan dalam buku Riwayat Hidup Buddha Gotama dan buku lain yang menjelaskan tentang masa hidup Buddha Gotama. Di tengah-tengah kondisi masyarakat dewasa ini, apa sebenarnya makna waisak yang dapat diambil maupun dikontribusikan? Peristiwa yang pertama yaitu kelahiran Pangeran Sidharta. Sidharta adalah anak dari raja yang sudah lama tidak memiliki anak. Berbagai usaha untuk mendapatkan anak telah dilakukan, kemudan permaisuri melaksanakan puasa, rajin berdoa, memberikan bantuan makanan, dan perilaku-perilaku baik lainnya. Mendapatkan anak yang baik harus didahului dengan usaha dan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang muncul karena dilatar belakangi hal yang baik, tidak mendapatkan buah sebelum nenanam dan merawat pohon terlebih dahulu.

Peristiwa yang ke dua merupakan peistiwa tercapainya pengetahuan yang agung. Sidharta mencapai pengetahuan agung setelah melalui proses belajar dengan guru-guru yang terkenal baik kepandainya, kebijaksanaannya, maupun kehebattannya. Sidharta juga melakukan pertapaan ektrim yaitu menyiksa diri selama 6 tahun hingga hampir menghembuskan nafas terakhir. Namun pengetahuan itu belum dicapainya, kemudian Sidharta mulai menyadari ada kesalahan dengan usaha yang dilakukannya. Sidharta terinspirasi dari sair lagu penari rogeng yang melewatinya, “jika tali gitar ditarik terlalu kencang saat dipentik akan putus talinya, namun jika terlalu kendor makan bunyinya tidak akan bagus”. Melakukan tindakan secara ekstrim tidak membawa pada pencapaian yang baik. Sidharta pun belajar dari orang lain tanpa memandang siapa orangnya, seperti halnya penari rogeng yang melewatinya. Kepedulian terhadap lingkungan sekitar memberikan pelajaran yang berharga. Tekad yang kuat dan cara yang tidak ekstrim mengantarkan Sidharta menjadi Buddha (orang yang tercerahkan). Buddha artinya telah menemukan kembali ajaran yang akan mengobati semua makhluk dari kelahiran kembali, kematian, dan penderitaan.

Pengetahuan yang Buddha Gotama temukan bukan karena usahanya yang selama 6 tahun bertapa, namun karena beliau telah belajar selama berkalpa-kalpa dalam kelahirannya yang lampau. Kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki bukanlah suatu wahyu atau spontan beliau peroleh dalam sekejab. Kematangan perbuatanya yang lampau mendorong tekadnya untuk mendapatkan pengetahuan sempurna. Segala pengetahuan dan kemampuan Buddha Gotama yang luar biasa diperolah karena beliau telah belajar, mengalami sendiri, dan mempraktikkannya dalam kehidupannya yang lampau. Ajaranya yang penuh cinta kasih, mengormati kepada yang patut dihormati, berempati terhadap semua makhluk, dan menunjukkan bagaimana cara untuk menaklukan diri sendiri adalah cara untuk memperoleh kejayaan. Buddha gotama mengetahui semua hal tersebut karena telah di praktikkan dan telah beliau buktikan, sejak dalam kehidupannya yang lampau.

Setelah mencapai penerangan sempurna Buddha Gotama memberikan penghormatan kepada pohon Bodhi yang menjadi tempat bernaung saat mencapai keBuddhaan. Buddha Gotama menatap pohon tersebut tanpa berkedip dalam waktu yang cukup lama sebagai tanpa ucapan terima kasih. Terhadap pohon pun Buddha Gotama tetap memberikan penghormatan, apabila semua manusia meneladaninya tentu kebanjiran dan kerusakan alam tidak akan terjadi, kecuali karena gempa atau bencana alam lain. Kepaada umat awam buddha memberikan 5 latihan dasar untuk dipraktikkan. Pertama adalah tidak membunuh, kemudian tidak mencuri, tidak berlaku asusila (sek bebas), tidak berbohong, memfitnah, berbicara kasar, dan yang kelima adalah tidak minim dan makan yang dapat memabukkan dan melemahkan kesadaran. Telandan Buddha Gotama untuk kesejahteraan hidup bagi seluruh makhluk baik manusia, laki-laki maupun perempuan, binatang, dewa, yang tampak maupun yang tak tampak.

Bulan Mei Indonesia juga memperingati Hari Pendidikan Nasional, bulan yang penuh berkah. Buddha mengajarkan kepada siswanya agar meneliti dulu apa yang ia ajarkan, jangan asal dipercaya. Ehipasiko datang dan buktikan, suatu pembelajaran yang baik untuk diterapkan dalam belajar, agar para peserta didik tidak tersesat dalam menuntuk ilmu. Peserta didik secara umum terbiasa hanya menerima apa yang disampaikan, sehingga menciptkan generasi muda yang hanya cerdas secara IQ, namun EQ, dan SQ nya tidak diasah dengan baik. Belajar adalah proses, memahami setiap proses yang dilalui, praktikkan kembali yang dipelajari, pertimbangkan apakah membawa manfaat atau justru merugikan. Inilah belajar, manusia yang sepanjang hidupnya terus belajar, harus memperhatikan proses jangan sampai hanya berorientasi terhadap hasil. Kecerdasa secara emosi harus dikembangkan agar peserta didik memiliki rasa empati, simpati, kasih sayang, dan mengetahui kehidupan yang sebenarnya. Kecerdasan spiritual yang dikembangkan hendaknya tidak memicu permusuhan dengan kelompok spiritual yang berbeda, namun hendaknya membantu mewujudkan kehidupan yang damai, tanpa kekerasan, kebohongan, ketamakan.

Pendidikan sangatlah penting, dengan semangat waisak, ikuti jejak Buddha Gotama tidak berbuat jahat, mengembangkan perbuatan baik, dan mensucikan hati serta pikiran. Generasi muda yang dengan meneladani sifat Buddha Gotama niscaya bumi ini akan menjadi damai. Dengan generasi muda yang berkualitas IQ, EQ<,dan SQnya. Begitu luhur dan mulianya Buddha Gotama saat beliau Parinibbana segenap makhluk dan alam menghormatinya. Pohon berbunga tidak pada musimnya, bumi bergentar, dan harum kayu cendana bertaburan. Itulah penghormatan yang diperoleh oleh seorang pejuang sejati, yang mampu menklukkan diri sendiri untuk kesejahteraan seluruh makhluk.

Penulis adalah Aktifis Lintas Agama Sekolah Tinggi Agama Budha (STAB) Nallanda

 

Puluhan Ribu Umat Budha Peringati Tri Suci Waisak di Mendut dan Borobudur

Detik-detik Waisak tahun 2012 atau tahun 2556 BE (Budis Era) jatuh pada  hari Minggu (6 Mei) pukul 10 lewat 34 menit 29 detik. Menurut biksu She Lin Fashe dari  Majelis Satya Budha, detik-detik Waisak merupakan penanda peringatan suci umat Budha, sebab Sang Budha lahir, mencapai kesempurnaan dan wafat pada hari, jam yang sama bulan Vesaka atau Waisak.

“Tiap tahun, tiap bulan ini, adalah hari kelahiran, dan kesempurnaan suci Waisak itu untuk tiap tahun, waktunya,” ujar biksu She Lin.

Tema peringatan Tri Suci Waisak tahun ini adalah meningkatkan Cinta Kasih (Metta) dan Welas Asih (Karuna). Ketua Umum Perwalian Umat Buda Indonesia (WALUBI), Nyonya Hartati Murdaya mengatakan, tema tersebut dimaksudkan mendorong kerjasama umat Budha dengan umat agama lainnya untuk ikut mensejahterakan bangsa Indonesia.

“Yang ingin dicapai adalah kerukunan, persatuan, kerjasama, bersama-sama dengan umat agama lain untuk ikut mendukung pertumbuhan, kemajuan, kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” papar Hartati Murdaya.

Harapan senada disampaikan oleh Ibu Euis dari Garut Jawa Barat. Ia mengatakan, “Ya harapannya semua cita-cita ya berhasil lah. Semua umat beragama rukun, ya.”

​​Di antara sekitar 300 biksu dan biksuni yang ikut dalam peringatan Tri Suci Waisak hari Minggu, tampak biksu Tensin Priyadharsi dari Boston, Amerika Serikat dan 2 biksu dan biksuni asal Kanada.

Biksuni Lian Wen dari Kanada mengatakan kepada VOA, karena baru pertama kali mengikuti peringatan Waisak, ia tidak berharap yang muluk.

“Saya tidak berharap terlalu tinggi karena saya belum pernah pengikuti peringatan Waisak sebelumnya. Saya kita ini luar biasa. Sebagai biksuni, saya merasa terhormat bisa mengikuti peringatah ini,” kata Biksuni Lian Wen.

Hujan deras turun saat ritual di candi Mendut  selesai. Namun, acara prosesi menuju candi Borobudur yang berjarak 3 kilometer  tetap dilangsungkan. Ketua Umum WALUBI Hartati Murdaya bersama biksu Tensin Priyadarsi ikut berjalan kaki dalam prosesi tersebut, menuju altar utama candi Borobudur.

Ritual dengan doa-doa dan pujian berlangsung di candi Borobudur hingga pukul 21.00 WIB, diakhiri dengan pelepasan lampion.

Dua rangkaian upacara lainnya telah dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu, yaitu pengambilan api suci dari sumber api abadi di Mrapen kabupaten Grobogan dan Air Suci dari Umbul Jumprit kabupaten Temanggung.

Sumber: voaindonesia.com