Lebih dari dua kali Lebaran Dias belum juga pulang

Oleh : Chris Poerba


“Di salah satu sekolah yang saya teliti di Jember, ternyata masih ada yang menganggap kalau suara perempuan itu aurat, karena itu maka tidak ada siswi yang mau menyanyi di depan kelas. Karena masih ada anggapan kalau suara perempuan itu aurat dan takutnya suaranya akan merangsang laki-laki. Makanya juga di sekolah seperti itu perempuan tidak boleh jadi pemimpin tertinggi pada organisasi sekolahnya“, begitulah yang disampaikan oleh seorang Farha Ciciek. Beliau menyampaikan hal itu dalam seminar yang bertajuk “Pluralisme dan Kebebasan Beragama dalam Ancaman Radikalisme Agama : Di mana Peran Kaum Muda ?”. Seminar yang dilakukan tanggal 22 November ini, bertempat di kampus sekolah filsafat, yang berada di bilangan Jembatan Serong, di Rawasari. Seminar ini digagas oleh Seksi Diskusi SEMA STF Driyarkara yang bekerjasama dengan ICRP.

Kerah Shanghai

Di hadapan para muda-mudi yang kabarnya akan jadi calon filsuf itu, Farha menyampaikan penelitian lapangannya tentang “Religiusitas Kaum Muda”, risetnya yang berlangsung pada tahun 2007 sampai tahun 2008, yang meliputi tujuh kota yaitu Jakarta, Padang, Cianjur, Cilacap, Pandeglang, Yogyakarta dan Jember. Dia sendiri menuturkan kenapa sampai perlu melakukan penelitian tentang religiusitas pada para kaum muda, generasi yang bakal jadi pemimpin bangsa nantinya. Ternyata semua ini diliputi oleh rasa kekhawatiran yang mendalam yaitu siswa-siswi sekarang cenderung lebih eksklusif dan lebih menganggap dirinya lebih Islam dan mengambil jarak dengan kelompok yang lain.

Di Yogyakarta, pada Sekolah Menengah Umum (SMU), ternyata salah satu sekolah yang telah menjadi sekolah teladan juga ditemukan kalau perempuan tidak boleh tampil di depan umum. Ironis sekali padahal Yogyakarta sendiri dinyatakan sebagai kota yang toleran. Saat seorang guru sekolah itu ditanya kenapa tidak ada perempuan yang mau tampil ke depan, guru tersebut hanya berkata, “Lo ini kan demokratis. Jadi memang mereka-mereka sendiri yang tidak mau tampil”.

Selain munculnya kasus suara perempuan adalah aurat dan perempuan yang tidak bisa tampil ke depan, juga ditemui kasus seperti modifikasi seragam sekolah. Menurut Farha, untuk kasus modifikasi seragam sekolah ini bahkan sudah banyak murid-murid yang katanya mau keluar dari sekolah, kalau seragam sekolahnya bukan pakaian muslim. Hal ini bukan hanya terdapat pada pakaian siswi perempuan saja juga pada murid laki-laki. “Mereka yang laki-laki selain maunya pakai baju koko juga tidak suka dengan kerah yang biasa untuk seragam itu. Katanya itu kerah yang berasal dari barat. Padahal setahu saya kerah yang ada di baju koko itu namanya kerah Shanghai. Dan dari namanya jelas berasal dari Cina. Rupanya benar juga kata Rasul, carilah ilmu sampai ke negeri Cina, tapi yang mereka dapat hanya kerahnya saja”, ujar Farha yang langsung disambut gelak tawa. Namun yang mencengangkan adalah semua kasus-kasus itu terdapat pada Sekolah Menengah Umum, pada sekolah negeri dan bukan terjadi di madrasah dan pesantren-pesantren.

Perilaku yang cenderung eksklusif inilah yang berujung pada sebuah doktrin yang menjadi sempit dan keras. Sekeras batu. Di rumah awalnya perilaku siswa ini sangat disenangi oleh orang tuanya. Orang tua sangat mengapresiasi dan bangga pada anaknya yang bebas narkoba dan tidak ikut tawuran pelajar namun ujung-ujungnya terlihat gejala yang aneh pada anaknya. “Bahkan orang tua-nya sendiri dijelek-jelekan dan dianggap tidak Islami, bahkan kafir. Ada anak yang mengharamkan orang tuanya sendiri. Termasuk juga banyak orang tua yang akhirnya kehilangan anaknya setelah anaknya mengikuti kelompok aliran keagamaan tertentu”, ujar Farha mengungkapkan rasa ibanya.

Roh yang lain

Kehilangan seorang anak itu yang dialami oleh Pak Gandi, setelah mengetahui anaknya masuk organisasi NII, Negara Islam Indonesia. Pak Gandi sudah kehilangan akal untuk mencari anaknya bahkan istrinya juga nyaris hilang ketika terus-menerus mencari anaknya yang hilang bak ditelan bumi. Singkatnya keluarga Pak Gandi jadi berantakan karena semua keluarganya konsentrasi mencari Dias, anaknya. Kegelisahan keluarga besar Gandi ini terlihat dalam film dokumenter yang di putar dalam seminar ini. Film yang berjudul “Dias yang pergi”.

Perilaku siswa-siswi yang cenderung eksklusif ini juga dikarenakan oleh faktor lingkungan yang selama ini dekat dengan lingkungan sekolahnya. Kasus di Cilacap bahkan ketahuan kalau seorang guru Sosiologi merupakan tangan panjang dari NII. Namun ironisnya setelah pihak sekolah sudah mengetahui hal tersebut tapi kasusnya malah di “bonsai” sehingga tidak ada publikasi ke luar. Sekolah melarangnya khawatir nantinya akan mencoreng citra sekolah.

Farha Ciciek dalam presentasinya mengidentifikasikan ada pengaruh-pengaruh yang membuat siswa-siswi terkesan menjadi eksklusif, kesan itu bisa ditangkap setelah beberapa murid-murid itu tergabung dalam kegiatan ekstra kurikuler, ekskul yang biasanya bersifat lembaga-lembaga dakwah yang ada di sekolah. Menurut Farha, LSM sekolah yang seperti ini yang seringkali menjadi pintu masuknya aliran-aliran yang cenderung eksklusif, “Dari 7 kota yang saya teliti maka kelihatan kalau pintu masuknya adalah melalui ekskul, yang sifatnya kerohanian Islam yaitu Rohim. Biasanya paling mudah dilihat kalau ada para alumni yang datang kembali ke sekolah tersebut. Tapi yang jelas juga bukan hanya dari rohim saja, juga Rohkat (Rohani Katolik), Rohkris (Rohani Kristen), Rohhin (Rohani Hindu), Rohbud (Rohani Budha) dan roh-roh yang lainnya”, kembali penjelasannya mengundang “dering” tawa.

Ekskul yang ideologis

Ekskul yang ideologis ini semula hanya terdapat di dalam sekolah namun lambat laun melakukan kegiatannya di luar sekolah dan tanpa sepengetahuan pihak sekolah dan orang tua. Fase ini semakin rumit dan semakin susah untuk di deteksi oleh radar secanggih apa pun. Lebih jauh lagi dari riset yang telah dilakukannya ternyata aliran–aliran ini tidak hanya satu dan mereka juga saling bersaing satu sama lain untuk bisa masuk dan menyebarkan pengaruhnya di sekolah-sekolah. Meskipun ujung-ujungnya mengarah ke lembaga yang sudah sering dikenal seperti seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Tarbiyah, Salafi dan Negara Islam Indonesia (NII). Semua lembaga ini memiliki kekhasan yang satu sama lainnya saling berbeda.

Meskipun demikian, awalnya semua lembaga tersebut menggunakan proses brainwashing yang tak jauh berbeda. Biasanya ormas-ormas itu mengusung sentimen keumatan yang secara umum ber-slogan bombastis seperti ini, ”Kita ini serasa dikepung oleh Yahudi, Kristen, Israel termasuk juga dikepung oleh teman-teman Islam yang mereka anggap tidak Islami”, lanjut Farha. Simpulan akhir dari peneropongan yang dilakukan oleh seorang Farha Ciciek, menurutnya sekolah umum negeri ternyata secara langsung dan tidak langsung sudah ‘memfasilitasi’ hal ini.

Farha Ciciek tidak sendirian di seminar itu. R.D Benny Susetyo yang akrab disapa dengan Romo Benny juga hadir, meskipun beliau datang terlambat. Menurut Romo Benny, kondisi sosial kita memang sedang labil maka orang sekarang mencari ideologi dari agama sebagai solusinya. Romo Benny lebih menerawang kekerasan dan akar-akar yang bisa menjadi pemicunya. Dia mengisahkan ada sebuah film dari Palestina yang aktor utamanya seorang anak muda yang masih remaja namun sudah berkecimpung dalam ormas yang radikal. Ketika ibunya menanyakan, kenapa dia bergabung di ormas garis keras itu, anaknya mengatakan, “Ibu, selama ini saya sering diremehkan tapi sekarang dengan memakai jubah dan surban ini saya lebih dihormati”.

Jadi di balik akan hadirnya kekerasan juga terdapat persoalan martabat dan harga diri. Lingkungan ternyata bisa mengucilkan dan melakukan diskriminasi terhadap seseorang dan kelompok tertentu tanpa sepenuhnya disadari secara langsung. Alhasil pihak yang merasa dikucilkan mencari sebuah cara agar dirinya bisa dilihat dan dianggap sebagai orang penting yang setara dengan lainnya. Bila cara yang digunakannya tidak tepat atau terkesan instan maka bisa jadi orang tersebut terjerumus masuk ke ormas-ormas yang sarat dengan aksi-aksi kekerasan.

Untuk hal itu maka Benny mengatakan, “Jangan-jangan kita selama ini yang mengajarkan agama yang tidak tepat. Ketika agama itu sudah ‘di bajak’ untuk kepentingan kekerasan, tapi agamawan tidak berani mengiyakan kalau agama itu sudah ‘di bajak’ oleh kekerasan. Agama selama ini hanya semacam ritual tapi tidak bisa menjawab masalah-masalah sosial”. Jadi mengapa akar-akar terorisme tumbuh subur di negara-negara seperti Palestina, Pakistan, juga Indonesia karena di situ ada struktur ketidakadilan dan faktanya ketidakadilan situ dipelihara.

Sebuah bom waktu bagi kebudayaan dan kemanusiaan di Indonesia yang terus menjadi tantangan bagi agama-agama agar harus melakukan kerja-kerja yang lebih konkret. Semoga saja tidak ada lagi sekolah dan orang tua murid yang kehilangan anaknya seperti Pak Gandi. Dias sudah lebih dari dua kali bulan puasa dan dua kali lebaran tidak kunjung pulang juga. Jadi waspadalah-waspadalah.*)

Lebih dari dua kali Lebaran Dias belum juga pulang

Oleh : Chris Poerba

“Di salah satu sekolah yang saya teliti di Jember, ternyata masih ada yang menganggap kalau suara perempuan itu aurat, karena itu maka tidak ada siswi yang mau menyanyi di depan kelas. Karena masih ada anggapan kalau suara perempuan itu aurat dan takutnya suaranya akan merangsang laki-laki. Makanya juga di sekolah seperti itu perempuan tidak boleh jadi pemimpin tertinggi pada organisasi sekolahnya“, begitulah yang disampaikan oleh seorang Farha Ciciek. Beliau menyampaikan hal itu dalam seminar yang bertajuk “Pluralisme dan Kebebasan Beragama dalam Ancaman Radikalisme Agama : Di mana Peran Kaum Muda ?”. Seminar yang dilakukan tanggal 22 November ini, bertempat di kampus sekolah filsafat, yang berada di bilangan Jembatan Serong, di Rawasari. Seminar ini digagas oleh Seksi Diskusi SEMA STF Driyarkara yang bekerjasama dengan ICRP.

Kerah Shanghai

Di hadapan para muda-mudi yang kabarnya akan jadi calon filsuf itu, Farha menyampaikan penelitian lapangannya tentang “Religiusitas Kaum Muda”, risetnya yang berlangsung pada tahun 2007 sampai tahun 2008, yang meliputi tujuh kota yaitu Jakarta, Padang, Cianjur, Cilacap, Pandeglang, Yogyakarta dan Jember. Dia sendiri menuturkan kenapa sampai perlu melakukan penelitian tentang religiusitas pada para kaum muda, generasi yang bakal jadi pemimpin bangsa nantinya. Ternyata semua ini diliputi oleh rasa kekhawatiran yang mendalam yaitu siswa-siswi sekarang cenderung lebih eksklusif dan lebih menganggap dirinya lebih Islam dan mengambil jarak dengan kelompok yang lain.

Di Yogyakarta, pada Sekolah Menengah Umum (SMU), ternyata salah satu sekolah yang telah menjadi sekolah teladan juga ditemukan kalau perempuan tidak boleh tampil di depan umum. Ironis sekali padahal Yogyakarta sendiri dinyatakan sebagai kota yang toleran. Saat seorang guru sekolah itu ditanya kenapa tidak ada perempuan yang mau tampil ke depan, guru tersebut hanya berkata, “Lo ini kan demokratis. Jadi memang mereka-mereka sendiri yang tidak mau tampil”.

Selain munculnya kasus suara perempuan adalah aurat dan perempuan yang tidak bisa tampil ke depan, juga ditemui kasus seperti modifikasi seragam sekolah. Menurut Farha, untuk kasus modifikasi seragam sekolah ini bahkan sudah banyak murid-murid yang katanya mau keluar dari sekolah, kalau seragam sekolahnya bukan pakaian muslim. Hal ini bukan hanya terdapat pada pakaian siswi perempuan saja juga pada murid laki-laki. “Mereka yang laki-laki selain maunya pakai baju koko juga tidak suka dengan kerah yang biasa untuk seragam itu. Katanya itu kerah yang berasal dari barat. Padahal setahu saya kerah yang ada di baju koko itu namanya kerah Shanghai. Dan dari namanya jelas berasal dari Cina. Rupanya benar juga kata Rasul, carilah ilmu sampai ke negeri Cina, tapi yang mereka dapat hanya kerahnya saja”, ujar Farha yang langsung disambut gelak tawa. Namun yang mencengangkan adalah semua kasus-kasus itu terdapat pada Sekolah Menengah Umum, pada sekolah negeri dan bukan terjadi di madrasah dan pesantren-pesantren.

Perilaku yang cenderung eksklusif inilah yang berujung pada sebuah doktrin yang menjadi sempit dan keras. Sekeras batu. Di rumah awalnya perilaku siswa ini sangat disenangi oleh orang tuanya. Orang tua sangat mengapresiasi dan bangga pada anaknya yang bebas narkoba dan tidak ikut tawuran pelajar namun ujung-ujungnya terlihat gejala yang aneh pada anaknya. “Bahkan orang tua-nya sendiri dijelek-jelekan dan dianggap tidak Islami, bahkan kafir. Ada anak yang mengharamkan orang tuanya sendiri. Termasuk juga banyak orang tua yang akhirnya kehilangan anaknya setelah anaknya mengikuti kelompok aliran keagamaan tertentu”, ujar Farha mengungkapkan rasa ibanya.

Roh yang lain

Kehilangan seorang anak itu yang dialami oleh Pak Gandi, setelah mengetahui anaknya masuk organisasi NII, Negara Islam Indonesia. Pak Gandi sudah kehilangan akal untuk mencari anaknya bahkan istrinya juga nyaris hilang ketika terus-menerus mencari anaknya yang hilang bak ditelan bumi. Singkatnya keluarga Pak Gandi jadi berantakan karena semua keluarganya konsentrasi mencari Dias, anaknya. Kegelisahan keluarga besar Gandi ini terlihat dalam film dokumenter yang di putar dalam seminar ini. Film yang berjudul “Dias yang pergi”.

Perilaku siswa-siswi yang cenderung eksklusif ini juga dikarenakan oleh faktor lingkungan yang selama ini dekat dengan lingkungan sekolahnya. Kasus di Cilacap bahkan ketahuan kalau seorang guru Sosiologi merupakan tangan panjang dari NII. Namun ironisnya setelah pihak sekolah sudah mengetahui hal tersebut tapi kasusnya malah di “bonsai” sehingga tidak ada publikasi ke luar. Sekolah melarangnya khawatir nantinya akan mencoreng citra sekolah.

Farha Ciciek dalam presentasinya mengidentifikasikan ada pengaruh-pengaruh yang membuat siswa-siswi terkesan menjadi eksklusif, kesan itu bisa ditangkap setelah beberapa murid-murid itu tergabung dalam kegiatan ekstra kurikuler, ekskul yang biasanya bersifat lembaga-lembaga dakwah yang ada di sekolah. Menurut Farha, LSM sekolah yang seperti ini yang seringkali menjadi pintu masuknya aliran-aliran yang cenderung eksklusif, “Dari 7 kota yang saya teliti maka kelihatan kalau pintu masuknya adalah melalui ekskul, yang sifatnya kerohanian Islam yaitu Rohim. Biasanya paling mudah dilihat kalau ada para alumni yang datang kembali ke sekolah tersebut. Tapi yang jelas juga bukan hanya dari rohim saja, juga Rohkat (Rohani Katolik), Rohkris (Rohani Kristen), Rohhin (Rohani Hindu), Rohbud (Rohani Budha) dan roh-roh yang lainnya”, kembali penjelasannya mengundang “dering” tawa

 

Ekskul yang ideologis

Ekskul yang ideologis ini semula hanya terdapat di dalam sekolah namun lambat laun melakukan kegiatannya di luar sekolah dan tanpa sepengetahuan pihak sekolah dan orang tua. Fase ini semakin rumit dan semakin susah untuk di deteksi oleh radar secanggih apa pun. Lebih jauh lagi dari riset yang telah dilakukannya ternyata aliran–aliran ini tidak hanya satu dan mereka juga saling bersaing satu sama lain untuk bisa masuk dan menyebarkan pengaruhnya di sekolah-sekolah. Meskipun ujung-ujungnya mengarah ke lembaga yang sudah sering dikenal seperti seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Tarbiyah, Salafi dan Negara Islam Indonesia (NII). Semua lembaga ini memiliki kekhasan yang satu sama lainnya saling berbeda.

Meskipun demikian, awalnya semua lembaga tersebut menggunakan proses brainwashing yang tak jauh berbeda. Biasanya ormas-ormas itu mengusung sentimen keumatan yang secara umum ber-slogan bombastis seperti ini, ”Kita ini serasa dikepung oleh Yahudi, Kristen, Israel termasuk juga dikepung oleh teman-teman Islam yang mereka anggap tidak Islami”, lanjut Farha. Simpulan akhir dari peneropongan yang dilakukan oleh seorang Farha Ciciek, menurutnya sekolah umum negeri ternyata secara langsung dan tidak langsung sudah ‘memfasilitasi’ hal ini.

Farha Ciciek tidak sendirian di seminar itu. R.D Benny Susetyo yang akrab disapa dengan Romo Benny juga hadir, meskipun beliau datang terlambat. Menurut Romo Benny, kondisi sosial kita memang sedang labil maka orang sekarang mencari ideologi dari agama sebagai solusinya. Romo Benny lebih menerawang kekerasan dan akar-akar yang bisa menjadi pemicunya. Dia mengisahkan ada sebuah film dari Palestina yang aktor utamanya seorang anak muda yang masih remaja namun sudah berkecimpung dalam ormas yang radikal. Ketika ibunya menanyakan, kenapa dia bergabung di ormas garis keras itu, anaknya mengatakan, “Ibu, selama ini saya sering diremehkan tapi sekarang dengan memakai jubah dan surban ini saya lebih dihormati”.

 

Jadi di balik akan hadirnya kekerasan juga terdapat persoalan martabat dan harga diri. Lingkungan ternyata bisa mengucilkan dan melakukan diskriminasi terhadap seseorang dan kelompok tertentu tanpa sepenuhnya disadari secara langsung. Alhasil pihak yang merasa dikucilkan mencari sebuah cara agar dirinya bisa dilihat dan dianggap sebagai orang penting yang setara dengan lainnya. Bila cara yang digunakannya tidak tepat atau terkesan instan maka bisa jadi orang tersebut terjerumus masuk ke ormas-ormas yang sarat dengan aksi-aksi kekerasan.Untuk hal itu maka Benny mengatakan, “Jangan-jangan kita selama ini yang mengajarkan agama yang tidak tepat. Ketika agama itu sudah ‘di bajak’ untuk kepentingan kekerasan, tapi agamawan tidak berani mengiyakan kalau agama itu sudah ‘di bajak’ oleh kekerasan. Agama selama ini hanya semacam ritual tapi tidak bisa menjawab masalah-masalah sosial”. Jadi mengapa akar-akar terorisme tumbuh subur di negara-negara seperti Palestina, Pakistan, juga Indonesia karena di situ ada struktur ketidakadilan dan faktanya ketidakadilan situ dipelihara.

Sebuah bom waktu bagi kebudayaan dan kemanusiaan di Indonesia yang terus menjadi tantangan bagi agama-agama agar harus melakukan kerja-kerja yang lebih konkret. Semoga saja tidak ada lagi sekolah dan orang tua murid yang kehilangan anaknya seperti Pak Gandi. Dias sudah lebih dari dua kali bulan puasa dan dua kali lebaran tidak kunjung pulang juga. Jadi waspadalah-waspadalah *)

Majemuk Edisi 45, Rubrik Liputan Khusus

Pernyataan Sikap Solidaritas Perempuan

“KASUS SUMIATI, PELANGGARAN HAK ASASI BURUH MIGRAN PEREMPUAN YANG BERULANG:

CERMIN NEGARA TIDAK MEMILIKI SISTEM PERLINDUNGAN YANG KOMPREHENSIF”

15 Nopember 2010, sekali lagi Indonesia terhenyak oleh berita kasus
penganiayaan buruh migrant perempuan. Kali ini menimpa Buruh Migran
Perempuan-Pekerja Rumah Tangga (BMP-PRT) asal Nusa Tenggara Barat, Sumiati
Bt. Salan Mustapa. Selama hampir 4 bulan, Sumiati harus menerima tindakan
tidak manusiawi dari kedua majikan perempuannya. Ibu dan anak itu menyiksa
Sumiati dan menyebabkan luka parah pada sekujur tubuhnya hingga harus
menjalani pengobatan dan perawatan di RS. King Fahd, Arab Saudi, sejak 8
Nopember 2010.

Kasus Sumiati, bukan kasus penganiayaan pertama yang dialami oleh BMP-PRT
Indonesia di Negara penempatan. Kasus serupa juga terjadi sebelumnya antara
lain, menimpa Nirmala Bonat dan Siti Hajar yang mengalami penderitaan yang
sama di negeri jiran Malaysia, yang berujung pada kebijakan Moratorium dari
pemerintah RI. Terdapat persamaan dari ketiga kasus ini yaitu munculnya
perhatian publik luas dan respon cepat dari pemerintah RI karena pemberitaan
media padahal kasus-kasus sejenis juga menimpa pada banyak BMP-PRT kita di
Negara penempatan, termasuk Timur Tengah.

Sepanjang tahun Januari-November 2010, Solidaritas Perempuan menanangani 37
kasus pelanggaran HAM terhadap BMP. Jumlah tersebut baru yang ditangani oleh
Solidaritas Perempuan. Banyak kasus lainnya yang menimpa banyak Buruh Migran
yang tidak terjangkau oleh media. Masih menurut catatan penanganan kasus
Solidaritas Perempuan, pengaduan kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran hak
asasi BMP-PRT paling banyak datang dari Arab Saudi lalu menyusul Malaysia.

Sayangnya, besarnya angka BMP-PRT yang menjadi korban berbanding terbalik
dengan angka kasus yang mampu diselesaikan pemerintah. Hal ini menunjukkan
minimnya upaya pemerintah RI terhadap penyelesaian kasus-kasus tersebut.
Bentuk penyelesaian perselisihan antara BMP-PRT/keluarga dan pihak
perekrut/majikan lebih banyak ditempuh melalui jalur damai atau
kekeluargaan. Alih alih untuk menjaga nama baik dan hubungan diplomatic yang
telah terjalin baik antara pemerintah RI-Arab Saudi, justru menjadi kendala
beberapa kasus kematian BMP-PRT yang ditangani Solidaritas Perempuan,
sehingga kasus-kasus itu tidak tertangani dengan maksimal.

Diplomasi ‘All Out Perlu sistem perlindungan ‘All Out’

Seperti yang dilansir oleh berbagai media, kasus yang dialami oleh Sumiati
ditanggapi oleh Presiden SBY dengan memerintahkan Menteri Luar negeri untuk
berdiplomasi secara “all out.” Namun, kasus Sumiati dan BMP lainnya, tidak
bisa hanya ditanggapi dengan penyikapan yang sifatnya reaksioner ala pemadam
kebakaran. Pemerintah tidak akan bisa benar-benar ‘all out tanpa adanya
sistem perlindungan yang menyeluruh bagi BMP. Tidak adanya ketentuan
mengenai mekanisme khusus atau langkah-langkah pemberian bantuan hukum
terhadap buruh migran Indonesia dalam UU No. 39/2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri (PPTKILN) menjadi bukti buruknya
sistem perlindungan yang diatur dalam UU tersebut. Upaya penanganan kasus
yang dilakukan pemerintah RI terhadap kasus-kasus yang mencuat selama ini
masih bersifat kuratif tanpa pernah terlebih dahulu membangun mekanisme
perlindungan dan bantuan hukum sebagai upaya preventif. Selain itu, lemahnya
diplomasi dan posisi politik pemerintah RI dengan Negara-negara penempatan
semakin menambah kerentanan BMP-PRT terhadap kasus kekerasan dan pelanggaran
hak asasi lainnya. Butuh keseriusan dan tindakan nyata dari pemerintah RI
dalam menyediakan system perlindungan yang menyeluruh untuk menjamin
pemenuhan hak asasi BMP-PRT di semua proses penempatan. Karena itu
pemerintah wajib meratifikasi Konvensi Migran 1990 sebagai payung hokum
perlindungan Buruh Migran yang komprehensif.

Setelah Sumati, kita tidak ingin mendengar kasus-kasus kekerasan dan
pelanggaran hak asasi manusia kembali menimpa BMP-PRT di luar negeri. Sudah
saatnya pemerintah RI tidak berdiam diri dan tidak lagi menyerahkan hidup
BMP-PRT/keluarganya pada nasib baik atau buruk.

Tuntutan Solidaritas Perempuan

Atas terjadinya kasus penganiayaan terhadap Sumiati dan situasi kerentanan
terhadap BMP-PRT lainnya, maka Solidaritas Perempuan dengan tegas menuntut:

1. Pemerintah segera membentuk Tim Pengacara/Bantuan Hukum untuk
mendampingi Sumiati selama proses hukum terhadap pelaku berjalan dan
memastikan semua hak Sumiati terpenuhi termasuk jaminan mendapat pengobatan
dan perawatan di Arab Saudi.

2. Pemerintah Secepatnya membuat Memorandum of Understanding antara
RI-Arab Saudi dengan menjamin hak-hak buruh migran, diantaranya mendapat
persamaan hak di depan hukum agar dapat mengajukan tuntutan hukum terhadap
agen/majikan yang melakukan pelanggaran dan mendapatkan bantuan hukum secara
maksimal.

3. Pemerintah RI dan DPR RI mempercepat pembahasan Revisi UU No.
39/2004 (UUPTKILN) yang mengacu pada prinsip-prinsip perlindungan dan
pendekatan hak asasi sebagaimana yang terkandung dalam Konvensi PBB 1990
Tentang Perlindungan Hak Semua Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya
(Konvensi Migran 1990).

4. Pemerintah RI segera meratifikasi Konvensi Migran 1990 sebagai
upaya menyediakan standar perlindungan hak BMP yang komperhensip dan
meningkatkan posisi tawar RI dengan negara tujuan buruh migran,termasuk Arab
Saudi.

Jakarta, 17 Nopember 2010

Wardarina

Koordinator Program

Badan Eksekutif Nasional-Solidaritas Perempuan

Kontak person:

Risca Dwi (081219436262)

Thaufiek Zulbahary (08121934205)

Divisi Migrasi, Trafficking dan HIV/AIDS

Foto 65

71986_1659205848672_1492940023_1708476_693048_n

Foto 64

64945_1634566592706_1492940023_1660082_5799968_n

Foto 63

64945_1634566512704_1492940023_1660080_4451215_n

Foto 62

58119_1627480455557_1492940023_1644653_804134_n

Foto 61

39759_1549994878466_1492940023_1443680_4856524_n

Foto 60

39759_1549994838465_1492940023_1443679_2316579_n

Foto 59

36871_1495354832499_1492940023_1295901_2534010_n