Bulanan

Sikh bukan Hindu apalagi Agama yang Mengganggu

Oleh : Chris Poerba

“Tapi mereka-mereka bilang kalau rumah ibadah dibuka, maka akan kita bakar. Sekarang rumah ibadah sudah ada, tapi siapa yang berani membuka,” begitu keluh kesah dari Ben Rahal, salah seorang penganut ajaran agama Sikh. Beliau pula-lah yang merintis pembangunan rumah ibadah agama Sikh di beberapa lokasi. Dia pernah menceritakan keluh kesahnya pada Sekolah Agama ICRP sekitar pertengahan tahun ini. Sekolah Agama ini sebuah gawean yang rutin dilakukan oleh lembaga Indonesian Conference on Religion and Peace yang biasa disingkat dengan ICRP.


Kampung Sawah

Sekolah Agama merupakan aplikasi nyata dari sikap ICRP pada rumusan yang tertuang dalam pasal 29 ayat 2, UUD 1945, yang dengan tegas menyatakan, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.“ Kebetulan pula pada seri ke-10 Sekolah Agama kali ini mengajak kita untuk diskusi dengan tema “Sikh; Sejarah, Ajaran, Aliran-alirannya di Indonesia serta kontribusinya bagi peradaban dunia”.

Agama Sikh sebenarnya sudah memiliki rumah ibadah di Ciputat, tepatnya di Kampung Sawah. Mereka mulai menempati lokasi itu sejak tahun 1993. Saat itu di Kampung Sawah masih belum banyak permukiman. Ben Rahal, salah seorang perintis rumah ibadah itu mengatakan, sejak tahun 1993 tidak ada tetangga di dekat rumah ibadahnya, ”Karena dulu Kampung Sawah masih tidak begitu ramai beda dengan sekarang yang sudah menjadi kelurahan. Di Kampung Sawah ini rumah ibadah Sikh berdiri. Tapi semenjak ada penolakan berberapa warga, selanjutnya rumah ibadah tersebut pindah”.

Ben Rahal yang mengenakan surban warna putih kembali mengisahkan bahwa sampai dengan tahun 2000 pendirian rumah ibadah Sikh juga masih mengalami penolakan yang sama. Saat Agama Sikh ini mulai menjajaki dan hendak membangun rumah ibadah di lokasi yang baru, di Tanah Kusir, juga terjadi penolakan dari warga setempat. ”Mereka bilang kalau kami adalah Hindu jadi silahkan balik saja ke Bali. Padahal saya sudah sering bilang kepada mereka, kalau agama Sikh ini bukan agama Hindu juga bukan agama yang mengganggu”.

Kirpan

Di Jakarta, bukan hanya rumah ibadah saja yang dilarang melainkan juga yayasan sosial yang dimiliki agama Sikh. Saat peresmian yayasan sosial yang bernama Yayasan Sosial Guru Nanak banyak warga sekitar yang menolaknya. ”Peresmian Yayasan Sosial Guru Nanak, pada tanggal 17 Agustus ini di jaga dengan pengawalan yang tidak terlihat, karena penjaganya, polisinya pake baju preman,” kembali Ben Rahal berkeluh kesah.

Agama Sikh adalah agama monotheisme yang berdiri di antara dua raksasa yaitu Hindu dan Islam. Agama Hindu yang kuat dengan sistem-nya dan Islam yang kebetulan menjadi penguasa pada saat itu. Saat ini banyak orang yang tidak tahu kalau Sikh termasuk agama tebesar ke-5 di dunia dengan jumlah penganut sekitar 20 juta jiwa. Sikh yang berasal dari agama Hindu ini tidak percaya kepada tahayul dan mempunyai pantangan untuk sembayang pada makam sesepuh juga pada tempat-tempat keramat meskipun tempat itu dianggap suci.

Sikh melakukan ibadah dengan dua kali sembayang dalam sehari. Selain itu mereka juga tidak boleh mencukur rambut namun menggunakan surban (kesh), menggunakan sisi rambut (kangha), memakai gelang (kara) dan memiliki senjata (kirpan) yang digunakan hanya untuk membela diri. Karena pada prinsipnya agama ini bukan agama yang agresif.


Mahatma Gandhi

Menurut Ben Rahal, yang nama aslinya adalah Bahluang Sing, beliau melihat kemunculan agama Sikh ini memang sudah sangat lama di tunggu-tunggu, terutama di India, karena banyak yang berharap agar setiap orang bisa melepaskan diri dari belenggu kasta. Puncaknya semua keinginan itu ”mendaging” pada diri Guru Nanak.

Guru Nanak yang dimaksud adalah pendiri sekaligus Guru Sikh yang pertama. Guru Nanak ini yang berupaya memutus mata rantai belenggu kasta itu. Beliau merumuskan ada 5 penyakit manusia yang harus dikendalikan dan jangan sampai justru penyakit itu yang mengendalikan kita. Penyakit manusia itu diantaranya adalah amarah, tamak, kesombongan dan penyakit yang paling terpenting dihindari adalah keterkaitan dengan duniawi, termasuk di dalamnya adalah sistem kasta yang di bawa sejak lahir. Semuanya harus dikendalikan oleh manusia. Kabarnya, Mahatma Gandhi juga terinspirasi dari ajaran-ajaran dari Guru Nanak.

Turun kasta

Menarik bila mengetahui siapa sebenarnya Guru Nanak sendiri, yang ternyata bukan berasal dari kasta rendah melainkan dari kasta yang cukup tinggi. ”Jadi Sikh ini bukan berasal dari kelas bawah sehingga bisa dikatakan sebagai agama revolusi”, ujar Ben Rahal. Turun kasta menjadi ide dasar yang diajarkan oleh para penganut agama ini.

Turun kasta ini bisa tercerminkan dalam penggunaan bahasa yang digunakan baik bahasa untuk keperluan sehari-hari maupun saat beribadah. Sikh menggunakan bahasa Punjabi sebagai bahasa yang memang biasa digunakan oleh semua orang, beda dengan Hindu yang selama ini menggunakan bahasa Sansekerta yang hanya bisa dipakai oleh para golongan pendeta saja.

Selain itu revolusi kasta ini bisa terlihat dengan jamuan makan bersama di langgar. Di langgar ini ada sebuah tempat yang masih berada di dalam rumah ibadah Sikh. Langgar ini biasanya digunakan sebagai jamuan untuk mengundang para umat Sikh dan tamu yang diundang. Ssemua oramg boleh hadir dan boleh turut serta makan di tempat ini.

Perempuan

Jangan kuatir dengan agama Sikh, Ben Rahal mengatakan Sikh temasuk agama yang vegetarian, ”Jadi kalau kami mengundang teman-teman untuk berkunjung untuk makan di ”langgar”, maka jangan kuatir karena semua agama pasti bisa makan, karena tidak ada hewan daging yang ber-nyawa yang di makan karena kami semua vegetarian. Asalkan pakaian dan kepala semuanya tertutup kain yang berwarna putih”. Rahal juga menambahkan kalau dalam agama Sikh minum-minuman keras dan merokok adalah sesuatu yang dilarang.

Terkait dengan rokok, ternyata ini sudah sangat lama dilarang, ”Rokok dari 500 tahun yang lalu sudah diharamkan oleh Guru Nanak”, kata Ben Rahal. Dia juga menambahkan kalimatnya, kalau dari 500 tahun yang lalu agama Sikh juga tidak membedakan kaum laki-laki dan perempuan. Terkait dengan kesetaraan gender itu, dia mengambil contoh kalau di Ciputat, ketiga pemimpin ibadahnya adalah seorang perempuan dan ini baru pertama kalinya di Indonesia juga di dunia.

Medan

Bila anda mengenang saat sedang berjalan-jalan di sekitar kawasan Kampung Keling, di Medan, melihat ada beberapa orang-orang yang mengenakan jubah putih, memakai surban dan memelihara janggutnya, maka sekarang teman-teman sudah mengerti bila mereka bukanlah orang India yang beragama Hindu melainkan beragama Sikh. Ini pun senada yang dinyatakan Rahal, ”HS Dillon itu juga beragama Sikh dia teman saya”. HS Dillon yang beliau maksud-kan adalah seorang pakar pertanian di republik ini yang berasal dari Medan. Apakah Sikh lebih diterima di Medan ketimbang di Jakarta ? *)

Show More

5 Comments

  1. Nama saya Dill Raaj Singh Khalsa.
    boleh sekali-kali jika ada pertemuan di kantor ICRP yang membahas tentang agama-agama minoritas di Indonesia bisa mengundang saya.

    Kebetulan kantor ICRP dekat sekali dengan rumah saya, saya tinggal di Kemayoran.

    terima kasih.

  2. Dear Mr Balwan Singh,

    Jakarta people should understand and accept sikh religion. In many country now Sikh Religion are Accaptable by the people. I’m staying in Kuala Lumpur now but the people here understand with Sikhism so I hope in Indonesia also the people can understand what is SIKH religion.

    Regards,

  3. Anyone interested to visitand learn more about Sikhism in Indonesia,please visit our house of worsip ( Gurdwara )at Jl.Merpati 130,Kelurahan Sawah,Bintaro Ciputat,Tangsel 2kms away from BSDBintaro toll and Binaro Jaya Exchange,tel:74634688.Yayasan Sosial Guru Nanak near Kids R Kids preschool,Tangerang Selatan,Banten.
    Balwant Singh /Ben Rahal
    0816953416

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close