Harian

Membangun Jejaring Lintas Iman dan Melawan Kekerasan Atas Nama Agama

Chris Poerba

 

Tahun 1999, tepatnya tanggal 25-29 November, Gus Dur berpidato di hadapan kongres internasional ke-7, di World Conference of Religions for Peace (WCRP). Saat itu Gus Dur telah menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun sebelumnya, Gus Dur, saat masih menjadi ketua Nahdatul Ulama (NU), pernah menjadi presiden dari WCRP. Beliau menjadi presiden WCRP, pada tahun 1994 dalam konferensi ke-6, yang berlangsung di Italia Utara. Dalam konferensi tersebut Gus Dur mendapat sambutan yang sangat meriah dihadapan  konferensi yang dihadiri lebih dari 600 tokoh agama dari penjuru muka bumi.

 

 

Gus Dur

Selain Gus Dur, beberapa  peserta dari Indonesia, yang hadir adalah Nurcholish Madjid, Syafii Maa’rif, Martin Lukito Sinaga, Johannes Hariyanto termasuk Musdah Mulia. Akhirnya konferensi itulah yang menjadi tonggak sejarah bagi berdirinya sebuah lembaga baru yang bernama Indonesian Conference on Religion and Peace, yang biasa disingkat dengan ICRP. Sebuah lembaga yang berupaya terus mempromosikan dialog dalam pengembangan kehidupan beragama yang demokratis, humanis dan pluralis. Begitulah sejarah berdirinya ICRP, lembaga yang kini telah berusia 11 tahun. Informasi mengenai sejarah berdirinya lembaga ini terdapat di dalam buku ”11 Tahun ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama”. Buku ini telah diluncurkan  di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (15/12/ 2011) pada saat sedang berlangsungnya konferensi tahunan yang rutin digelar oleh lembaga ini.  Di dalam buku ini, terdapat beberapa tokoh yang turut membidani lahirnya ICRP, selain Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Djohan Effendi, Chandra Setiawan, Budi Santoso Tanuwibowo, Michael Utama Purnama, Johannes Hariyanto,  Sylvana Maria Apituley, Muhamad Najib dan Sudhamek AWS. Mereka semua berasal dari berbagai lintas agama dan lintas iman. Di usianya yang masih belia, saat ini ICRP diketuai oleh Siti Musdah Mulia. Musdah Mulia adalah seorang professor riset perempuan yang pertama dari LIPI dan pengajar dari Universitas Islam Negeri Jakarta.

 

Founding People

Berdirinya ICRP yang mengambil momentum reformasi ini, mengemban ide bahwa setiap orang memiliki kebebasan beragama dan bebas untuk melaksanakan ibadahnya. Lembaga ini mengacu kepada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, tepatnya pasal 28 E,  ayat 1 dan 2. Inilah yang menjadi landasan kuat bagi ICRP dalam melakukan berbagai kegiatannya. Pasal itu berbunyi: (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini keyakinan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Dalam mempromosikan kebebasan beragama tersebut, maka  lembaga ini memilih model networking, dengan membangun jejaring dialog antar agama. Jejaring dialog antar agama ini di pilih, mengingat sebelumnya  saat di era Orde Baru, semua dilakukan secara sentralistik dan penyeragaman di berbagai aspek masyarakat. Dengan demikian lembaga ini berupaya tetap  menghormati kemampuan masing-masing daerah, menghormati ketokohan masing-masing orang di daerah, menghormati bahwa daerah yang lebih mengerti masalah-masalah yang ada di daerahnya. Ini yang menjadi landasan untuk berlaku sama dan setara dengan lembaga yang lain. Dengan bentuk jejaring ini, maka ICRP terus berkomunikasi dengan daerah, terutama bila ada sebuah masalah yang muncul pada tingkat daerah, termasuk berdiskusi dengan daerah,  apakah masalah yang tengah dihadapi itu, perlu di bawa ke tingkat nasional, dan seterusnya.

Terbentuknya ICRP sebagai wadah bersama ini, memang menjadi hal yang penting. Namun bagi ICRP, lembaga ini hanya menjadi entri point, sebagai ‘pintu masuk’ menuju terciptanya sebuah kepercayaan bersama. Sehingga membangun kepercayaan, atau biasa dikenal dengan trust building, menjadi hal yang paling esensial yang terus diupayakan oleh ICRP. Bahkan terbentuknya ICRP, yang dari semula di gagas oleh founding people (bukan hanya founding father, karena terdapat perempuan yang turut serta), sudah menyiratkan ide dasar untuk membangun kepercayaan tersebut. Sedari awal, keyakinan untuk membangun kepercayaan inilah yang terus-menerus diupayakan oleh lembaga yang bergelut di bidang lintas agama dan lintas iman ini.

 

 Chris Poerba

Kontributor Buku ”ICRP: 11 Tahun ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama” (Tulisan Sudah Dimuat di Majalah Berita Oikumene-PGI, Maret 2012)

 

 

Data buku :

Judul    : 11 Tahun ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama

Penulis : Ahmad Nurcholish, dkk

Prolog              : Djohan Effendi

Epilog               : Siti Musdah Mulia

Penerbit            : ICRP

Cetakan I         : Desember 2011

Tebal                : xvi + 294

Harga               : Rp. 70.000,-

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close