Khusus

Laporan Terkini Pengungsi Tragedi Sampang

Berikut ini adalah hasil reportase yang dilakukan oleh Ading Segaf (salah seorang relawan yang terjun langsung ke daerah konflik di Sampang Madura)

Pada Kamis malam, 5 Januari 2012, saya pergi ke Yayasan At-Tathir surabaya, untuk mencari info mengenai keadaan saudara-saudara kita di Sampang. Entah saya yang kurang melek informasi gara2 jarang nonton berita dan baca koran, ataukah media dan pemerintah berupaya memberi kesan yang adem ayem kepada masyarakat, ataukah mungkin LSM dan Yayasan Sosial di Jatim sengaja menutup mata dan telinga, kok saya tidak tahu kabar korban Kerusuhan di Sampang beberapa hari yang lalu.

Setibanya di Yayasan At-Tathir, saya melihat tumpukan (atau lebih pantas disebut gunungan) barang-barang bantuan untuk korban Sampang, yang berisi bahan makanan (beras, indomie, susu bayi, biskuit), pakaian, dll. Saya bertanya barang-barang ini kapan akan dikirim? Orang-orang yang ada disitu bilang: ini barang yang telah dikirim sebelumnya pake truk, tapi oleh aparat setempat (polisi dan satpol pp), barang-barang tersebut tidak boleh masuk, tidak boleh diberikan kepada korban, dengan alasan yang macam-macam.

Kebetulan disitu ada Ust. Tajul Muluk (tokoh yang dijadikan target utama oleh pelaku kerusuhan dan provokator), dia mampir sebentar ke Surabaya setelah diundang oleh TV One di Jakarta. Disitu ada juga Sdr. Hadun Alhadar, yang merupakan pengacara Ust. Tajul Muluk. Mereka sempat cerita mengenai berbagai hambatan, batasan, dan minimalisir fasilitas yang dilakukan oleh aparat dan pemerintah setempat terhadap para korban di pengungsian. Malam itu Ust. Tajul Muluk beserta rombongan akan kembali ke Sampang.

Esok harinya, saya bertekad meluncur ke Sampang, dengan membawa sebagian barang bantuan (pakaian-pakaian) yang memenuhi mobil saya. Saya ditemani oleh seorang aktifis relawan dari Bangil (atau lebih tepatnya, saya yang menemaninya ), sebutlah namanya AM (saya belum meminta izin kepada orang yang baik ini untuk menyebutkan namanya), dia sebelumnya telah beberapa hari berada di lokasi, sehingga sangat tau kondisi di lapangan. AM membawa kartu PERS agar diizinkan untuk masuk ke lokasi, sedangkan saya sendiri bertindak sebagai sopir beliau.

Dengan berbagai rasa khawatir dan kecurigaan, Alhamdulillah, kami berhasil masuk GOR tempat penampungan korban. Setelah melapor dan AM menunjukkan kartu PERS-nya, kami diizinkan masuk. Dan setelah suasana memungkinkan, kami menurunkan barang-barang bantuan di mobil untuk diberikan kepada korban (itupun dengan penuh kekhawatiran). AM mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya tidak semudah ini untuk masuk (maka dari itu dia membuat kartu PERS). Setiap orang yang mau masuk diperiksa ketat, dan jika tidak sesuai dengan “selera” polisi, maka tidak diizinkan masuk.

Secara sederhana saya berani bilang, suasana di pengungsian korban Sampang ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan korban pengungsian Gempa Jogja, Gunung Merapi, dan pengungsian pada bencana lainnya. Mungkin lebih pantas jika saya bilang, ini seperti korban pengungsian perang. Yah, meskipun memang ini di daerah konflik, pastilah keamanannya dijaga ketat oleh polisi. Tapi siapakah yang diamankan? Korban di pengungsian? ataukah sebaliknya, para pelaku teror yang sekarang sedang berkeliaran? Yang meskipun polisi sudah tau dan memiliki beberapa bukti kuat, tapi tidak melakukan penangkapan terhadap pelaku? Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, terlalu complicated. Yang saya tahu, korban di penampungan yang saat ini jumlahnya sekitar 300-400 orang, termasuk wanita, anak-anak dan manula, sedang mengharapkan bantuan.

Kami berbuat sebisanya, salah satunya menyediakan dispenser dan galon air mineral, karena sudah beberapa hari balita tidak minum susu karena tidak tersedia air panas. Susu bayi banyak, tapi tidak ada air hangat. Waktu ditanya ke petugas jaga, jawabannya: “kemarin sih ada dispenser, tapi tidak tahu sekarang dimana”. Alasan! Saya memperhatikan, dengan jumlah korban sebanyak itu, tidak terdapat dapur umum. Selama ini makan dikirim oleh tim TAGANA berupa nasi bungkus, dan membaginya dengan mengabsen satu-persatu. MCK pun pas-pasan. menurut salah seorang korban, tadinya kamar mandi darurat ada 6 bilik. Kemudian dikurangi (dibongkar) 4 bilik (kenapa???), sehingga kamar mandi darurat sekarang cuma ada 2.

Subhanallah sore itu (tanggal 06/01/2012) saya melihat pemandangan menarik, yaitu persediaan air habis. Untuk mengambil air untuk wudhu dan memandikan anak (karena yang dewasa tidak mungkin mandi), korban harus bergantian memiringkan bak persediaan air. Relawan dari Jausyan mencoba menelfon pihak PDAM. Dari beberapa contact person yang ada, hanya satu yang bisa dihubungi, dan jawabannya (sebagaimana telah diperkirakan) negatif. “Saya tidak berani, tidak ada perintah, saya hanya sopir!”. Relawan itu mengatakan bahwa kami siap membayar berapapun, bukan minta gratis, tapi tetap saja tidak diberi. Akhirnya setelah tidak ada harapan lagi, satu-satunya cara yang ditempuh adalah mendatangkan truk tangki air dari PRIGEN, pasuruan, yang harus menempuh perjalanan 4-5 jam untuk tiba di lokasi.

Malam itu, sekitar jam 8, AM (teman saya yang menjadi Pers) mengkoordinir pertemuan perwakilan LSM yang ada di lapangan. Pertemuannya dilakukan di warung makan yang agak jauh dari lokasi, untuk menghindari kecurigaan Polisi. Pertemuan itu dihadiri oleh wakil-wakil dari Tim Jausyan , Kontras, AMAN (The Asian Muslim Action Network), AM, seorang Dokter relawan dari jakarta, dan saya sendiri. Salah seorang relawan yang sedari awal-awal pasca kerusuhan telah stay di lokasi (saya tidak dapat menyebutkan namanya, semoga Allah membalas kebaikannya), menceritakan berbagai batasan, hambatan, kesengajaan untuk meminimalisir fasilitas yang dilakukan oleh aparat dan pemerintah setempat terhadap korban.

Ceritanya kurang lebihnya begini…

Malam hari setelah kejadian, aparat Polisi & Satpol PP, mengungsikan dengan paksa warga kampung situ yang mayoritas mengikuti ajaran Ust. Tajul Muluk (bermazhab Syiah) sekitar 700 orang, dan ditempatkan di Kantor Kecamatan yang sangat tidak layak untuk ditinggali orang sebanyak itu. Aparat mengatakan , ini demi keamanan untuk menghindari konflik lanjutan. Mereka semua enggan, tapi tidak ada pilihan lain. Aparat menjanjikan keamanan rumahnya, akan dijaga ketat, tapi kenyataannya banyak dilaporkan penjarahan. Relawan tersebut menawarkan untuk membuat dapur umum, dengan peralatan masak yang cukup, tapi tidak diizinkan oleh aparat, dengan alasan takut kebakaran (???).

Aparat mengatakan bahwa semua fasilitas, logistik, telah ditanggung oleh pemerintah, dan dihandle oleh BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Setelah desakan dari berbagai pihak, pengacara, relawan, akhirnya para korban dipindahkan di GOR, yang areanya lebih luas dan lebih pantas untuk dijadikan tempat penampungan. Aparat yang sebelumnya menahan korban untuk tidak pulang ke kampungnya, setelah menyadari bahwa beritanya sudah mulai diekspose, merasa khawatir, dan sekarang, mempersilakan korban untuk pulang ke kampungnya.

Namun kemudian korban menolak, karena polisi tidak memberikan jaminan keamanan kepada mereka. Pelakunya tidak ditangkap, mereka bebas berkeliaran. Karena para korban menolak untuk pulang dan memilih untuk tetap di penampungan, maka mulailah ketidaknyamanan-ketidaknyamanan dimunculkan. Dari terlambatnya pasokan nasi bungkus (yang biasanya makan malam jam 7, dikirim jam 10 malam), dibatasinya pasokan Air, dibongkarnya 4 kamar mandi. Bahkan pada suatu malam relawan itu mendengar sendiri obrolan Kapolsek dan beberapa bawahannya, mereka berencana menyalakan semua lampu dalam GOR (yang terdiri atas 24 lampu 1000 watt), dengan tujuan agar orang2 tidak nyaman tidurnya.

Pada pukul 23.00 dinyalakanlah semua lampu indoor yang tadinya padam, sehingga menyebabkan puluhan anak kecil dan bayi yang tidur didalam bangun, menangis dan membuat suasana ribut. Salah seorang korban meminta agar lampunya dimatikan, kalo ga semua ya sebagiannya deh.. dan jawaban polisi adalah: ini merupakan permintaan kyai2 setempat, karena didalam kan berkumpul antara pria dan wanita, jadi dikhawatirkan terjadi fitnah (???) Dan masih banyak kesengajaan dan kesinisan aparat dan pemerintah setempat yang dia ceritakan. Alhasil, pertemuan malam itu dirumuskan rencana pembuatan Dapur Umum, Posko bantuan, ketercukupan MCK, ketercukupan Klinik Kesehatan, dengan melibatkan beberapa LSM.

Pada sore hari sabtu, tgl 7, saya  pulang ke Surabaya, dengan membawa beberapa santri yang akan mutasi studi di salah satu Ponpes di Pekalongan. Sebelum berangkat pun saya sempat ditanya-tanya oleh polisi berpakaian preman mengenai anak2 santri yang ikut dengan mobil saya. Dengan singkat saya jawab: tanya aja langsung ke Ust. Tajul Muluk, saya cuma ditumpangi karena mobil saya kosong.

Sampai kemarin, hari senin, tgl 8 Januari 12, kondisi di lapangan masih tetap seperti sebelumnya.

Surabaya, 9 Januari 2011

Ading Segaf (salah seorang relawan yang terjun langsung ke lapangan)

Show More

Related Articles

4 Comments

  1. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’uun… Gimana pak kyai semadura,,,? Ahlusunnah waljama’ah itu punya siapa? Alm GUSDUR tdk pernah mengajarkan kemurkaan2 yg diajarkan para kyai, bahkan sampai mendlolimi makhluk hidup… Mudah2an kyai2 yg berkompeten diberi petunjuk oleh-NYA.

  2. Hingga kepulangan pengungsi ke kampung halaman mereka pada 12 januari 2012, pemerintah kabupaten Sampang tidak pernah menyuplai kebutuhan hidup dasar pengungsi yang berusia balita, seperti susu bayi ataupun bubur bayi. Padahal terdata ada 35 bayi yg usianya berkisar antara 8 bulan hingga 5 tahun.

    Kebutuhan kewanitaan seperti pembalut dan pakaian dalam wanitapun tak pernah mendapatkan bantuan dari pemkab Sampang.

    Kebutuhan-kebutuhan untuk bayi dan wanita, sejauh ini di suplay hanya oleh relawan.

    Agar bantuan berupa susu bayi yg sangat dibutuhkan oleh bayi ini dapat masuk ke tangan pengungsi dan lolos dari pemeriksaan aparat, para relawan secara sembunyi2 meminta bantuan bbrp orang pengungsi untuk membawa kebutuhan2 bayi tersebut dari sebuah toko tempat para relawan tersebut membelinya.

  3. Masya Allah…tolong jgn biasakan mudah terhasut oleh segelintir oknum dan menjadikan banyak tumbal yang tidak bersalah,ingatlah masalah sampit dan sambas,belum cukupkah Allah memberi peringatan pada kalian.kalau ada masalah diskusikan dengan benar bukan dengan jalan anarkis.sukran wa afwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close