Esai

Kolom Musdah Mulia: Syahadat Cinta Rabi’ah al-‘Adawiyah

Syahadat Cinta Rabi’ah al‘Adawiyah karya Guntur Romli

 

Rahmatan lil alamin

Saya mendapat kehormatan untuk membedah buku berjudul: Syahadat Cinta Rabi’ah al‘Adawiyah karya Guntur Romli, seorang cendekia NU yang memiliki konsen pada gerakan pluralisme. Menurut saya, kehadiran buku ini sungguh tepat waktu. Mengapa? Karena buku ini tak pelak lagi merupakan sindiran yang amat tajam terhadap buruknya kondisi kerukunan kehidupan keagamaan masyarakat di negeri ini.

Buku ini seperti membuka tabir kegelapan yang menyelimuti umat beragama, khususnya umat Islam Indonesia. Agama tidak lagi tampil sebagai media yang menyejukkan di mana manusia dapat merasakan kedamaian dan kebahagiaan seperti dijanjikan dalam ajaran agama itu sendiri. Agama telah berubah menjadi simbol-simbol dan aturan-aturan yang tidak ramah terhadap manusia, terutama terhadap manusia yang berjenis kelamin perempuan. Bahkan dalam banyak hal, aturan-aturan keagamaan terasa begitu mengerikan dan menakutkan karena isinya tiada lain hanyalah kewajiban yang bernuansa pemaksaan.

Penulisnya, Guntur Romli dengan tepat mengkritisi kondisi keagamaan kita yang gersang dan kering, tidak banyak memberikan manfaat bagi manusia dan kemanusiaan dengan menyodorkan satu buku berjudul Syahadat Cinta. Melalui buku ini, penulisnya ingin mengingatkan kita, umat Islam bahwa syahadat yang sesungguhnya itu bukan sekedar ucapan verbal atau sekedar pengakuan legal dan formal melalui ucapan asyhadu an la ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad rasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya), atau disebut juga dengan syahadat ‘ubudiyah. Bukan sekedar itu!!

Syahadat yang sesungguhnya adalah sebuah komitmen konkret yang terefleksi dalam praktek nyata sehari-hari. Komitmen bahwa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, Sang Pencipta dan karenanya tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan esensi agama yaitu menegakkan keadilan dan kemaslahatan demi kemanusiaan.

Sebab, syahadat itu intinya adalah sebuah testimoni bahwa sebagai Muslim kita berjanji untuk membebaskan diri kita dari semua perilaku diskriminatif, eksploitatif dan kekerasan terhadap sesama manusia dan juga terhadap alam semesta. Itulah makna kehadiran Islam sebagai rahmatan lil alamin, keberagamaan kita hendaknya memberikan makna dan dampak positif  bagi diri sendiri dan sesama manusia, dan bahkan juga bagi isi semesta alam.

Muncul pertanyaan, siapa Rabi’ah yang menjadi figur sentral dalam buku ini. Rabi’ah adalah seorang perempuan yang dengan sadar memilih bertekun dan menghabiskan waktunya di dunia sufi, yang sebelumnya selalu diidentikkan dengan dunia maskulin. Ia lahir di Basrah tahun 713 M dan meninggal di Palestina tahun 801. Ia hidup di masa keemasan Dinasti Abbasiyah yang terkenal dengan aroma kehidupan hedonisnya. Menarik sekali bahwa ia tidak tergiur dengan kehidupan materialis dan  hedonistik yang menjadi ikon khalifah Harun Al-Rasyid, penguasa terkenal Dinasti Abbasiyah. Ingat cerita Seribu Satu Malam (Alfu Laila wa Laila) yang menceritakan kegemerlapan dan kejayaan masa itu.

 

Tasawuf mahabba

Tasawuf mahabba yang menjadi simbol ajaran Rabi’ah sebetulnya bukan hal baru di dunia tasawuf, sejumlah sufi sudah memperkenalkan pendekatan cinta ini sebelumnya. Hanya saja, sentuhan feminin dari seorang perempuan sufi membuat pendekatan tasawuf Rabi’ah menjadi jauh lebih indah dan lebih eksotik. Mari amati ungkapannya yang terkenal, uhibbuka hubbaini: hubbul hawa wa hubban liannakan ahlun lizaaka. Artinya, saya mencintai-Mu dengan dua cinta: cinta karena diriku yang amat rindu kepada-Mu dan cinta kepada-Mu karena Engkaulah pemilik segala cinta.

Ditemukan ribuan bait puisi cinta Rabi’ah yang amat menggetarkan hati bagi mereka yang mendalami dunia spiritual. Rabi’ah mengajarkan pada kita bahwa antara manusia dan Tuhan tidak ada sekat sama sekali. Ini sebetulnya merupakan esensi Islam dengan ajaran tauhidnya. Konsep tauhid yang diperkenalkan Rasul inilah yang membuat marah masyarakat Arab Jahiliyah di awal dakwah Islam pada abad ke 7 di  Jazirah Arab.

Konsep tauhid yang mengajarkan keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Allah pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama makhluk Allah. Tidak ada manusia nomor satu dan manusia nomor dua. Manusia pada hakikatnya sama. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat. Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuhan bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin. Oleh karena mereka bukan tuhan, maka rakyat tidak boleh mempertuhankan rajanya dan pemimpinnya, bawahan tidak boleh mempertuhankan atasannya dan istri tidak boleh mempertuhankan suaminya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Allah merupakan pengingkaran terhadap tauhid.

 

Ajaran kasih sayang

Rentang waktu antara Rabi’ah dan masa Nabi tidak sampai 100 tahun, tetapi ajaran Nabi yang penuh dengan ungkapan cinta seolah terasa asing dalam masyarakat. Apalagi di masa kita sekarang, hampir tidak pernah lagi terdengar pemuka agama menyampaikan dakwah dengan mengedepankan ajaran kasih sayang dan cinta yang tulus murni.

Ajaran Islam yang disampaikan kepada masyarakat terlalu padat dimuati hal-hal yang bernuansa hukum sehingga terkesan kaku dan rigid. Islam seolah hanya soal halal dan haram, surga dan neraka, kafir dan murtad, kosa kata yang muncul dalam wacana agama melulu berisi hujatan dan ancaman. Tidak ada apresiasi dan toleransi terhadap perbedaan. Yang muncul hanyalah absolutisme dan kemutlakan tanpa batas.

Sebuah disertasi yangg ditulis oleh Asyhari, Mahasiswa UIN Jakarta mengungkapkan, terminologi cinta sangat melimpah dalam Al-Qur’an. Terdapat tidak kurang dari 95 kali kata cinta ini muncul dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Demikian pula dalam hadis-hadis Nabi, terutama hadis Qudsi. Semua itu menyiratkan bahwa Islam adalah agama yang mengusung cinta sebagai sebuah pendekatan keagmaan menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat.

Cinta yang sebenarnya adalah suatu kekuatan dari lubuk hati terdalam yang selalu mendorong manusia untuk senantiasa dekat dengan Tuhan, melakukan kebaikan dan kemaslahatan demi keselamatan seluruh umat manusia, bahkan juga seluruh makhluk di alam semesta. Cinta itulah yang membunuh semua sikap egois, serakah, narsis, dendam dan benci yang selalu mengambil tempat dalam hati manusia, dan ironisnya sikap-sikap jahat itu seringkali menggunakan dalih agama.

Akhirnya, dengan membaca buku ini saya berharap kita semua mendapat inspirasi untuk membangun kehidupan keagamaan yang lebih mengedepankan cinta, cinta kepada sesama dan juga cinta kepada alam sekitar sehingga terwujud masyarakat yang damai, harmoni dan saling mencintai satu sama lain dengan dukungan lingkungan yang asri dan menyejukkan. Betapa indahnya!!!

 

Musdah Mulia, Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace

 

 

Show More

Related Articles

One Comment

  1. ayat2 yg bernafaskan cinta didalam al-qur’an sebetulnya jauh lbh banyak daripada ayat2 yang bernafaskan hukuman/sanksi menurut sahabat saya yg muslim. tapi entah mengapa di masa skrg ini, umat islam kebanyak justru mengedepankan ayat yg berisi hukuman/sanksi daripada ayat2 cinta?!..

    seharusnya fenomena ini mjd refleksi kita bersama, bahkan tak jarang hal ini pun terjadi pd ajaran agama lain, dimana ketika melakukan syiar agama, yg dikedepankan adl ayat2 yg mengandung hukuman, hujatan dan sanksi apabila tidak meyakini ajaran tsb. saya jadi bertanya, apa benar Tuhan sebegitu berambisinya ingin di akui eksistensinya dan ingin di sembah sbg Tuhan jika umatnya menggunakan ayat2 penghukuman spt ini dlm mengenalkan eksistensi Tuhan kpd manusia?!…
    katanya Tuhan tidka perlu umat?!..katanya Tuhan tidak perlu di sembah?!..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close