Esai

Kolom Musdah Mulia: Kehadiran Agama Baru

Musdah Mulia

 

Agama seharusnya dipahami sebagai kepercayaan manusia akan sesuatu yang bersifat transenden, sesuatu yang diyakini sebagai yang Maha Segalanya. Kebutuhan akan agama itu muncul antara lain dari kesadaran manusia akan ketidakberdayaannya menaklukkan  alam yang dianggapnya begitu dahsyat, atau dari ketidakmampuan manusia menghadapi  dan mengatasi berbagai problem dalam kehidupan nyata sehari-hari.

 

Karena itu, agama merupakan suatu kebutuhan manusia. Beragama dan tidak beragama seharusnya dilihat sebagai salah satu hak asasi manusia yang paling mendasar, tidak boleh dikebiri oleh siapa pun, dalam istilah human rights disebut dengan hak non-derogable, hak yang tidak boleh ditiadakan dalam kondisi apa pun, baik dalam kondisi damai maupun perang.

 

Pertanyaan muncul, mengapa selalu timbul agama atau keyakinan baru? Salah satu penyebabnya, kekecewaan atau ketidakpuasan manusia pada agama yang sudah eksis sebelumnya.

 

Dalam dunia spiritualitas, manusia sering merasa tidak puas, atau mungkin juga kecewa dengan bentuk dan cara spiritualitas yang diyakininya, yang dirasakan belum mampu memenuhi kebutuhan spiritualnya. Sebab, dalam realitas sosiologis, dijumpai ada saja manusia merasa dahaga dan cenderung ingin memuaskan dahaga spiritualitasnya itu, lalu muncullah agama atau keyakinan baru untuk memenuhi rasa dahaga spiritual tadi. Itulah sebabnya, kemunculan agama dan keyakinan baru merupakan fenomena yang selalu dan selalu saja terjadi. Fenomena tersebut menghiasi sejarah kehidupan masyarakat di berbagai belahan bumi ini.

 

Persoalannya adalah, tidak banyak manusia siap menerima kehadiran dan kemunculan suatu agama dan keyakinan baru, terlebih dalam komunitas agama yang menganut agama formalistik, seperti Islam dan Kristen. Selain itu, umumnya para penganut agama sejak kecil sudah mendapat doktrin bahwa hanya agama mereka yang benar secara mutlak dan agama lain salah secara mutlak. Seharusnya, para orang tua dan pendidik agama, juga para pemuka agama bersedia dan berani mengajarkan pandangan keagamaan yang kritis dan rasional, dan dimulai sejak anak-anak.

 

Kalau kita boleh menganggap agama kita sebagai benar secara mutlak, maka penganut agama lain pun boleh melakukan hal serupa. Lalu, mana agama yang paling benar? Jawabannya mudah, yakni wallahu a’lam. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu agama mana paling benar. Yang penting, mari kita berkompetisi secara sehat untuk mengaktualisasikan ajaran agama kita dalam kehidupan nyata sehari-hari sehingga terlihat mana agama paling baik dan benar. Percuma mengklaim agama kita paling baik dan paling benar, sementara sikap dan perilaku kita tidak merefleksikan kedamaian bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas, bahkan juga bagi alam semesta.

 

Terkait, berita kehadiran agama dan keyakinan baru tadi, mari kita bersikap kritis dan rasional. Sepanjang ajaran agama baru tersebut tidak mendorong penganutnya melakukan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi terhadap orang lain yang tidak seiman dan seagama, maka apa yang salah? Juga sepanjang para penganutnya tidak memaksakan agama baru itu pada orang lain, maka apa yang keliru? Silakan saja.

 

Akhirnya, kepada para penganut agama dan keyakinan yang berbeda, tunjukkan bahwa agama esensinya adalah upaya memanusiakan manusia. Jika kita betul-betul mengakui sebagai orang beragama, pasti kita menjadi lebih peduli kepada sesama, termasuk mereka yang tidak seagama atau seiman. Bahkan, terhadap mereka yang mengaku tidak beragama sekalipun. Sebab, tugas kita bukanlah menghakimi keyakinan atau agama orang lain, melainkan mempererat tali silaturahim agar komunikasi kita dengan orang lain yang berbeda selalu melahirkan spirit perdamaian yang pada ujungnya membuahkan kepedulian pada sesama manusia sehingga tidak lagi ditemukan segala bentuk kekerasan atas nama agama dan keyakinan. Indah bukan??

 

Musdah Mulia adalah Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)

Show More

Related Articles

5 Comments

  1. Yaaa Gendang UU Dasar dan ideologinya memang begitu (human rights) , yg menjadi arus potensial akan kelanjutan aktifitas kepercayaan (Hakiki sebagai Mahluk Sosial)bagaimana dgn Pendelegasiannya??? yg seharusnya menjaga UU ini malah membuat suatu aturan/turunan Lain dibawah kjedudukan UU Dasarnya. Agama baru atau kepercayaan baru juga akan terlumuri dgn hal tersebut yaitu “”GOAL PENDELEGASIAN” Tks atas pencerahannya GBUS.

  2. Kalau kita tidak berani mengklaim agama yang kita anut adalah agama yang paling baik dan benar berarti kita masih menyangsikan agama yang kita anut.
    Masalah sikap dan perilaku, agama selalu mengajarkan kedamaian bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas termasuk menjaga alam semesta.

    Jika ada manusia yang berperilaku yang tidak merefleksikan kedamaian bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas, bahkan juga bagi alam semesta itu adalah manusia sebagai makhluk yang fana tidak terlepas dari perilaku yang menyimpang (patologi sosial) tentu disebabkan oleh berbagai faktor.

    tidak pernah mengajarkan
    Percuma mengklaim agama kita paling baik dan paling benar, sementara sikap dan perilaku kita

    Kita harus berani mengklaim agama yang kita anut adalah agama yang paling baik dan benar. Lakum dinukum waliadin.

  3. Kalau kita tidak berani mengklaim agama yang kita anut adalah agama yang paling baik dan benar berarti kita masih menyangsikan agama yang kita anut.
    Masalah sikap dan perilaku, agama selalu mengajarkan kedamaian bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas termasuk menjaga alam semesta.

    Jika ada manusia yang berperilaku yang tidak merefleksikan kedamaian bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas, bahkan juga bagi alam semesta itu adalah manusia sebagai makhluk yang fana tidak terlepas dari perilaku yang menyimpang (patologi sosial) tentu disebabkan oleh berbagai faktor.

    Kita harus berani mengklaim agama yang kita anut adalah agama yang paling baik dan benar. Lakum dinukum waliadin.
    (maaf yg pertama lupa menghapus copiannya yg terselip)

  4. dari uraian anda yang lebih tinggi mana secara nilai agama atau kesadran manusia tentang humanisme sehingga anda bisa menyimpulkan : “khirnya, kepada para penganut agama dan keyakinan yang berbeda, tunjukkan bahwa agama esensinya adalah upaya memanusiakan manusia. Jika kita betul-betul mengakui sebagai orang beragama, pasti kita menjadi lebih peduli kepada sesama, termasuk mereka yang tidak seagama atau seiman. Bahkan, terhadap mereka yang mengaku tidak beragama sekalipun. Sebab, tugas kita bukanlah menghakimi keyakinan atau agama orang lain, melainkan mempererat tali silaturahim agar komunikasi kita dengan orang lain yang berbeda selalu melahirkan spirit perdamaian yang pada ujungnya membuahkan kepedulian pada sesama manusia sehingga tidak lagi ditemukan segala bentuk kekerasan atas nama agama dan keyakinan. Indah bukan??”

    Apa yang indah kalau semua agama ukuranya adalah definisi anda ?
    Apa yang menarik jika agama bukan jadi panglima tp sebagai bagian dari hak asasi yang buatan teman anda itu ?(baca Manusia)
    Manusia di anugrahi dua potensi kekerasan dan kelembutan mengapa hak asasi mereka yang keras anda abaikan ?

    ini loh maksud saya bahwa definisi anda tentang kehidupan ini lebih bagus dari agama.

    kalau definisi anda itu lebih bagus dari agama mestinya anda itu menjadi tuhan. tidak lagi menjadi musdah mulia lagi. terlalu hina dan kecil.
    bagaimana usul saya mantab?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close