Esai

Hari Ketigabelas Setelah Natal

Oleh: Chris Poerba

“Kasihanilah Tuhan” dan “Kepada-Mu ya Tuhan,” begitulah kidung yang terus-menerus didendangkan para jemaat Kristen Orthodox. Kidung indah itu dinyanyikan saat mereka merayakan Ibadah Senja, pukul 18.00, di salah satu sudut kawasan Jakarta Selatan. Ibadah Senja ini merupakan prosesi awal dari keseluruhan perayaan Natal yang dilangsungkan pada tanggal 6 Januari 2011. Ya, memang pada bulan Januari dan setiap tanggal itulah Kristen Orthodox secara rutin merayakan Natal, hari kelahiran Kristus di Betlehem.

Natal nasional

Komunitas Sekolah Agama ICRP, merasa beruntung, karena menerima undangan untuk bisa menghadiri hari Natal yang dilakukan oleh komunitas Kristen Orthodox di Jakarta. Termasuk mengikuti beberapa prosesi ibadah yang akan dijalankan. Kristen Orthodox memiliki rumah ibadah, namun rumah ibadahnya atau yang lebih sering disebut dengan gereja itu, juga tidak seperti gereja pada umumnya. Ibadahnya sendiri dilangsungkan di dalam sebuah kapel (chapel), yang berukuran tidak besar dan berada di dalam sebuah kompleks menyerupai sebuah wisma. Bila belum mengetahui tempatnya, kesasar menjadi hal yang biasa, minimal sekalian berkeliling kota.

Setiba di lokasi, Komunitas Sekolah Agama bertemu dengan seorang ibu, yang akan memimpin kidung pembacaan hikmat. Selain dengan ibu itu kami juga bertemu dengan seorang romo, Romo Boris namanya. Seorang romo yang sebelumnya sudah kami hubungi terlebih dulu. Romo Boris itu mengatakan, “Nanti ibadah akan dimulai pukul enam sore. Ibadah yang pertama disebut dengan Ibadah Senja selanjutnya langsung disusul dengan Ibadah Fajar. Baru kita masuk ke dalam Liturgi Natalnya.” Ibu yang berkebaya putih dan berkerudung hijau itu juga mengatakan, “Nanti semua ibadah akan dilakukan berdiri tapi kalau ada yang sudah tidak kuat, silahkan duduk, karena di bagian belakang disediakan bangku. Silahkan mengambil lilin untuk di bawa masuk ke dalam.” Setelahnya, ibu itu minta pamit dan menyusul Romo Boris yang sudah masuk terlebih dulu untuk mempersiapkan ibadah.

Ibadah hendak dimulai, kami masing-masing membawa sebuah lilin, yang seharusnya membawa tiga buah lilin, yang mana ketiga buah lilin itu akan diteteskan di tiga nampan kuning yang berbeda. Lilin yang pertama diletakkan pada nampan sambil mendoakan kepada saudara yang masih hidup, selanjutnya lilin kedua untuk mendoakan saudara yang telah “berpulang” dan lilin yang terakhir untuk mendoakan ke Tritunggal Yang Esa. Pada dinding-dinding altar, terpampang dengan indahnya ikon-ikon manusia suci seperti Kristus, Maria Bunda Yesus, Yohanes Pembaptis sampai Malaikat Gabriel. Semua ikon sangat artistik.

Berada di dalam kapel yang tidak terlampau besar dan hanya dengan penerangan seadanya, maka keheningan ibadah pun dimulai. Dinding yang dipenuhi ikon-ikon suci pun tunduk membisu. Mazmur mulai dibacakan bergantian oleh seorang ibu berkerudung hijau dan bapak yang mengenakan jubah hitam. Mereka berdua membacakan hikmat yang ber-irama, sampai ketika, seorang romo yang memimpin ibadah secara keseluruhan keluar dari bilik depan. Dia keluar membawa wiruk, berukuran cukup panjang, bewarna kuning, berjalan mengitari para jemaat. Setiap kali wiruk itu digoyangkan maka harum dupa memenuhi penjuru ruangan.

Sholat

Bagi para peserta Sekolah Agama, secara teoritis, mungkin Kristen Orthodox sudah tidak asing lagi, mengingat pernah diadakan Sekolah Agama yang mengundang narasumber dari Kristen Orthodox. Sekolah Agama itu berlangsung tahun 2010 silam, tepatnya tanggal 3 Agustus, saat itu yang menjadi narasumber adalah Romo Daniel Byantoro. Dalam pertemuan itu, Daniel Byantoro mengatakan bila beliaulah orang pertama yang merintis keberadaan Kristen Orthodox di Indonesia. Sekarang di Indonesia memang terdapat Kristen Orthodox yang mengacu ke Rusia dan Yunani, namun menurutnya, dulu saat pertama kali mulai merintis hal tersebut, tidak ada pembagian Kristen Orthodox Rusia maupun Yunani. Beliau sendiri lebih ingin disebut semuanya menjadi Kristen Orthodox Indonesia.

Kristen Orthodox masihlah Kristen karena mengacu pada kitab suci yang sama yaitu Alkitab. Namun dalam beberapa liturgi yang dijalankan sangatlah berbeda. Kristen Orthodox melangsungkan ibadah, yang hampir mirip, seperti yang dilangsungkan oleh umat Islam saat menjalankan sholat. Bedanya keberadaan Kristen Orthodox ini lebih dulu hadir penampakannya dalam setting ruang dan waktu yang historis. Sembayang sholat dilakukan sebanyak 7 kali dalam sehari, yang biasanya dilakukan dari subuh hingga jelang malam hari. Namun pada saat berlangsungnya ibadah senja, ibadah fajar dan kebaktian Natal, ada beberapa alasan maka sembayang sujud tidak dilakukan.

Mengapa Kristen Orthodox merayakan Natal di bulan Januari? Ternyata karena jemaat ini mengacu pada kalender Julian, yaitu kalender awal yang masih dipakai. Menurut perhitungan kalender Julian tersebut, maka perayaan Natal, hari kelahiran Kristus, dirayakan 13 hari setelah berlangsungnya Natal Nasional. Natal Nasional adalah perayaan Natal yang selalu diperingati rutin setiap tanggal 25 Desember. Demikian juga dengan perayaan Paskah, juga dirayakan 13 hari setelah Paskah yang dirayakan secara nasional. “Kalau Paskah biasanya yang datang lebih banyak. Bisa sekitar 200 sampai 300 orang,” keterangan ibu berkerudung hijau tadi sebelum Ibadah Senja dimulai

Purba

Seperti yang sudah kita ketahui, Kristen Orthodox sedikit berbeda dengan Kristen pada umumnya. Kristen Orthodox termasuk dalam Kristen mula mula, merupakan Kekristenan Purba dari Timur, yang muncul dalam sejarah Gereja Purba, terutama Gereja Rasuliah Purba yang terdapat di sebelah Timur Kekaisaran Romawi pada saat itu. Mereka juga tidak menyebut pemimpin ibadahnya dengan sebutan Pendeta, karena Pendeta sendiri dalam kitab Perjanjian Baru tidak ada, karena kata pendeta ini sendiri berasal dari Agama Buddha dan Agama Hindu.

Kata Orthodox sendiri bukanlah berarti kuno, ketinggalan jaman atau juga kolot dan kaku. Orthodox berasal dari kata Yunani, dari kata ortos yang berarti lurus dan doxa yang berarti pengajaran. Sehingga Orthodoxa bisa diartikan dengan sebuah ajaran yang lurus. Hal ini merupakan antitesisnya dengan Gereja Barat yang semakin lama hubungannya semakin memburuk. Gereja Barat dengan Paus sebagai pusat sentralnya disebut dengan Gereja Katolik Roma sedangkan Gereja Timur ini yang disebut dengan Gereja Orthodox. Gereja Orthodox dari Timur ini berupaya agar terus mempertahankan secara murni ajaran-ajaran dari para Rasul Kristus sejak jaman dulu sampai sekarang, secara murni dan tanpa perubahan. Menjaga keaslian injil, begitulah kira-kira.

Di Indonesia untuk pertama kalinya Iman Kristen Orthodox hadir pada tahun 1988, yang dimulai di kota Solo oleh Daniel Byantoro. Sejak tahun 1995 pelayanannya mulai berada di Jakarta, yang pada waktu itu juga beliau bertemu dengan Pdt Yusuf Roni dan Bambang Noorsena, mereka berdua untuk beberapa lama ikut menjadi anggota Kristen Orthodox. “Tak lama kemudian keduanya memisahkan diri, Saudara Bambang Noorsena setelah bersama saya berkunjung ke Gereja Syria, Di Damaskus, Syria akhirnya mendirikan yayasannya sendiri yang bernama Kenisah Orthodox Syria (KOS),” begitu tulisan Daniel Byantoro saat menyampaikan makalahnya yang bertema “Iman Kristen Orthodox dalam Pluralitas Bangsa dan Agama” saat menjadi narasumber di Sekolah Agama. Sejak tahun 1991, Gereja Orthodox telah menjadi suatu lembaga Gereja yang sah: ”Gereja Orthodox Indonesia” di bawah Dirjen Bimas Kristen dari Depag RI.

Perjamuan

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Ibadah Fajar, yang banyak membaca kidung-kidung mazmur dan hikmat pun usai. Lampu yang semula dimatikan kembali menyala dan benderang. Romo Boris, berkata, “Saudara-saudara baru saja kita telah selesai melaksanakan dua ibadah yaitu Ibadah Senja dan Ibadah Fajar. Dan sebentar lagi kita akan memulai ibadah selanjutnya Ibadah Kebaktian Natal.” Di penghujung akhir Ibadah Fajar, terlihat tirai putih, di belakang ikon-ikon yang bermotifkan orang-orang suci, yang menandakan Ibadah Fajar telah usai.

Berhubung atas satu dan dua hal, para peserta Sekolah Agama tidak bisa mengikuti ibadah kebaktian Natal yang akan dilangsungkan pukul 22.00 WIB. Pada kebaktian itu akan diadakan perjamuan kudus dengan lima roti yang telah dipecah-pecah. Namun kami sempat menikmati roti perjamuan itu yang sengaja dibawa keluar. Kami pun pulang dengan perasaan sukacita, seperti kidung akhir dari Ibadah Fajar yang dinyanyikan dengan gegap gempita,“Allah baik, Bapa baik, Kuasa baik.” *)

Penulis adalah Penggiat Komunitas Sekolah Agama ICRP

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close