Harian

Dialog Otentik Untuk Perdamaian (Bedah Buku Christian W. Troll)

“Dialog lintas iman sangat penting dilakukan dalam setiap kesempatan. Namun tidak  semua dialog yang dilakukan dapat memberikan dampak yang positif bagi para pemeluknya. Sering sekali, dialog justru semakin meningkatkan radikalisme dan intoleransi pemeluknya. Akibatnya timbulah kecurigaan, kebencian dan rasa permusuhan antar pemeluk agama. Dialog seperti ini tidak saja gagal, tetapi lebih dari itu memancing munculnya masalah baru dalam konteks hubungan antar umat beragama,”demikian Saleh Partaonan Daulay, ketua DPP Pemuda Muhammadiyah  yang didaulat sebagai pemapar dalam diskusi bedah buku “Muslim Bertanya Kristen Menjawab (MBKM)” pada tanggal 20 Desember lalu di kantor CDCC (Center For Dialogue and Cooperation among Civilizations) Menteng,Jakarta. Buku  MBKM karya Christian W. Troll menurutnya adalah salah satu contoh konkrit dialog yang otentik.

 

Jujur

“Dialog akademik, dengan menulis sebuah buku jauh lebih sulit, kalau dibandingkan dialog seperti seminar atau konferensi karena ia harus memposisikan dirinya di garis tengah dan berusaha memberikan informasi secara jujur dan terbuka. Sebagai penganut agama Kristen tentulah ia sangat tergoda untuk menampilkan keunggulan agamanya. Tetapi saya melihat bahwa Troll mampu melampaui hal tersebut. Dia justru memaparkan secara jujur persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat Islam dalam memahami ajaran-ajaran agama Kristen”.

Menurutnya, ada 4 hal yang bisa diapresiasi dari buku MBKM ini. Pertama, penulis memiliki pengetahuan yang baik atas kedua agama yakni Islam dan Kristen. Isu yang sensitive seperti trinitas bisa di dialogkan dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kebencian tapi tidak juga memposisikan kristen lebih baik. Kedua, Ada niat tulus untuk memperluas cakrawala. Di Barat buku ini akan menjadi duta bagi  umat muslim yang tinggal di sana sebagai minoritas di negara mayoritas Kristen. Ketiga, Troll menulis tentang perspektif Islam tapi tidak satu pun yang mencoba menjelek-jelekan agama Islam. Keempat, Model dialog yang baik untuk dikembangkan adalah dialog yang otentik dan substantif. Karena pada realitas yang ada masih banyak dialog yang penuh kepura-puraan.

Buku ini bisa di baca oleh siapa pun baik Islam atau Kristen untuk memahami ajaran kedua agama. Kita tidak mungkin satu dalam iman tapi kita akan satu dalam rasa kemanusiaan sehingga muncul kesatuan untuk membangun Indonesia yang lebih damai.

Dalam kesempatan yang sama Romo Benny Soesetyo, yang menjadi rekan pemapar Saleh yang juga penterjemah buku tersebut, mengungkapkan bahwa ada peralihan cara berpikir Gereja Khatolik. Gereja Khatolik mulai melihat seluruh dunia yakni bahwa ada kebenaran dalam ajaran agama lain. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa dialog yang sehat adalah dialog yang menghargai agama lain. Buku ini tidak apologetik, ini usaha gereja katolik bahwa dialog butuh pengetahuan. Kadang kala orang Khatolik tidak selalu punya energi untuk berdialog. Untuk belajar teologi yang substansi harus punya latar belakang filsafat. Filsafat bisa menjelaskan secara rasional tetapi kering. Buku ini memberikan orang untuk memahami imannya.

Buku ini juga mengungkapkan pada pembaca untuk memahami ajaran Islam dengan baik. Buku ini penting tapi yang lebih penting adalah dialog praktis. Di Kampung Sawah, Jatiwarna, Bekasi, dialog itu praktis sudah berjalan, yang menarik kelompok-kelompok agama di sana, karena warga mengikuti  ikut Credit Union (CU). Buku ini bias menambah cakrawala supaya masyarakat Indonesia bisa berbuat lebih baik, yaitu memahami Islam dan Kristen karena dalam Kristen banyak denominasi. Cakrawala untuk belajar menerima perbedaan. Semoga setelah buku ini  akan muncul buku lain, misalnya Kristen bertanya Muslim menjawab.

“Dialog praktis perlu dibekali dengan dialog pada tataran teologi. Buku ini tidak memperdalam iman seseorang. Maka perlu dipaparkan yang benar tentang ajaran teologi kedua agama supaya tidak ada kebencian terhadap Islam dalam bidang teologi. Dialog teologis menjadi penting untuk masalah ini. Ketidakpahaman akan suatu agama akan menimbulkan benturan. Common enemy yang harus diperangi adalah kemiskinan, kebodohan, dan bagaimana memberdayakan umat. Dialog bukan untuk menjadikan orang berpindah agama tapi untuk belajar saling memahami. Common word pada kedua agama ada pada level makro yakni tentang ke-Esa-an Tuhan namun detailnya berbeda”, tambah Saleh.

Romo Beny menambahkan bahwa ukuran kemanusiaan adalah kemakmuran, ukuran money politik adalah seberapa besar korupsi. Agama-agama mendidik masyarakat untuk punya kesadaran politik. Kini agama tidak lagi identitas tapi fungsional. Etika bersama kita adalah bagaimana menjabarkan nilai kemanusiaan. Misalnya, persoalan-persoalan bersama kita tentang keadilan. Sistem politik tergantung dari elitenya sehingga agama hanya aspirasi bukan inspirasi. Dialog otentik adalah dialog aksi. (Laporan dari Lucia Wenehen)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close