HarianMingguan

Dewan Gereja Dunia Bahas Pluralisme dan Gender di ICRP

Dr. Fulata Moyo merupakan penasehat program gender dan perempuan di World Council of Churches (WCC) atau dewan gereja dunia. Rabu (3/Oktober/2012) perempuan asala Malawi ini datang khusus ke ICRP membahas soal pluralisme dan gender di Indonesia. Menurutnya, WCC memiliki program dialog antar agama dan menaruh perhatian yang besar terhadap isu-isu perdamaian agama dan gender.

Kedatangannya untuk mendengarkan permasalahan yang dihadapi komunitas agama di Indonesia. Hal tersebut nantinya akan di bawa dalam pertemuan WCC di Korea tahun depan. Menurutnya, perlu upaya yang kuat untuk menyatukan dan memahami gender dalam masyarakat pluralistik seperti yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, menurutnya sangat penting untuk mendengarkan dan mencari informasi untuk mengembangkan dialog dan pedamian di dunia.

Dalam kesempatan berbahagia ini hadir pula perwakilan dari berbagai kepercayaan seperti Bahai, Ahmadiyah, serta beberapa penghayat kepercayaan seperti Saptadarma dan Kapribaden. Ahmad Zafrullah Pontoh dari Ahmadiyah berharap WCC bisa membantu menyelesaikan problem minoritas di Indonesia, baik minoritas Islam, Kristen, penghayat, gender atau yang lain.

Ibu Tien Wahyono, salah satu penghayat Kapribaden mengungkapkan hal yang sama. Penganut penghayat di Indonesia masih banyak mendapat diskriminasi di Indonesia. Penghayat (indigeneous) tidak dianggap seperti agama lain.

Menanggapi hal ini, Dr Fulata Moyo merasa prihatin dan menyayangkan hal tersebut. Menurutnya Indonesia yang mempunyai sangat beragam kepercayaan. Seharusnya tidak perlu ada pembedaan antara pengahayat dengan agama karena pada intinya adalah sama.

Romo Hari, dari ICRP menyatakan perlu upaya yang serius untuk membenahi persoalan kehidupan beragama di Indonesia. Salah satu upayanya adalah membenahi pola dan sistem pendidikan. Menurut Romo Hari, masih banyak persoalan dipendidikan kita saat ini. Seperti minimnya pemahaman keagamaan yang mengedepankan aspek-aspek toleransi.

Hal senada diungkap Nur Kafid, Direktur Pelaksana ICRP, dalam beberapa tahun ini ICRP telah melakukan upaya-upaya untuk menciptakan pendidikan berbasis multikulturalisme dan toleransi. Salah satunya ICRP telah melakukan kajian terkait kurikulum pendidikan agama dengan Asosiasi Guru Agama Islam Indonesia (AGPAII). Selain itu, ICRP juga mengembangkan program Harmony Goes to Campuss dan program kuliah agama dan perdamian di Universitas Pembangunan Jaya.

Pada kesempatan ini Dr. Fulata Moyo juga menekankan pentingnya gerakan gender untuk menciptakan sebuah perdamian dan keadilan. Tahun 1998 majelis WCC di harare terjadi gerakan solidaritas perempuan gereja. Bagaimana perempuan belajar memahami toleransi. Laki-laki dan perempuan bekerja sama untuk isu keadilan. Bagaimana spiritualitas bisa menyatukan laki-laki dan perempuan untuk saling memahami sehingga bisa menjadi komunitas yang indah. Semoga ke depan WCC bisa bekeja sama dengan ICRP dalam isu-isu gender dan dialog yang toleran. Demikian ungkap Dr. Fulata Moyo.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close