Dhania sedang berbagi pengalaman

Dhania: Jangan Tertipu oleh Teroris!

Dengan tersipu, ia memperkenalkan diri di hadapan para peserta yang hadir pada Peluncuran Film Animasi Religi di hari Rabu pagi itu. Namanya Nursadrina Khaira Dhania, sekarang telah berusia 20 tahun. Dia hadir untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana dia sekeluarga bergabung dengan ISIS di Suriah dan kemudian akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Acara ini sendiri diorganisir oleh CISForm (Center for The Study of Islam and Social Transformation) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan dihadiri sekitar seratus peserta yang terdiri dari berbagai perwakilan seperti pelajar SMA sederajat, guru-guru, remaja masjid, ustadz pesantren, mahasiswa, lembaga pemerintahan, ormas kegamaan, dan juga akademisi. Setelah menyaksikan empat film animasi dengan tema jihad, Dhania kemudian diminta maju untuk berbagi pengalaman. Salah satu film yang diputarkan berjudul “Pulang Dari Syria” adalah berdasarkan pengalaman Dhania sendiri.

Dhania pun memulai bercerita mengenai kegalauannya sebagai seorang remaja yang sedang beranjak dewasa. Semasa SMP, dia mengaku menjalani hidup yang menurutnya cenderung berandalan dan jauh dari nilai-nilai agama. Menginjak kelas 2 SMA, ia ingin berubah dan menjalani hidup berdasarkan agama yang dianutnya, Islam. Maka mulailah Dhania mencari “ilmu agama” dari sumber yang paling dekat dengannya; internet. Dia kemudian mem-follow akun-akun dakwah di Instagram maupun Tumblr. Sumber yang paling menggerakkannya adalah kanal Diary of Muhajirah (buku harian orang-orang yang hijrah), dan juga Paladin of Jihad. Kanal-kanal ini memberikan gambaran indah mengenai kehidupan di bawah naungan kekhalifahan ISIS di Suriah. Tulisan, video dan gambaran kehidupan di Suriah ini lah yang menghipnotis Dhania, memainkan empati atas perjuangan sesama muslim sekaligus menjanjikan kehidupan bahagia berdasar “aturan Islam”.

Singkat cerita, Dhania berhasil meyakinkan keluarganya untuk berhijrah ke Suriah. Hampir semua anggota keluarganya; orang tua dan saudara-saudaranya, paman dan bibi serta neneknya kemudian memutuskan untuk berangkat ke Suriah bersama-sama. Sujud syukur mereka lakukan bersama sesampainya di Suriah, sebuah “tanah yang diberkati” sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW.

Namun kenyataan yang dihadapi sama sekali berbanding terbalik dengan harapan yang telah dibangunnya. Nilai-nilai Islam yang diharapkan akan membentang di hadapan ternyata tak dapat ditemukan di manapun. Asrama yang kotor, kelakuan yang sama sekali jauh dari kata lemah lembut, dan juga perilaku kasar langsung menohok perasaannya. “Ini bukan Islam!”. Janji-janji yang telah diberikan juga tak dipenuhi. Biaya perjalanan dari Indonesia ke Suriah yang dijanjikan untuk diganti, tak tertunai. Pun janji bahwa tidak semua orang akan diwajibkan bertempur, juga hanya tinggal janji; pada kenyataannya semua laki-laki diwajibkan berperang. Perlakuan kepada para perempuan sama sekali tak menggambarkan perilaku manusia, para anggota ISIS dapat seenaknya melamar dan menikahi siapapun yang diinginkannya.

Tak tahan dengan kenyataan yang harus dihadapi, Dhania sekeluarga kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Namun ternyata untuk pulang pun tidak semudah yang dibayangkan. Dhania sekeluarga butuh waktu setahun untuk bisa bebas dan keluar dari cengkeraman ISIS, setelah berkali-kali ditipu oleh orang yang menjanjikan bisa menyelundupkan mereka keluar Suriah. Sesampai di tanah air, kekhawatiran bahwa mereka tak diterima oleh warga sekitar juga tetap membayangi. Hingga saat ini, ayah dan paman Dhania masih dalam tahanan pihak berwajib, sementara ia dan keluarganya yang lain mengontrak rumah untuk tempat tinggal.

“Buat saya, inilah jihad saya saat ini. Jihad saya adalah menyampaikan kebenaran mengenai ISIS agar tidak lagi ada yang bisa mereka kelabui”, kata Dhania terbata-bata. “Meski harus saya akui bahwa bercerita pengalaman ini tidak lah mudah, karena itu berarti membuka kembali kenangan dan luka lama, tapi saya berkewajiban melakukannya karena ini jalan yang saya pilih”.

“Pesan saya untuk teman-teman sekalian, jangan hanya merasa puas dengan pengetahuan yang didapatkan dari internet. Carilah selalu second opinion dan bahkan third opinion dari orang tua, guru, dan orang-orang yang mengerti agama”, tandasnya.(NhR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*