Natal dan Keindonesiaan Kita

Oleh Joan Damaiko Udu, OFM

(Biarawan Fransiskan, tinggal di biara St. Antonius Padua, Jakarta)

Pada setiap momen Natal, umat Kristiani merayakan sebuah peristiwa monumental: Allah menjadi manusia. Dalam Injil Yohanes, hal ini diulas secara gamblang, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1); “…Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Injil Yohanes meletakkan pendasaran teologis-biblis yang adekuat tentang peristiwa Natal.

Lantas, mengapa Allah (mau) menjadi manusia? Ini merupakan pertanyaan klise dalam refleksi iman tentang inkarnasi—refleksi iman mengenai peristiwa Allah menjadi manusia. Dalam sejarah, ada banyak pandangan teologis yang merefleksikan pertanyaan tersebut. Namun, dari sekian banyak pandangan, saya terpincut pada refleksi teologis Beato Yohanes Duns Scotus (1266—1308), seorang biarawan dan ahli filsafat-teologi dari Ordo Fransiskan.

Bagi Duns Scotus, pesan yang paling kuat dari Natal adalah kasih. Bahasa Natal tak lain adalah bahasa kasih Allah yang tiada batas kepada manusia. Berbeda dari pendapat tradisional pada masanya yang secara konstitutif mengaitkan inkarnasi dengan penebusan dosa, Duns Scotus menempatkan kasih ilahi sebagai motif inkanasi (Sunarko, 2017: 116). Hemat Scotus, inkarnasi tidak ditentukan oleh dosa Adam; inkarnasi dipandang sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri baik sebab mengalir dari kasih bebas Allah terhadap ciptaan. Maka, jika pertanyaan tadi (mengapa Allah menjadi manusia?) ditanyakan kepada Beato dari Ordo Fratrum Minorum (OFM) ini, sekiranya ia akan menjawab: semata-mata karena kasih dan kehendak ilahi untuk mengomunikasikan diri.

Di sini, inkarnasi tidak dikondisikan oleh fakta jatuhnya manusia ke dalam dosa. Ia selalu merupakan bagian dari rencana Allah sejak keabadian. Inkarnasi tidak dipahami sebagai “koreksi” terhadap tatanan penciptaan yang telah dirusak dosa manusia, tetapi sebaliknya, penciptaan manusia dan dunia merupakan persiapan bagi inkarnasi. Oleh karena itu, pandangan bahwa dosa manusia merupakan pra-kondisi bagi inkarnasi ditolak oleh Duns Scotus.

Natal dan Konkretisasi Kasih

Dari pandangan Scotus itu, kita bisa melihat bagaimana kasih ilahi itu bekerja dalam peristiwa Natal. Tentu hanya karena kasih, Putra Allah mau mengosongkan diri, meninggalkan segala atribut kemuliaan-Nya, dan mengambil rupa manusia yang kecil dan sederhana. Ia lahir di lingkungan kumuh, di kandang yang hina, cuma dibalut kain lampin, dalam suasana dingin dan sepi, tanpa ritual penyambutan yang meriah serta jauh dari sorotan media. Bahkan, kelahiran-Nya diawali dengan kisah pahit: Maria dan Yusuf, orang tuanya, ditolak di rumah-rumah di Betlehem.

Lebih ngeri lagi, Herodes Agung, raja yang lalim dan kejam, menyambut-Nya dengan ancaman pembunuhan. Tidak seperti raja-raja lain di dunia ini, yang disambut dengan semarak dan dieluk-eluk dengan gemuruh sorak-sorai, Yesus, Sang Putra Allah yang hidup, justru mendapat penolakan dan ancaman teror. Warta Kebenaran yang dibawa-Nya mendapat aral yang berat, tetapi justru untuk itulah Ia datang ke dunia (bdk. Yoh 18: 37). “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya” (1 Yoh 4: 9). Semata-mata karena kasih, seperti dikatakan Duns Scotus tadi, Putra Allah mau menjadi salah satu di antara kita melalui cara yang miskin dan dina. Inilah esensi atau pesan terkuat dari Natal.

Pesan Kasih untuk Indonesia

Pesan kasih, yang menjadi esensi Natal, menurut saya, sangat relevan dan kontekstual untuk kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini. Dalam kondisi bangsa yang carut-marut seperti sekarang, bahasa kasih itu perlu dikobarkan lagi. Di tengah menguatnya segregasi sosial, primordialisme sempit, sentimen SARA, hujat-menghujat, dan korupsi, kita dituntut untuk menumbuhkan kembali kasih yang tulus dalam hati masing-masing agar kita tetap kuat sebagai satu bangsa.

Bahasa kasih mesti mewarnai kehidupan bersama di masyarakat. Bahasa kasih, berupa kelembutan, keramahan, kesabaran, kemurahan hati, tidak menaruh dengki dan iri hati, serta tidak sombong dan memegahkan diri (bdk. 1 Kor 13: 4), memampukan kita untuk hidup berdampingan dan bersaudara satu sama lain, saling menghormati, bersolider, dan senasib-sepenanggungan dengan sesama warga negara-bangsa. Kasih menjadi bahasa universal yang mengatasi sekat-sekat suku, agama, ras, dan golongan, serta memperkuat ikatan kolektif kita sebagai bangsa yang besar.

Semangat kasih akan menggerakkan kita untuk selalu akrab dengan kebenaran sejati. Di tengah masifnya penyebaran berita abal-abal (hoax) di negeri ini, yang sering mengancam kohesi sosial kita sebagai satu bangsa, keakraban dengan nilai-nilai kebenaran itu sangat dibutuhkan. Kesetiaan pada apa yang baik dan benar diharapkan manjadi kekuatan dalam kehidupan bersama sehingga teror-teror mutakhir seperti hoax dapat dibendung. Dengan demikian, Natal dapat sungguh meng-Indonesia dan memberi energi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini.

Momen Natal harus menjadi tanda kelahiran baru kita sebagai manusia Indonesia. Saling mengasihi-menghormati-menghargai, empati, dan solidaritas sosial mesti menjadi jiwa bangsa ini. Lunturnya nilai-nilai tersebut hanya akan membuat kita terus bertikai, terkotak-kotak, saling menghujat dan memfitnah, larut dalam dendam dan kebencian, dan sibuk mengejar kepentingnan diri masing-masing. Tiadanya semangat kasih dan solidaritas membuat orang sulit mengosongkan diri dan melayani sesama sehingga yang diperjuangkan akhirnya hanya kepentinggan dan kemuliaan diri sendiri, kadang dengan cara apa saja. Kekuasaan dimanfaatkan, kekerasan dihalalkan, agama dimanipulasi, dan uang menjadi pelicinnya. Maka, tak pelak, korupsi pun terus bertumbuh subur.

Fenomena semacam ini jelas ironis karena de facto, di negeri ini, hampir semua orang mengaku beragama, bahkan sering merasa paling religius dari yang lain. Akan tetapi, faktanya, agama belum sungguh-sungguh memberi efek yang signifikan dalam kehidupan sosial, bahkan sebaliknya, lebih sering dipolitisasi dan akhirnya menjadi bumerang dalam kehidupan bersama. Di tengah situasi krusial seperti ini, semangat kasih, pengosongan diri, dan solidaritas sosial, yang menjadi pesan Natal, mutlak ditumbuhkan agar kehidupan bersama kita sebagai satu bangsa tetap utuh dan kuat. Selamat Natal! (Ed. Melkior Sedek)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*