Seputar Tafsir Historis Kritis Biblika

Studi-studi tafsir biblis (ekseget) dalam lingkungan Kekristenan, khususnya Gereja katolik, bukan lagi sebuah hal baru. Artinya, kegiatan berkaitan dengan penafsiran diberi ruang dan bahkan beberapa cendikiawan menekuninya hingga meraih gelar tertentu. Tulisan ini bertujuan memberikan sedikit gambaran mengenai salah-satu metode tafsir biblis dalam Kekristenan khususnya Gereja Katolik. Di sini, saya tentunya tidak hadir sebagai seorang ahli.

Saya hanya ingin menunjukkan esensi dari metode tafsir historis kritis, yang kiranya dapat memperluas wawasan baik bagi umat Kristiani maupun non-Kristiani. Harus diakui, metode tafsir historis kritis ini pun tidak dikenal secara menyeluruh bagi umat Kristiani. Saya dapat menjamin jika hal ini saya jelaskan bagi seorang awam (umat biasa), dia akan sulit memahami atau menilainya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan iman.

Meskipun demikian, metode ini diakui oleh Gereja Katolik sebagai salah-satu cara untuk memperdalam teks tertentu atau Alkitab secara keseluruhan. Adapun beberapa esensi atau maksud dari metode tafsir ini. Pertama, Kitab Suci diposisikan sebagai buku refleksi orang-orang beriman. Hal ini tentu akan berimplikasi pada eksistensi dari Kitab Suci sebagai buku yang ditulis oleh-oleh orang-orang yang mendapat ilham dari Allah sendiri.

Akan tetapi, penekanan bahwa penulis mendapat ilham dari Allah tidak begitu ditekankan, dalam arti, penulis tetap berperan dalam isi dari teks tertentu. Misalkan saja, adanya dua tradisi dalam Perjanjian Lama, yaitu tradisi elohis dan yahwis. Tradisi elohis berisi berbagai kisah dari Kerajaan Israel Utara, sedangkan tradisi yahwis didominasi oleh cerita dari Kerajaan Israel Selatan (Yehuda).

Kitab Suci adalah buku yang berisi refleksi orang beriman, sehingga dalam arti tertentu, kisah-kisah yang termuat di dalamnya bukanlah fakta historis. Misalnya, kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian. Kisah ini bukanlah kisah historis, karena dari segi sejarah Kitab Kejadian ditulis pada saat pembuangan bangsa Israel di Babilonia. Kitab Kejadian ditulis dalam konteks usaha reflektif umat Israel dalam mengharapkan sebuah tatanan harmoni, sehingga tidak terus-menerus dalam keadaan kacau-balau dalam pembuangan.

Meskipun demikian, Kitab Suci termasuk pula buku historis. Sebagian besar Perjanjian Lama menceritakan sejarah bangsa Israel. Berkaitan dengan tulisan reflektif orang beriman, kisah-kisah ajaib dalam cerita bangsa Israel dilihat sebagai upaya penulis untuk menonjolkan kebesaran Allah.

Dalam metode historis kritis, kisah penyeberangan di laut merah, dipahami hanyalah sebagai gejala alam di mana suatu saat air laut mengalami pasang surut.
Keadaan demikian, secara tidak langsung membantu orang Israel agar luput dari kejaran pasukan Firaun. Demikian kisah ajaib lainnya seperti: “Tuhan mengirimkan burung puyut dan roti manna”.

Secara historis kritis, peristiwa ini hanyalah sebuah gejala alam di mana pada suatu ketika adanya rombongan burung yang melakukan imigrasi dan hal itu menyebabkan burung-burung itu kelelahan dan jatuh di sekitar rombongan bangsa Israel yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju Kanaan.

Para penulis atau bangsa Israel sering menempatkan gejala alam sebagai tanda penyertaan Allah ataupun sebagai hukuman dari Allah. Namun tetap diperhatikan bahwa pesan dibalik kisah itulah yang paling penting dibandingkan dengan perdebatan benar dan salahnya sebuah kisah. Allah sebagai Sosok Yang Maha Besar itulah yang menjadi penekanan penulis di mana Allah “berkarya” dalam tanda-tanda alam. Allah yang selalu melindungi dan memberkati bangsa-Nya

Selain itu, alamat yang ditujukan penulis bukan lagi orang-orang yang mengalami peristiwa ajaib itu tetapi bagi orang sesudahnya. Itu artinya, konteks waktu Kisah atau kitab tertentu ditulis sangat menentukan isi dan relevansi bagi zaman itu.
Ketiga, metode historis kritis “berlawanan” dengan keyakinan teologis yang memandang secara harafiah semua kisah dalam Alkitab.

Misalnya saja, keduabelas suku Israel itu adalah 12 suku di tanah Kanaan di mana awalnya mereka tidak mengenal satu sama lain. Lalu untuk menyatukan mereka, dibuatlah sebuah kisah yang menceritakan bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mulai dari Abraham hingga keduabelas anak Yakub.

Cerita itu dapat menyatukan mereka dan menjadi “bukti” bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu Abraham.

Relevansi Metode Historis Kritis

Bagi teman-teman non-kristiani tentu hal ini sulit terpikirkan ataupun bagi orang kristiani yang tidak terbiasa dengan metode historis kritis. Pertanyaan lanjutannya adalah apakah dengan demikian Alkitab tidak memiliki nilai kebenaran atau metode ini dapat mengurangi kadar iman seseorang?

Seperti telah disinggung di atas, Alkitab tidak dapat secara penuh dipandang sebagai kisah historis belaka atau kisah tentang keajaiban yang dialami umat manusia. Memandangnya sebagi buku reflektif orang beriman kiranya lebih tepat sehingga dapat menyeimbangkan dua kecendrungan baik sebagai buku historis atau buku yang menceritakan kisah-kisah ajaib.

Selain itu, apakah dengan demikian kadar kesejarahan Alkitab hilang begitu saja? Saya pikir tidak. Penulis setiap kitab dalam Alkitab itu berpijak pada waktu tertentu atau masyarakat tertentu. Artinya, dia tidak sedang membuat tulisan fiksi belaka namun tetap menyelipkan pesan melalui refleksi terhadap kejadian tertentu dan itu ditujukan untuk sekelompok umat tertentu pada zamannya. Jadi dengan demikian, Alkitab bukanlah cerita fiksi.

Metode historis kritis dapat membantu kita untuk memahami pesan-pesan dibalik kisah-kisah biblis dalam konteks zaman di mana kisah itu terjadi atau ditulis. Situasi sosial dan kultural masyarakatnya sangat berpengaruh pada teks. Dengan demikian, menyamakan zaman teksi ditulis dengan zaman sekarang merupakan kesalahan yang mesti diperbaiki. Kita pun akhirnya tidak menjadi orang beriman yang terikat pada zaman tertentu.

Manusia yang utuh adalah dia yang selalu terbuka akan realitas zaman yang sedang dihidupinya. Tidak bermaksud untuk menghapus nilai-nilai kebenaran biblis, kisah-kisah biblis penuh makna dan pesan moral yang tidak dipahami secara literatur saja. Maka berbagai metode hermeneutika dapat membantu kita untuk menyelami sejuta makna itu salah-satunya adalah metode historis kritis. Semoga!

Melkior Sedek, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*