Sejumlah tokoh agama berdoa bersama dalam acara Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober 2017
Sejumlah tokoh agama berdoa bersama dalam acara Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober 2017

Pemuda Lintas Iman dalam Pentas Seni dan Doa Damai

Jakarta, ICRP – Memperingati Hari Perdamaian Internasional pada 14 Oktober lalu Komunitas Sant Egidio bekerjasama dengan Komisi HAAK KAJ dan ICRP menyelenggarakan doa damai di pelataran Universitas Atma Jaya, Jakarta. Kegiatan ini sebagai momentum meneruskan pesan dari Fransisikus Asisi untuk membangun dialog dan doa, mempromosikan rasa saling memahami diantara agama dan budaya yang berbeda-beda.

Tahun ini peringatan hari perdamaian tersebut dimeriahkan dengan pentas seni, penyampaian pesan damai dan diakhiri dengan  penyalaan lilin dan deklarasi damai lintas iman. Hadir beberapa tokoh lintas iman dari ICRP yakni Ulil Abshar Abdalla, Engkus Ruswana(penghayat), Suryani(Khonghucu), Balwant Singh(Sikh), Pedande Mangku Nyoman Sutisna(Hindu) dan Bhante Bhadrauttama(Budha).

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan pesan perdamaian

Dalam orasi pesan damai, Ulil mengatakan bahwa saat ini kita sedang menyaksikan kekuatan gelap bergentayangan. Agama dijadikan alat bukan untuk menyebarkan perdamaian dan cinta kasih tapi pemecah belah. Kita percaya bahwa Tuhan kita dalam sebutan yang berbeda memiliki kasih sayang. Agama adalah jembatan yang menghubungkan satu sama lain bukan tembok penghalang. Walau kekuatan gelap ada dimana-mana, kita tidak boleh putus asa. Kita bisa membangun komunitas dan membangun kebersamaan. Semoga inisiatif komunitas Sant Egidio bisa menyumbang langkah-langkah kecil menuju tujuan besar, modus vivendy.

Romo Wahyu Kristian dari Keuskupan Agung Jakarta, “ Saya mengajak kita semua dan umat katolik secara khusus untuk mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara kita dan pemersatu. Tahun lalu umat katolik merenungkan Allah yang maharahim dengan berbagi kepada sesama. Tahun ini amalkan Pancasila makin adil makin beradab terhadap diri sendiri, sesama dan alam sekitar. Tahun depan persatuan indonesia kita bhinneka kita indonesia. Kita bersyukur berada di negara tercinta ini. Pada kesempatan ini saya mengajak kita semua untuk menjadi pembawa damai. Menggaungkan Harmoni nada dalam kehinnekaan.”

Sementara Pak Engkus Ruswana dari penghayat mengatakan bahwa Ada unsur Tuhan dalam diri manusia, ini yang mesti dihidupkan. Tuhan sudah menciptakan manusia lengkap dengan bekal hidup. Bicara kebhinekaan berarti bicara diri saja. Tuhan sudah mencontohkan kehadirannya dalam diri kita. Kita punya alat indra dengn keunikannya.  Bila alat indra tidak saling damai apa yang akan terjadi. Begitu juga dengan pergaulan kita. Unsur alam begitu juga. Alat untuk mengukur kedamaian ada dalam diri kita, dalam kepercayaan apapun unsur Tuhan sudah ada. Penghayat kepercayaan juga beragam tapi kami rukun saja. Tidak ada dalam sejarah, agama luar yang datang dihambat oleh keyakinan lokal itu bukti ajaran kami menerima ajaran luar dan rukun.

Turut memeriahkan pentas seni perwakilan kaum muda lintas iman seperti GAMKI(Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), FMKI KAJ(Forum Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Agung Jakarta), Komunitas Cikini, Komunitas Agama Sikh, mahasiswa Universitas Indonesia. (Lucia Wenehen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*