Workshop Menguatkan Komitmen Bandung sebagai Kota Ramah HAM. Dok. ICRP
Workshop Menguatkan Komitmen Bandung sebagai Kota Ramah HAM. Dok. ICRP

Ulil Abshar Abdalla Tegaskan Pentingnya Mewujudkan Kota Ramah HAM

Bandung, ICRP –  Ketua ICRP Ulil Abshar Abdalla menyatakan konsep kota HAM merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang damai dan adil. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mendukung gerakan kota ramah HAM tersebut dengan turut terlibat aktif dan mengawasi implementasinya.

“Kita ingin membangun al-madinah al-fadhilah, kota yang utama, kota baik, karena menghormati kebinekaan dan kemajemukan.” Ungkap Ulil Abshar Abdalla, dalam workshop Menguatkan Komitmen Bandung Sebagai Kota Ramah HAM di Lembang, Bandung, (26 Agustus 2017).

Lantas bagaimana mewujudkan kota Ramah HAM, Ulil menyatakan, unsur terpenting dalam membangun kota HAM adalah pemerintah. Namun, pemerintah bukan satu-satunya. Yang berperan penting dalam mewujudkan kota ramah HAM adalah masyarakat sipil sebagai agen.

“Sebuah gagasan tidak akan menggelinding jika tidak ada agen yang menjalankan, kita ingin membuat jaringan aktor sosial yang sadar pentingnya isu HAM dan penghargaan minoritas” tegas Ulil.

Pentingnya pemahaman keagamaan yang benar

Salah satu tantangan penting dalam mewujudkan Kota Ramah HAM menurut Ulil adalah membangun pemahaman keagamaan yang benar. Membangun dialog dan percakapan keagamaan yang toleran adalah kuncinya.

“Kita hidup di mana segala hal dipandang dengan kacamata agama. Bahkan, orang yang makin religius, dia semakin tertutup. Makin beragama, makin tidak rahmatan lil ‘alamin. Mudah sekali kita temukan orang seperti itu, terutama di sosial media” jelas Ulil.

Penafsiran dan pemahaman keagamaan yang salah akan menimbulkan efek sosial tidak baik. Oleh sebab itu, menurut Ulil, interpretasi agama yang terbuka itu penting sekali dalam mewujudkan kota HAM.

“Saat ini saya merasa ada yang salah dengan religiusitas kita” ungkap Ulil. “Makin religius seseorang, makin menganggap orang yang berbeda sebagai kafir. Kelompok seperti ini disebut kelompok takfiri. Gejala ini menyulitkan orang Islam sendiri. Bahkan bisa menyebabkan hubungan sosial di masyarakat penuh dengan ketegangan.  Orang seperti ini bisa melakukan diskriminasi. Bahkan mereka seperti punya licence to kill terhadap orang lain.” Resahnya.

Oleh sebab itu, pungkas Ulil, dimensi penting untuk implementasi kota HAM adalah mempengaruhi percakapan sosial dalam sebuah kota dengan alternatif conciousnes (kesadaran yang berbeda) yang ramah HAM. Hal itu penting untuk mendekonstruksi pemahaman agama yang tekstual dan eksklusif yang dimonopoli kelompok radikal.

Workshop Menguatkan Komitmen Bandung sebagai Kota Ramah HAM ini dilaksanakan oleh ICRP bekerja sama dengan beberapa organisasi lintas agama di Bandung. Seperti, Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS), Jakatarub, GP Anshor, Universitas Kristen Maranatha, Center for Diversity and Peace Studie, Layar Kita, dan Kedutaan Swiss. Workshop ini dihadiri oleh aktivis dan tokoh agamawan di wilayah Bandung dan Sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*