Ulil : Pluralisme adalah Ide yang Tepat!

JAKARTA, ICRP — Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla menegaskan posisinya tidak berubah terkait pluralisme. Bagi Ulil pluralisme merupakan ide yang tepat. Demikian kata Ulil dalam bedah buku “Melampaui Pluralisme”, di sektretariat ICRP di Jalan Cempaka Putih Barat XXI no. 34, Jumat (15/4).

“Kalau saya secara personal saya masih percaya pada teori yang saya kemukakan dimana-mana bahwa pada intinya semua agama sama. Saya akui ada keselamatan di semua agama,” kata Ulil sembari menyatakan permohonan maaf atas pebedaan idenya dengan penulis buku Suster Gerardette Philips malam itu.

Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini lebih lanjut menyatakan semangat pluralisme di dalam agama Islam bukanlah hal baru. Hal serupa, kata Ulil, juga telah dikemukakan jauh-jauh hari sebelum MUI mengfatwa pluralisme haram belaka. Ulil mencontohkan semangat pluralisme itu bisa dilacak dari para sufi Islam seperti kalangan Ikhwan Shaffa yang hidup abad 9 Masehi.

“Pandangan bahwa keselamatan ada di luar islam itu disuarakan ada sejumlah ulama islam yang menyuarakan itu. Dan mereka menyuarakan ini (pluralisme) karena bukan tergoda Vatikann kedua tapi mereka katakan jauh sebelum itu,” tutur Ulil.

Menantu Gus Mus ini pun menyinggung mengenai perkembangan konsep pluralisme di Indonesia. Dalam amatannya, sebelum tahun 2005 semangat pluralisme begitu kuat di kalangan muslim. Selain itu, pemerintah orde baru juga mendorong semangat mencari titik temu dan menghindari perbedaan-perbedaan yang sensitif.

Namun, lagi Kata Ulil, sejak 2005 perkembangan untuk mencari titik temu atau kalimatun sawwa (common ground) kian memudar. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pluralisme. Ulil menyayangkan penafsiran MUI yang tidak tepat dalam mendeskripsikan pluralisme. Ringkasnya, kata Ulil MUI secara gegabah tidak mengakui pluralisme tapi menerima pluralitas. “Jadi MUI ini menolak sosialisme tapi menerima sosialitas,” sindir Ulil yang disambut tawa hadirin di ruangan malam itu.

“Pluralisme adalah menerima perbedaan keyakinan orang seperti apa adanya sambil kita percaya pada otentisitas keyakinan kita. Pluralisme semacam ini yang tepat. Definisi pluralism MUI itu  menyesatkan,” tambahnya.

Diskusi yang menjadi pembuka sekolah agama ICRP tahun ini begitu dipadati peserta. Kursi yang tadinya disediakan tak mampu membendung antusiasme peserta. Sebagian peserta terpaksa duduk di luar ruangan diskusi. Padahal panitia sudah menyediakan sekitar 60 kursi.

Selain mendaulat Ulil selaku membicara dalam launching sekolah agama, ICRP juga mengundang penulis buku Sr. Gerardette Philips dan intelektual Islam Buddhy Munawar Rahman. Mas Budi yang dikenal sebagai penerus Cak Nur itu tampil selaku pembicara terakhir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*