Terduga pelaku teror di sarinah jakarta. Sumber: kompas.com
Terduga pelaku teror di sarinah jakarta. Sumber: kompas.com

Siap Jadi “Pengantin” Bom

Ahmad Nurcholish

Kemarin sore, teman saya yang bekerja di sebuah kantor perbankan di Jakarta bercerita bahwa ada seorang rekan kerjanya yang mengaku siap menjadi “pengantin” bom bila diperintah oleh pimpinannya. Sang rekan tersebut menilai bahwa hal itu merupakan jihad yang diajarkan dalam Islam yang ia peluk dan yakini.

Dalam penampilan sehari-hari di kantor, imbuh teman saya itu, pria berusia 22 tahun tersebut terlihat agamis dan selalu berusaha salat tepat waktu. Ia pernah menjadi juara MTQ dan hafal banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an terutama ayat tentang jihad dan perang. Sang pria tersebut mengaku aktif di sebuah organisasi keagamaan yang memiliki tujuan mendirikan khilafah di negeri ini. Organisasi tersebut sangat terorganize yang berafiliasi dengan organisasi induk di Timur Tengah.

Pria yang bekerja sebagai staf marketing tersebut juga mengaku memunyai kekasih yang masih kuliah di Sumatra Utara. Kekasihnya itu, selain bercadar juga aktif di organisasi yang berbeda tetapi memiliki visi yang sama, yakni memperjuangkan penerapan syariat Islam di Indonesia. Keduanya aktif merekrut teman baru untuk bergabung di organisasi tersebut. Sang pria ini masih kuliah juga di Depok. Ia termasuk yang memelopori sebuah pengajian di kampusnya dan berhasil menarik jamaah puluhan orang. Di antara meraka sebagian juga sudah sangat militant dan siap menjadi “pengantin”.

Mengenai aksi terror Sarinah beberapa hari lalu pria tersebut mendukung sepenuhnya. Namun, ia mengatakan bahwa aksi itu dinilai berantakan, tidak mengenai sasaran yang dituju. “Kalau orang memerangi Islam dengan senjata, maka kita juga harus dengan senjata”, tuturnya sebagaimana ditirukan teman saya kepada saya.

Kepada teman saya itu saya memberi saran untuk melaporkan tentang pria itu ke aparat berwajib. Bagi saya itu orang seperti itu sangat berbahaya. Ia akan terus memengaruhi banyak orang untuk “berhijrah” ke dalam pemahaman agama sebagaimana yang ia yakini, terutama tentang ajaran-ajaran seputar jihad dan perang. Jika tertarik maka ia akan membawanya untuk bergabung dalam wadah pencetak calon “pengantin” bom tersebut.

Bagi saya, orang-orang seperti pria tersebut tidak bisa dibiarkan. Pertama, terorisme tumbuh subur karena kita yang kadang melihat ada potensi perilaku atau ideology yang cenderung radikal yang ada di sekitar kita, kita diamkan. Karena itu haru bertindak cepat untuk melaporkan kepada aparat keamanan. Paing tidak agar orang tersebut dalam pantauan dan penyelidikan sampai kemudian bisa ditangkap jika terbukti memiliki potensi menjadi teroris.

Kedua, jika dibiarkan, orang seperti pria tersebut juga akan terus bergerak memengaruhi orang-orang terdekat di sekitarnya untuk tertarik dan kemudian bergabung dalam gerakan radikal tersebut. Bagi orang seperti itu bukan hal yang sulit, sebab sudah mendapatkan pelatihan yang cukup untuk tugas perekrutan. Termasuk menguasai dokrin-doktrin agama untuk memikat calon “pengantin” baru.

Lantas apa yang dapat kita lakukan melihat fenomena ini? Pertama, nampaknya setiap kita mesti waspada dan cermat melihat gejala-gejala yang “aneh” pada diri teman-teman di sekeliling kita. Biasanya mereka gemar mengajak kita berbincang tentang ajaran agama atau isu-isu yang menarik lalu dikaitkan dengan ajaran agama. Kalau kita dinilai merasa tertarik dan senang dalam bincang-bincang tersebut, orang itu mulai berperan aktif dengan mengulas dalil-dalil dalam al-Qur’an. Begitu terus sampai kita tertarik dan merasa cocok dengan ulasan yang kerap disampaikan. Jika posisi kita sudah berada dalam zona aman mereka barulah materi lebih lanjut dilancarkan dengan mengulas ayat-ayat tentang jihad dan perang.

Kedua,  sasaran mereka biasanya orang-orang yang tak memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadahi tapi minat belajar agamanya tinggi. Karena itu biasanya gerakan-gerakan atau kelompok-kelompok seperti pria tersebut mudah mendapatkan mangsa di sekolah-sekolah dan kampus-kampus umum. Bukan kampus-kampus agama seperti STAI, IAIN atau UIN. Mereka juga mencari sasaran di kantor-kantor swasta maupun pemerintah jika kebetulan orang tersebut bekerja di kantor tersebut.

Tentang kampus umum, beberapa waktu lalu seorang teman yang mengajar di kampus ternama di Depok, Jabar juga menyeritakan bahwa mahasiswanya ada 2 orang yang sudah pergi ke Syuriah yang kemungkinan bergabung bersama ISIS. Orang tua mereka pun kelimpungan, cemas berat menerima kenyataan tersebut. Oleh karena itu, perlu ada upaya nyata, sistemik, simultan dan berkelanjutan dalam mencegah berkembangnya aksi-aksi ideology dan gerakan radikal tersebut untuk menjaga generasi muda kita agar tidak terjerembab dalam kemlompok-kelompok tersebut.

Ketiga, peran orang tua dalam mengawasi putra-putri mereka juga perlu ditingkatkan. Ini untuk mendeteksi lebih dini agar anak-anak kita dapat diindentifikasi manakala sudah mulai tertarik dengan ideology dan gerakan radikal yang mungkin ada di lingkungan mereka. Biasanya mereka lebih betah di luar ketimbang di rumah. Lalu pelan-pelan mulai berani berbohong bahkan membantah terhadap ucapan atau perintah orang tuanya. Ini terjadi karena mereka lebih mendengar apa yang diajarkan oleh pimpinan mereka di gerakan atau organisasi tersebut. Gejala ini serupa dengan yang terjadi pada mereka yang terjerat dalam jaringan NII.

Pria yang saya sebut di atas orang tuanya tidak tahu kalau ia terlibat dalam gerakan radikal itu. Bahkan, kata dia, kalau kakaknya mengetahuinya, maka ia bakal dimarahin habis-habisan. Karena itu ia berusaha sebiasa mungkin agar aktivitasnya di luar rumah tidak diketahui keluarganya. Termasuk di kantor yang baru tiga bulan tersebut ia bekerja belum ada yang tahu kalau ia calon “pengantin” yang siap meledakkan dirinya kapan saja. Ke teman saya saja itulah ia baru bercerita banyak. Mungkin teman saya dinilainya potensial untuk dijadikan target sebagai jamaah dalam organisasinya tersebut.

Keempat, secara khusus Kementerian Komunikasi dan Informasi harus terus memantau situs-situs yang berisi tentang ideology keagamaan dan gerakan radikal juga media social yang digunakan oleh kelompok atau orang tersebut. Situs-situs inilah yang memiliki peranan penting dalam menyebarkan paham radikal mereka. Sejumlah situs memang sudah ditutup. Namun pertumbuhan situs-situs baru jga bak jamur di musim hujan. Karena itu perlu pantauan secara intensif untuk menghindari hal-hal yang leboh buruk lagi.

Kelima, aparat Negara seperti polisi, BIN, dan juga Densus 88 dengan perangkat dan senjata yang dimilikinya harus terus bekerja keras untuk menghalau gerakan kelompok radikal tersebut. Langkah-langkah yang dicapai oleh polisi dan  Densus 88 baik menjelang terror Sarinah dan sesudahnya patut diajungi jempol. Sejumlah orang yang diduga bagian dari kelompok teroris tersebut berhasil ditangkap. Kerja-kerja strategis inilah yang perlu ditingkatkan karena ancaman terorisme masih menjadi bahaya laten bagi masyarakat, bangsa dan Negara kita.

Keenam, betul kata Malala Yousafzai, With guns you can kill terrorits… With education you can kill teroritsm. Oleh karena itu peran pendidikan memiliki posisi strategis dalam menghentikan terorisme. Pendidikan di sini tentu pendidikan yang benar-benar mencerdaskan, mencerahkan dan membuat pembelajar memahami jati dirinya sebagai manusia dan memanusiakan yang lain. Pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik memahami hakikat kemanusiaan dan selalu menjaganya untuk tidak melakukan hal-hal negative kepada orang lain. Pendidikan yang membuatnya mencintai sesama dan bukan membencinya. Pendidikan yang dapat mencegahnya berbuat kekerasan, baik kepada dirinya sendiri dan juga orang lain. [ ]

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” & “Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur” (Elexmedia, 2015).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*