Ajaran Cinta dalam Agama Buddha (Bagian II)

Ahmad Nurcholish

Maitri adalah lebih luas dan lebih mulia dari semua bentuk persaudaraan yang sempit itu. Maitri tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan dan bidang-bidang, tidak mempunyai rintangan dan penghalang, tidak mengadakan perbedaan. Maitri memungkinkan orang untuk dunia ini sebagai tanah airnya dan semua makhluk sebagai saudara2nya.

Persis seperti matahari yang memancarkan sinarnya ke segala arah tanpa membuat perbedaan, demikian pula dengan maitri yang luhur ini memancarkan berkahnya yang halus dan tenang itu sama rata terhadap apa yang dianggap orang-orang sebagai sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang kaya dan yang miskin, yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang buruk, wanita dan pria, manusia dan binatang.

Cinta sejati juga membutuhkan pengertian. Kita harus melihat secara mendalam untuk melihat dan mengerti kebutuhan, aspirasi, dan penderitaan orang yang kita cintai. Kita semua membutuhkan cinta. Cinta menghadirkan sukacita dan kebahagiaan. Cinta bersifat alami seperti udara. Kita dicintai oleh udara; kita butuh udara segar untuk bahagia dan hidup dengan baik. Kita dicintai oleh pohon-pohon. Kita membutuhkannya agar hidup kita sehat, terbebas dari polusi.

Agar kita dicintai, kita harus mencintai, yang artinya kita harus pengertian. Agar cinta kita terus tumbuh, kita harus melakukan perbuatan-perbuatan yang sepatutnya dan tidak-melakukan perbuatan yang tidak tepat untuk melindungi udara, pepohonan, dan orang yang kita cintai. Inilah yang dalam ajaran Buddha yang oleh Buddha Sakyamuni menhyatakan bahwa Buddha masa depan bernama “Maitreya, Buddha Cinta Kasih.”

Karuna (Welas Asih)

Aspek kedua dari cinta sejati adalah karuna, yaitu niat dan kemampuan untuk mengurangi dan mentransformasi penderitaan dan meringankan kesedihan. Karuna sering diterjemahkan menjadi compassiondalam bahasa Inggris (welas asih dalam bahasa Indonesia), tetapi, menurut Nhat Hanh, terjemahan itu tidak seluruhnya tepat. “Compassion” terdiri dari dua kata, yaitu com yang artinya bersama-sama dan passion(untuk menderita).

Tetapi, dalam hal ini kita tidak perlu menderita untuk membebaskan penderitaan orang lain. Para dokter misalnya, bisa membebaskan penderitaan pasiennya tanpa mengalami penyakit yang sama. Jika kita terlalu menderita, kita mungkin akan hancur dan tidak mampu menolong. Tetapi, kita akan tetap menggunakan kata compassion sampai kita menemukan kata baru yang tepat untuk menerjemahkan karuna.

Untuk mengembangkan welas asih dala diri kita, kita perlu berlatih napas berkesadaran, mendengar secara mendalam, dan melihat secara mendalam. Sutra Intan menggambarkan Awalokiteswara sebaga bodhisattwa yang mempraktikkan “melihat dengan mata welas asih dan mendengar secara mendalam tangisan dunia.” Dalam welas asih terdapat kepedulian yang sangat dalam. Misalnya, Anda tahu ada seorang teman menderita, Anda kemudian duduk di sampingnya. Anda melihat dan mendengar secara mendalam agar bisa menyentuh kepedihannya. Anda sedang berkomunikasi secara mendalam padanya, dan itu saja sudah mengurangi penderitaan(nya).

Dalam karuna kita tak hanya melihat dengan mata kepala, melainkan dengan matai hati, mata batin kita dan mencoba berempati secara mendalam terhadap kepedihan dan penderitaan orang lain. Berempati dengankaruna meliputi pikiran (positif), sikap, perkataan dan juga respon yang selalu mengedepankan adaya nilai positif bagi orang lain.

Kadang kita tidak (mau) mengerti, kenapa hidup diwarnai dengan kegetiran, penderitaan, dan hal-hal negative lainnya. Itu karena kita menyerah dengan kondisi semacam itu. Karena itu Sang Buddha memiliki cara terbaik dalam menghadapi semuanya itu, yakni dengan pengertian, ketenangan, dan kekuatan sehingga penderitaan tidak mampu menguasainya. Buddha mampu tersenyum kepada penderitaan karena ia tahu harus merawat penderitaan  dan membantu mentransformasinya.

Thich Nhat Hanh menyarankan kepada kita untuk selalu menyadari penderitaan dengan terus mempertahakan kejernihan, ketenangan, da kekuatan kita sehingga kita mampu membantu mentransformasi keadaan. Samudra air mata tidak akan bisa menenggalamkan kita jika dalam diri kita terdapat karuna. Karena itulah senyum Buddha begitu indah. (Teachinmg On Love, 14). Bukankah senyum yang demikian yang senantiasa kita harapkan setiap saat dalam kehidupan?

Mutida (Sukacita)

Elemen ketiga dari cinta sejati adalah mudita. Cinta sejati selalu menghadirkan sukacita bagi kita dan yang yang kita cintai. Jika cinta kita tak mampau menghadirkan sukacita bagi kita, maka itu bukan cinta sejati.

Kalau cinta hanya membawa tangisan dan air mata, lalu ngapain Anda mau mencintai? Jadi sudah jelas sekali cinta seharusnya membawa keceriaan sukacita, Anda sendiri perlu ceria terlebih dahulu, tentu saja banyak cara bisa menghadirkan keceriaan bagi dirimu sendiri. Ketika Anda tahu cara membantu dirimu sendiri ceria, maka Anda akan tahu cara membawa keceriaan bagi sang kekasih dan dunia. Simpel bukan?

Mudita merupakan sukacita. Sukacita ceria kita bisa memberi manfaat bagi orang lain, apabila kita tidak bisa senyum maka tidak ada orang yang bisa mendapatkan manfaatnya. Walaupun kita tidak melakukan apa pun namun penuh keceriaan maka itu saja bisa memberi manfaat kepada banyak orang.

Buddha mengajarkan kita untuk membangkitkan sukacita, welas asih, kasih sayang, maka Buddha mengajarkan tentang let it go [melepaskan], banyak barang yang bisa kita lepaskan untuk mendapatkan sukacita dan kebahagiaan, ini sebuah seni hidup. Ada kebahagiaan yang lahir dari melepaskan, sukacita dan kebahagiaan lahir dari hidup sadar [sati], sukacita dan kebahagiaan lahir dari konsentrasi [samadhi], dan sukacita dan kebahagiaan lahir dari pengertian [pannya]. Banyak sekali hal-hal dalam diri ini dan banyak barang di luar sana yang ingin kita gapai, kalau kita punya pengertian secukupnya maka kita bisa melepaskannya, tiba-tiba kita bisa ceria kembali, jadi taktik pertama adalah belajar untuk release dan let it go!

Ini pula yang kerap terjadi di sekitar kita, kadang semakin kita mencintai seseorang justru menyebabkan penderitaan lebih besar, oleh karena itu engkau perlu bertanya apakah engkau betul-betul mencintai dia atau tidak? Mencintai berarti menyediakan waktu untuk melihat lebih dalam, menyediakan waktu untuk mengerti penderitaan, kesulitan sang kekasih, ketika hadir pengertian maka cinta sejati juga hadir. Jadi cinta bukanlah berarti kehendak dan siap mencintai, namun cinta sejati adalah sebuah kemampuan (kapasitas). Suatu hal yang nyata, bukan sekedar isapan jempol belaka.

Upeksa (Keseimbangan Batin)

Elemen cinta sejati yang keempat adalah upeksa yang artinya keseimbangan batin, tanpa kemelekatan, tanpa diskriminasi, pikiran seimbang, atau legawa (besar hati). Upa berarti “melampaui” dan iks artinya “melihat”. Anda mendaki sebuah gunung agar bias melihat seluruh keadaan, tidak terganggu oleh masing-masing sisi gunung.

Jika dalam cinta Anda ada kemelekatan, prasangka, atau keterikatan, itu bukan cinta sejati. Mereka yang tidak mengerti ajaran Buddha sering menganggap bahwa upeksa artinya tidak-membedakan, tetapi keseimbangan batin yang sejai bukanlah dingin (cuek) dan tidak membedakan.

Upeksha dalam pengertian tidak diskriminatif, berarti bahwa cinta sejati tidak ada lagi diskriminasi, kebahagiaan bukanlah masalah pribadi saja, penderitaan, kebahagiaan, dan sukacita sang kekasih juga merupakan milikmu juga. Tidak ada tembok pembatas antara yang mencintai dan yang dicintai, mengesampingkan aku, maka yang mencintai dan yang dicintai menjadi satu!

Ketika engkau mencintai dirimu sendiri, orang yang mencintai adalah dirimu sendiri begitu juga sang kekasih adalah dirimu sendiri. Ini yang disebut inklusif (upeksha), cinta sejati mencakup banyak orang, jika cintamu itu murni, maka cinta itu akan memberi manfaat kepada manusia, tumbuhan, binatang, dan mineral. Mencintai seseorang berarti itu adalah sebuah kesempatan untuk mencintai banyak orang dan spesies lain. Jika engkau mencintai seseorang membuat diri terkurung dan tidak bisa kontak dengan orang lain, maka itu bukanlah cinta murni.

Sebuah ciri khusus dari sebuah upeksa adalah samatajana, “kebijaknaan kesetaraan”, kemampuan untuk melihat setiapo orang dengan setara, tidak membedakan satu sama lain. Dalam sebuah konflik, meskipun kita sangat peduli tetapi kita harus tidak berpihak, mampu mencintai dan mengertikedua belah pihak. Kita lepaskan semua diskriminasi dan prasangka, dan singkirkan semua batasan antara kita dan orang lain.

Selama kita melihat diri kita sebagai yang mencintai dan orang lain sebagai yang dicintai dan melihat kita berbeda dari yang lain, maka kita tidak punya keseimbangan batin sejati. Kita harus meletakkan diri kita “dalam diri orang lain” dan menyatu dengannya jika kita ingin sungguh-sungguh mencintai dan memahaminya. Di saat iotu terjadi, maka tidak ada lagi “kita” dan “yang lain”.

Cinta kasih, welas asih, simpati, dan ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik yang pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

Melawan Kekerasan

Umat Buddha percaya akan adanya Hukum Karma, yaitu Hukum Sebab Akibat. Segala sesuatu yang terjadi adalah akibat karma kita. (terjemahan kata karma adalah perbuatan) Orang memahami ‘hukum karma’ sebagai ‘hukum tanaman’. Dalam filsafat Jawa ada kata mutiara yang menyebutkan ‘sing nandur bakal ngunduh’ (siapa yang menanam, maka ia akan memetik buah dari tanaman itu). Arti luas kata mutiara ini adalah Hukum Karma juga.

Siapa yang menanam kabaikan, ia akan menerima kebaikan atau keadaan yang baik pada dirinya, sedangkan yang menanam perbuatan jelek akan mengalami hal yang tidak baik pada dirinya. Dalam ajaran agama Buddha, sebagai diuraikan  D. Hendry Basuki, Agama Buddha dan Tidakan Tanpa Kekerasan dalam lamanhttp://artikelbuddhist.com, mengenal tumimbal lahir atau kelahiran kembali, bila tidak sempat memetik hasilnya pada kehidupan masa kini, maka akan dipetik pada kehidupan selanjutnya.

Walau pada saat ini kita tidak melakukan kejahatan, kekerasan maupun kekejaman, kemungkinan kita akan menerima perlakuan kejahatan, kekerasan dan kekejaman dari pihak lain yang merupakan hasil perbuatan kelahiran lampau. Kelahiran lampau berarti kelahiran sebelum kelahiran masa kini.

Sang Buddha mengajarkan bila pihak lain melakukan kejahatan kepada kita, maka tidak pada tempatnya kita balas melakukan kejahatan kepadanya. Bila kita membalas, maka pihak “sana” akan membalas kembali dan berkembanglah kejahatan itu makin luas. Membalas kejahatan juga akan berakibat dikenai kejahatan, jadi bila kita tidak membalas kejahatan yang dia lakukan, dia pasti akan menerima kejahatan sesuai dengan Hukum Karma, karena Hukum Karma berlaku bagi semua orang. Masalah orang itu mengerti, mengakui apa tidak dia tetap “kena” Hukum Karma.

Tidak membalas kejahatan ini diteladani juga oleh Sang Buddha. Saudara sepupu, bernama Devadatta adalah orang yang iri hati akan kemampuan dan karismatik Sang Buddha. Berkali-kali Devadatta melakukan perbuatan jahat, setiap kali pula Sang Buddha tidak membalasnya. Kekuatan metta (cinta kasih) Sang Buddha sudah dapat menghentikan rencana jahat Devadatta.

Ketika Sang Buddha menceriterakan kisah Pangeran Dirghayu yang ayahnya Raja Dirgheti dibunuh oleh Raja Brahmadatta, Sang Buddha menjelaskan bahwa sesaat sebelum wafat Raja Dirgheti minta agar putranya tidak membalas pembunuh ayahnya dengan cara yang sama. “Kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan welah asih”. (Majjima Nikaya 128). [ ]

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*