Ilustrasi buddha. Sumber: buddha-lolland.dk
Ilustrasi buddha. Sumber: buddha-lolland.dk

Ajaran Cinta dalam Agama Buddha (Bagian I)

Ahmad Nurcholish

Dari mana kita memahami ajaran cinta dalam agama Buddha? Kita bisa memulainya dengan memahami dampak kehidupan Buddha terhadap mereka yang berada dalam lingkungan pengaruhnya. Tidak mungkin membaca riwayat hidup Sang Buddha tanpa muncul kesan bahwa kita sedang menelaah kehidupan salah seorang tokoh besar sepanjang zaman. Rasa kagum luar biasa, yang terasa pada semua orang yang mengenalnya, segera terasa. Bersama dengan muridnya, kita akan terkesan akan kehadiran sesuatu yang seakan merupakan perwujudan dari kemahatahuan.

Meminjam kata-kata J.B. Pratt, seperti dikutip Huston Smith, hal yang mungkin paling menarik dari Sang Buddha adalah perpaduan antara kepala yang dingin dengan hati yang hangat. Perpaduan ini merupakan ramuan yang mencegah dirinya dari sikap yang sentimental di satu pihak, dan ketidakacuhan di lain pihak. Tidak dapat diragukan lagi, ia adalah salah satu rasionalis terbesar sepanjang zaman, yang dalam hal ini setaraf dengan Socrates. Setiap masalah yang ditemuinya, secara otomatis akan dikupas oleh pikirannya yang dingin dan analitis itu.

Pertama-tama, masalah itu akan dipilah-pilah ke dalam bagian-bagian yang terkecil. Setelah itu, bagian-bagian tersebut ditata kembali secara jelas. Ia ahli dengan dialog dan dialetika, dengan rasa percaya diri yang teguh. “Tidak mungkin terjadi, bahwa aku akan kebingungan atau kalang kabut di kala berdebat dengan siapa pun juga,” kutip Huston Smith dalam Agama-agama Manusia.

Dalam menyampaikan ajaranya, Buddha mengajar dengan banyak cara (termasuk tahapan) dan dengan berbagai alasan. “Kemudian Tathagata memperhatikan kapasitas dari para makhluk, yang cerdas atau pun yang bodoh, yang rajin berusaha atau pun yang malas. Sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Ia mengkhotbahkan Dharma kepada mereka dengan bermacam-macam cara yang tak terbatas, sehingga hal ini menyebabkan mereka gembira dan dapat memeroleh manfaat yang sebesar-besarnya.” Air hujan yang sama jatuh berasal dari awan, hanya tumbuh-tumbuhan yang berbagai ragam menjadi basah menurut porsinya, banyak atau sedikit sesuai kebutuhan, dan masing-masing dapat tumbuh berkembang (Saddharmapundarika-sutra V). Uraian lebih lanjut dapat kita baca dalam Wacana Buddha-Dharma (Krishnanda Wijaya-Mukti, 2006).

Selain itu, keunikan dari ajaran Buddha yang mendasar adalah kesempatan bagi setiap orang untuk menjadi Buddha (Saddharmapundarika-sutra II) dan pencerahan atau keselamatan itu dapat dicapai dengan usaha manusia sendiri. Akhir dari penderitaan atau Nirwana bukan suatu spekulasi, karena dapat direalisasi ketika orang masih hidup. Dengan mencapai Nirwana, orang mengakhiri kehidupannya yang berulang-ulang. Buddha menyangkal jika Brahma (Tuhan Pencipta) dan para dewa menentukan atau mengatur nasib manusia.

Beriman dan berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha bukan berarti menyandarkan nasib kepada kekuatan di luar sendiri. Buddha menolak kasta yang membedakan derajat manusia menurut kelahirannya. atau Perbedaan di antara semua makhluk terjadi karena karma atau perbuatannya masing-masing. Buddha melindungi setiap bentuk kehidupan, menyingkirkan senjata, pantang melakukan berbagai bentuk kekerasan, dan membalas kebencian dengan cinta kasih. (Mukti, Ibid., 133).

Bahkan Buddha mengajarkan bahwa kita bisa hidup dengan penuh cinta 24 jam sehari. Setiap gerakan, setiap tatapan, setiap pikiran, dan setiap kata dapat berisi cinta. Pada masa hidupnya, mereka yang percaya kepada Brahma berdoa supaya setelah kematian mereka akan hidup abadi di surga bersama Brahma, Tuhan Universal.

Suatu hari, seorang Brahmana bertanya kepada Buddha, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memastikan saya akan hidup bersama Brahma setelah saya meninggal?” Buddha menjawab, “Karena Brahma adalah sumber cinta, untuk hidup bersamanya nanti, Anda harus berlatih Brammavihara – cinta, welas asih, sukacita, da keseimbangan batin.” Sebuah vihara adalah sebuah kediaman atau tempat tinggal. Jadi, brahmavihara adalah kediaman para Brahma. (Thich Nhat Hanh, Teachings On Love Ajaran tentang Cinta Sejati, 5).

Dalam ajaran Buddha, kita akan mengenal empat brahmavihara, yang menjati elemen penting untuk menumbuhkan cinta kasih.

Empat Brahmavihara

Empat Brahmavihara juga disebut Empat Pikiran Tanpa Batas karena jika kita melatih diri, maka akan tumbuh dalam diri hingga kita mampu merangkul seluruh dunia. Dengan melatih diri, menurut Tich Nhat Hanh, seorang Guru Zen terkenal, kita akan menjadi lebih bahagia, dan setiap orang di sekitar kita juga akan menjadi lebih bahagia.

Empat Pikiran Tanpa Batas adalah empat elemen cinta sejati: maîtri – cinta kash (keinginan untuk memberikan kebahagiaan); karuna – welas asih (keinginan untuk menghilangkan penderitaan orang lain); mutida – sukacita (keinginan untuk menghadirkan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita dan mengijinkan kebahagiaan mereka menghadirkan sukacita untuk Anda); upeksa, keseimbangan batin (keinginan/kemampuan untuk menerima segala sesuatu dan tidak mendiskriminasi). Ketika Anda mencintai disebabkan makhluk hidup lain membutuhka cinta, maka Anda mencintai mereka, bukan karena ia adalah anggota keluarga Anda, berkebangsaan sama, atau beragama sama, maka Anda mencintai mereka tanpa diskriminasi dan mempraktikkan cinta sejadi.

Bagi Thich Nanh, ketika Anda berada dalam semua elemen tersebut, maka Anda hidupo di dalam alam yang paling indah, damai, dan bahagia di dunia ini. Jika seseorag menanyakan alamat Anda, Anda bisa menjawabnya dengan Brahmavihara, rumah Brahma atau juga dikenal dengan Empat Pikiran Tnpa Batas dari cinta, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Ada banyak hotel berbintang lima dengan tarif 2.000 USD per malam. Tetapi, tempat tinggal Brahma memberikan kebahagiaan yang lebih dibandingkan kamar-kamar tersebut. Ia adalah hotel berbintang lima ribu, sebuah tempat di mana Anda bisa belajar mencintai dan dicintai.

Buddha menghormati keinginan orang-orang untuk mempraktikkan keyakinan mereka, maka Buddha menjawab pertanyaan Brahmana  dengan cara-cara yang mendorongnya untuk berpraktik. Jika kita suka melakukan meditasi duduk, latihlah meditasi duduk. Jika Anda suka meditasi jalan, latihlah meditasi jalan. Tetapi pertahankan akar Yahudi, Kristen, atau Muslim Anda. Inilah cara yang dilakukan oleh umat Buddha atau pun yang lainnya untuk melestarikan semangat Buddha. Sebab, jika Anda tercerabut dari akar Anda, Anda tidak akan bahagia.

Menurut Nagarjuna, seorang filsuf Buddhis abad ke-2, Thich Nanh mengutipnya untuk kita:

Berlatih Pikiran Cinta Tanpa Batas memadamkan kemarahan dalam diri setiap makhluk. Berlatih Pikiran Welas Asih tapa Batas memadamkan semua kesedihan dan kecemasan dalam hati semua makhluk. Mempraktikkan Pikiran Sukacita Tanpa Batas memadamkan semua kesedihan dan ketiadaan sukacita dalam hati semua makhluk hidup. Mempraktikkan Pikiran Batin Seimbang Tanpa Batas memadamkan kebencian, ketidaksukaan, dan kemelekatan dalam hati semua makhluk.

Jadi, jika kita belajar cara-cara untuk berlatih/mempraktikkan cinta, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, kita akan tahu bagaimana menyembuhkan penyakit kemarahan, kesedihan, ketidakamanan, kebencian, kesendirian, dan kemelekatan yang tidak sehat. Dalam Anguttara Nikaya, Buddha mengajarkan, “Jika pikiran kemarahan muncul, para biksu bias berlatih meditasi cinta kasih, welas asih, sukacita, atau keseimbangan batin orang yang telah memunculkan perasaan marah tersebut.

Maitri (Cinta)

Dalam ajaran Buddha, aspek cinta sejati yang pertama disebut maîtri dalam bahasa Sansekerta. Maître dapat diterjemahkan menjadi “cinta” atau “cinta kasih”. Sebagian guru-guru Buddhis memilih kata “cinta kasih” karena kata “cinta” terlalu berbahaya. Tetapi, Thich Nhat sendiri memilih kata “cinta”. Menurutnya, kata-kata kadang-kadang ‘sakit’ da kita harus menyembuhkan mereka.

Selama ini kita telah menggunakan kata “cinta” untuk menunjukkan selera kita dalam kalimat “I Love Hamburgers”. Thich mengajak kita untuk menggunakan bahasa dengan lebih hati-hati. “Cinta” adalah sebuah kata yang indah; kita harus megembalikannya ke arti sebenarnya. Kata “maîtri” berakar pada kata mitra yang artinya teman. Dalam agama Buddha, arti utama cinta adalah persahabatan atau pertemanan. (Nhat, : 9)

Maîtri adalah keinginan dan kemampuan untuk memberikan sukacita dan kebahagiaan. Untuk mengembangkan kemampuan itu, kita harus berlatih melihat da mendengar secara mendalam sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan untuk membuat orang lain bahagia. Jika kita memberikan orang yang kita sayangi sesuatu yang tidak ia butuhkan, itu bukan maîtri. Kita harus melihat keadaan yang sebenarnya, jika tidak, apa yang kita berikan bisa menghasilkan ketidakbahagiaan.

Maitri bukanlah cinta kasih yang dilandasi nafsu atau kecenderungan pribadi karena dari kedua hal ini tanpa dapat dihindarkan akan timbul kesedihan. Maitri bukan hanya terbatas dalam perasaan bertetangga karena ini akan menimbulkan sikap membeda-bedakan antara tetangga yang satu dengan lainnya. Maitri bukan hanya perasaan bersaudara kandung karena maitri meliputi semua makhluk termasuk juga binatang, saudara-saudara yang lebih kecil yang pada hakikatnya memerlukan uluran kasih sayang yang lebih banyak.

Maitri bukanlah persaudaraan yang berdasarkan politik, ras, bangsa atau agama. Persaudaraan politik hanya terbatas pada mereka yang memiliki pandangan politik yang sama. Persaudaraan ras dan bangsa hanya terbatas pada mereka yang sama suku dan bangsanya. Beberapa nasionalis begitu kuat mencintai bangsanya, hingga kerap kali tanpa mengenal kasihan, melakukan pembantaian terhadap wanita dan anak-anak yang secara kebetulan lahir dengan rambut, kulit dan mata yang berbeda warnanya dengan milik kaum nasionalis itu.

Terhadap bukan bangsanya, pada suatu saat mereka memandang dengan rasa curiga dan kekhawatiran. Untuk menyatakan ketinggian bangsanya mereka melakukan peperangan yang tidak mengenal perikemanusiaan, membunuh jutaan manusia dengan berbagai alat perang yang mengerikan.

Maitri sama sekali bukan perasaan persaudaraan keagamaan. Karena kata yang menyedihkan dari apa yang disebut persaudaraan keagamaan, manusia menjadi lebih keras kepala dan dengan tanpa penyesalan sedikitpun mereka melakukan perbuatan-perbuatan menyembelih dan membakar orang hidup-hidup. Banyak kekejaman yang bertentangan dengan isi kitab-kitab suci dan peperangan yang bengis dilancarkan sehingga mengotori lembaran sejarah.

Bahkan dalam abad 21 ini pun masih terdapat penganut dari suatu agama yang membenci atau mengutuk, bahkan tanpa mengenal kasihan mereka membunuh orang-orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama dengan mereka, hanya karena tidak dapat memaksa orang-orang itu melakukan hal sama seperti mereka.

Jika atas dasar pandangan agama, orang-orang dari kepercayaan yang berbeda itu tidak dapat menemukan mimbar persaudaraan sejati, maka sungguh patut disayangkan sekali bahwa ajaran-ajaran dari para guru dunia yang mulia itu disia-siakan belaka. Bersambung.. [ ]

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*