Pengajaran Peace Education dalam Pendidikan Islam

Ahmad Nurcholish

Untuk mencapai hasil yang baik dan materi dapat dengan mudah dan dapat dipahami oleh peserta didik, metode pengajaran peace education harus dilakukan dengan cara holistic-partisipatif dengan tidak membatasi diri pada parameter konsep yang kaku. Pengajaran peace education haruslah dengan menerapkan fleksibilitas dan menggunakan pendekatan yang dinamis. Hal tersebut diterapkan agar dapat mengelaborasi tiga ranah peserta didik; kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus.

Dalam pembelajaran peace education, M. Nurul Ikhsan Saleh (Peace Education, 2012: 135-136) menguraikan, paling tidak harus melingkupi tiga hal. Pertama, membangun kesadaran akan realita dan konsekuensi dari kekerasan, dan pembangunan kesadaran akan terciptanya perdamaian. Kedua, bangunan yang menjadi perhatian dan pengembangan nilai-nilai tanggung jawab, empati, kasih sayang, harapan, dan social. Mengembangkan kepekaan moral yang berpuncah pada pembangunan kapasitas peserta didik untuk peduli terhadap sesame. Ketiga, mengubah pola pikir dan sikap pribadi, dan melakukan sesuatu yang konkret tentang situasi kekerasan.

Agar proses pembelajaran peace education tersebut, dalam konteks sekolah atau lembaga pendidikan, paling tidak ada dua model implementasi pendekatan pendidikan damai dan resolusi konflik yang bisa ditubuhkan ke dalam budaya sekolah.

Pertama melalui program workshop yang sengaja diciptakan pada tahun ajaran baru dalam rangka pengenalan dan orientasi sekolah. Nilai-nilai damai dan jenis-jenis resolusi konflik yang disampaikan melalui workshopbiasanya sarat dengan kegiatan yang menggembirakan melalui sebuah proses bermain, camping, diskusi tentang keragaman, dan menonton film-film yang berkaitan dengan penciptaan budaya sekolah yang sehat dan kreatif.

Pendekatan dengan model workshop akan memudahkan guru dan fasilitator untuk menciptakan pemahaman dan keterampilan mengelola konflik sekaligus menciptakan rasa damai di lingkungan sekolah. Hasil akhir dari pendekatan ini juga sangat mungkin untuk diadaptasi ke dalam sebuah bentuk kurikulum formal dan menjadi semacam student and teacher code of conduct yang diciptakan dan disepakati bersama.

Kedua, setelah mempertahankan student and teacher code of conduct secara tertulis dalam bentuk statute, sekolah kemudian bisa mempertahankannya dengan melakukan model implementasi berikutnya, yaitu pengintegrasian materi-materi tentang pendidikan damai dan resolusi konflik ke dalam mata ajar yang ada di sekolah. Pengintegrasian pengetahuan dan keterampilan mengelola konflik dalam kurikulum sekolah merupakan elemen yang sangat penting dalam manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS).

Beberapa contoh proses integrasi kurikulum pendidikan damai dan resolusi konflik ke dalam mata pelajaran misalnya dapat dilakukan bahkan terhadap matematika dasar. Ketika guru sedang menyampaikan topik bahasan tentang menghitung rata-rata pendapatan dan pengeluaran sebuah profesi seperti tukang becak dan guru, menghitung anggaran pendapatan dan pengeluaran daerah, merancang anggaran proyek kelas (untung-rugi), di sini guru dapat melakukan debriefing tentang bentuk-bentuk empati terhadap aneka profesi di masyarakat, transparansi dan akuntabilitas, antikorupsi, dan kewirausahaan.

Ketika mengajarkan biologi tentang keanekaragaman hayati (biodiversity) dengan mengenali aneka jenis dan karakteristik makhluk hidup, mengidentifikasi aneka teknik adaptasi terhadap lingkungan, mengenali flora dan fauna yang telah punah dan langka, serta jenis yang masih tinggi populasinya, guru juga dapat memasukkan nilai-nilai tentang perlunya kita merayakan makna perbedaan, adaptasi sosial, kelangkaan, konservasi, kearifan lokal, dan kecintaan pada lingkungan hidup. Artinya, ada banyak cara dan cerita tentang citra damai dan resolusi konflik yang dapat dielaborasi guru ketika mengajar setiap pelajaran yang diasuhnya. (Lihat Ahmad Baedhowi, “Pendidikan Damai dan Resolusi Konflik untuk Sekolah” , Media Indonesia, Senin, 01 Maret 2010).

Selanjutnya, pendekatan pengajaran yang holistic-partisipatif berarti memungkinkan peserta didik untuk bertanya, dan berkolaborasi. Peserta didik terlibat dalam dialog dengan guru atau dengan rekan pelajar lain. Praktik mengartikulasikan dan menunjukkan keberagaman pola piker merupakan latihan penting dalam memperluas persepektif. Pembelajaran peace education yang holistic-partisipatif berarti pula memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk bekerja sama dalam belajar, bukan bersaing satu sama lain. Pembelajaran ini, selain meningkatkan motivasi belajar, juga meningkatkan hubungan antara peserta didik; menghilangkan sikap individualism, perpecahan, dan perasaan prasangka buruk. Dengan demikian, di antara peserta didik antara satu dengan yang lain tidak terasing dan terisolasi. (Ikhsan Saleh, Ibid.)

Dengan demikian, pada tahapan selanjutnya, dari pembelajaran peace education yang holistic-partisipatif akan mendukung proses pendidikan yang humanis. Pendidikan yang humanis menekankan pertumbuhan social, pribadi, dan afektif peserta didik, yang mana individu dari setiap didik diterima apa adanya. Guru juga harus selalu mendorong agar setiap peserta didik agar menghormati satu sama lain, mendorong kepekaan terhadap keragaman di dalam kelas. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Nahl ayat 90.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaumj kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. Al-Nahl [16]: 90).

Dari ayat tersebut jelas sekali bahwa Islam menyuruh umatnya agar berlaku adil, berbuat kebajikan, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran bahkan permusuhan. Maka, bagi seorang guru di sekolah, menjadi keharusan untuk menenamkan nilai-nilai yang dapat mendamaikan. Dari situlah pembelajaran kemudian membantu peserta didik untuk mengembangkan benih-nenih cinta dan kasih sayang yang diperlukan dalam membangun mesyarakat yang damai tanpa diskriminasi, tanpa kekerasan.

Begitu pula dengan pengajaran pendidikan Islam, tidak ada satu cara pembelajaran yang sempurna dan paling ideal untuk semua tujuan pendidikan, semua ilmu dan materi pembelajaran, semua tahap pertumbuhan dan perkembangan, semua taraf kematangan dan kecerdasan, semua guru dan pendidik, dan semua keadaan dan nuansa yang meliputi proses pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu, tidak dapat dihindari bahwa seorang guru hendaknya melakukan penggambungan terhadap lebih dari satu cara dalam proses pembelajaran. Hal ini agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan capat menopang tercapainya tujuan pendidikan, khususnya pendidikan damai. [ ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*