Gus Dur, Tak Sekedar Pahlawan

Oleh Ahmad Nurcholish

Penetapan gelar pahlawan nasional untuk Gus  Dur  atau Abdurrahman Wahid telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo, Kamis, 5 November lalu. Gelar tersebut diberikan setelah mendapat persetujuan oleh Dewan Gelar. Namun, penganugerahan gelar tersebut belum diberikan pada tahun ini. (detik.com, 9/11)

Saya tidak akan mempertanyakan gelar pahlawan untuk Gus Dur tersebut dan kapan akan dianugerahkan. Bagi saya, dan mungkin juga sebagian besar dari Anda, apa yang pernah dilakukan oleh Gus Dur untuk bangsa dan Negara ini sudah lebih dari cukup untuknya mendapatkan gelar pahlawan nasional. Akan tetapi saya juga yakin bahwa sesungguhnya Gus Dur tak pernah memikirkan gelar tersebut.

Gagasan-gagasan Gus Dur yang bernas semasa hidupnya tak sekadar ide yang mengawang. Ia juga sekaligus mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Salah satu contohnya adalah pembelaannya terhadap kaum “minoritas” di negeri ini, khususnya warga keturunan Tionghoa, dan lebih khusus lagi penganjut agama Khonghucu di Indonesia.

Berkat perjuangan dan keputusan politik Gus Dur lah warga keturunan Tionghoa dan penganut agama Khonghucu dapat kembali merasakan kebebasannya dalam mengekspresikan dan melestarikan kebudayaannya dan juga memeluk dan mengamalkan agamanya. Atas jasa Gus Dur itulah maka sebagian umat Khonghucu selalu menyebut Gus Dur sebagai nabi bagi mereka.

Tentu penyebutan tersebut bukanlah tanpa alasan, meski mungkin terdengar berlebihan. Tetapi beberapa kali saya mendengar sejumlah umat Khonghucu menyebut Gus Dur adalah nabi,  saya melihat hal tersebut bukan basa-basi. Julukan tersebut keluar dari lubuk hati terdalam sebagai penghormatan atas perjuangan Gus Dur semasa hidupnya.

Selain dikenal pembela hak-hak kaum minoritas, Gus Dur juga kita kenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia. Julukan ini disematkan karena ia secara total mengabdikan hidupnya untuk membela keragaman di negeri ini. Ia tak pernah membeda-bedakan orang atau kelompok dari sisi ras, suku, etnis, budaya dan juga agama. Di matanya mereka adalah setara. Mereka sama-sama punyak hak untuk hidup dan berkarya serta menjalankan keyakinan agama dan kepercayaannya.

Tak hanya pembela keragaman, Gus Dur sejatinya juga merupakan pejuang perdamaian. Toleransi Gus Dur tak berhenti pada wacana tetapi mengejawantah dalam kehidupan sehari-harinya.

Mencermati pemikiran Abdurrahman Wahid memang menarik sekaligus menyulitkan. Menarik karena gagasan-gagasannya sangat sederhana, tetapi dinilai banyak kalangan mampu memberikan wawasan tersediri dalam menganalisis persoalan, baik di Indonesia maupun di ranah internasional. Menyulitkan karena pemikirannya terkadang keluar dari kultur lingkungan yang membesarkannya, yakni NU dan pesantren.

Namun  demikian, secara umum ide-ide Gus Dur telah menjadi wacana public yang terus menggulir dan dipahami serta ditafsir oleh sejumlah kalangan sesuai latar belakang disiplin intelektual mereka. Salah satu disiplin itu adalah dalam soal pendidikan perdamaian seagaimana yang saya ulas dalam tesis saya, yakni Pendidikan Perdamaian Abdurrahman Wahid. (segera terbit dalam bentuk buku).

Toleransi yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Gus Dur tidak sekedar menghormati dan menghargai keyakinan atau pendirian orang lain dari agama yang berbeda, tetapi juga disertai adanya kesediaan menerima ajaran-ajaran yang baik dari agama lain. Dalam sebuah tulisannya berjudul Intelektual di Tengah Eksklusifisme, Wahid memaparkan:

“…Saya membaca, menguasai, menerapkan al-Qur’an, al-Hadits, dan kitab-kitab Kuning tidak dikhususkan bagi orang Islam. Saya bersedia memakai yang mana pun asal benar dan cocok sesuai hati nurani. Saya tidak memedulikan apakah kutipan dari Injil, Bhagawad Gita, kalau bernas kita terima. Dalam masalah bangsa, ayat al-Qur’an kita pakai secara fungsional, bukannya untuk diyakini secar teologis. Keyakinan teologis dipakai dalam persoalan mendasar. Tetapi aplikasi adalah soal penafsiran. Berbicara penafsiran berarti bukan lagi masalah teologis, melainkan sudah menjadi masalah pemikiran”.

Wahid tidak hanya dapat menerima kebenaran yang berasal dari ajaran agama lain, tetapi juga menganggap penganutnya sebagai saudara. Persaudaraan sesama manusia meski berbeda agama inilah yang menjadi salah satu pilar perdamaian. Dalam pidato perayaan Natal pada tanggal 27 Desember 1999 di Balai Sidang Senayan Jakarta, misalnya, Gus Dur menuturkan:

“Saya adalah seorang yang menyakini kebenaran agama saya, tapi ini tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesame umat beragama. Sejak kecil itu saya rasakan. Walaupun saya tinggal di lingkungan pesantren, hidup di kalangan keluarga kiai, tak pernah sedikitpun saya merasa berbeda dengan yang lain”. (Khamami Zada (ed), Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan, h. 144).

Pernyataan Gus Dur tersebut menandaskan bahwa dirinya tak pernah merasakan berbeda dengan penganut agama lain. Bagi Wahid, perbedaan keyakinan seyogyanya tidak membatasi atau melarang kerjasama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerjasama itu tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar-agama. Dengan ungkapan lain, prinsip pemenuhan klebutuhan berlaku dalam hal ini, seperti adagium ushul fiqh(teori legal hukum Islam): “Sesuatu yang membuat sebuah kewajiban agama tidak terwujud tanpa kehadirannya, akan menjadi wajib pula (Ma la yatimmu al-wajibu illa bihi fahuwa wajibun)”. Kerjasama tidak akan terlaksana tanpa didahului dengan adanya dialog. Oleh karena itu dialog antar agama juga menjadi kewajiban. (Islamku Islam Anda Islam Kita, h. 133-134).

Dari uraian di atas dan kajian saya terhadap tulisan-tulisan Gus Dur dapat kita simpulkan bahwa definisi sekaligus konsepsi pendidikan perdamaian menurut Gus Dur adalah adanya toleransi yang ditandai dengan penerimaan atas keberadaan orang atau peganut agama lain yang berbeda dibarengi dengan sikap menghormati dan menghargai sebagai sesama manusia. Konsep inilah yang dapat direalisasikan dan diaplikasikan dalam pembelajaran baik di lembaga pendidikan formal maupun non-formal agar peserta didik saling toleransi, menghargai dan menghormati antar umat beragama sehingga terwujud perdamaian.

Jika ditelusuri secara mendalam, konsep pendidikan perdamaian Gus Dur yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang humanis adalah pengaruh para kiai yang mendidik dan membimbingnya sejak ia remaja hingga dewasa.

Ia meneladani kisah tentang Kiai Fatah dari Tambak Beras, KH. Ali Ma’sum dari Krapyak dan Kiai Chudhori dari Tegalrejo telah membuat pribadi Gus Dur menjadi orang yang sangat peka pada persoalan-persoalan kemanusiaan. Seseorang dapat menjunjung perdamaian karena memiliki sikap humanitarian, kecintaan kepada manusia yang membuatnya memunyai sikap menghormati kepada yang lain yang berbeda. [ ]

 

Ahmad Nurcholish, penulis buku Peace Education & Pendidikan Perdamaian Gus Dur (segera terbit).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*