Agnostik Sebagai Pilihan

Oleh Ahmad Nurcholish

“Mas, anak gadisku itu menyatakan diri sebagai agnostic. Gimana sebaiknya sikap saya, ya?”

Pertanyaan tersebut dilontarkan seorang ibu kepada saya, kemarin siang saat berada di sebuah hotel di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sang ibu yang juga aktivis LSM/NGO yang sudah saya kenal sebelumnya ini nampak belum siap menerima kenyataan tersebut.

Tak lama kemudian seorang pendeta juga menuturkan kepada saya bahwa anaknya yang tengah kuliah di Yogyakarta juga memilih menjadi agnostic. Sang pendeta tersebut pun tidak siap menerima kenyataan tersebut. Posisinya sebagai pemimpin agama dan gembala umat membuatnya sulit menerima pilihan anaknya tersebut.

Sorenya, dalam perjalanan pulang dari bandara Soekarno-Hatta menuju rumah, seorang guru di sekolah Islam di Jakarta juga mengungkapkan bahwa ada beberapa muridnya di SMA kelas 2 dan 3 juga ada yang memilih menjadi agnostic.

Untuk yang terakhir ini saya belum menggali apa alasan murid-murid tersebut memilih menjadi agnostic. Tetapi dua remaja dari rekan saya dan sang pendeta tersebut menyampaikan alasannya bahwa agama tak menjamin pemeluknya untuk menjadi orang baik. Sebaliknya, dengan agama yang dipeluknya justru mereka saling bermusuhan, konflik, bahkan saling membunuh.

Fakta tersebutlah yang membuat para remaja tersebut tak bersimpatik terhadap (umat ber-)agama yang kemudian mendorongnya untuk memilih sebagai agnostic. Pilihan serupa dan alasan yang sama  juga disampaikan oleh seorang mahasiswa saya beberapa waktu lalu. Ia memilih agnostic bahkan setelah melalui perjalanan panjang spiritualnya. Ia mengaku telah mempelajari ajaran dari berbagai agama, berguru kesana kemari dan akhirnya mantab untuk memilih jalan sebagai agnostic.

Ada hal menarik dari latar belakang merka yang memilih menjadi agnostic tersebut. Mereka justru berada dalam lingkungan yang sangat religious: orang tua pemuka agama, belajar di sekolah agama, juga mempelajari secara intensif ajaran agama-agama. Sebelum terlalu jauh perbincangan kita mari sekilas kita simak apa itu sebetulnya agnostic?

Dalam laman Wikipedia (tentu sumber ini bisa kita diskusikan lebih lanjut), Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein(artinya “tahu; mengetahui”) dan a (artinya “tidak”). Arti harfiahnya “seseorang yang tidak mengetahui”. Agnostisisme bukan sinonim dari ateisme.

Menurut filsuf William L. Rowe, dalam arti populer seorang “agnostik” adalah seseorang yang tidak percaya atau mendustakan keberadaan dewa atau Tuhan. Sedangkan teis dan ateis masing-masing adalah orang percaya dan tidak percaya akan Allah, tetapi bahwa dalam agnostisisme arti sempit adalah pandangan bahwa akal manusia tidak mampu secara rasional membenarkan keyakinan tentang apa yang dilakukan Allah atau juga apakah Allah itu ada atau tidak. (Rowe, William L. (1998). “Agnosticism”, dalam Edward Craig. Routledge Encyclopedia of Philosophy).

Agnostik (dari Yunani Kuno ἀ-(a-), yang berarti “tanpa”, dan γνῶσις (gnosis), berarti “pengetahuan”) digunakan oleh Thomas Henry Huxley dalam pidatonya pada pertemuan Metafisika Masyarakat pada tahun 1869, untuk menggambarkan filsafat yang menolak semua klaim pengetahuan spiritual atau mistis. Para pemimpin gereja Kristen awal menggunakan kata Yunani “gnosis” (pengetahuan) untuk menggambarkan “pengetahuan spiritual”.

Agnostisisme tidak sama dengan pandangan keagamaan menentang gerakan keagamaan kuno “Gnostisisme” pada khususnya, Huxley menggunakan istilah dalam lebih luas, pengertian yang lebih abstrak  Huxley mengidentifikasi “agnostisisme” bukan sebagai “kredo” melainkan sebagai “metode penyelidikan skeptik, berbasis bukti”. (Aphorisms and Reflections. Kessinger Publishing. 2004).

Dalam perkembangan selanjutnya, Agnostisisme dapat dibagi menjadi beberapa kategori, beberapa di antaranya dapat diperdebatkan. Variasinya antara lain sebagai berikut:

Agnostik ateisme, yakni mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi tidak mengklaim tahu apakah dewa itu ada atau tidak ada. (Smith, George H (1979),  Atheism: The Case Against God).

Agnostik teisme, mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun, tapi masih percaya pada keberadaan tersebut. Model ini yang kerap saya jumpai. Mereka percaya atas keberadaan Tuhan, tetapi tidak mau menginduk dalam agama tertentu.

Apatis atau agnostisisme pragmatis, yakni mereka yang memiliki pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya dewa/Tuhan apapun, tapi karena setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta atau kesejahteraan penghuninya, pertanyaan ini lebih bersifat akademik. (B.A. Loftus. “Ontario Consultants on Religious Tolerance: Apatheism: “Does God exist? I don’t know & I don’t really care”).

Menjawab pertanyaan sang ibu teman saya di atas, saya menyampaikan beberapa hal. Pertama, saya katakan bahwa saya selalu memberikan apresiasi terhadap siapa saja yang telah memilih jalan hidupnya, termasuk kepada mereka yang agnostic maupun atheis. Bagi saya itu adalah pilihan berani sebagai sikap dalam menentukan pilihan.

Kedua, bagi saya, agama bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebenaran. Agama bukan jalan yang memonopoli pemeluknya untuk mendapatkan kebenaran. Agama juga bukan jaminan bagi pemeluknya untuk menjadi manusia baik. Kenyataannya memang demikian, bahwa terlalu banyak mereka penganut agama, yang bahkan saleh secara religious, tetapi belum tentu saleh secara social. Ketaatan beribadah acap kali tidak berbanding lurus dengan perilaku social mereka.

Ketiga, saya lebih sependapat dengan guru Miswanto yang saya temui di Batu, Malang beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa yang membuat baik seseorang itu bukan agamanya, melainkan nuraninya. Jadi, sumber kebaikan sejatinya berasal dari nurani. Agama hanyalah menuntun pemeluknya untuk menemukan kebaikan-kebaikan,  baik yang bersifat particular maupun yang bersifat universal. Tetapi sumber kebaikan itu sendiri berasal dari nurani. Oleh karena itu, seseorang yang tak beragama sangat mungkin bisa mendapatkan kebaikan asal ia selalu mendengar nuraninya.

Dengan demikian, fenomena agnostisisme tidak mesti kita pandang dengan kacamata negative. Keberadaan mereka justru “menyelamatkan” keberadaan agama, yang meminjam ungkapan A.N. Wilson, tak pernah absen atas adanya konflik dan pembunuhan antar umat manusia. Para pemilih jalan agnostic telah mengurangi wajah buruk agama yang telah lama ternoda. [ ]

Ahmad Nurcholish, peneliti dan pemerhati masalah social-keagamaan.

One comment

  1. Waaah…penjelasannya dituliskan lengkap. Anak saya ikut baca dan jd makin mengerti. Terima kasiiih sekali Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*