Spirit Damai dari Rumah Ibadah

Oleh Ahmad Nurcholish

Rumah ibadah seyognyanya tak hanya berfungsi sebagai tempat melaksanakan ritual ibadah bagi jemaahnya tetapi juga berperan sebagai basis muara spirit perdamaian. Hal ini yang saya temukan ketika melakukan kunjungan ke rumah-rumah ibadah di Batu, Malang, Jawa Timur pekan lalu.

Dalam rangkaian acara program National Peace in Diverfsity itu saya beserta 50an aktivis pemuda lintas agama mengunjungi 5 rumah ibadah. Kelima rumah ibadah tersebut adalah Pura Giri Arjuna, Mesjid Agung An-Nur, gereja GKJW, gereja Katolik Gembala Baik , dan Vihara Kertarajasa. Semuanya berada di kawasan Batu, Malang, Jawa Timur.

rumah ibadah di Indonesia

rumah ibadah di Indonesia

Spirit damai sudah saya rasakan di rumah ibadah yang kami kunjungi pertama kali, yakni Pura Giri Arjuna. Pura yang berada di puncak bukit ini tampak menyendiri di tengah kebun apel yang terhampar di sekelilingnya. Sambutan hangat penuh persahabatan sudah kami terima ketika baru turun dari mobil yang kami kendarai.

Memasuki gerbang pura dengan gapura warna hitam menjulang kami juga disambut oleh sejumlah pedande dan pemangku. Juga pengajar agama Hindu bernama Miswanto. Ia merupakan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Batu.

Ornamen pura khas sebagaimana yang biasa kita lihat di pulau Dewata saat itu terhampar di depan mata. Tak heran jika beberapa peserta sigap dengan telepon genggamnya untuk berselfi ria. Ada yang sendirian tak sedikit pula yang berdua, bertiga bahkan ramai-ramai sekaligus banyak orang.

Yang menarik bagi saya dalam kunjungan tersebut adalah paparan yang disampaikan oleh Miswanto. Guru agama Hindu ini menyebut dirinya PSK, yakni pengajar suka keluyuran. Lelaki dengan balutan safari warna hitam ini dalam sesi diskusi dengan peserta menyampaikan beberapa hal menarik.

Pertama, kebaikan bersumber dari nurani. Kebaikan yang kita lakukan sesungguhnya berasal dari nurani, bukan dari agama. Agama hanya memandu kita bagaimana pemeluknya selalu berupaya untuk berada dalam jalan kebaikan. Sementara kebaikan itu sendiri berasal dari nurani.  Oleh karena itu jika manusia mau mendengar nuraninya maka dari sanalah ia akan senantiasa mendapatkan kebaikan.

Kedua, Tuhan itu ada dua. Siapakah keduanya? Yang pertama adalah Tuhan yang menciptakan manusia. Dialah Tuhan yang sesungguhnya. Ia yang juga menciptakan alam semesta beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya. Tuhan pertama inilah yang menjadi sutradalang bagi kehidupan semesta raya. Ia yang paling berkuasa dan paling berhak untuk kita sembah. KepadaNya lah kita berserah, bersyukur juga “pasrah” atas takdir baik dan buruk yang ia tentukan.

Yang kedua, tuhan yang diciptakan manusia. Tuhan yang ini tentu bukan tuhan yang sesungguhnya.  Ia hanya rekaan dan  ciptaan manusia tanpa disadarinya. Tuhan macam inilah yang sering bergentayangan di mana-mana dengan berkoar mengatakan orang ini salah orang itu benar, kelompok ini benar kelompok itu sesat, dst. Tuhan ciptaan manusia inilah yang kerap membuat konflik diantara umat beragama, bahkan diantara umat di dalam satu agama.

Ketiga, guru Miswanto juga mengajarkan kepada kami bahwa setiap pemeluk agama seyognyanya memiliki PACAR. Pacar di sini bukan kekasih yang kita cintai dan sayangi, melainkan begini.

P = perkenalan.  Setiap umat beragama harus mau mengenal orang atau penganut agama lain yang berbeda. Dengan mengenalnya kita akan tahu siapa mereka. Melalui perkenalan itulah kita telah membuka ruang dialog bagi siapapun penganut agama di sekiling kita, bahkan di mana pun mereka berada.

A = akrab. Setelah mengenal lalu dialog intensif maka terjalianlah keakraban. Keakraban ini penting untuk menapak jalan selanjutnya. Jika antar umat beragama sudah saling akrab maka tiada lagi saling curiga tak ada lagi prasangka. Yang ada hanyalah kerinduan untuk saling berjumpa, keinginan untuk saling menyapa.

C = cinta.  Jika keakraban sudah saling terjalin maka mulailah tumbuh rasa cinta. Cinta inilah yang akan terus bersemi yang memungkinkan umat beragama tak hanya saling menyapa tetapi juga berdialog berbagi pengalaman bahkan bekerjasama dalam berbagai hal. Cinta itu pula yang mampu meretas sekat-sekat primordial yang ada di antara kita.

A = akad/janji. Jika cinta selalu memancar dari hati kita dan memendar kepada orang-orang di sekeliling kita, maka saatnya mengikat diri dengan yang lain dengan akad atau janji. Janji di sini adalah komitmen untuk saling berbagi, saling menghormati, saling menghargai satu sama lain. Dengan akad  itulah memungkinkan antarumat beragama selalu menjaga hubungan baik dan mengedepankan kemaslahatan bersama.

R = rukun. Muara akhir dari kesemua di atas adalah terwujudnya kerukunan di antara umat beragama. Rukun ini merupakan fondasi utama untuk mewujudkan perdamaian. Dan perdamaian inilah yang menjadi impian semua umat beragama dan berkeyakinan, tidak hanya di tanah air kita tetapi juga di seluruh jagad semesta.

Sungguh, pengalaman bersilaturrahim ke Pura Giri Arjuna telah memberikan pelajaran berharga bahwa rumah ibadah mampu menjadi basis utama bagi bersemainya perdamaian. Ia tak hanya memberikan pencerahan bagi umat Hindu saja tetapi juga pencerahan umat agama lain yang berbeda yang mau belajar darinya. [ ]

Ahmad Nurcholish, merbot masjid Raudhatussalam, Serpong, Tangerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*