Cinta dalam Etika Kristen

Oleh Ahmad Nurcholish

Suatu waktu berdirilah seorang ahli Taurat seraya bertanya untuk menguji Yesus .

“Guru, apa yang harus ku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?

“Apa yang tertulis dalam hukum Taurat” jawab Yesus.

Apa yang kaubaca di sana?” tanya orang itu.

“Cintailah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu,  dan cintailah sesamamu  manusia seperti dirimu sendiri,” kata Yesus lagi (Lukas  10: 25-28)

Menurut moralitas Kristen seperti Augustinus dan Thomas Aquinas cinta kasih seperti tertera dalam kisah ini bagian dari kebijakan teologis. Cinta menjadi bagian dasar dalam Etika Kristen.

Sebagaimana sistem etika lainnya, Etika Kristen dibangun atas sejumlah kebajikan. Kebajikan itu sendiri, secara konvensional terdapat tujuh pilar, berdasarkan asumsi bahwa tujuh kebajikan ini, bila dikombinasikan dengan lawannya, yakni tujuh dosa besar, dapat menjelaskan seluruh spektrum perilaku manusia.

Mahnaz Heydarpoor dalam Wajah Cinta Islam dan Kristen mencatat, tujuh kebajikan tersebut terdiri dari empat kebajikan “alami”, yang sudah dikenal di dunia pagan kuno, dan tiga kebajikan “teologis”, yang secara khusus ditemukan dalam agama Kristen. Kebajikan-kebajikan alami dapat diperoleh melalui usaha manusia, tetapi kebajikan teologis muncul sebagai anugerah istimewa dari Tuhan.

Menurut ajaran Kristen, kebajikan-kebajikan teologis tidak berasal dari manusia alami. Kebajikan-kebajikan tersebut ditanamkan Tuhan melalui Kristus dan kemudian diamalkan oleh orang yang beriman kepadanya. Kebajikan-kebajikan alami tersebut adalah: kebijaksanaan, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan. Konon, demikian ungkap Mahnaz, daftar kebajikan ini berasal dari Socrates dan tentu saja dapat kita temukan dalam Plato dan Aristoteles.

Di samping empat kebajikan itu, agama Kristen menambahkan tiga kebajikan teologis, yakni iman, harapan, dan cinta kasih. Tiga kebajikan ini pada mulanya diperkenalkan oleh Rasul Paulus, yang tak hanya merumuskan tiga kebajikan ini sebagai kebajikan khas Kristen, tetapi juga memilih cinta sebagai yang utama dari ketiganya: “Demikianlah tinggal tiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih; tetapi yang paling besar dari ketiganya ini adalah kasih” (Korintus 13: 13).

Ini menandaskan, cinta menjadi acuan yang paling menentukan umat Kristiani. Ketika banyak kewajiban berebut perhatian, cinta adalah prioritas yang harus diberikan pada cinta. Sebegitu pentingya cinta sehingga seluruh perjalanan spiritual dipandang sebagai sebentuk cinta. William Johnston, seperti dikutip Mahnaz, menulis demikian:

“Ia (mistisme) adalah jawaban atas panggilan cinta, yang setiap tahapnya diterangi dan dibimbing oleh nyala yang hidup, kobaran yang menyilaukan, cinta tanpa syarat dan tanpa batas. Cinta inilah yang, kata Paulus, lebih unggul daripada anugerah karismatik apa pun dan tidak dibatasi oleh apa pun. Ia ‘menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu… Kasih tidak berkesudahan’ (Korintus 13: 7, 8).”

Ajaran Kristen mengedepankan penekanan pada cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama manusia sebagai dua perintah utama. Orang yang mencintai Tuhan tidak mungkin melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya dan selalu melakukan sesuatu yang menyenangkan-Nya. Oleh karenanya, St. Augustinus mengatakan, “Cintailah Tuhan, lalu lakukan apa saja yang kamu sukai.”

Ajaran-ajaran utama moralitas  Kristen ini didapat dari Perjanjian Lama. Dalam Markus 12: 28-31, kita akan menemukan kisah yang amat penting:

“Lalu seorang ahli Taurat,  yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Cintailah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Cintailah sesamamu manusia  seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Dari ayat-ayat ini, tampak jelas jika perintah cinta kepada sesama manusia sejajar dengan perintah yang tertinggi dan terpenting, yakni perintah cinta kepada Tuhan. Paulus mereduksi seluruh hukum menjadi mencintai sesama manusia. Dia berkata, “Barang siapa mencintai sesama manusia, maka dia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena perintah: “jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini,” dan perintah lainnya, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu, “Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Cinta tidak berbuat jahat kepada sesama manusia: karena itu, cinta adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13: 8-10). “Sebab sebuah hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5: 14).

Dalam Perjanjian Lama disebutkan:

“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu adalah Allah kita, Tuhan itu esa. Cintailah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kemampuanmu.” (Ulangan 6: 4-5)

“Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegur sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu sendiri karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri: Akulah Tuhan.” (Imamat 19: 17-18).

Lalu bagaimanakah definisi dan konsep cinta dalam ajaran Kristiani? Terdapat sejumlah definisi tentang konsep cinta. Setiap definisi menekankan aspek-aspek tertentu. Yang agak filosofis,  misalnya, mendefinisikan cinta sebagai ‘keserasian atau kesamaan dengan apa yang dipandang, dengan cara tertentu, sebagai sesuai yang menyenangkan. Pengertian ini bisa dilihat New Catholic Encyclopedia.

Chervin, dalam Churh of Love, menyoroti tiga unsur cinta yang dapat diterima secara universal. Pertama, yang paling pokok adalah kepasrahan diri. Cinta bukan hanya memberikan sesuatu, melainkan menyerahkan seluruh diri, kepada yang dicintai. Aspek cinta Tuhan kepada manusia, menurut Chervin, ditandai dengan mempersembahkan anak tunggal-Nya kepada umat manusia. Dia memberikan Diri-Nya melalui anak-Nya.

Kedua, cinta tidak pernah statis. Sang pencinta tidak hanya menyerahkan dirinya dan kemudian berdiam diri. Dikatakan, “dengan cinta, orang meninggalkan dirinya, dan hidup bersama yang dicintai”.

Ketiga, cinta adalah mengubah. Cinta membuat yang pencinta berusaha selalu menyenangkan yang dicintai. Cinta seorang hamba kepada Tuhan mengubah dia menjadi orang beriman yang sejati.

Ketiga ciri tersebut melekat dalam diri seorang pencinta. Ia senantiasa memasrahkan dirinya kepada orang yang ia cintai, hidup bersama tanpa ada ‘pembatas’, dan merubah dirinya untuk selalu berbuat kebajikan. Bajik kepada Yang Kuasa, bajik pula bagi sesama manusia. Cinta selalu mendorong pencinta untuk berbuat sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang ia cintai. Menyenangkan pula bagi Tuhan yang menciptakan cinta itu sendiri.

Dalam ranah historis terdapat pemahaman cinta dalam Perjanjian Baru yang bersifat Helenistis. Pemahaman Injil tentang cinta, agape, merujuk pada konsep Platonis tentang eros. Meskipun cinta erotis kerap dipahami sebagai hasrat dan nafsu seksual, makna religius klasik dan filosofisnya adalah “dinamisme jiwa yang melampaui segala” atau “hasrat ideal untuk memperoleh kebaikan sipiritual dan intelektual tertinggi”.

Dalam perkembangan selanjutnya Perjanjian Baru Yunani tidak lagi menggunakan kata eros, tetapi lebih banyak menggunakan kata agape. Dalam bahasa Latin, agape diterjemahkan sebagai caritas dan selanjutnya muncul dalam bahasa Inggris sebagai charity dan kemudian, love (cinta). Dalam Perjanjian Baru, agape berarti cinta timbal balik antara Tuhan dan manusia. Istilah itu meniscayakan meluasnya maknanya kepada cinta sesama manusia (lihat 1 Yohanes 4: 19-21). Brett mengungkapkan demikian:

“Cinta dalam agama Kristen  adalah aku mencintamu karena kamu adalah manusia seperti diriku. Di sini terdapat unsur persamaan fundamental – aku mencintaimu seperti mencintai diriku sendiri.” (P. Brett, Love Your Neighbvour, 1992, h. 3)

Selain itu, Magnaz Heydarpoor menguraikan,  agape juga digunakan dalam pengertian yang sama dalam ‘pesta cinta’. Selama abad pertama Masehi, komunitas Kristen berkembang menjadi unit-unit mandiri dan memandang diri mereka sebagai suatu (komunitas gereja). Mereka menganut dua jenis pelayanan: pertemuan semodel sinagoge yang terbuka bagi semua umat dan kaum beriman berupa pembacaan kita suci Yahudi; dan agape atau ‘pesta cinta’ yang hanya diperuntukkan bagi kaum beriman saja.

Agape adalah perjamuan persahabatan yang mengundang orang-orang miskin. Biasa dihelat pada malam hari yang di dalamnya para peserta berbagi makan yang disertai upacara singkat – mengenang Jamuan Terakhir – untuk mengenang Penyaliban Yesus. Inilah pesta Pengucapan Syukur (thanksgiving); nama Yunaninya Eucharist (Ekaristi), yang berarti ‘persembahan rasa syukur’.

Charity, kemurahan hati,  merupakan konsep yang serupa dengan cinta. Ia terjemahan dari kata Yunani agape, yang juga bermakna ‘cinta’. Kemurahan hati adalah bentuk tertinggi cinta. Cinta timbal balik antara Tuhan dan manusia yang diwujudkan dalam bentuk cinta tanpa pamrih kepada sesama manusia. Dalam teologi etika Kristen, kemurahan hati secara mengesankan ditunjukkan dalam kehidupan, ajaran, dan kematian Yesus.

Tentang charity, St. Augustinus menjelaskan, “Kemurahan hati adalah kebajikan yang, setelah rasa sayang kita jalankan secara sempurna, akan menyatukan kita dengan Tuhan, karena dengan itulah kita mencintai-Nya.” Dengan menggunakan definisi ini dan yang lain dari tradisi Kristen, para teolog Abad Pertengahan, terutama St. Thomas Aquinas, menempatkan kemurahan hati dalam kebajikan teologis (bersama iman dan pengharapan), dan memosisikan kemurahan hati sebagai “dasar atau akar” dari kebajikan teologis.  Kalangan reformis Kristen mengidentifikasikan keunikan agape Tuhan bagi manusia sebagai cinta Tuhan yang tak berbalas.

Oleh karena itu, Magnaz menyimpulkan, mereka mensyaratkan bahwa kemurahan hati – sebagaimana cinta manusia kepada sesamanya – mestilah didasarkan bukan pada apa yang diinginkan dari objek cinta, melainkan pada transformasi subjek (pencinta) melalui kekuatan agape Tuhan.

St. Augustinus menggunakan istilah amor (cinta) untuk penilaian etis yang memengaruhi perilaku. Amor adalah dinamika moral yang mendorong manusia untuk melakukan suatu tindakan. Kebaikan yang lebih rendah merupakan sarana menuju kebaikan yang lebih tinggi. Kebaikan tertinggi sajalah yang dapat “dinikmati” sebagai tujuan puncak, yang merupakan wilayah hati. Bagi Augustinus, kebaikan tertinggi – yang buahnya hanya bisa dicapai setelah manusia mampu mencapai kesempurnaan – adalah Tuhan, yang sifat dasarnya adalah cinta, agape. [ ]

Ahmad Nurcholish, penulis buku “Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-agama” (Elexmedia, 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*