“Curhat” Guru Agama Soal Pendidikan Perdamaian

JAKARTA, ICRP – Pendidikan di Indonesia dinilai masih belum memasukan Peace Education sebagai wacana penting. Padahal sebagai sebuah bangsa majemuk, peace education merupakan hal yang sangat krusial. Terlebih mengingat Indonesia menghadapi konflik bermotif agama maupun etnis yang kian meningkat tiap tahun.

Karena itu, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menjadikan bahasan “Peace Education dalam Sistem Pendidikan di Indonesia” di Sekolah Agama. Mendaulat  pengurus Asosiasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Mahnan Marbawi dan Aktivis Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Sudarto, ICRP membahas topik krusial ini, Jumat (16/10).

Kesempatan memulai sesi sekolah agama diperuntukan pada guru PAI. Memulai diskusi, pak guru PAI dari Bekasi ini menuturkan signifikannya fatwa Majelis Ulama Indonesia  (MUI) dalam membuat aksi-aksi kekerasan pada yang berbeda. Mahnan Marbawi mengakui fatwa MUI kerap dijadikan rujukan untuk melakukan kekerasan.

Sementara itu, pada sisi lain Marbawi melihat negara belum berperan serius dalam mengembangkan pendidikan yang ramah pada perbedaan. Karena itu, menurutnya, intoleransi kerap terjadi di tanah air. “Intoleransi terjadi karena kegagalan sistemik di bidang pendidikan. Pendidikan di Indonesia tidak secara kuat membasiskan penghargaan terhadapa perbedaan,” jelas Marbawi.

Dalam kesempatan itu, Marbawi pun menerangkan masih buruknya kurikulum pendidikan di Indonesia, khususnya kurikulum pendidikan agama. Pasalnya, memang tidak ada poin dalam kurikulum di pendidikan agama yang secara spesifik menyebutkan pentingnya merawat keberagaman.

Karenanya, Marbawi malam itu menyajikan rumusannya soal kurikulum. Dalam  kurikulum yang Ia rancang, Marbawi menempatkan poin keberagaman menjadi hal yang krusial dalam pendidikan.

Bahkan, Marbawi mengaku di dalam kelas dirinya kerap mengundang para pemuka agama untuk mengurangi kecurigaan para siswa pada kemajemukan. “Saya mempunyai kelas inspiratif. Di dalamnya, kadang saya mengundang para tokoh-tokoh agama untuk membahas ajaran-ajaran universal dari agama-agama. Karena itu saya mengundang bapak dan ibu untuk sesekali datang ke kelas inspiratif kami,” kata Marbawi.

Marbawi terdorong untuk melakukan hal demikian karena Ia melihat negara memang belum serius mengelola keberagaman di dunia pendidikan. “Tidak ada sistem pendidikan yang berupaya mengelola perbedaan…terlebih tokoh-tokoh agama hari ini sedikit yang mencontohkan untuk mau berbaur denga yang berbeda. Jadi tidak ada keteladanan untuk menghargai perbedaan,” sesal Marbawi.

Sudarto mengamini pendapat sang guru soal masih rendahnya tingkat pemuka agama yang mau berbaur. Menurut Sudarto yang juga sempat menjadi tenaga didik di dunia pendidikan itu di Sekolah sulit sekali mengajarkan kemajemukan. Padahal, pendidikan merupakan cara untuk membangun karakter masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*