Trinitas Sesat? Ulil : Trinitas Pun Tauhid!

JAKARTA, ICRP – Dalam diskusi bertema “Polemik Ketuahan Yesus : Perspektif Islam dan Katolik”, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ulil Abshar Abdalla membuat sebuah terobosan. Menurut Ulil kritik umat Islam terhadap konsep trinitas Kristen adalah hal yang tidak tepat. Ulil mengaskan Kristen pun merupakan agama Tauhid.

“Bagi saya Yahudi, Kristen, Islam adalah agama tauhid. Tetapi tauhid dengan versi yang berbeda-beda,” kata Ulil. Pernyataan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, di Barat  para pengstudi perbandingan agama mengkategorikan ketiga agama ini sebagai agama Tauhid.

Ulil menawarkan cara pemahaman yang segar bagi muslim untuk menerjemahkan trinitas. “Ada dua hal yang siang ini  saya coba untuk bahas. Pertama konsepsi Yesus sebagai anak Tuhan dan kedua yaitu Yesus sebagai Tuhan,” kata Ulil di secretariat ICRP, Jumat (5/9).

Di dalam konsep ketuhan Kristen, kata Ulil, Yesus dianggap sebagai anak Tuhan. Bagi orang Islam , kata ulil, hal semacam ini memunculkan teka-teki. “Begitu debat kristologi Islam dan Kristen maka yang muncul selalu ayat-ayat dari Al-Ikhlas,” jelas Ulil.

Ulil memberikan latarbelakang sebelum menjawab kegundahaan umat Islam terhadap konsep trinitas. “Sebetulnya kalau umat Islam keberatan yesus sebagai anak Tuhan atau menganggap konsep ini sebagai konsep yang janggal. Dengan mudah sebetulnya tudingan semacam ini bisa dibantah oleh argumen internal Al-Quran sendiri,” kata Ulil.

Di dalam Quran, menurut Ulil, banyak ayat yang menunjukan sifat Tuhan adalah antrophomorfis. Misalnya, kata Ulil, di Al-Quran banyak ayat yang menyebutkan Tuhan memiliki wajah, tangan, dsb atau bahkan Tuhan dikatakan tinggal di singgasana yang berada di atas air. “artinya di Al-Quran ada ungkapan-ungkapan ketuhan yang sangat Antrophomorfis,” ungkap Ulil.

Padahal di sisi lain Quran menegaskan, sambung Ulil, Tuhan tidak sebagaimana manusia. “Tuhan adalh total others, tapi kenapa dikatakan Tuhan punya kaki dan tangan” kata Ulil.

Menurut Ulil cara pandang antrophomorfis ini seharusnya bisa menjembatani umat Islam dalam memaknai konsep yesus sebagai anak Tuhan. “Ungkapan Yesus anak Tuhan sebenarnya pun merupakan antrophomorfis. Artinya status orang Kristen mengatakan yesus anak Tuhan tidak beda statusnya di dalam Islam Tuhan mempunyai tangan, kaki, dan singgasana” singkat Ulil.

Siang itu, Ulil memaparkan sejumlah sarjana muslim klasik menjelaskan antrophomorfisme Tuhan.  Menurut Ulil ada dua jalan sarjana Ulil untuk mengatasi problem ini. “pertama memang Al-Quran menjelaskan Tuhan punya tangan, wajah, dan kaki. Tetapi, kaki, tangan, wajah Tuhan tidak sama dengan yang dimiliki manusia,” kata Ulil mengutip konsepsi Imam Malik.

Jalan kedua, lanjut Ulil, ialah mazhab yang mencoba menafsirkan antrophomorfisme Tuhan secara metaforis. “kalau ada ungkapan Tuhan memiliki tangan, wajah, dan kaki, itu semua hanya untuk mendekatkan pemahaman ketuhanan pada manusia. Bukan dimaksudkan hal tersebut sebagai makna denotatif. Kalau dimaksudkan Tuhan punya tangan namun kekuasaan,” jelasnya.

Sebetulnya, kata Ulil,  cara berpikir demikian bisa diparalelkan dengan cara memahami ketuhanan di dalam Kristen. “Kalau dikatakan Yesus anak Tuhan maka dengan cara pertama kita bisa katakan Tuhan memang punya anak namun bagaimana memiliki anak tentu tidak sama dengan kita manusia. Sama dengan konsep Tuhan punya tangan di dalam Islam. Kalau pakai konsep kedua, ya yang dimaksud di sini adalah anak Tuhan secara metaforis bukan biologis. Dan saya yakin tidak ada umat kristiani yang percaya bahwa anak Tuhan dalam pengertian anak biologis,” tutur Ulil.

Beranjak pada problem pemahaman muslim berikutnya terhadap konsep ketuhan Kristen, Ulil mencoba menerjemahkan Yesus sebagai Tuhan. “Bagaimana bisa mengatakan “Tiga Tuhan” sebagai Tauhid? Pertanyaan ini memang tidak mudah dijawab. Pertanyaan ini juga bagi orang Kristen juga selalu misterius. Jawaban logis selalu menimbulkan petanyaan lanjutan. Karena ini pengalaman teologis pada dasarnya,” kata Ulil memulai polemic.

Ulil mengaku jawabannya tidak bisa memuaskan sepenuhnya masyarakat muslim mengenai konsep Yesus sebagai Tuhan.  Namun, pada kesempatan itu, Ulil berusaha untuk menemukan jembatan pemahaman Kristen dan Islam terhadap Yesus dari Quran. “Penggambaran quran terhadap Yesus pada dasarnya dalam satu segi tidak beda dengan Kristen sendiri. Yesus dalam alquran dipersepsikan agak menyerupai sebagai konsepsi firman yang mendaging sebagaimana di Injil Yohannes, yaitu ketika Quran mendeskripsikan Yesus sebagai Kalimat Tuhan,” tutur Ulil.

“Kira-kira kita bisa menjembatani gap antara paham orang islam mengenai Tauhid dengan trinitas dengan mendekatkan bahasa mereka. Namun, ada bahasa-bahasa yang bisa menjembatani. Misalnya seperti Yesus sebagai firman Tuhan.  Sehingga hubungannya tidak menjadi clash,” ungkap Ulil.

 

 

 

 

 

 

 

4 comments

  1. pandangan ulil yang menganggap bahwa tuhan (Allah) memiliki sifat antrophomorfis adalah sebuah upaya penyesatan dalam pandangan islam, apalagi dengan ulail mencoba mengutip pandangan imam malik yang digunakan untuk menguatkan pandangan beliau kalau ulil cobah mengutip secara utuh dan tidah kanya mengambil sebagian dan mengubah redaksinnya maka tidak akan seperti itu, sesungguhnnya inmam malik mengatakan “Kaifiyah-nya tidaklah dapat dinalar, istiwaa’ sendiri bukan sesuatu yang majhul, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan sesungguhnya aku khawatir kamu berada dalam kesesatan”. Kemudian beliau memerintahkan orang tersebut untuk dikeluarkan dari majelisnya. [Syarh Ushuulil-I’tiqad Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah, hal. 398, tahqiq : Ahmad bin Mas’ud bin Hamdaan. coba kita bandingkan dengan perkataan ulil di atas, mana yang benar?
    inilah sesungguhnnya senjata penyesatan yang dilakukan oleh orang2 loberal seperti mereka bahwa mereka sering melakukan pemalsuan reprensi dan penyesatan dengan mengunakan para ulama.

  2. Tentu menyamakan konsep trinitas dengan konsep tauhid dengan argumen diatas termasuk pernyataan yang gegabah. Jelas konsep tauhid dalam Islam adalah murni diajarkan oleh Rasulullah, memiliki sumber dan periwayatan yang jelas. Tidak sebagaimana tirinitas dalam Kristen yang terpengaruh oleh agama pagan romawi yang akhirnya menjadikan konsep teologi kristiani disesuaikan dengan konsep agama pagan yang saat (sebelum konsili nicea) itu dianut oleh masyarakat romawi. Artinya, jika orang barat menganggap tiga agama samawi (islam, kristen, dan yahudi) adalah agama tauhid, maka yang dimaksud adalah monotheis. Tuhan yang satu.

  3. Yang saya hormati Pak Sani Yo.
    Dalam pandangan saya, Pak Ulil tidak menyatakan atau menganggap bahwa Allah memiliki sifat antrophomorfis. Antrophomorfis yang dimaksud pak Ulil adalah cara menjelaskan sesuatu, dalam hal ini Allah, dalam bentuk-bentuk manusia, seperti punya wajah, tangan, dsb. Allah yang maha suci dan sempurna tidak dapat dipahami secara sempurna pula oleh pikiran manusia yang terbatas. Namun Allah harus dijelaskan kepada manusia, karena manusia harus menyembah dan memuliakan-Nya. Oleh sebab itu diperlukan pendekatan antrophomorfis agar manusia dapat memahaminya. Pada hemat saya, penjelasan apapun tentang Allah pasti ada keterbatasan, karena Allah yang sempurna harus dijelaskan dan dipahami oleh manusia yang pemikirannya tidak sempurna (terbatas).

    Salam.

  4. memahami Yesus sebagai anak atau Tuhan sebenarnya mudah saja, mengapa? Sejauh ini apakah ada yang sungguh sungguh memahami Tuhan? Dia siapa? Tinggal dimana? sosoknya seperti apa? Nah betul apa yg disampaikan oleh mas Aryo, untuk memudahkan manusia menangkap gambaran Tuhan dengan lebih intim atau dekat maka harus ada media atau sarana. Mungkin memahami dg konsep Antrophomorfis. Jadi dengan begitu ada hubungan kedekatan yg mendalam antara manusia dg Tuhannya. Konsep anak inipun juga bukan berarti hubungan biologis, kita ambil contoh apakah anak tangga adalah hasil perkawinan antara lantai dengan tangga? atau anak panah misalnya? Orang Kristen pun menyebut TUhan dengan sebutan Bapa, disini seolah olah memberikan arti bahwa ada relasi antara ayah dg anak seperti hubungan manusia pada umumnya, bahwa kedekatan relasi diperlukan untuk memahami Tuhan supaya lebih dekat. Itupun masih terbatas. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*