Mengenal Sikhisme

Oleh: Ubed Abdilah S.

“Kenali ‘orang lain’, Kenali dirimu, Kenali Tuhanmu”

“Anda tanya saya orang mana, dan dari mana? Saya orang Sikh, saya dari Jakarta, dan saya Indonesia”

(Ben)

Memang, penampilan seorang penganut Sikhisme (Sikhi) nampak berbeda dan sesungguhnya paling mudah dikenali karena mereka, terutama laki-laki, memiliki identitas kuat dalam cara berpakaian. Model penampilannya adalah menggunakan turban (penutup kepala) khas umat Sikh, memelihara janggut dan jambang. Penampilan itu bukan sekedar membuat mereka tampak beda dan menonjol, namun identitas itu merupakan representasi dari akar kepercayaan dan teologi Sikhisme.

Identitas itu merupakan penanda seorang Sikh yang setia pada ajaran nabi Guru pembawa pesan dan pendiri ajaran Sikhisme, Guru Nanak. Kata “Guru” secara literal berasal dari kata “gu” berarti kegelapan dan “ru” berarti cahaya. Bagi penganut agama Sikh, guru adalah “pencerah” (enlightener), yaitu orang yang menyibak kegelapan dan mengarahkan pada cahaya jalan spiritual menuju Tuhan. Setelah Guru Nanak, ada sembilan Guru lain yang menggantikan dan mengambil peran menyiarkan dan menjadi panutan ajaran Sikhisme antara periode abad ke 15-17 M. Guru terakhir, Guru Gobind Singh memutus garis kenabian Guru yang hidup (living guru) dengan menginstruksikan bahwa sebagai pegangan terakhir adalah kompilasi shabad (word/sabda) sepuluh Guru yang dituliskan dalam sebuah kitab yang sekarang menjadi kitab suci agama Sikh, yaitu “Guru Grant Sahib”.

Laki-laki Sikh yang memakai turban, tidak memotong rambut, dan bernama belakang “Singh” yang berarti Singa (lion) adalah mereka yang sudah dibaptis (Amrit) dan berpegang pada nilai dan semangat khalsa (yang murni). Khalsa adalah semangat kembali pada kemurnian seperti “lima orang tercinta” (panj pyare); yaitu lima orang Sikh terpilih yang rela mengorbankan dirinya demi kejayaan Sikhisme dan simbol keimanan pada ajaran nabi Guru Nanak. Mereka adalah lima orang yang pertama kali menerima baptis (Amrit) oleh Guru ke sepuluh, Guru Gobind Singh. Usai dibaptist, mereka tampil dengan menggunakan 5 K; Kesh (rambut panjang yang tidak boleh dipotong), kangha (sisir kecil  untuk membereskan rambut), Kara (Gelang dari besi baja), Kachera (celana), Kirpan (pedang kecil).

Kata Sikh yang diambil dari bahasa Sansakerta sishya bermakna “pengikut atau pembelajar” (follower) terhadap Sepuluh Guru (Ten Gurus) yang merupakan para utusan dan penyebar ajaran spiritual yang diajarkan oleh Guru Nanak. Seorang Sikh adalah seorang pencari kebenaran, yang percaya dengan hanya satu Tuhan, sang realitas tertinggi, dan mengikuti ajaran sepuluh guru yang tercermin dalam kitab suci, Guru Grant Sahib.

Teologi, Rumah Ibadah, dan Ikatan Sosial   

Saya mengenal Ben dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Meskipun tidak lagi muda dan pernah terserang stroke, tapi ia orang yang tetap semangat dan tidak tampak telah mengalami sakit  yang cukup berat. Ia mengundang saya dan teman-teman untuk mengunjungi kediamannya dan bertemu komunitas Sikh di Yayasan yang ia bangun sejak hampir dua dekade lalu.

Minggu pagi, akhir November 2014, saya memenuhi undangan Ben datang ke kantor  Yayasan komunitas Sikh di Kampung Sawah-Ciputat. Gedung kantor Yayasan itu sekaligus juga mencakup beberapa gedung yang digunakan sebagai sekolah internasional tingkat dasar dan juga bangunan rumah ibadah agama Sikh yang disebut Gurdwara (Jalan menuju Tuhan). Sekilas, arsitektur bangunan Gurdwara mirip dengan Masjid karena menggunakan ornament kubah seperti yang ada pada pintu dan jendela masjid. Tak ada kursi atau tempat duduk di dalam ruangan, hanya karpet. Laki-laki diwajibkan menggunakan tutup kepala, sebagian menggunakan turban, sebagian lagi hanya potongan kain yang diikatkan di kepala. Sementara kaum perempuan menggunakan busana panjang dengan kerudung, mirip dengan cara pakaian muslimah Indonesia.

Penganut Sikhisme adalah komunitas keturunan etnis Punjab, India utara. Maka, saya tak melihat seorang pun penganut Sikhisme yang berwajah lokal Indonesia di Gurdwara ini. Ben mengundang saya ke dalam ruangan utama untuk tempat ibadah. Hari minggu adalah waktunya untuk ibadah bersama, seperti kebaktian bagi umat Kristiani.

Saya mengambil tempat duduk di barisan laki-laki di sebelah kanan, sementara kaum perempuan berada di bagian kiri. Ada sekitar 100-an orang jemaah laki-laki dan 100-an orang jemaah perempuan, muda, tua dan anak-anak. Di bagian depan tengah terdapat semacam mimbar (Manji Sahib) yang diatasnya diletakkan kitab suci Guru Grant Sahib. Seseorang menjaga dan mengipasinya dengan kipas yang khusus. Saat memasuki ruang ibadah, umat Sikh memberikan penghormatan, membungkuk dan bersujud menghadap kitab suci, kemudian memberikan sumbangan infaq (perpuluhan).

Bagi saya, “mengikuti” ibadah agama lain bukan hal baru, dalam konteks melakukan observasi partisipatoris dalam penelitian agama di luar agama yang saya anut, Islam. Ada banyak kesan ketika melakukan observasi agama-agama diluar agama sendiri. Dari perspektif psikologi, perilaku beragama dalam beribadah yang merupakan inti sebuah ajaran agama, menunjukkan hal yang sama atas dasar rasa kemanusiaan yaitu penghambaan terhadap sesuatu yang “maha” diluar sana. Ekspresi ibadah dalam banyak hal tak jauh berbeda; menyembah, bersujud, dan tunduk sesuai kaidah ritual masing-masing agama. Pemberian, sumbangan, persembahan, shodaqoh atas nama Tuhan merupakan bentuk pengorbanan dan pengakuan terhadap keberadaan Yang Maha itu.

Ben yang dipanggil “Baba” oleh anggota komunitas Sikh di Gurdwara Ciputat ini menjelaskan bahwa Sikhisme menganut monotheisme mutlak, percaya dengan Tuhan Yang Esa. Doktrin keesaan Tuhan dari Guru Nanak Dev disebut Mool Mantra yang mengatakan Tuhan Yang Esa adalah kebenaran tertinggi, Dia Sang Pencipta, Yang melebihi waktu, tak terlahirkan, Yang Abadi, dan Dia adalah realitas tertinggi. Monotheisme Sikh tergambar dalam symbol Ek Oankar yang berarti Tuhan yang Tunggal.

 

“Guru Nanak Dev lahir di abad pertengahan, tepatnya di tahun 1469, di desa Talwandi, daerah Punjab yang saat ini masuk wilayah Pakistan. Masa itu, masyarakat di India merasa tengah dalam kejumudan spiritual karena kejatuhan Dharma. Dalam kondisi itu, masyarakat percaya akan datang seorang utusan baru yang akan mengembalikan Dharma  itu.  Dharma adalah kesadaran akan keberadaan realitas universal, Tuhan, dan hukum universal (universal order) semisal hukum yang mengontrol dan mengatur alam dan manusia. Para utusan seperti ini telah muncul di dunia ini dari waktu ke waktu. Jesus Kristus, Muhammad, Buddha Gautama, Sri Raamachandra, Sri Khrisna dan lain-lain adalah contoh-contoh para utusan itu. Pesan dan visi mereka tentang cinta kasih dan perdamaian telah menyebar ke penjuru dunia dan memberikan penyembuhan dan penghiburan bagi mereka yang menderita dan merasakan kesedihan. Guru Nanak Dev juga adalah salah satu utusan Tuhan yang muncul di abad ke 15” jelas Ben.

Simbol spiritualitas Sikhisme juga terwujud dalam Khanda, yaitu gambar dua pedang kecil (kirpan) yang menyilang lengkung, satu pedang lurus ditengah dengan lingkaran kecil di dalamnya (Chakkar). Khanda ini merepresentasikan empat aspek; dua ujung mata pedang yang tajam menunjukkan kekuatan ilahi; kebenaran, kebebasan, keadilan dan kekuatan daya cipta Tuhan. Chakkar, lingkaran dalam menggambarkan life cycle (lingkaran kehidupan) dari tuhan kembali ke tuhan, , sementara dua pedang yang menyilang (kirpan) merupakan simbol agar seorang Sikh memiliki keseimbangan antara hasrat spiritual dengan kewajiban sosial.

 simbol agama sikh

Simbol Khanda (Doc. Ubed A.S.)

Saya mendengarkan, sesama umat Sikh mengucap salam  “Waheguru Ji ka Khalsa, Waheguru Ji ki Fateh” yang bermakna “Khalsa (Yang Murni) itu milik Tuhan, kemenangan milik Tuhan”. Salam tradisional lainnya bagi ummat Sikh adalah “Sat Sri Akal” yang bermakna “Tuhan yang Abadi adalah Kebenaran”. Adapun saat ibadah, kata “waheguru” merujuk pada mengamini do’a, semacam kata “amin/amen” dalam tradisi Islam/Kristen.

Prosesi ibadah minggu kurang lebih memakan waktu dua jam, biasanya antara jam 10 pagi hingga jam 12 siang. Ibadah mencakup pembacaan kitab suci, khutbah dan ditutup dengan makan kue pudding yang terbuat dari tepung dan diberi gula. Bacaan ayat suci Guru Grant Sahib berupa hymne (lagu) yang memiliki ragas (irama, nada) diiringi music kendang khas ranah India/Pakistan dan alat music sejenis rebab. Menurut Ben, ragas dan music menjadi bagian penting dalam pembacaan ayat kitab suci karena bisa mengantarkan orang pada intimacy (kedekatan) dengan Tuhan (transendensi). Kedua hal itu bisa membangun kesempurnaan meditasi yang tujuan utamanya adalah merasakan menyatu denganNya.

 

Iringan musik (art) dalam suasana ibadah banyak dijumpai dalam agama, budaya dan tradisi manapun. Kreatifitas daya seni manusia bisa mengantar pada bangunan relasi yang kuat ketika melakukan “pemujaan” terhadap “Yang Maha” di luar sana.  Jauh sebelum manusia mengenal agama yang terorganisir (organized religion), budaya-budaya masyarakat adat telah menggunakan musik dan seni dalam ritual peribadatan dan pemujaan.  Bahkan jenis musik kontemporer yang saat ini digandrungi anak-anak muda juga digunakan oleh kelompok aliran Kristen Karismatik khususnya dalam ibadah-ibadah kaum muda (youth).

 

Selama mengikuti ibadah itu, sedikitpun saya tidak memahami isi khutbah yang disampaikan pendeta. Menurut Ben, memang bahasa yang digunakan oleh pendeta adalah bahasa Punjabi (Gurmukhi) yang merupakan bahasa asli kitab suci Sikh. Beberapa kalimat yang menjadi poin-poin khutbah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan ditampilkan di layar monitor dan tv ukuran besar di bagian depan atas altar. Saya hanya bisa menebak-nebak arti beberapa kata yang mirip dengan bahasa arab yang sedikit banyak saya pahami.

Kedekatan Sikhisme dengan ajaran Islam sebenarnya juga terkait juga dengan isi ajarannya karena ternyata Guru Nanak Dev, pendiri Sikhisme, menyerap nilai-nilai dan ide dari orang-orang suci dari berbagai agama, sekte, ordo dan orang-orang suci (saints). Menurut Ben, kitab suci Guru Grant Sahib menyerap cukup banyak pesan spiritual dari para sufis Islam (Islamic mysticism). Guru Nanak Dev sendiri melakukan perjalanan spiritual ke berbagai tempat, mengunjungi kota suci ummat Islam,Makkah dan juga bertemu dengan para pemimpin Vatikan-Roma, menemui para pendeta, tokoh agama sembari mengamalkan dan melakukan amalan-amalan kesucian, membantu orang-orang dan melawan kejahatan dan para pelakunya.

Namun sikhisme yang diajarkan Guru Nanak Dev pada dasarnya tak lepas dari akar kultural masyarakat India yang mayoritas menganut Hinduisme (Brahmin). Satu hal yang  menjadi perhatian khusus ajaran Guru Nanak Dev adalah sikap anti sistem kasta yang ada di masyarakat India. Dalam teologinya, Sikhisme mencakup doktrin tentang kesetaraan (equality); bahwa Tuhan bisa digapai secara sama oleh setiap orang dari kalangan apapun, dan manusia adalah setara di hadapanNya. Atas dasar itu, Sikhisme sangat menjunjung keadilan dan menolak kesewanang-wenangan, kekuasaan yang tiran, dan penindasan.

Sekitar jam 12.30 siang, ibadah usai. Semua jemaah bergegas ke ruangan terbuka yang menjadi lobby bangunan ini dimana sudah tersedia makanan dan minuman. Tikar dan karpet memanjang lurus, diatur ke dalam beberapa shaf (baris). Semua orang duduk di lantai beralaskan tikar/karpet,sementara sebagian orang sibuk melayani; ada yang mengambilkan minum, nasi, lauk, buah-buahan, kue dan roti. Semua orang mendapatkan makan dan minum ini secara cuma-cuma dan tanpa perlu khawatir ada halangan karena menu makanan semuanya berbahan tumbuhan (vegetarian). Sebelumnya, sebagian orang jemaat juga memasak, mempersiapkan dan mencuci alat-alat makan dan minum.

 makan bersama dengan sikh

Makan bersama di Langgar (Doc. Ubed A.S.)

“Inilah langgar..” kata Ben. Ia menjelaskan bahwa langgar adalah simbol kesetaraan; semua orang boleh makan, sama-sama tanpa kenal status kasta, profesi, latar belakang agama, keyakinan. Pelayanan adalah bagian dari ibadah dan cara hidup asketis mengikuti ajaran nabi Guru Nanak. Di Amritsar, Kuil Emas (Golden Temple) di Punjab yang merupakan salah satu tempat suci bagi umat Sikh, ribuan orang antri hanya untuk memberikan berbagai macam bentuk pelayanan di Gurdwara yang dianggap seperti kota suci Makkah/Kakbah bagi umat Islam.

Sikhisme di Indonesia

Dalam kunjungan berikutnya, usai ibadah minggu pagi di tempat yang sama, saya bertemu dengan petugas kementerian agama bagian pelayanan agama Hindu. Pak Putu, begitu ia memperkenalkan diri, dan tentunya, ia keturunan orang Bali. Dia mengatakan kedatangannya itu sebagai bentuk pelayanan pemerintah kepada warganya apapun agama dan keyakinannya. Memang, menurut pak Putu, kementerian agama RI melihat Sikhisme sebagai bagian dari agama Hindu, sehingga pelayanan penganutnya berada di bawah Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Agama Hindu. Putu menjelaskan “Dalam hal keyakinan dan teologi memang ada hal yang berbeda, itu semua diserahkan kepada penganut Sikhisme, kita menghormati, kita juga sebatas melayani keperluan administrasi dan sosial kemasyarakatannya”.

Sementara itu, dalam beberapa kesempatan Ben mengatakan bahwa seiring reformasi dan era keterbukaan di Indonesia saat ini, tak salah jika penganut Sikhisme di Indonesia juga mendapat perlakuan yang sama. “Kami hanya ingin Sikhisme dipandang dan diakui sebagai agama yang ada di Indonesia setara dengan agama-agama lain, tidak lebih” tandas Ben. Ia menambahkan, Sikhisme di Indonesia juga sudah ada sejak era pra-kolonial ketika para pedagang dari Gujarat India masuk ke wilayah nusantara. Teori lain menyebutkan ada sekian banyak pasukan sekutu Inggris dan Belanda yang merupakan prajurit penganut Sikhisme. Saat melihat dan menyaksikan apa yang terjadi di nusantara sebagian pasukan Sikh itu justru bersimpati dan beralih membantu perjuangan kaum pribumi. Mereka yang bersimpati ini kemudian menetao di sejumah daerah di nusantara. Saat ini, penganut Sikhisme banyak yang bermukim di Medan-Sumatera Utara, Palembang, Jakarta dan beberapa kota lain.

Sementara di seluruh dunia saat ini diperkirakan pengikut Sikhisme sebesar dua puluh tiga juta hingga dua puluh tujuh juta orang. Tiga perempat diantaranya hidup di daerah asal mula kepercayaan ini tumbuh, negara bagian Punjab, India. Sisanya lebih banyak yang tinggal di Inggris, Amerika dan Kanada. Namun, saat ini mereka telah menyebar di hampir semua benua dan menjadikannya sebagai penganut agama ke lima terbesar di dunia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*