Selamat Tinggal “Anak Haram”

Putusan Mahkamah Konstitusi memberikan kemenangan pada anak-anak yang selama ini harus hidup menanggung kata “haram”.

Pekan lalu MK memutuskan untuk mengakui status hukum anak yang lahir di luar perkawinan. Merekalah yang kerap disebut sebagai “anak haram” lantaran orangtua mereka tak melewati prosesi pernikahan yang dianggap “halal”.

 Jelas ini sesuatu yang terjadi di luar kuasa mereka, tapi mereka lah yang harus menanggung akibatnya.

Secara moral, mendapat cap “haram” jelas tak menyenangkan. Menanggung dosa yang tak mereka buat, memikul malu yang terjadi di luar kehendak. Status ini tak hanya dibawa di kehidupan sosial, tapi juga di dokumen hukum mereka. Akte kelahiran bakal mencantumkan kata “anak luar kawin” lantaran orangtua tak mampu tunjukkan surat nikah dari negara. Akibatnya, banyak anak yang tak punya akte kelahiran, atau menyogok demi mendapatkan pengakuan negara.

Padahal tanpa akte kelahiran, seseorang tak dianggap ada di hadapan hukum. Tak bisa daftar sekolah, tak bisa dapat akses kesehatan, tak bisa membuat KTP dan banyak dokumen penting lainnya. Kepemilikan atas akte kelahiran adalah pintu bagi dokumen-dokumen kewarganegaraan lainnya.

Undang-undang perkawinan adalah payung hukum bagi pernikahan di Indonesia. Tapi aturan itu pula yang kerap mengebiri hak konstitusional anak. Menurut undang-undang itu, anak yang diakui di hadapan hukum adalah anak dari perkawinan resmi, yang dicatat di Kantor Urusan Agama atau Dinas Catatan Sipil. Sementara ada Peraturan Pemerintah yang mewajibkan pembuatan akte kelahiran dengan mencantumkan surat nikah orangtua.

Adalah Machicha Mochtar yang membuka kasus ini ke meja hijau. Bekas penyanyi dangdut ini adalah istri siri bekas Mensesneg almarhum Moerdiono Mereka punya satu anak dari hasil perkawinan, tapi tak diakui oleh Moerdiono. Kini dengan adanya putusan MK, anak ini bisa dipenuhi hak-haknya oleh negara. Juga diakui hak perdatanya oleh sang ayah biologis. Sesuai putusan MK, anak yang dilahirkan di luar perkawinan punya hubungan perdata dengan ibu dan ayah, yang dapat dibuktikan lewat ilmu pengetahuan, teknologi atau alat bukti lainnya.

Tak ada anak yang meminta dilahirkan, apalagi dengan cap “haram” yang harus dibawa seumur hidup. Sekarang cap itu bisa disingkirkan. Inilah kemenangan anak-anak di mata hukum, yang lahir dalam kondisi suci, sebaik atau seburuk apa pun kondisi orangtua mereka.

Semua anak terlahir sama, di hadapan Tuhan maupun hukum.

Selamat tinggal ”anak haram”.

Sumber: KBR68H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*