Kekerasan Perempuan Di Tengah Konflik

Kekerasan yang terjadi di Desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah  Sabtu (12/02/2012) kemarin sungguh memprihatinkan. Pasalnya,  enam warga tewas, puluhan warga luka-luka, dan 500 rumah hangus terbakar akibat konflik tersebut.

Selain itu, peristiwa juga memberikan trauma tersendiri bagi kaum perempuan. Konflik tersebut menempatkan perempuan menjadi korban kekerasan, baik pada saat terjadinya bentrokan maupun sebagai pihak keluarga dari korban meninggal dan luka-luka akibat bentrokan, dan ketika berada di pengungsian.

Kondisi seperti ini menarik perhatian para aktivis perempuan terlebih Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Menurut Komnas Perempuan, pemerintah seharusnya lebih sigap terhadap kasus-kasus yang serupa. Supaya dimasa yang akan datang hal-hal seperti ini tidak terulang kembali.

Lebih jauh, pemerintah harus lebih memberikan perhatian terhadap perempuan karena mempunyai kerentanan khusus atas kekerasan dan diskriminasi. Karena hal tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari menjalankan mandat Konstitusi untuk menjamin hak-hak warga negara, terutama hak atas rasa aman (Pasal 28G Ayat 1, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945), hak atas perlindungan dan kepastian hukum yang ada (Pasal 28D Ayat 1), hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (Pasal 28H Ayat 1), dan hak untuk bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apa pun (Pasal 28I Ayat 2).

Oleh sebab itu, Komnas Perempuan Senin (13/02/2012) kemarin menyatakan sikap dan menuntut kepada pemerintah lokal dan nasional untuk segera mengusut tuntas dan melakukan proses hukum. Selain itu juga segera mungkin untuk memastikan jaminan keamanan kepada masyarakat secara umum, khususnya bagi perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*