Merayakan Valentine Itu Haram?

Menolak Valentine di Aceh (Sumber Jakarta Globe)

 

Hari Valentine tinggal menghitung waktu. Biasanya momen hari kasih sayang, yang jatuh tiap tanggal 14 Februari ini, tidak akan dilewatkan oleh banyak orang, terutama oleh sepasang remaja dan kekasih. Pita-pita berwarna pinky akan menghiasi setiap pojok belantarakota, dari mall sampai kebun binatang. Ya, biasanya  momen ini selalu di indentikan dengan kisah kedua pasangan yang sedang mengalami mabukasmara. Aneh sekaliasmara bisa memabukkan. Mereka-mereka yang masih belia sering mengistilahkan “Dunia milik kita berdua, yang lain ngontrak!”. Meski sebenarnya, Valentine tidak hanya terbatas kepada kedua pasangan yang terkasih dan yang tersayang tersebut. Valentine juga kasih sayang anak dan orang tuanya, guru dan murid (termasuk murid yang paling nakal), tahanan penjara dengan petugas sipir, pemilik rumah kost dengan ibu kost (yang biasanya galak), pengendara motor dan pak polisi (biasanya yang kumisnya melintang), pemulung sampah dengan agen penampung (yang kadangkala timbangannya di catut), penumpang bus kota dengan kondekturnya (yang kondekturnya sering lupa penumpang mana yang sudah dan belum bayar ongkos), dan masih banyak lagi. Kasih sayang ini pun meluas, tak hanya kepada sesama manusia saja, melainkan juga manusia kepada alam dan lingkungannya.

Hukum Syariah

Namun selama ini istilah Valentine yang berkonotasikan hari kasih sayang yang terbatas hanya kepada sepasang remaja belia atau muda mudi itu, yang lebih dihayati oleh banyak orang. Sehingga banyak pula yang mencibir hari Valentine, temasuk beberapa ormas-ormas keagamaan. Pelajar-pelajar di Naggroe Aceh Darussallam pun meminta kepada ulama agar tidak merayakan hari Valentine dan karena ini tidak sesuai dengan hukum Syariah. Bahkan Valentine bertentangan dengan hukum Syariah.

“Adalah haram bagi umat Islam untuk merayakan Hari Valentine karena tidak sesuai dengan Syariah Islam,” kata Tengku Faisal Ali. Tengku Faisal Ali adalah sekretaris jenderal Asosiasi Ulama Aceh (HUDA). Faisal Ali yang juga ketua cabang Aceh Nahdlatul Ulama menyerukan kepada orang tua Muslim, terutama di Aceh, “Untuk mengajar dan mengawasi anak-anak mereka dalam hal ini. Pemerintah juga harus  mewaspadai kaum muda berpartisipasi dalam kegiatan Hari Valentine di Aceh.” (JakartaGlobe, February 06/ 2012)

Orang Asing? 

Apakah memang benar demikian adanya? Valentine menjadi sebuah ancaman yang sangat menakutkan dan bertentangan dengan ajaran agama. Untuk itu Musdah Mulia, memberikan pandangannya,”Saya tidak terkejut membaca berita Penolakan Ulama Aceh terhadap kegiatan Hari Valentine. Mengapa?  Karena bagi mereka, semua yang bernuansa Barat dan Asing dianggap sesat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Bagi mereka Barat selalu bermakna bukan wilayah Islam, padahal posisi Mekkah, dimana terletak Baitullah yang menjadi kiblat umat Islam se dunia letaknya di Barat. Jadi umat Islam kalau shalat harus menghadap Barat.”

Musdah Mulia, selain menanggapi bahwa ini lebih diibaratkan karena adanya dikotomi, timur dan barat. Dan barat, atau asing selalu dimaknai sebagai non-Muslim. Inilah baginya yang cukup menggelikan. Menurut beliau,”Sejatinya, bagi orang Indonesia, istilah asing itu berlaku untuk semua orang yang bukan penduduk asli Indonesia (non-WNI), termasuk Amerika, Arab, India dan seterusnya. Tetapi, bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia, pendatang Arab yang beragama Islam tidak dianggap asing. Aneh sekali! Para ulama itu hendaknya sadar, dulu Islam juga dianggap asing bagi masyarakat Nusantara, jauh sebelum Indonesia ada wujud. Islam juga datang dari Barat, bukan dari Timur. Jadi, kalau sekarang masih ada yang mempermasalahkan soal Barat dan Asing rasanya sudah tidak masuk akal.”

Terkait mengenai hari Valentine, beliau menambahkan kalau Valentine itu adalah tradisi yang berkembang sejak lama dan tidak mengandung unsur ajaran yang bertentangan dengan Islam. Esensinya adalah menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama manusia, khususnya kepada orang-orang yang selama ini dekat dengan kita. ”Kalau terjadi perilaku menyimpang dalam prakteknya, itu bukan karena tradisi Valentine, melainkan karena manusia yang merayakannya kehilangan kontrol keadabannya. Saya setuju, polisi dan yang berwenang tetap menjalankan tugasnya, memantau kegiatan hari Valentine, khususnya karena peminatnya kebanyakan dari kalangan muda usia, agar hari Valentine tidak dinodai dengan aksi-aksi brutal yang justru bertentangan dengan pesan-pesan Valentine itu sendiri,” Ujar Ketua Umum ICRP tersebut.

Musdah Mulia juga mengatakan kalau di dalam Islam pun terdapat ajaran kasih sayang, yang esensinya serupa dengan Valentine, ”Kalau mau jujur, ajaran kasih-sayang justru melimpah dalam Islam. Bukankah setiap membaca ayat-ayat Qur’an harus dimulai dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim yang intinya mengakui dan memuja Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan, ucapan bismilah itu hendaknya mengawali semua perilaku dan ucapan kita sebagai Muslim. Dan itu maknanya, substansi agama adalah mengasihi dan menyayangi: bukan hanya sesama manusia, tetapi juga sesama makhluk, termasuk menyayangi alam semesta ini. Mari menggali kedalaman agama masing-masing sehingga agama sungguh-sungguh membebaskan manusia dari semua sifat  kejahiliyahan dan kebiadaban.” Arkian, Selamat Valentine bagi semua mahkluk  (Chris Poerba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*