Kepada Menteri Agama: Syiah Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

Perayaan Asyura di Jakarta 2010 (Sumber: Chris Poerba)

Menteri Agama, Suryadharma Ali, kembali melontarkan komentar yang mengejutkan. Dalam siaran pers, beliau mengatakan,”Atas dasar itu siapa saja yang menganggap Syiah tidak sesat berarti dia sesat.” (Rabu 25/01/2012). Pendapat yang dilontarkannya itu tak urung membuat banyak penggiat demokrasi, yang memiliki semangat Bhinneka Tunggal Ika, turut menyayangkannya. Alasan Menteri Agama mengeluarkan pernyataannya tersebut setelah membaca statemen dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebutkan Syiah bukan bagian dari Islam. Hal ini yang kembali dikomentari oleh Azyumardi Azra.  Menurut Azyumardi Azra,”Dia salah baca itu. Nggak pernah ada statement dari Majelis Ulama Indonesia yang menyebut Syiah bukan bagian Islam.” (Tempo, 26/01/2012). Bahkan setelah ada kasus Sampang sekalipun MUI tetap menyatakan kalau Syiah bagian dari Islam. Selain itu, pertemuan ulama tingkat Internasional tetap menyatakan Syiah, sama halnya dengan Sunni, adalah bagian dari Islam.

Terkait  dengan statemen Menteri Agama mengenai Syiah, Musdah Mulia, selaku Ketua Umum ICRP, mengatakan “Statement Suryadharma Ali terkait Syiah adalah suatu bentuk statement yang inkonstitusional dan berlawan dengan nilai-nilai Pancasila. Seharusnya SBY memberikan sanksi bagi pejabat yang melanggar konstitusi dan mengabaikan Pancasila. Kehadiran Syiah di Nusantara sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan pengamalan keagaman umat Islam Indonesia sangat diwarnai oleh ajaran Syiah, seperti Asyura, dan sebagainya.”

Sedangkan Mohammad Monib memberikan argumen, bahwa apa yang disampaikan oleh Suryadharma Ali lebih merupakan seperti saudagar. Menurut Monib,”Pertama, bagi saya Surya dharma Ali, saat memberikan pernyataan tentang Syiah itu tidak dalam posisi sebagai Menteri Agama. Saat itu sebagai diri saudagar, pengusaha dan politisi yang sedang mendapatkan posisi bagus sebagai Menteri Agama. Sebab, misalnya, sekalipun kapasitas intelektual atau akademis dirinya tidak memadai, banyak pakar dan staf ahli yang bisa dimintai pendapat yang komprehensif tentang Syiah. Wakil Menteri Agama, Pak Nazaruddin Umar itu cendekiawan muslim yang mumpuni. Jadi, bagi saya, statement itu ia lemparkan untuk beberapa kepentingan (1).Tes suara publik terhadap komunitas Syiah di Indonesia, (2) Memancing dan mendoposito suara publik dan umat yang awam untuk suara politik diri dan partainya pada 2014, (3) Ia telah menusuk dari dalam lipatan kabinet terhadap SBY. Ia tahu presiden tidak akan berani merespon apa-apa. Karena itu ia berani mengeluarkan statemen rendahan itu.”

Sedangkan secara teologi, Monib juga mengatakan,”Teologi Syiah seperti halnya Teologi Ahl al-Sunnah tidak hanya satu kelompok. Ada yang ekstrim dan moderat. Mana yang Menteri Agama sesatkan? Saya yakin Menteri Agama tidak pernah baca Kitab al-Milal wa-al-Nihal. Ini referensi kajian teologi yang sangat memadai untuk membaca betapa aliran atau ordo teologi dalam Islam itu ratusan jumlahnya. Benar, Syiah telah hadir jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Ajaran dan teologi Syiah itu sudah menjadi bagian dalam tradisi Islam Indonesia umumnya. Beberapa kajian akademis mengatakan, Wali Songo, pendakwah Islam awal itu sebagian merupakan Ahl al-bayt Rasulullah. Dengan sendiri mereka ini membawa teologi Syiah. Sungguh sangat tidak bijak dan tidak layak Menteri Agama mengeluarkan pernyataan yang sangat dangkal dan terlihat betapa dia ini sangat tidak memadai secara akademis.” Banyak pihak yang meminta agar Kementerian Agama tidak dalam posisi mencampuri urusan teologis dari setiap warga negara.  (Chris Poerba)

 

 

One comment

  1. Bukan ‘SYAH’, Bung. Tapi, “SYI’AH” atau “SYIAH”.
    Demikian.

    Tabi’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*