Refleksi Asosiasi TeoIog Indonesia: Dari Mobokrasi Sampai Pencurian Ikan

Asosiasi Teolog Indonesia

ATI kembali melakukan refleksinya di awal tahun ini. ATI adalah singkatan dari Asosiasi Teologi Indonesia, sebuah asosiasi tempat berkumpulnya para teolog-teolog yang akan merefleksikan berbagai fenomena yang terjadi di negeri ini sepanjang tahun 2011 yang silam. Refleksi awal tahun ini bertajuk “Mau dibawa ke Mana Kekayaan Alam dan keragaman Negara ini?”, bertempat di bilangan jalan Proklamasi, tepatnya di Aula Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ), 13 Januari 2012. Dalam refleksi ini dihadirkan dua orang narasumber yakni Gomar Gultom, selaku pendeta HKBP, yang juga menjadi Sekretaris Umum PGI. Selain Gomar Gultom juga ada Jacky Manuputty, yang merupakan alumni dari STT Jakarta tahun 88-89, dia salah satu aktivis perdamaian di Ambon. Acara ini tidak hanya diskusi namun juga ada pertunjukan musik oleh mahasiswa STT Jakarta, yang namanya ”Bau Asem”, ada pertunjukan teater dari mahasiswa STF Driyarkara, termasuk Marawis dari Pesantren Darul Ulum di Bogor.

Dalam refleksinya, Gomar Gultom juga melakukan otokritik, dia mengatakan,”Dari laporan kebebasan beragama yang diluncurkan oleh Wahid Institut, maka pelaku terbesar dari pelanggaran umat beragama adalah para aparat negara. Namun dalam beberapa peringkat, ternyata gereja juga termasuk salah satu pelaku yang melanggar kebebasan beragama, terutama kejadian yang berlangsung di Bandung, yang dilakukan kepada umat Saksi Yahowa  (berada di urutan 31 dari daftar Wahid Institut) dan di Medan kepada umat Parmalim.”

 

Gomar dalam presentasinya sempat menampilkan akan rapuhnya nilai-nilai kebangsaan yang lebih banyak ditengarai oleh diskusi mengenai ideologi yang masih dianggap belum tuntas. Menurutnya,”PKS sudah menyatakan kalau Pancasila sudah bukan solusi bangsa, tapi syarat Islam. Di Jakarta orang-orang yang memproklamirkan NII tidak diapa-apakan. Sedangkan di Papua orang menderek bendera Papua ditangkapin.” Beliau juga menyayangkan begitu kecilnya tuntutan yang diberikan kepada para pelaku, seperti penusukan pendeta HKBP Ciketing yang pelakunya hanya dikenakan penjara selama 6 bulan (potong masa tahanan) sedangkan kasus di Cikeusik juga sekitar 5 bulan masa kurungan. Terancamnya keberagaman ini, menurut Gomar, diakibatkan oleh adanya Mobokrasi, yaitu gerombolan-gerombolan atau kelompok yang keberatan. Seperti kasus GKI Yasmin, yang walikotanya, selalu saja mengatakan ada kelompok-kelompok yang keberatan adanya gereja di sana. Mobokrasi adalah istilah yang pernah diucapkan oleh Victor Silaen.

 

Narasumber lainnya, Jacky Manuputty, mengatakan,”Masalah utama di Ambon bukanlah kebebasan beragama. Saya sebelum ke Jakarta bersama teman-teman lintas agama sering diskusi kalau narasi besar dari masalah Ambon adalah pencurian ikan, atau illegal  fishing.” Jacky mengatakan, di Ambon, ada yang dinamakan Gugusan 500 Pulau. Pada tahun 1980-akhir, gugusan pulau-pulau ini pernah diteliti oleh LIPI. Dan dalam laporannya LIPI menuliskan bahwa pulau-pulau dinamakan dengan ”Metropolis dari Timur”. Hal ini dikarenakan banyaknya armada kapal asing yang menangkap ikan secara ilegal di gugusan pulau tersebut. Kata Jacky,”Izin kapal yang masuk ke pulau itu hanya 200 kapal. Tapi kapal yang masuk sekitar 2000 sampai 3000-an, dan semua ijin dari Jakarta.”

 

Ilegal fishing inilah yang menjadi salah satu narasi besar, yang terus di diskusikan oleh Jacky dengan beberapa teman-temannya. Sehingga semua tak berlarut-larut bisa terpancing ke dalam isu agama semata.Selain pencurian ikan besar-besaran itu, terdapat masalah lain, seperti di Pulau Seram Utara dan Pulau Buru. Di kedua wilayah ini sedang dibuka pengembangan lahan sawit skala besar. Pada tahun 2010 saja lahan yang akan dikembangkan seluas 176.000 hektar. Sebenarnya hal ini sudah dilarang oleh adanya konvensi Oslo, namun pihak pengembang lahan mengelabuhinya dengan menanam tebu. Tempat lain di Ambon juga akan dibikin pengeboran minyak lepas pantai. Sudah ada perusahan Jepang yang memberikan investasi sebesar 19 milyar, sedangkan daerah nantinya akan menerima 10 % dari setiap barel minyak akan disedot. Secara kuantitas maka perusahan asing tersebut akan menyedot sekitar 18.000 minyak barel/ hari. Begitulah sesungguhnya masalah yang dialami oleh Ambon. Dan ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebebasan beragama. Tak lebih karena setiap pembangunan yang ada di Maluku belum berhasil meningkatkan kesejahteraan bagi penduduknya. (Chris Poerba)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*