Laboratorium Kerukunan Umat Beragama: Menjaga Tegaknya Tulang Belakang

Sekolah Agama ICRP

Di tengah-tengah maraknya aksi yang mengancam kerukunan umat beragama dan berkeyakinan di Indonesia, ternyata ini tidak sampai mengurangi orang di negeri seberang menutup sebelah mata kepada negeri ini. Kerukunan umat beragama semakin menurun, dari kebebasan menjalankan ibadah sampai intoleransi yang ada, namun banyak pengamat yang melihat bahwa Indonesia masih menjadi semacam laboratorium bagi kerukunan umat beragama. Setidaknya penilain ini diberikan oleh Menteri Luar Negeri Italia, Franco Frattini. Penilaian dari Franco Frattini ini disampaikan oleh Mochsen, saat berlangsung Dialog Pengembangan Wawasan Multikultural bagi para tokoh agama, pemuda dan mahasiswa lintas agama di Palu, Senin (Kompas, 10/01/2012) Kegiatan di Palu ini, dilaksanakan atas kerja sama Kementerian  Urusan Eropa dan Kerjasama Internasional Kerajaan Belanda dan Pusat Kerukunan Umat Beragama, Dialog Centre UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Kementerian Agama Sulawesi Tengah.

 

Dalam diskusi tersebut terdapat tiga tantangan yang akan dihadapi kerukunan umat beragama dari dampak krisis ekonomi global yang akan terakumulasi dalam berbagai sektor, problematika kehidupan beragama yang semakin kompleks, termasuk pemilihan umum  lima tahunan yang akan berlangsung dua tahun lagi. Dalam hal ini maka agama menjadi rawan dari ekses-ekses negatif dari ranah politik praktis. Inilah yang bisa mengganggu Indonesia menjadi lokus dari laboratorium kerukunan umat beragama.

 

Sebenarnya, Indonesia sebagai lokus dari laboratorium umat beragama, sudah lama kita ketahui bersama, seperti yang dinyatakan oleh Mohammad Monib,”Penilaian dunia internasional bahwa Indonesia sebagai laboratorium kerukunan umat beragama, saya nilai sangat beralasan. Pertama, 4 Pilar Bangsa: Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 45 merupakan tulang belakang tegaknya kehidupan agama-agama. Ini sebuah fakta sosiologi dan teologis. Sedari awalnya berdirinya bangsa ini sudah bertekad menjadi rumah bersama agama-agama. Kedua, secara sosiologis-politik-teologis, bangsa ini punya 2 organisasi jangkar moderasi kehidupan keagamaan. Nahldatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya jelas menjadi stabilisator kehidupan keagamaan di Indonesia. Ketiga, budaya hidup damai dan rukun itu sesungguhnya jiwa asli bangsa Indonesia.”

Namun Monib, sebagai salah seorang yang selama ini berkecimpung di ICRP, cukup menyayangkan, ”Meski belakangan ini, dengan masuk ideologi transnasional semodel wahabisme, dan kelompok teologi salafi jihadis, bangsa ini ternoda dan dinodai oleh kehadiran mereka. Teologi model wahabisme dan salafi jihadis ini menjadi racun bagi kebersamaan dan kerukunan umat beragama. Aksi-aksi intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang semarak belakangan ini banyak dimotori oleh teologi sesak nafas dan sempit wawasan model mereka. Pemerintah sesungguhnya sangat menyadari ancaman dari teologi model mereka. Itu bisa kita lihat dalam kurikulum pendidikan nasional yang memasukkan semangat dan perspektif multikultural. Karena itu saya optimis, kerukunan antar umat beragama ini jelas bisa kita pertahankan dan terus tumbuhkan. Hanya satu hal yang saya kecewa dari pemerintah. Mereka tidak punya nyali memberikan sanksi hukum bagi pelanggar konstitusi bangsa dan pelanggar nilai-nilai HAM. Kita membutuhkan pemimpin bangsa yang dan aparat-aparat penegak hukum yang punya nyali menjaga tegaknya tulang belakang (backbone) termaksud di atas. Jangan sampai kalah nyali dari para kriminal-kriminal terhadap konstitusi dan falsafah bangsa.” (Chris Poerba)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*