Haul Ke-2 Gus Dur Berlangsung Di UIN Jakarta

Malam itu, Jumat (13/01/2012) tidak seperti biasanya kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terlihat ramai. Ratusan masyarakat dan mahasiswa berdatangan ke lapangan gedung Student Center yang sedianya telah berdiri panggung sederhana dengan beberapa wayang kulit yang berdiri tegak tertancap. Meskipun beberapa kali rintikan hujan sempat mengguyur tetapi tidak menyurutkan niat mereka untuk memperingati 2 tahun haul sang Guru Bangsa KH Abdurrahman Wahid.

Acara yang bertujuan untuk memperingati jasa cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asyari ini memang lebih menarik jika di bandingkan dengan acara serupa. Selain diisi dengan doa bersama dan testimoni dari para tokoh. Panitia, yang semuanya mahasiswa ini menyelipkan beberapa acara yang cukup menghibur. Seperti pembacaan puisi tentang Gus Dur, acoustic performance, paduan suara mahasiswa dan yang paling menarik adalah pertunjukan wayang kulit dari kampung sebelah.

Beberapa tokoh dan keluarga Gus Dur sempat hadir dan memberikan testimonial pada malam itu. Sebutlah misalnya, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid, yang mewakili keluarga Gus Dur. Hadir pula sastrawan dan kolumnis AS Laksana yang memberikan testimoni tentang Gus Dur dan Sastra. Adi Masardi, mantan juru bicara Gud Dur ketika menjadi Presiden RI juga sempat memberikan testimoni ditengah ratusan audien yang berlindung di bawah naungan payung dan emperan masjid karena hujan.

Dalam sambutanya Ibu Sinta Nuriyah menyatakan masyarakat ibarat anak ayam yang kehilangan induknya ketika tidak ada lagi seseorang yang seperti Gus Dur. Tidak ada lagi yang berteriak lantang ketika Ahmadiyah dan GKI Yasmin diberantas hak beribadahnya. “Ada sesuatu yang hilang dengan kepergian Gus Dur” tegas istri Gus Dur ini. Tetapi, meskipun begitu beliau masih optimis ketika melihat bagaimana antusias masyarakat untuk merawat dan menyemai perjuangan dan pemikiran¬† Gus Dur. ¬†“Gus Dur adalah mata air sebagai sumber inspirasi bagi para pejuang harkat dan martabat bangsa” lanjut ibu yang sering dipanggil ibu Sinta ini.

Hal senada juga disampaikan oleh putri Gus Dur, Alisa Wahid. Menurut Alisa Gus Dur akan tetap hidup dan terus bersama dengan kita jika kita semua terus menyemai ide-ide yang pernah diperjuangakan Gus Dur. Selain itu, Alisa juga menegaskan bahwa selama masa hidupnya, Gus Dur selalu memegang teguh 5 prinsip yang melandasi semua perjuangannya. 5 prinsip tersebut adalah: prinsip kemanusiaan, prinsip keadilan, prinsip persaudaraan, prinsip kesatria, dan prinsip tradisi.

Sedangkan AS Laksana yang keseharian bergelut dengan dunia sastra menilai bahwa Gus Dur adalah orang yang luar biasa. “Gus Dur mengajarkan hidup gak perlu keras, hidup itu rileks aja” tandasnya. Sedangkan Bondan Gunawan dan Adi Masardi yang sempat menjadi membantu gus dur dalam menjalankan amanah prisedin RI memberikan¬† komentar yang berbeda dengan komentar-komentar sebelumnya. Menurut Adi Masardi gus dur juga bisa serius. “Saya salah satu orang yang sangat serius terhadap gus dur, begitu juga sebaliknya” tegasnya. Bondan Gunawan juga menilai bahwa Gus Dur itu juga terkadang serius. “Gus Dur itu sangat serius, terutama dalam mempersiapkan masa depannya. Beliau mempersiapkan masa depan dengan ilmu” pungkasnya. [M. Mukhlisin]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*