Djohan Effendi: Mereka Dosa Kalau Diam

Djohan Effendi

Para tokoh lintas agama mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka datang untuk menyatakan komitmennya mendukung KPK dalam memberantas korupsi. Mereka semua hadir di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, pada tanggal 11 Januari 2012.Tokoh  lintas agama yang hadir diantaranya Franz Magnis Suseno, Benny Susetyo, Pdt Andreas A Yewangoe, Mgr D Situmorang, Solahuddin Wahid,  Bikkhu Jayamedho termasuk juga salah satu tokoh yang turut mendirikan ICRP, Djohan Effendi. Kehadiran para tokoh lintas agama ini disambut hangat oleh Ketua KPK Abraham Samad, Busyro Muqoddas serta Bambang Widjojanto. Ketua KPK pun memberikan informasi mengenai strategi yang menyeluruh, yang akan dilakukan menindak para koruptor. Langkah yang diambil oleh para tokoh agama ini patut diambil contoh sebagai bagian dari aktualisasi iman dari kaum beragama. Setidaknya hal  itu yang disampaikan oleh Djohan Effendi, yang mengatakan,”Saya rasa memang semestinya tokoh agama menunaikan amanat prophetic mereka. Mereka adalah hati nurani bangsa ini. Dosa mereka kalau hanya diam.”

 

Amanat prophetic dari kalangan  lintas agama inilah yang banyak ditunggu oleh banyak pihak. Hal ini juga yang dikomentari oleh Mohammad Monib. Menurutnya,” Dalam  pandangan saya sudah seharusnya kaum agamawan, ulama dan tokoh-tokoh agama terlibat dan proaktif menyuarakan  misi profetik dalam semua dimensi kehidupan. Ulama atau  kaum agamawan wajib secara teologis menyampaikan nilai-nilai dan ‘suara langit’. Agama, dalam  makna nilai-nilai kebenaran dan spiritualisme harus memandu kehidupan.” Monib,  yang  selama ini  menjadi dosen, di salah satu perguruan tinggi, juga menambahkan  kalau dunia politik  dan birokrasi sekarang ini cenderung Machiavellian dan penuh nafsu kuasa dan menguasai.

 

Beliau menyarakan  agar,”Sudah semestinya ulama bersuara keras terhadap korupsi yang saat ini menjadi musuh bersama rakyat dan bangsa. Apalagi  pelakunya mereka yang mendapat mandat untuk mensejahterakan rakyat, mengklaim diri sebagai wakil rakyat dan penegak hukum. Merupakan dosa teologis bila kaum agamawan tidak bersuara, berdiam diri, dan diam dalam zona nyaman, sementara moralitas umat  hancur, kemaksiatan merajela, dan virus birokrasi semodel korupsi mengganas. Saya menilai langkah tokoh dan ulama  lintas agama mendatangi KPK merupakan bentuknya nyata keterlibatan agama, dan dukungan publik terhadap KPK dalam memerangi korupsi. Korupsi, kini kejahatan besar dan virus paling berbahaya yang menyelimuti hati nurani banyak pejabat, para politisi dan  penegak hukum.”

 

Musdah Mulia, selaku Ketua Umum ICRP, mengatakan,”ICRP dan seluruh organisasi keagamaan yang terkumpul di dalamnya mendukung sepenuhnya kerja-kerja KPK untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi di negeri ini. Sebab, semua agama mengajarkan penganutnya untuk hidup bersih dari segala bentuk perilaku culas, penuh muslihat dan merugikan serta mencederai rasa keadilan.”

 

Lebih lanjut, beliau mengutarakan harapan  dari ICRP,”Semoga dengan upaya serius dan tegas dari KPK tersebut dapat membuat jera para pelaku dan juga calon pelaku korupsi sehingga pada akhirnya terbangun budaya bersih dan anti korupsi dalam masyarakat Indonesia. Selain itu, perlu juga dicermati oleh kita semua, berapa besar dana yang dialokasikan negara untuk kepentingan kerja-kerja institusi KPK ini, sehingga publik dapat melihat secara konkret bahwa dana negara yg digulirkan untuk institusi KPK telah digunakan secara optimal, dan tidak juga merupakan penghamburan uang negara untuk suatu upaya yang sia-sia.” Makanya, KPK  jangan takut! (Chris  Poerba)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*