Lampu Merah Kebebasan Beragama

 

Wahid Institut, pada tanggal 29 Desember 2011, menyampaikan Laporan Kebebasan Beragama dan Toleransi di Indonesia. Dalam makalah yang berjudul “Lampu Merah Kebebasan Beragama”, yang disampaikan oleh Rumadi, selaku koordinator menyampaikan kesimpulannya, bahwa sepanjang Wahid Institut melakukan laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), sejak tahun 2008, maka tahun 2011 ini adalah tahun terburuk terhadap jaminan terhadap KBB, baik secara kuantitas maupun kualitas. Peningkatan jumlah pelanggaran KBB dan intoleransi ini dikarenakan sikap pemerintah yang tidak tegas. Selain itu pemerintah memiliki paradigma pengaturan agama dan keyakinan yang masih bias mayoritas.

 

Rumadi dalam kesempatan itu juga mengakui bila jangkauan dari laporan yang disajikan ini, masih terbatas kepada wilayah-wilayah yang selama ini terekam oleh media massa nasional dan lokal. Namun dari temuan, yang berhasil terekam oleh media saja, sudah menunjukan adanya peningkatan pelanggaran KBB, dari yang  sebelumnya 64 kasus (tahun 2010) menjadi 92 kasus (tahun 2011). Sehingga pelanggaran terhadap KBB mengalami peningkatan sebanyak 18 %. Lebih detail lagi, laporan Wahid Institut menyatakan kalau bentuk pelanggaran terbesar adalah pelarangan/ pembatasan ibadah. Sedangkan kategori pelaku yang paling banyak melakukan pelanggaran KBB adalah dari aparat kepolisian yaitu sebesar 32 kali (26%), oknum-oknum pejabat di lingkungan kabupaten/kota 28 kali (23%).

 

Dari 92 kasus pelanggaran KBB, maka Jemaat Ahmadiyah adalah yang paling banyak menjadi korban, data Wahid Institut menyatakan terdapat 46 jumlah pelanggaran, atau hampir sekitar 50 %. Selanjutnya jemaat dari GKI Yasmin juga yang mengalami korban pelanggaraan sebanyak 13 kali (14%). Dalam laporan Wahid Institut ini, Jawa Barat masih menjadi daerah yang paling banyak melakukan tingkat pelanggaran KBB terbesar, setidaknya terdapat 55 kasus (58%) yang terjadi disana. Di tahun 2011 ini juga mencatat pelanggaran KBB yang terbanyak terjadi di bulan Maret, setidaknya terdapat 31 kasus, selanjutnya bulan Sepetember 11 kasus.

 

Selain pelanggaran KBB, Wahid Institut juga menyampaikan meningkatnya bentuk-bentuk intoleransi yang juga meningkat. Tahun 2011 ini maka intoleransi terjadi sebanyak 184 kasus, atau terjadi seiktar 15 kasus setiap bulan. Angka ini naik sebesar 16% dari tahun sebelumnya, yaitu 134 kasus. Bentuk tindakan intoleransi atau diskriminasi yang terbesar adalah intimidasi dan ancaman kekerasan sebanyak 48 kasus (25%), selanjutnya juga pembakaran/ perusakan properti sebanyak 26 kasus (14%).

 

Wilayah Jawa Barat masih menjadi wilayah dengan tingkat intoleransi yang paling tinggi, bahkan, menurut Wahid Institut tahun 2011 ini,  jumlah intoleransi di wilayah Jawa Barat meningkat drastis, menjadi 105 kasus dari sebelumnya 44 kasus. Wahid Institut juga mengatakan ada perkembangan positif dengan tidak diterbitkannya Peraturan tentang Ahmadiyah di Jawa Tengah, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Di ranah sosial, Wahid Institut juga mengapresiasi sikap ormas keagamaan seperti NU yang mengecam keras pelaku kekerasan. (Chris Poerba)  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*