Demokrasi Itu Tidak Diam

Kontras mengadakan hajatan penting, dengan mengadakan peluncuran buku ”Hak-Hak Asasi Manusia: Polemik dengan Agama dan Kebudayaan”, karya dari seorang filsuf Indonesia, Franky Budi Hardiman. Mengapa penting? Karena lembaga Kontras sendiri yang ditunjuk oleh si penulis dan penebit buku ini, Kanisius, sebagai tempat hajatan ini. Tak lebih dan tak kurang, mengingat kerja-karya Kontras selama ini selalu terkait dengan kemanusiaan, terutama mengadvokasi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Acara ini berlangsung tanggal 20 Desember 2011, di Kontras.

Dalam kesempatan itu, Franky Budi Hardiman, selaku narasumber, memberikan jawaban dari seorang penanya, yang menanyakan bagaimana untuk mempertemukan HAM dari setiap kebudayaan yang saling berbeda di ruang publik. Franky, menjawab “Sebelum HAM di institusionalisasi sebagai suatu norma dan standar perilaku politik dan hubungan-hubungan politik internasional, yang ada kan hukum-hukum komunitas. Salah satunya kan hukum syariah yang berlaku di negara Islam. Dan ketika negara itu modern dan  menerapkan prinsip-prinsip hukum, kemudian nilai-nilai demokrasi juga mereka anut dan mereka ambil. Mereka juga kan harus bergaul di masyarakat internasional yang beradab. Akhirnya HAM itu juga menjadi norma bersama. Berarti apa yang menyatukan bangsa-bangsa dengan berbagai aturan-aturan komunal di dalam ruang publik global itu adalah HAM. Oleh karena itu, kalau ada TKW kita mengalami hukum rajam atau pacung, perjuangan kita sebagai negara beradab yang menerima HAM sebagai nilai-nilai, maka kita memperjuangkan HAM TKW kita. Tidak ada jalan lain.” Selain itu ranky juga mengatakan kalau hukum pacung juga pernah ada di kitab perjanjian lama dan terkait dengan keadilan ilahi, yang ironis.

Sedangkan Haris Azhar, selaku narasumber sekaligus Koordinator Kontras, mengingatkan kembali pesan dari Cak Munir. Almarhum itu pernah bilang,”Demokrasi kita itu tergantung kita, kalau kita berbuat maka terjadilah sesuatu, kalau kita tidak berbuat, sedang orang lain yang berbuat, maka itulah yang terjadi. Itu artinya maka demokrasi dan Hak Asasi Manusia harus di isi oleh kita semua. Makanya ada kelompok sektarian yang memuja agama-agama tertentu, kelompok-kelompok yang memuja elit tertentu, itu mereka tetap berbuat meski jumlah sedikit. Mereka tetap bersuara, dan kalau kita tidak setuju maka kita pun harus berbuat.”  CP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*