Konferensi ICRP 2011 Buat 8 Rekomendasi

Konferensi ICRP tahun 2011 berlangsung meriah. Lebih dari 100 peserta datang untuk menghadiri acara tersebut. Acara yang diselenggarakan di aula Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Kamis (15/12/2011) kemarin, mendapatkan antusias yang besar dari para pemuka kepercayaan, agama, aktifis LSM, pemerintah, dan kalangan media.

Acara konferensi tahunan ini dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama konferensi, dibuka dengan seminar bertajuk “Bahaya!!!; Instrumentalisasi Agama”. Seminar ini menghadirkan tiga pembicara yang mempunyai latarbelakang yang berbeda. Pembicara pertama adalah akademisi Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. Kemudian yang kedua adalah Peneliti Lipi Siti Zuhro dan yang terakhir adalah pengamat media Ade Ermando. Dari ketiga pembicara ini dapat ditemukan titik temu bahwa Instrumentalisasi agama merupakan ancaman sekaligus bencana bagi keselamatan kemajemukan dan perdamaian di Indonesia. Oleh sebab itu mereka bersepakat bahwa Instrumentalisasi agama semaksimal mungkin harus dicegah.

Kemudian pada sesi selanjutnya Book Launching “Satu Dasawarsa ICRP: Melawan Kekerasan Atas Nama Agama”. Dalam Book Launching ini yang didaulat menjadi pembicara adalah Dr. Rumadi, peneliti Wahid Institute dan Mariana, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan. Rumadi menuturkan bahwa dewasa ini semakin marak aksi intoleransi dan radikalisasi berbasis agama dengan modus yang bermacam-macam. Pelakunya pun semakin beragam. ICRP kedepan diharapkan mampu menggawangi ormas-ormas perdamian untuk menghadang arus radikalisasi dan intoleransi tersebut. Sedangkan mariana menuturkan dalam perspektif yang  berbeda, aksi–aksi kekerasan juga seringkali terjadi pada perempuan. Mariana menegaskan bahwa para perempuan tersebut juga selayaknya patut untuk dibela dan didampingi oleh LSM dan ormas-ormas seperti ICRP.

Dari konferensi tersebut, paling tidak ada 8 point rekomendasi yang dihasilkan. 8 poin tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Nilai-nilai dari masing-masing komunitas untuk kebersamaan dan  dengan semangat saling menghormati
  2. Mendorong kegiatan bersama untuk menguatkan  nilai-nilai kebersamaan tersebut.
  3. Mendorong pemakaian media secara luas untuk menumbuhkan semangat toleransi dengan memanfaatkan tekhnologi yang tersedia.
  4. Pro-aktif dalam membangun komunikasi dengan berbagai macam pihak terutama lembaga-lembaga resmi.
  5. Menaruh perhatian secara khusus  untuk menanamkan semangat toleransi diantara kaum muda dengan memakai cara-cara yang sesuai dengan mereka.
  6. Tinjau ulang produk-produk legislasi yang diskriminatif.
  7. Menolak RUU Jaminan Produk Halal dan Kerukunan Umat Beragama.
  8. Aktif ikut serta, dalam proses legislasi yang terkait dengan keagamaan dan atau hak sipil & perdamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*