Islam Sudah Toleran Sejak Awal

Ulama dan cendekiawan Muslim, Quraish Shihab menegaskan, toleransi Islam sudah dimulai sejak agama ini lahir dan disiarkan Nabi Muhamad SAW.

“Nabi (Muhamad) menyatakan, Aku diutus untuk membawa agama yang penuh toleran. Ketika terjadi perjanjian hudaibiyah, Nabi menulis Bismillahirahmanirahim (Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang), lalu tidak disetujui oleh kaum musrik, dan mereka meminta agar diganti Bismika Allahhuma (Dengan Nama Engkau Ya Allah).  Nabi pun berkata kepada Ali bin Abu Tholib, hapus Basmalah ganti dengan Bismika Allahuma, sesuai usul mereka.”

Ulama muda dari Indonesian Conference on Religion and Peace ICRP, Piet Khaidir menjelaskan, Nabi juga berkompromi ketika kaum non-Muslim dalam perjanjian itu tak mengakuinya sebagai utusan Tuhan atau Rasul.

“Ini salah satu contoh betapa Rasullulah itu rendah hati dan menghargai perbedaan. Contoh lain fakta di Madina, secara ekonomi masyarakat di Madina menjalankan transformasi perdagangan yang luar biasa. Dan anggotanya, tidak hanya  Muslim, tapi juga Nasrani, Yahudi dan polities (penganut aliran kepercayaan). Jadi toleransi itu faktual baik dalam sejarah maupun Al qur’an. Satu ayat dalam Al Qur’an, siapa saja yang beriman dan percaya  adanya Tuhan,  adanya Tuhan, netral betul kan?, baik itu dari kalangan Muslim, Nasrani, Yahudi dan Shobii (agama  tua di Baghdad, Irak) dan berbuat baik, maka mereka termasuk yang beruntung. Itu dijamin dalam Al Quran.”

 

KH Maman ImanulhaqKH Maman Imanulhaq

Karena itu menurut Pemimpin Pondok Pesantren Al Mizan, Maman Imanulhaq, ceramah Islam wajib disampaikan secara damai dan toleran.

“Prinsip sederhana dalam dak’wah seperti slogan yang sering saya terapkan pada anak-anak santri saya, dakwah itu mengajak bukan mengejek, dakwah itu merangkul bukan memukul. Dakwah itu memberi argument, tidak perlu sentimen. Fenomena dakwah dengan teriakan, dengan caci maki kepada kelompok yang berbeda, telah menyalahi makna dakwah itu sendiri. Mimbar dakwah menjadi mimbar yang efektif untuk mengajarkan kebaikan dan persaudaran, bukan kebencian apalagi permusuhan.”

 

Sayangnya di banyak masjid dan mushola, terutama di kota besar seperti Jakarta, dakwah masih kerap disampaikan dengan teriakan. Bahkan penuh nada kebencian. Forum Pembela Islam FPI misalnya melakukannya dalam ceramah akbar. Seperti yang terjadi pada Tabligh Akbar di Banjar, Jawa Barat 2008 silam.

Maman Imanulhaq mengatakan, kelompok seperti ini menciptakan sendiri definisi Tuhan.

“Kelompok yang menebarkan kebencian, seolah Tuhan itu hanya milik mereka,  dan mereka menciptakan Tuhan yang keras, pendendam, yang isinya hanya menyiapkan neraka, bukan Tuhan yang pemaaf dan  memberi alternatif untuk bertobat.”

Pemimpin Pondok Pesantren Darul Tauhid, Cirebon, Husein Muhammad mengatakan, ceramah seperti ini bertentangan dengan Al Qur’an.

 

“Tidak sejalan dengan perintah Al Qur’an. Al Qur’an itu mengajak dengan cara ilmiah, ilmu pengetahuan berdiskusi dengan yang baik, menyampaikan dengan cara yang baik kepada publik. Saya kira ada penafsiran yang keliru, dalam Hadist misalnya, bila ada kemungkaran, ubahlah dengan tanganmu, bila tak bisa, maka dengan ucapanmu, bila tidak bisa dengan hati, diam. Yang jadi masalah dengan tanganmu. Dengan tanganmu itu kan metaforis, dengan kekuasaan tetapi itu di masa lampau kan kekuasaan otoriter. Dalam konteks hari ini harus dengan UU, karena kekuasaan harus dengan UU.”

Dosen Universitas Islam Negeri Jakarta Abdul Muqsid Gazali, mengatakan ceramah yang menyebarkan kebencian, kekerasan dan permusuhan  justru berbalik membuat sejumlah orang ingin meninggalkan  Islam.

“Ada juga orang ingin keluar dari Islam, karena cara-cara tampilan  Islam karena dianggap oleh mereka menggunakan cara-cara kekerasan. Tiap bulan, karena saya  berkepentingan terhadap Islam, menahan, selalu ada orang yang ingin keluar dari Islam, karena dikira identik dengan kekerasan dan terorisme. Lalu, saya minta baca buku saya, saya kasih artikel-artikel, akhirnya mereka insyaf kembali dan tetap menganut Islam yang sesungguhnya, penuh damai. Saya kira makin simpatik Islam disebarkan makin banyak orang berduyun-duyun masuk Islam.”

 

Muqsid menambahkan, banyak orang menjadi mualaf atau masuk Islam karena terkesan dengan ceramah Nabi Muhammad yang penuh kedamaian.

“Dalam Al Qur’an ditulis, berbondong-bondong mereka masuk ke dalam Islam ketika Nabi Muhamad berceramah secara benar, dengan cara damai dan toleran serta menghargai orang lain. Bahkan ada seorang Yahudi menjadi pembela utama Nabi Muhamad, dan menyerahkan hartanya untuk Islam tanpa dia menjadi Islam. Ini menunjukan betapa perbedaan tidak mengancam Islam.”

Pemimpin Pondok Pesantren Al Mizan Cirebon Maman Imanulhaq dan ulama muda dari ICRP Piet Khaidir mengatakan di perkampungan ulama-ulama senior sudah lama menyiarkan Islam secara lebih toleran dan menghargai perbedaan. Kini juga muncul ulama-ulama muda moderat yang bukan hanya berceramah secara damai, tapi juga menularkan pentingnya penegakan hak asazi manusia  hingga keseteraan jender. Seperti apa itu?

 

Menjadi Toleran Penuh Tantangan

 

Inilah kutipan ceramah pemimpin Ponpes Al Mizan, Maman Imanulhaq.

“Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Wahai hamba Allah, inti ajaran agama adalah keimanan kepada Allah dan kedua berbuat kebajikan kepada hamba-hambanya. Iman sebuah pondasi yang harus tertanam pada jiwa kita, tapi tak hanya  tertanam kepada jiwa, tapi harus diterjemahkan dalam konteks kesolehan. Kesolehan itu yang memberi manfaat pada orang lain. Orang yang beriman selalu amanah, memberi kedamaian  kepada orang lain, dan memberi kebaikan  pada sesama termasuk pada orang berbeda pada kita.”

 

Bersama para tokoh agamaKalau ini ceramah cendekiawan Muslim, Quraish Shihab.

“Kenicayaan perbedaan dan keharusan persatuan, yang mengantar manusia harus bertoleransi. Sekali lagi kita bertanya kenapa harus bertoleransi, karena semua manusia mendambakan perdamaian, tanpa toleransi tidak mungkin ada kedamaian. Semua kita mendambakan kemaslahatan, tanpa toleransi tak ada toleransi kemaslahatan. Agama pun memberikan toleransi.”

 

Ceramah-ceramah keduanya tanpa teriakan. Isinya pun mengajak menjalin persaudaraan  sesama umat.  Maman menegaskan beginilah Al Qur’an memerintahkan para ulama untuk bersyiar. Maman bahkan kerap menghadirkan ulama agama lain agar untuk saling berbicara dalam ceramah-ceramahnya.

“Iya, misalnya saya memiliki pengajian Akar Jati, kalau mau ngomong tentang  cerita Yesus misalnya, biarkan pendeta itu yang ngobrol. Dan itu penting karena saya juga ngomong tentang lingkungan hidup, air dan bekerjasama dengan gereja di Cirebon, saya ngomong tentang tradisi  Jawa dengan gereja di Jawa.”

Akibatnya Maman sempat ditolak .

“Mertua saya adalah yang pertama menolak saya, dengan melarang pengajian saya, menurunkan struktur organisasi di pesantren saya, menurunkan fasilitas. Tetapi  itu dulu, sekarang dia paling mendukung saya. Prosesnya panjang, 3 tahun dan menyakitkan.  Kedua, saya ingat saya ceramah di Majalengka, saya diturunkan. Ada yang sabotase, mobil saya dikelilingi, dilempar batu, sound sistem dimatikan. Saya turun, saya ngomong baik-baik, tapi mereka tak mau  diajak ngomong.”

Ceramah pun batal. Maman meyakini saat itu ada kelompok penghasut. Untunglah di lain waktu Maman bisa membuat  warga percaya.

“Masyarakat pun akhirnya mengeluh, kenapa isu-isu dari luar yang didatangkan dari Jakarta terutama memporakporandakan ketenangan dan penghargaan orang di kampung yang selama ini tak terusik. Itu kesimpulannya. Akhirnya saya ceramah tamat, 2 jam. Dan orang-orang yang menentang saya duduk di depan mendengarkan. Mereka bilang, tidak ada yang aneh dalam ceramah Kang Maman. Makanya saya bilang, jangan terprovokasi isu, mereka ingin memecah belah kita.”

Ulama muda Piet Khaidir dari ICRP punya cara sendiri. Pelan-pelan ia menyelipkan pentingnya umat Islam menegakan HAM dan menjaga kesetaraan jender dalam ceramahnya.

“Ustad-ustad ini yang terpenting, atau saya juga itu perlu memahami perspektif lain,  metodologi lain dalam Islam, misalnya tentang HAM, tentang Citizenship, kesetaraan jender.  Kenapa penting? Itu metodologi kontemporer yang sangat dibutuhkan. Sebutlah misalnya tentang hak orang non-Muslim dalam mendirikan rumah ibadah, perlu perspektif Citizenship, bahwa setiap  warga negara berhak beribadah sesuai agamanya masing-masing. Tidak bisa dengan perspektif Islam yang kaku.”

 

Para ulama senior di kampung-kampung, kata Piet , juga melakukan cara serupa ini.

“Kalau kita ke kampung-kampung, sangat moderat, bahkan  pandangan sangat  luas, misalnya  Mba Sahal Mahfud di Pati sana, banyak mutiara toleransi dan perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia yang luar biasa. Nah ini kan jadi banyak yang moderat yang punya wisdom ketimbang yang fanatik. Tampak dominan cuma karena mereka di kota-kota besar, over acting, dan  media banyak meliputnya.”

Kesetaraan jender dan anti diskriminasi juga menjadi tema-tema Muayati, dai perempuan dari ICRP. Ati memilih merangkul kelompok-kelompok kecil ibu-ibu di perkampungan di Jakarta.

“Saya kebetulan konsen pada pemberdayaan perempuan, tapi tetap dikembangkan nilai toleransi dan pluralism ke ibu-ibu yang masuk komunitas saya dan termasuk ke anak-anak.”

“Ya Allah kami bermohon kepada Mu dengan Lailallah la Ilalloh, tidak ada Tuhan selain engkau yang penyayang dan pengampun, lapangkanlah dada kami,  singkirkan kemarahan dan fanastisme yang ada dalam hati kami, dan anugrahilah kami kemampuan untuk menerapkan agamaMu yang penuh dengan toleransi.”

Sumber:

http://www.kbr68h.com/saga/77-saga/11474-dakwah-toleran-penebar-damai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*